PERMATA YANG HILANG

PERMATA YANG HILANG
bab 6


__ADS_3

Perjalanan Cahyo di berbagai negara eropa mengalami banyak kendala di perjalanan, hingga yang tadinya rencana 1 minggu mundur menjadi 1 bulan.


Rasa kangennya ingin bertemu putri angkatnya membuat Cahyo uring-uringan dan mudah emosi membuat anak buahnya takut dan gemetaran.


"BIMOOOII..... mau sampai kapan kita di negara ini?" ucapnya kesalnya karena tidak sabar ingin kembali ke negaranya.


"Cuaca lagi buruk Boss, Bandara di tutup sementara karena ada badai salju."


"Kapan aku ketemu Putriku Bim, Pasti dia nungguin aku di bukit itu?" dengan raut wajah sedih Cahyo membayangkan wajah putri angkatnya yang menunggu di bukit favoritnya.


"Sabar Boss, Lebih baik terlambat daripada kita semua celaka yang ada Boss gak bisa ketemu anak itu lagi."


Cahyo hanya memandangi foto di Hpnya foto Bulan yang sedang tersenyum, dan berharap badai di negara itu berakhir dan cepat pulang menemui Bulan juga keluarganya.


Di KEDIAMAN TUAN SEBASTIAN


Erlangga tumbuh menjadi remaja yang tampan dan cerdas sifatnya yang lembut dan mudah tersenyum menjadikan dia di idolakan gadis-gadis seusiannya.


Haryo dan Mawar mendidiknya dengan penuh kasih sayang bagaikan anak sendiri dan selalu mengajarkan sikap rendah hati kepada siapapun.


Erlang selalu tampil sederhana walaupun dia anak orang kaya tapi tidak menunjukkan kekayaannya kepada teman-temannya.


Karena Erlang pintar di sekolah dia di daftarkan cerdas cermat tingkat profinsi dia mewakili kotanya.


Bulan juga ikut cerdas cermat memakili desanya, Bulan di antar Pak lurah ke kota tempat di selenggarakan cerdas cermat itu sang kakek dan nenek juga mendampingi cucunya mereka bangga karena Bulan Tumbuh menjadi anak yang pintar.


"Hai ... Boleh numpang duduk di sini?"


"Boleh duduk aja!" sahut Bulan tanpa menoleh karena sedang sibuk membaca materi pelajaran.


"Lagi belajar ya?" sapa Erlang sambil melihat buku yang di baca Bulan


"Lagi iseng aja, sambil nunggu panggilan" jawab Bulan sambil tersenyum manis.


"Kenalkan aku Erlangga dari sekolah Tunas Bangsa" sambil mengulurkan tangannya ke Bulan.


"Aku Bulan dari sekolah Pajajaran Baru." menyambut tangan Erlang yang mengajak bersalaman. Kemudian team mereka di panggil naik ke panggung.

__ADS_1


Nenek dan kakek menonton di barisan pengunjung dengan semangat sambil bertepuk tanggan melihat cucunya naik ke panggung, begitupun Haryo dan Mawar sama semangatnya saat dia melihat Erlangga.


Dan cerdas cermatpun di mulai


Kedua sekolah itu sama-sama memiliki siswa dan yang berpotensi dan cerdas bahkan nilai mereka sama hingga juri memberikan 1 pertanyaan rebutan untuk 2 team tersebut dan di menangkan oleh team sekolah Pajajaran Baru.


Di luar gedung saat Bulan ingin pulang bersama keluarganya Erlangga menyapanya.


"Bulan mampir dulu ke rumah mumpung kamu datang ke kota ini, boleh ya bu?" melirik ibu Mawar meminta izin mengundang Bulan mampir ke rumahnya.


"Iya nak Bulan, Pak, Bu Mampirlah ke rumah kami." ucap Ibu Mawar kepada pak Lurah, Kakek dan Nenek.


Dan Pak lurah menyetujui undangan Pak Haryo dan Bu Mawar untuk mampir ke rumahnya.


Melihat Erlangga dan Bulan bercanda tak terasa Mawar menitikkan airmatanya teringat akan putrinya yang hilang.


"Kenapa aku melihat Bulan seperti Melihat Permata ya Pak." bisik Mawar kepada Suaminya.


"Mungkin karena kita kangen Bu sama Permata" jawab sang suami.


Tak terasa waktu menjelang sore dan Pak Lurah pamit kepada keluarga Haryo dan kembali ke desanya.


"Terimakasih pak sekali-kali mampirlah ke desa kami " jawab pak lurah.


Dan akhirnya mobil pak lurah pergi meninggalkan kediaman Tuan Sebastian.


Cahyo tiba di negaranya, dia udah tidak sabar ingin bertemu dengan Bulan dan kakek neneknya, karena rasa kangen terhadap anak itu membuat Cahyo semangat membawa oleh-oleh buat Bulan dan keluarganya.


"Bim, Kira-kira kakek dan neneknya memberi izin gak ya kalau aku ingin menjadi orangtua Bulan." pertanyaan Cahyo membuat Bimo menaikan alisnya.


"Kita kan gak misahin anak itu dari kakek dan neneknya Boss, kenapa mereka tidak memberi izin." jawab Bimo masih tetap fokus mengemudi .


"Kira-kira kalau Bulan tau aku seorang mafia dia akan ninggalin aku gak ya Bim?" Cahyo cemas apabila pekerjaannya sebagai mafia di ketahui oleh Bulan.


"Nanti Bulan akan mengerti posisimu Boss, apabila suatu saat nanti dia tau kebenarannya. Yang penting Boss tulus menyayanginya dia tidak akan meninggalkanmu." jawab Bimo menenangkan Bossnya.


"Entah mengapa aku sangat menyayanginya dan takut kalau dia bakal ninggalin aku Bim"

__ADS_1


Tak terasa mobil mereka sampai di desa di mana Bulan dan keluarganya tinggal, Bimo bertanya kepada penduduk di mana rumah kakek Suparman dan nenek Sulasih.


Ternyata semua penduduk mengenal sang kakek lalu Bimo dan Cahyo di antar kerumah Bulan.


"Assalamualaikum, permisi." Bimo memberi salam sambil mengetuk pintu.


"Waalaikumsalam" jawab Nenek sambil membuka pintu


"Permisi... Apa benar ini rumah Kakek Suparman dan Nenek sulasih."


"Iya benar Saya sendiri ini darimana ya?"


"Saya Bimo dan ini majikan saya Tuan Cahyo ingin bertemu dengan Kakek Suparman dan Bulan."


"Mari silakan masuk! Maaf rumahnya kecil gak ada kursinya" nenek mempersilakan kedua tamunya masuk dan di persilakan duduk di atas tikar.


"Terimakasih Nek" jawab Cahyo dan Bimo bersamaan dan segera masuk ke dalam rumah yang sangat sederhana itu.


"Tunggu sebentar ya saya buatkan minum dulu," nenek langsung menuju ke dapur untuk membuatkan teh buat tamunya.


"Kakek masih di perkebunan dan Bulan belum pulang dari sekolahnya, silakan di minum dulu tehnya!" ucap nenek sambil meletakan 2 gelas minuman di atas meja.


Tak lama Kakek pulang dari perkebunan karena ada yang memberi tau kalau ada tamu yang mencarinya dan sekarang ada di rumahnya.


"Assalamualaikum, Eh ada Tamu" ucap salam kakek dan langsung masuk ke rumahnya menemui kedua tamunya.


"Waalaikumsalam" ucap mereka bertiga


"Perkenalkan saya Bimo dan ini majikan saya Tuan Cahyo, kedatangan kami kesini ingin berkunjung ke rumah keluarga Bulan untuk Bersilahturahmi." ucap Bimo sopan sambil memperkenalkan diri kepada kakek .


"Saya Kakeknya Bulan, anda kenal Bulan di mana ya?"


"Saya sering bertemu Bulan di bukit dekat perkebunan straowbery sana," Cahyo menjawab pertanyaan sang Kakek di mana pertama kali dia bertemu dengan Bulan.


"Terus maksud kedatangan anda?" tanya sang kakek yang penasaran tiba-tiba Bulan kenal orang kaya yang terlihat dari penampilannya.


"Saya selama ini hidup sendiri Kek, karena saya juga belum berkeluarga, pas saya kenal dengan Bulan saya merasa punya keluarga dan saya menyayangi dia seperti anak saya sendiri, kedatangan saya kemari ingin meminta izin kepada Kakek dan Nenek untuk menjadi orangtua Bulan." Kata Cahyo sambil menundukan kepalanya.

__ADS_1


"Maksud Tuan apa ya? Tuan ingin memisahkan saya dengan cucu saya.?"


"Bukan Kek, saya hanya ingin menjadi papanya Bulan aja dan membiayai semua kebutuhan Bulan juga melindungi dia, dan Bulan tetap tinggal sama kakek dan nenek saya gak ingin memisahkan kalian." Cahyo menjelaskan kesalah pahaman sang Kakek terhadap niatnya.


__ADS_2