
Bimo melajukan mobil dengan kecepatan penuh karena perintah Cahyo menuju ke rumah sakit.
Setiba di rumah sakit Bimo menanyakan apa ada pesien yang baru masuk atas nama Dewi dan suster segera menunjukan kamar perawatan pasien itu.
Bimo :"Permisi Sus, apa ada pasien bernama Dewi yang baru masuk setengah jam yang lalu,?"
Suster :"Sebentar ya pak aku cek dulu, oh iya pak ada ruangannya di lantai 2 nomor 44."
Kedua pria itu segerah menuju kamar pasien yang di tuju, pas tiba di kamar pasien mereka segerah masuk dan mencari keberadaan Dewi.
Cahyo :"Mana wanita itu?"
Bimo :" Ga tau Boss, mungkin lagi ke toilet."
Bimo dan Cahyo menunggu sang pasien keluar dari toilet, pas pasien keluar kedua pria itu langsung menoleh saling memandang satu dengan lainnya.
"Kenapa yang keluar nenek-nenek?" Kata Cahyo dalam hati begitu juga Bimo bertanya dalam hatinya.
Bimo : "Permisi.., apa benar ini kamar pasien bernama Dewi?"
Pasien :"Iya saya bernama Dewi, bapak siapa ya?"
Bimo :"Maaf berarti saya salah orang"
Bimo dan Cahyo meninggalkan ruangan itu, dia menuju kasir pembayaran untuk mengecek saldo ATM yang sudah di gunakan untuk pembayaran.
Di Ruang perawatan Penyakit Dalam
Dewi membantu Herlina menuju ruang pemeriksaan, dan menemani sahabatnya itu hingga selesai di periksa.
Dokter :"Pasien mengalami infeksi pada kelaminnya dan harus di rawat dan penangan khusus.
Dewi :"Berapa lama Dok, kira-kira dapat di sembuhkan ngak?"
Dokter :"Bisa, kita harus menyembuhkan infeksinya terlebih dahulu kemudian bisa kontrol rutin setiap Minggu."
Dewi :"Alhamdulillah, denger tuh Lin kamu pasti bisa sembuh asal kamu semangat dan yakin akan kesembuhan."
Herlina :"Iya Wi, semoga aku bisa sembuh aku janji akan berubah menjadi lebih baik lagi."
Dokter :"Pasien harus istirahat total dulu tidak boleh berhubungan **** hingga benar-benar sembuh.
Dewi :"Iya Dok saya terimakasih atas penjelasannya."
__ADS_1
Dokter :"Ini pengantar rawat inap ya nanti suster yang mengurusnya ibu tunggu aja di ruang tunggu.
Dewi dan Herlina mengikuti suster keluar dari ruang pemeriksaan, pas melewati lorong menuju ruang tunggu rawat inap Dewi merasa mencium aroma minyak wangi yang biasa di pakai Cahyo.
Dewi :"Wangi ini seperti wangi Tuan kutub"
Dewi menengok kiri kanan berharap bertemu dengan Cahyo, saat ini Cahyo sedang berada di kasir pembayaran menanyakan penarikan biaya pasien yang mengunakan ATMnya.
Cahyo :"Permisi saya mau menanyakan penarikan ATM dengan nmr ATM xxxx?"
Kasir :"Sebentar ya pak saya cek dulu, poli penyakit dalam Pak atas nama Herlina anda lurus aja nanti ada ruangan paling ujung."
Cahyo :"Terimakasih pak."
Cahyo dan Bimo menuju poli yang di tuju. "Pantas salah kamar ternyata yang sakit bukan Dewi" Kata Cahyo kepada Bimo.
Cahyo tiba di ruang itu, dan menanyakan kepada dokter tentang pasien yang bernama Herlina dan dokter menjelaskan bahwa pasien itu harus rawat inap. Dan Cahyo menuju tempat rawat inap pasien.
Dewi sudah mendapatkan kamar menuju rawat inap untuk Herlina, mereka menuju ruangan itu supaya Herlina bisa langsung istirahat dan dapat penanganan medis.
Herlina :"Terimakasih Wi, semoga Tuhan membalas semua kebaikanmu."
Dewi :"Aamiin, semoga lekas sembuh ya Lin."
Herlina :"Iya Wi, oh iya aku mau nanya apa kamu sudah menikah apa belum?"
Herlina :"Semoga di segerakan ya Wi, tapi udah ada calonnya kan?"
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan masuk 2 orang memakai Jas kantor.
Cahyo :"Saya calonnya Dewi, dan kami akan segera menikah."
Dewi kaget mendengar pria itu berbicara dan mengaku sebagai calon suaminya, Dewi menatap wajah pria itu seakan tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
" Tuan Kutub" Perempuan itu selalu mengucek matanya seakan berharap itu bukan mimpi.
Cahyo menghampiri Dewi dan langsung memeluknya, sedikit mencubit gadis itu menunjukan bahwa semua itu bukan mimpi.
Cahyo :"Akhirnya aku menemukanmu Wi, kamu tau berapa tahun aku mencarimu? dan kau hilang bagai di telan bumi."
Tanpa terasa air mata Dewi jatuh di pipinya, dia begitu bahagia hingga tidak dapat berkata-kata, ternyata rasa rindunya tidak bertepuk sebelah tangan.
"Tuan Kutub..," Hanya itu yang dapat keluar dari mulut perempuan itu.
__ADS_1
Herlina melihat dengan takjub akan kesempurnaan Cahyo, dalam hati dia berasa bangga ternyata Dewi mendapatkan seorang pria yang tampan dan juga kaya.
Herlina :"Ternyata doaku langsung di dengar Tuhan Wi, dan langsung di kabulkan kini jodohmu sudah datang.
Dewi tersenyum, dan merasa nyaman di dalam pelukan Cahyo bahkan kalau andai bermimpi pun dia tidak ingin terbangun lagi.
Bimo mewakili Cahyo segera pamit kepada Herlina dan Bapaknya untuk membawa Dewi pulang.
ketiga orang itu akhirnya keluar dari rumah sakit itu menuju tempat tinggal Dewi yang tentunya bersama pria yang selalu menjadi mimpinya.
Di Tempat Perawatan Erlangga
Erlangga sudah sadar, Mawar selalu telaten mengurusi putranya. Haryo perlahan menanyakan kenapa penembakan itu terjadi dan siapa pelakunya.
Haryo :"Bagaimana ceritanya kamu bisa tertembak Lang?"
Erlangga :"Sebenarnya target orang itu papanya Bulan pak, lalu aku berusaha menolongnya dan malah aku yang kena."
Haryo :"Kira-kira siapa ya Lang pelakunya?"
Erlangga :"Tidak tau pak, pas aku turun di depan komplek perumahan aku melihat ada mobil yang mengejar mobil papanya Bulan. Aku segera mengubungi om Tekno untuk minta bantuan buat papanya Bulan karena dia dalam bahaya dan aku kehilangan jejak mereka.
Haryo :"Terus kenapa kamu gak langsung pulang?"
Erlangga :"Aku langsung menuju rumah Bulan ingin membuktikan mereka baik-baik aja pak, pas sampai di sana mereka belum sampai terus aku niat pulang pas sampai di pertigaan aku melihat mobilnya papanya Bulan dan aku langsung keluar menemuinya dan papanya Bulan juga keluar lalu terjadilah penembakan itu."
Erlangga menjelaskan semua kejadian yang menimpahnya, Haryo dan Sebastian mendengarkan dan berfikir siapa yang ingin membunuh putranya.
Sebastian :"Kamu tau kan Lang, dimana rumah Bulan.?"
Erlangga :"Tau kek, memangnya kakek kenal dengan Keluarga Bulan.?"
Sebastian :"Iya dia om Cahyo kakak bapakmu."
Erlangga terkejut dengan jawaban kakeknya dan meminta penjelasan tentang om Cahyo, karena setau Erlangga bapaknya tidak punya kakak.
Erlangga :"Kakaknya Bapak?"
Sebastian :"Iya dia ngambek sama kakek dan pergi meninggalkan rumah bertahun-tahun lamanya, kakek sudah mencarinya kemana-mana tapi tidak menemukannya.
Erlangga :"Pantas pas pertama kali bertemu aku merasa pernah melihatnya tapi dimana gitu.
Ningrum :"Pasti pernah melihatnya Lang om Cahyo wajahnya mirip kaya kakekmu waktu masih muda dulu sedangkan di rumah besar foto kakek beredar di setiap ruangan.
__ADS_1
Semua pada tertawa mendengar jawaban Ningrum karena benar apa adanya soal kemiripan ayah dan anak itu.
Seminggu di rawat akhirnya Erlangga di izinkan pulang karena kondisinya sudah semakin membaik.