PERMATA YANG HILANG

PERMATA YANG HILANG
bab 37


__ADS_3

Cahyo yang tidak bisa tidur berjalan keluar kamar menuju taman belakang rumah, hati dan pikirannya bertentangan membuat dia bimbang akan apa yang ingin dia lakukan.


Dewi melihat Cahyo keluar rumah segera menghampiri pria itu, Dewi yang tadinya ingin mengambil minuman di dapur mengurungkan niatnya.


Melihat Cahyo duduk menyendiri di taman belakang akhirnya Dewi pergi ke dapur membuat minuman hangat untuk mereka berdua karena udara malam itu sangat dingin.


Dewi :"Gak bisa tidur mas?, lagi banyak pikiran ya?"


Cahyo :"Dewi..., kamu belum tidur? kenapa ikut keluar di sini dingin?"


Dewi :"Tadinya aku mau ambil minum mas di dapur, aku lihat kamu keluar ya udah aku buatkan minum sekalian."


Cahyo :"Wi, hati dan pikiranku lagi bimbang sekarang bahkan aku binggung mau berbuat apa."


Dewi :"Hal apa yang bikin mas Cahyo bimbang?"


Cahyo :"Aku engan pulang Wi, aku masih belum siap melihat keluargaku."


Dewi :"Sampai kapan mas?, sampai menunggu kedua orangtuamu gak ada? kamu sudah lama meninggalkan mereka mas, kamu lihat bunda sekarang bahkan dia tidak mau pulang karena berharap ingin melihatmu karena kangen sama kamu mas."


Cahyo :"Iya Wi, aku juga sebenarnya kangen sama keluargaku. tapi aku masih engan melihat Haryo karena dia telah merebut semua yang aku punya."


Dewi :"Mas..., hilangkan semua prasangkamu terhadap Haryo, sekarang kau pikirkan kedua orangtuamu. Belum tentu Haryo seperti yang kau bayangkan."


Cahyo menundukkan kepalanya setelah mendengar ucapan Dewi, memang sesungguhnya dia sangat merindukan keluarganya sejak lama bahkan dia sering menangis dalam kamarnya sambil memandangi foto orangtuanya.


Dewi :"Mas, bagaimana rasanya apabila kamu melihat anak kita yang nakal pergi dari rumah?, seandainya posisi di balik ke dirimu yang menjadi orangtua dari anakmu dan Bulan yang sekedar anak angkat yang sangat istimewa di bandingkan anak kandungmu yang nakal pasti kamu punya alasan kenapa memilih Bulan menjadi penerusmu bukan? Begitupun juga ayahmu.

__ADS_1


Cahyo :"Lalu aku harus bagaimana Wi?, aku bahkan belum bisa terima kenyataan kalau ayah lebih menyayangi Haryo daripada anaknya sendiri."


Dewi :"Maafkan semua yang ada di depan mata kita, ikhlaskan semua yang sudah terjadi mas, aku yakin kamu bisa melakukan itu. Demi bunda, demi masa depan kita yang mau menikah, dan demi anak-anak kita. Kamu sudah punya segalanya mas bahkan kamu bisa memiliki semuanya dengan kerja kerasmu kan."


Cahyo merenungi semua ucapan Dewi yang benar adanya, dia sudah berjanji ingin berubah menjadi pria yang di banggakan keluarga nya, semua harus di awali dengan kata maaf dan ikhlas."


Cahyo :"Kamu benar Wi, aku harus belajar memaafkan dan mengikhlaskan semua yang terjadi, aku bangga memiliki wanita yang sempurna seperti dirimu, kau bagaikan malaikat yang menuntunku menjadi lebih baik, aku berharap jangan pernah tinggalkan aku Wi di saat kamu tau semua kekurangan dan keburukanku di masa lalu."


Dewi :"Semua orang punya kesalahan mas, aku akan selalu ada di sisimu dan selalu mencintaimu apa adanya hingga maut menjemput ku kelak."


Cahyo memeluk Dewi, dia bersyukur memiliki kekasih yang berhati malaikat, tanpa mereka sadari Ningrum melihat dan mendengar obrolan mereka di balik pintu.


Ningrum bersyukur melihat anaknya mendapatkan seorang wanita yang baik dan cantik. berkat Dewi Cahyo mau pulang kerumahnya, berkat Dewi juga Cahyo mau memaafkan keluarganya.


Ningrum akhirnya masuk ke kamarnya karena dia tidak ingin menganggu kemesraan Cahyo dan Dewi. akhirnya dia tau kalau Bulan sebenarnya anak angkat putranya tetapi Cahyo sangat menyayanginya.


Pagi harinya semua sudah berkumpul di meja makan menikmati sarapan yang pastinya masakan Dewi dan Bulan.


Selasai sarapan Cahyo, bunda, Dewi, dan Bulan bersiap-siap menuju rumah Sebastian. Bulan yang paling semangat karena dia sangat ingin bertemu Erlangga, bahkan gadis itu sibuk memilih pakaian mana yang mau di pakainya.


"Aku harus tampil feminim apa tomboy ya?, kalau aku pakai gaun apa Erlangga tidak menertawakan aku nanti." Bulan berbicara sendiri di depan kaca rias kamar itu.


Di toko Dewi, Bulan sudah memiliki kamar sendiri lengkap dengan pakaian dan alat make up. Dewi yang sudah menyiapkan semua kebutuhan Bulan di rumah itu, namun baju yang ada di lemarinya hanya gaun dan baju tidur wanita tidak ada jaket atau apapun yang sering Bulan pakai.


Akhirnya Bulan memutuskan memakai gaun berwarna putih dan bergaya feminim, semua mata memandang takjub melihat kecantikan Bulan ketika gadis itu turun dari tangga.


Cahyo :"Anak papa cantik sekali.!"

__ADS_1


Ningrum :"Cucu nenek benar-benar cantik kalau pakai gaun.!"


Bulan tersenyum mendengar papa dan neneknya memuji kecantikan dia,


Bulan :"Kata mama aku harus jadi wanita yang feminim, masa nanti pas papa sama Mama nikah aku pakai pakaian tomboy sih nek nanti di foto keluarga pasti orang bakal nebak aku seorang pengawal bukan sebagai anak papa."


Semua orang tertawa mendengar ocehan Bulan sambil memajukan bibirnya membayangkan kalau dia di kira pengawal sama tamu yang datang ke pesta pernikahan papanya.


Cahyo :"Senyaman Bulan aja kalau soal penampilan, karena putri papa mau pakai baju apapun tetap terlihat cantik ko."


Bulan langsung memeluk papanya, sikap manjanya tak pernah hilang padahal usianya sudah semakin tertambat.


Dewi :"Papanya aja yang di peluk?, mama ngak."


Bulan langsung menarik Dewi lembut dan memeluknya tanpa melepas pelukan papanya, gadis itu bersyukur sekarang memiliki orangtua yang lengkap.


Ningrum :"Udah dong pelukannya, kapan kita jalannya nih."


Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan menuju kediaman keluarga Sebastian, dan di keluarga Sebastian sudah siap menunggu kedatangan Cahyo dan keluarganya.


Erlangga sibuk di kamarnya memilih baju apa yang harus di pakainya karena dia sangat bersemangat ingin bertemu Bulan.


Erlangga sangat merindukan Bulan, gaya tomboy gadis itu membuat banyak pemuda minder mendekatinya karena Bulan selalu memiting lengan siapa aja yang mencoba iseng atau menggodanya. tapi kalau dekat sebagai sahabat Bulan tergolong gadis yang ceria dan asik.


Bunda Mawar sibuk memasak di dapur menyiapkan makanan kesukaan keluarganya juga memasak makanan kesukaan Cahyo permintaan bunda Ningrum semalam.


Ayah Sebastian sibuk mondar mandir di depan pintu, rasa kangen yang terpendam kepada Cahyo membuat pria itu terus melihat jam tangannya. tidak sabar menanti kedatangan putranya itu.

__ADS_1


Haryo sedang menyiapkan segala dokumen kekuasaan perusahaan Sebastian yang dia pegang selama ini, Sebastian pernah membahas soal kedudukan CEO di Mentari Mega Jaya kepada Haryo, maka dari itu Haryo ingin mengembalikan kedudukan itu kepada Cahyo karena sesungguhnya yang berhak atas semua perusahaan Sebastian adalah putra kandungnya.


__ADS_2