PERMATA YANG HILANG

PERMATA YANG HILANG
bab 43


__ADS_3

Sepulangnya Bulan dari rumah sakit Erlangga masih belum sedikitpun menemuinya, dengan berbagai alasan tugas kampus membuat Erlangga jarang pulang kerumahnya.


Bulan yang menyadari keadaan Erlangga menanyakannya kepada bunda Mawar.


"Erlangga kemana, Bunda?" kata Bulan kepada Mawar.


"Tadi izin ke kampus, Sayang! katanya lagi banyak tugas" jawab Mawar.


Bulan merasa sedikit aneh dengan alasan itu, dia yang tau persis sifat Erlangga seakan tidak percaya dengan alasan yang di sampaikan oleh Mawar.


Bulan :"aku ingin jalan-jalan keluar, Bunda! bosan selalu berada di kamar"


Mawar :"Apa kamu yakin, Sayang? kamu belum pulih banget masih harus istirahat."


Bulan :"Bunda tenang aja, Bulan pasti bisa jaga diri."


Mawar tidak bisa menghalangi keinginan Bulan dan mengizinkan gadis itu keluar rumah.


Bulan pergi ke kampus lamanya, dia ingin mencari Erlangga yang sengaja menghindar semenjak Bulan tinggal di rumahnya.


Erlangga yang sedang duduk sendiri di belakang kampus tidak menyadari kedatangan Bulan, pemuda itu sedang menyibukkan diri dengan pelajarannya seorang diri.


Bulan yang melihat Erlangga belajar sendiri merasa heran, kenapa harus di kampus sedangkan di rumahnya cukup nyaman buat belajar dan Bulan segera menghampiri pemuda itu.


"Sepertinya kau sengaja menyibukkan diri, Lang! menghindar dariku ya?" kata Bulan dan Erlangga terkejut melihat kedatangan Bulan ke kampusnya.


"Kenapa kamu kesini, LAN?" tanya Erlangga tanpa menjawab pertanyaan Bulan.


"Aku kesini hanya memastikan kamu beneran sibuk apa hanya menghindar dariku, semenjak aku pulang dari rumah sakit kamu tidak pernah menemuiku sedangkan aku tinggal di rumahmu" kata Bulan ketus.


"Aku bukan ingin menghindar LAN, aku hanya tidak ingin merusak momen kamu bersama bunda Mawar aku tau bunda pasti kangen banget dengan anaknya yang telah lama hilang" jawab Erlangga.


Alasan Erlangga cukup masuk akal menurut Bulan, Bulan merasa Erlangga sedikit cemburu dengan perhatian ayah dan bundanya yang seharusnya untuk Erlangga malah berbalik fokus dengan dirinya.

__ADS_1


Bulan akhirnya memutuskan ingin tinggal bersama papa Cahyo dan mama Dewi aja, walaupun mereka bukan orangtuanya tapi Bulan merasa nyaman berada di dekatnya.


"Aku besok akan pindah ke rumah papa Cahyo, aku datang kesini sekalian pamit denganmu takutnya besok kamu berangkat ke kampus terlalu pagi Lang" kata Bulan dan itu membuat Erlangga terkejut dengan putusan itu.


"Kenapa harus pindah, LAN! itukan rumahmu dan mereka orangtua kandungmu"kata Erlangga. pemuda itu gak habis pikir kenapa Bulan lebih memilih tinggal di rumah pamannya daripada tinggal di rumah orangtuanya.


"Aku terbiasa tinggal dengan papa Lang, aku gak akan berubah karena dari kecil aku terbiasa tinggal dengan papa. Aku titip bunda ya kamu jangan keseringan keluar rumah nanti bunda Mawar kesepian" jawab Bulan santai dan meninggalkan Erlangga di taman itu.


Bulan pamit kepada Mawar dan Haryo ingin tinggal bersama papa dan mamanya, walau sebenarnya dia tau nama aslinya permata tetapi bulan tidak mau di panggil dengan nama itu karena merasa asing.


Bulan :"Bun, Bulan ingin tinggal sama papa dan mama juga ingin melanjutkan kuliah Bulan"


mawar :"Kenapa kamu gak tinggal di sini aja, Nak! ini rumahmu"


Bulan :" Aku kangen dengan kakek dan nenek Bun, aku juga kangen sama papa"


Haryo :"Ajaklah kakek dan nenek tinggal di sini LAN, kami masih kangen dengan kamu masa kamu tega mau ninggalin kami lagi."


Mawar :"Nanti kita beli rumah dekat kampus kamu ya nak? biar kamu tetap tinggal dengan ayah dan bunda."


Mawar merasa sedih karena harus melepaskan Bulan tinggal dengan papanya, tapi kemauan Bulan yang keras tidak ada yang bisa mencegahnya.


Bulan yang biasa hidup tomboy dengan didikan papa Cahyo merasa gak nyaman tinggal di rumah bunda dan ayahnya karena tidak ada pasilitas olahraga seperti di rumah Cahyo.


Bulan sering latihan beladiri dan menembak bersama sang papa sedang di rumah ayahnya gadis itu selalu di manja dengan bundanya, Bulan juga tidak mau Erlangga menjauhinya hanya karena perhatian ayah dan bundanya yang selalu tertuju padanya dan mengabaikan putranya.


Bulan :"Kalau libur Bulan akan sering berkunjung ke sini dan menginap di sini, Bulan juga sayang sama kalian."


Bulan memeluk kedua orangtuanya, setelah berpamitan dengan Haryo dan Mawar Bulan menghampiri Sebastian dan Ningrum ingin berpamitan juga.


Awalnya Ningrum terkejut mendengar Bulan ingin pulang kerumah Cahyo, tapi dia juga gak bisa melarang kemauan gadis itu.


Sesungguhnya Ningrum juga kangen dengan Cahyo dan ingin tinggal dengan putranya, tetapi Cahyo memilih tinggal di rumahnya.

__ADS_1


Di rumah Cahyo nenek yang kangen dengan cucunya selalu memandangi foto Bulan, kakek yang melihat nenek selalu melamun menghampirinya dan memberi pengertian kepada sang nenek.


Kakek :"Udahlah Nek, Bulan kini sudah ketemu dengan orangtuanya kita harus mengikhlaskannya."


Nenek :"iya Kek, tapi nenek kangen sama anak itu. Sedang apa ya dia sekarang?"


Kakek :"Bulan juga pasti kangen dengan kita Dan sering datang kesini aku yakin nek"


Nenek :"Iya Kek, nenek berharap Bulan kembali tinggal dengan kita di sini walaupun di sana orangtuanya tapi dia terbiasa dengan kita"


Di kamar Cahyo, Dewi selalu memberi nasehat kepada suaminya. Semenjak Bulan tinggal dengan Haryo membuat Cahyo gelisah karena merasa kehilangan.


Cahyo yang tidak menyangka kalau Bulan sebenarnya anaknya Haryo seakan berat melepaskan putri kesayangannya itu.


Dewi :"Sudahlah mas biarkan Bulan tinggal bersama orangtuanya kalau kamu merasa kehilangan mending kita tinggal di sana."


Cahyo :"Selama ini Bulan selalu bersamaku Wi, dan aku yakin dia gak akan betah tinggal di sana"


Dewi :"Jangan bicara begitu, Meraka pasti menyayanginya dan juga memenuhi kebutuhan Bulan mas."


Cahyo :"Hariku terasa sepi Wi, biasanya kalau pagi kita sering boxing bareng latihan bareng sekarang gak ada yang ngajakin olahraga!"


Dewi hanya bisa mendengar keluh kesah suaminya walau kadang merasa sedikit manja. Dewi akhirnya mengajak Cahyo untuk mencari putranya sekedar membuat Cahyo sedikit melupakan putrinya.


"Mas kapan kita mencari anak kita, daripada kamu kerjaannya melamun terus mending kita cari keberadaan putra kita" kata Dewi lirih


Cahyo yang melihat kesedihan di mata istrinya segera memeluknya, pria itu merasa bersalah karena perasaan rindunya kepada Bulan membuat dia melupakan janjinya yang ingin mencari putra kandungnya setelah pernikahannya dengan Dewi.


"Oke hari ini kita cari anak kita, maafkan aku yang sempet melupakan janjiku padamu Wi"


kata Cahyo dan membuat senyum sang istri terlihat kembali.


Cahyo dan Dewi bersiap-siap ingin mencari putranya dan tujuan pertamanya adalah panti asuhan tempat pertama kali Dewi menitipkan putranya.

__ADS_1


__ADS_2