PERMATA YANG HILANG

PERMATA YANG HILANG
bab 7


__ADS_3

"Kenapa harus Bulan? Kenapa tidak mengadopsi aja dari panti asuhan?" ucap sang Kakek.


"Entah mengapa aku merasa dekat dengan Bulan Kek." Cahyo menjawab dengan suara yang halus dan mata yang terlihat ada kesedihan di sana.


"Apa tuan ini masih keluarga Bulan,? Apa mereka juga punya ikatan batin?" kakek berbicara dalam hati karena dia sering lihat Bulan pergi ke bukit itu seorang diri.


"PAPA... " Bulan pulang dari sekolah dan langsung berlari kepelukan Cahyo dan memanggilnya papa.


"Papa kemana aja? Kenapa lama pulangnya, katanya cuma seminggu." pertanyaan Bulan membuat Cahyo meneteskan air mata karena terharu di panggil Papa sama Bulan dan langsung mencium kening anak itu.


"Maaf sayang cuaca buruk di sana jadi Papa telat pulang, oh iya papa bawa banyak


oleh-oleh buat Bulan, ada juga Buat kakek dan nenek." Cahyo langsung memberi isyarat pada Bimo untuk mengambil oleh-oleh di mobil.


"Bulan kenal sama mereka?" akhirnya kakek buka suara.


"Iya Kek, Ini papa Bulan dia penganti orangtua Bulan Kek, setiap Bulan rindu sama kedua orangtua Bulan papa Cahyo yang selalu ada dan mengobati kerinduan Bulan Kek." jawab Bulan sambil tetap memeluk Cahyo.


"Baiklah saya memberi izin kamu menjadi orangtua Bulan, kerena kebahagiaan Bulan di atas segalanya, dan ingat jangan pisahkan kami dari cucu kami karena Bulan satu-satunya yang kami punya." akhirnya kakek mengizinkan Cahyo menjadi papanya Bulan karena melihat senyum di bibir cucunya itu.


Di Kediaman Keluarga Sebastian


Mawar selalu teringat kepada Bulan temannya Erlangga, bahkan Mawar ingin bertemu lagi dengan Bulan.


Entah mengapa dia merasa dekat dengan anak itu padahal baru pertama kali bertemu,


"Sayang teman kamu yang kemarin datang tinggal dimana?" tanya Mawar terhadap Putranya.


"Gak tau Bu... Yang aku tau dia sekolah di pajajaran Baru." jawab erlang sambil bermain bola basket di halaman belakang.


"Punya nomor telponnya gak sayang?


Kapan-kapan kita main kerumahnya!"


"Gak punya Bu karena Bulan gak punya Hp"


"Ya udah kalau begitu, ibu mau masak buat makan siang kalian" Mawar langsung pergi ke dapur untuk memasak dan Erlangga melanjutkan permainan bola basketnya.


Cahyo memenuhi janjinya untuk mengajarkan Bulan berbagai Ilmu beladiri yang dia punya, juga mengajarkan cara memegang senjata tapi di luar pengawasan sang Kakek tentunya karena Cahyo takut sang Kakek melarang Bulan memegang senjata karena Bulan masih kecil.


Bulan anak yang cerdas dalam beberapa bulan aja sudah menguasai semua yang dia pelajari dari papanya, Cahyo juga membuatkan rumah yang cukup besar buat di tinggalin Bulan dan Keluarganya terkadang dia juga menginap di sana .

__ADS_1


Penduduk menerima Cahyo karena keramahannya dan Cahyo sering membantu penduduk apabila kesusahan keuangan.


Bimo merasa bersyukur melihat perubahan Bossnya, semenjak mengenal Bulan Bossnya lebih banyak tersenyum di bandingkan marah dan sikap dingin tapi berbeda apabila di lingkungan pekerjaannya.


Cahyo tetap dingin di perusahannya tak ada yang tau kalau Cahyo memiliki anak angkat karena dia tidak mau kalau musuh menargetkan Bulan dan membahayakan nyawa anak itu.


Hanya Bimo satu-satunya yang tau semua rahasia Cahyo dan Bimo juga menyayangi Cahyo seperti anaknya sendiri.


"Bulan Kamu harus tumbuh menjadi anak yang pintar, Mandiri Dan hebat."


"Kehebatanmu jangan kau tunjukan kepada siapapun tapi pergunakan untuk menjagamu di saat jauh dari Papa." ucap Cahyo menasehati putrinya karena dia takut kalau kemampuan putrinya di manfaatkan Orang jahat.


"Iya Papa aku akan ingat semua yang papa ajarkan kepadaku juga nasehat papa."


BEBERAPA TAHUN KEMUDIAN


Bulan tumbuh menjadi gadis yang cantik tapi tetap tomboy, gadis berusia 17th ini jauh dari kata feminim.


Sang Nenek sering menasehati Bulan untuk berdandan dan memakai gaun tapi Bulan tidak mau mendengarkannya.


Bulan kuliah di Universitas ternama di kota, karena merengek dan merajuk sama nenek dan kakeknya akhirnya keluarga Bulan tinggal di kota dan Cahyo membeli sebuah perumahan di dekat kampus Putrinya.


Cahyo tetap tidak tinggal bersama mereka, dia datang sesekali aja di saat dia senggang. Cahyo lebih banyak tinggal di KLA LION ( MARKAS ) besarnya. Sambil memantau bisnisnya.


Pagi ini Bulan kesiangan bagun pagi dia


buru-buru mandi dan hendak berangkat ke kampusnya .


"Sarapan dulu Bulan! Nanti kamu sakit" kata sang Nenek yang melihat cucunya hendak berangkat ke kampusnya.


"Di kampus aja Nek makannya, aku udah siang ini pertama kali aku telat mana dosennya killer Nek." jawab Bulan sambil mencium sang Nenek.


"Killer apa itu artinya sayang?"


"Galak, Seram kaya macan kalau lihat mahasiswa telat pas pelajaran dia Nek. Ahhahahaaha" Bulan menjawab sambil menyambar kunci motor gedenya.


"Bulan, hati-hati bawa motor jangan kebut -kebutan sayang!" kata nenek khawatir takut cucunya kebut-kebutan di jalan karena kesiangan.


"Siap Nek,! dadaaaaah" jawab Bulan sambil melajukan motornya meninggalkan perkarangan rumahnya.


Di perjalanan Bulan melihat seorang pemuda sedang berdiri di sebelah mobilnya yang mogok.

__ADS_1


"Mobilmu kenapa?" Bulan berhenti di depan pemuda itu dan bertanya.


"Mogok ga tau kenapa mana udah mau telat lagi ke kampus." jawab pemuda itu.


"Kamu Kuliah di mana?" tanyanya lagi.


"UNIVERSITAS ANGKASA PURA" jawab pemuda itu.


"Naik motorku aja!, Kita 1 kampus tinggalkan aja mobilmu telpon bengkel biar ada yg betulin, Buruan nanti telat." Bulan menawarkan jasa berangkat bareng dengan motornya.


Pemuda itu segera naik ke motor Bulan. Karena tidak pernah naik motor dengan kecepatan kencang pemuda itu ketakutan sambil memegang pundak bulan dengan erat dan mata yang tertutup.


Tak berapa lama mereka sampai dikampusnya, pemuda itu turun dengan kaki yang sedikit gemetar dan keringat dingin.


"Kamu kenapa?" tanya Bulan dengan polosnya.


"Gila lo cewek ko naik motornya kaya mau terbang gitu." jawab pemuda itu protes.


"Udah mau telat kalau jalannya kaya keong bisa terlambat" jawab Bulan sambil ketawa dan masuk kedalam kampus.


"Emank kamu gak pernah naik motor?"


" Pernah tapi gak sekencang itu juga "


"Aku juga bawanya santai ko, Kalau gak kepepet hahahahah"


Mereka masuk ke kelas masing-masing karena beda jurusan,


Pas di kantin mereka tak sengaja bertemu lagi dan mereka jajan bareng di kantin kampus.


"Pas saat pemuda itu hendak membuka Hp karena ada yang telpon, Bulan memperhatikan gelang anyaman yang di pakai pemuda itu dan dia bertanya.


"Kamu beli gelang itu di mana?"


"Oh ini gelang persahabatan, aku membelinya di aksesoris waktu sekolah kami ikut cerdas cermat. Dan pasangannya di pakai temanku." jawab pemuda itu sambil di usap-usap gelangnya.


Bulan menggulung lengan kemeja kirinya dia juga menunjukkan gelang yang sama dengan milik pemuda itu.


"Aku juga selalu pakai gelang ini"ucap Bulan sambil menunjukkan gelangnya.


"BULAN, ITU KAH KAU!" tanya pemuda itu kaget saat melihat gelang itu.

__ADS_1


"Ya Erlang, Ini aku" jawabnya sambil tersenyum.


__ADS_2