PERMATA YANG HILANG

PERMATA YANG HILANG
bab 16


__ADS_3

Dewi berjalan sambil menunduk menelusuri jalan setapak menuju kos-kosannya, semangat dan ceriahnya hilang yang ada kepedihan di hati gadis itu .


Fikirannya kosong hanya bayangan kejadian yang ada di kepalanya, Dewi tidak menyangka kalau atasannya tega berbuat itu kepadanya. Di sisi hati yang lain dia bersyukur dia dapat memberikan hal berharga kepada pria yang selama ini singgah di hatinya, tapi dia gak mau menuntut tanggung jawab berusaha mengikhlaskan semua yang terjadi.


"Kenapa semua ini terjadi padaku? Hidup ini terasa tak adil, Tuan kutub aku memang berharap dapat bertemu lagi denganmu, bahkan aku bermimpi ingin menjadi kekasihmu tapi bukan cara seperti ini" ucap Dewi sambil menutup matanya dengan telapak tangannya.


"Ya Tuhan, Apa yang harus aku lakukan, sekarang aku sudah tak punya masa depan yang wajib aku banggakan buat suamiku kelak, kemana langkah ini harus berjalan ya Tuhan." Dewi terus menelusuri jalannya, seperti orang linglung bahkan tidah melihat kiri dan kanan saat hendak menyebrang dan hampir tertabrak kendaraan yang ingin melintas.


"Hai kalau nyebrang lihat jalan."


"Hei pengen mati muda ya."


"Woy hati-hati kalau mau nyebrang"


Semua pengendara meneriakin gadis itu, ada yang memakinya juga tapi semua di abaikan Dewi, dan langkahnya masih terus berjalan tanpa menengok ke kiri dan kanan.


Sesampai di kos-kosan Dewi merapihkan semua barangnya tujuan sementara adalah kampung halamannya.


"Ibu, bapak hari ini Dewi pulang, maafkan Dewi gak bisa bikin bapak dan ibu bangga sama Dewi dan gak bisa menjaga kehormatan Dewi seperti nasehat bapak dan ibu." ucapnya sambil menangis meratapi nasibnya.


Dewi sampai di kampungnya, dia di sambut hangat kedua orangtuanya, di desanya Dewi membuka toko bunga dengan modal dari uang yang di berikan Cahyo, Dewi juga membuka usaha pupuk dan alat-alat pertanian memberi kesibukan buat bapak dan ibunya dan juga membeli rumah dengan halaman yang luas sebagai tempat usahanya.


Kedua orangtua Dewi bersyukur karena kepulangan anaknya mengubah penghasilan keluarga, kini keluarga Dewi sedikit kecukupan sudah tidak kekurangan lagi seperti dulu.


Sebulan kemudian Dewi mengalami perubahan pada tubuhnya, kepalanya pusing dan nafsu makannya berkurang. Semua yang masuk kedalam mulutnya di keluarkan kembali. Dewi menginggat ingat kapan terakhir kali menstruasi tanpa bicara dia membeli alat test kehamilan di apotik dan diam-diam melakukan test kehamilan sendiri, gadis itu terkejut karena hasil dari test itu positif Dewi menangis dalam hati dan menutupi kesedihan itu dari keluarganya.


"Aku harus pergi dari sini, Aku gak mau bapak dan Ibu malu apabila di gunjing orang sekampung karena anaknya hamil tanpa suami." ucapnya dalam hati dan langsung merapihkan baju yang akan di bawanya.


Bapak dan Ibu terkejut melihat Dewi membawa koper dan hendak pergi dari rumahnya.


"Kamu mau kemana Ndu?" kata sang Bapak


"Aku mau balik kerja pak ke kota, liburku sudah habis" jawab Dewi berbohong.


"kapan kamu akan kembali ke desa" kata Ibu

__ADS_1


"Aku gak tau bu, aku akan selalu nelpon, Ibu dan bapak juga akan mengirim uang, bapak dan Ibu jaga kesehatan ya aku akan bekerja buat biaya sekolah adik-adik." ucap Dewi sambil memeluk kedua orang tuanya.


Dewi pergi tanpa tujuan untung dia masih membawa kartu tanpa limit Cahyo hingga dia tidak kekurangan uang, pas di pinggir jembatan besar di kota Dewi berhenti dan memandangi dasar kali yang deras.


Hidup Dewi terasa mati tidak punya harapan hidup dia mencoba memanjat tepi jembatan ingin mengakhiri hidupnya, Tiba-tiba ada sebuah tangan memeganginya.


"Hidup itu berharga kenapa Kakak ingin mati" ucap seorang remaja SMP sambil memegang tangan Dewi.


"Kakak gak mikir nasib orangtua Kakak, Kakak gak ingat doa yang selalu di ucapkan keluarga Kakak saat Kakak jauh, semua orang ingin hidup tapi kenapa Kakak ngak" remaja itu terus menasehati Dewi tanpa berhenti dan itu membuat dewi sadar jika ada keluarga yang menunggunya di rumah.


"Kakak gak punya tujuan dek, kakak binggung harus kemana" ucap Dewi sambil menangis


"Kakak tinggal aja di panti asuhan tempat kami tinggal," ucap remaja itu.


Dan Dewi di ajak ke panti asuhan tempat remaja itu tinggal.


PANTI ASUHAN BUNDA HARAPAN


Fajar masuk ke dalam panti mencari bunda Aisyah pemilik panti asuhan itu,


"Ada apa Jar ko triak-triak" saut bunda Aisyah.


"Ada tamu Bun, tadi aku lihat dia mau bunuh diri di jembatan," kata Fajar menceritakan yang tadi di lihatnya kepada Bunda Aisyah.


"Astagfirullah, Mana tamunya Jar?" tanya Bunda.


"Di teras Bunda" jawab anak itu.


Bunda keluar menghampiri Dewi yang duduk di teras panti asuhan itu dan menyapanya.


"Assalamualaikum, siapa namamu neng?" tanya bunda kepada Dewi.


"Dewi Bu" jawab Dewi


"Kata Fajar kau mau bunuh diri, kenapa?" tanya bunda lagi.

__ADS_1


"Aku Hamil Bu, aku binggung akan hidupku" jawab Dewi menangis .


Dewi menceritakan kejadian yang menimpahnya tanpa mengurangi atau melebihkannya, Bunda mendengarkan dengan serius dan memberi solusi buat Dewi.


"Aku malu Bunda, Aku gak mau keluargaku ikut merasakan malu di gunjing tetangga." tangis Dewi pecah di pelukan Bunda Aisyah.


"Tinggallah di sini sampai kau melahirkan, bantu bunda menjaga adik-adik panti" jawab bunda menenangkan Dewi dan di setujui gadis itu.


Berbulan-bulan Dewi tinggal di panti asuhan itu, gadis itu tak pernah lupa mengirim uang dan memberi kabar kepada keluarganya di kampung. Otomatis ATM Cahyo yang dia pergunakan untuk memenuhi kebutuhan dia di panti.


Cahyo tidak pernah permasalahkan berapa uang yang di pakai Dewi dalam ATMnya dia selalu mengisi saldo dalam ATM itu karena dia tau Dewi bukan type perempuan yang hobby berbelanja seperti gadis metropolitan.


Kandungan Dewi semakin membesar dan dia sering mengontrol kehamilannya di klinik persalinan di antar Bunda Aisyah, Kehidupan sehari-hari Dewi bersama adik-adik panti membuat hatinya sedikit terhibur dan senyumnya kembalih terlihat.


Janin dalam rahimnya kian tumbuh dengan sehat, Dewi tak pernah mengeluh atas kehamilannya karena dia tau resiko hamil tanpa suami di sampingnya walau kadang dia sering membayangkan wajah Tuan kutub namun kadang hayalan itu di abaikan begitu saja.


Di Markas KLA LION


Cahyo merasakan penyakit aneh, bawaanya yang selalu mual saat mencium bau makanan, sering muntah-muntah di pagi hari dan hobby makan buah-buahan membuat dia berobat ke semua klinik karena penyakitnya tidak sembuh-sembuh sampai berbulan bulan.


Dokter berganti terus datang mengobati Boss Mafia itu namun tak ada yang bisa menyembuhkannya. Sikapnya yang selalu minta makanan yang aneh-aneh membuat Bimo binggung karena selalu salah di mata Cahyo.


"Mending aku di suruh membunuh Tuan daripada tugas begini" ucapnya dalam hati.


Hingga proses kelahiran itu datang, semua isi panti di buat geger karena Dewi mengalami pecah ketuban dan segerah di bawa ke klinik untuk proses kelahiran.


Bunda selalu setia mendampingi Dewi hingga melahirkan seorang bayi laki-laki, dan bertepatan jam itu juga penyakit Cahyo sembuh, Mafia itu merasa heran ko tiba-tiba dia sehat sedangkan semalaman dia gak bisa tidur karena mendadak perutnya mules dan sakit dan mengegerkan semua penghuni markas yang panik.


Telah 3 hari di rawat Dewi di nyatakan sehat dan di izinkan pulang ke panti, dia kemudian berniat pergi ke luar Negri untuk melanjutkan hidupnya karena dia gak mau terus menerus mengunakan uang Cahyo buat dirinya.


"Bunda, Aku nanti mau pergi keluar Negri melanjutkan hidupku, aku gak mau menyusahkan banyak orang bun." ucap Dewi kepada Bunda.


"Titip anakku bun, apabila ada yang mau adopsi berikanlah supaya anakku dapat merasakan kasih sayang orang tua, aku gak bisa membawanya karena gak mau buat aib pada keluargaku." kata Dewi sambil menangis menciumi anaknya.


Pas masa nifas habis Dewi segerah mendaftar menjadi seorang TKW ke luar Negri, dia mau melupakan semua kejadian yang sudah menimpahnya tapi di lubuk hatinya dia juga berat meninggalkan putranya yang masih bayi dan butuh kasih sayang dirinya, dengan berat hati Dewi melangkahkan kakinya meninggalkan panti asuhan itu dan juga semua kenangan pahit dalam hidupnya.

__ADS_1


"Selamat tinggal sayang semoga ada keluarga yang bisa menyayangimu dengan tulus" ucapnya sambil berlalu pergi tanpa menoleh kembali ke belakang.


__ADS_2