PERMATA YANG HILANG

PERMATA YANG HILANG
bab 39


__ADS_3

Hari pernikahan Cahyo dan Dewi telah tiba, akad nikah di lakukan di rumah Dewi di desa berjalan dengan hikmat dan lancar.


Tamu undangan yang terdiri dari warga desa dan para pelanggan tokonya membuat Pesta pernikahan Dewi dan Cahyo terlihat meriah.


Keluarga Cahyo menginap di desa itu karena rumah Dewi sekarang sudah besar dan cukup menampung para kerabat yang menginap di rumahnya.


Seusai acara Bulan memasuki kamar yang sudah di siapkan oleh keluarga Dewi, malam ini Bulan berencana tidur berdua dengan bunda Mawar dan Haryo tidur dengan Erlangga.


Bulan yang belum pernah mengunakan kebaya kini sedang sibuk membuka kebaya karena merasa gerah, karena sedikit kesusahan membuka resleting kebaya yang ada di belakang Bulan meminta bantuan bunda Mawar yang kebetulan ada di dalam kamar itu.


Bulan :"Bunda, Bulan boleh minta tolong ga?"


Mawar :"Boleh sayang mau minta tolong apa?"


Bulan :"Tolong bukain resleting kebaya Bulan Bun!, susah ada di belakang."


Mawar berjalan mendekati gadis itu dan segera membantu membukakan resleting kebaya Bulan.


Akhirnya kebaya itu bisa di buka dan Bulan tanpa malu membukanya di depan Mawar. Mawar mengamati gadis cantik itu sambil duduk di ranjang, dia teringat dengan putrinya yang telah lama hilang.


Saat Bulan hendak memakai baju tidur Mawar tanpa sengaja melihat tanda lahir Bulan yang berada di punggungnya, wanita itu segera menegaskan penglihatannya takut hanya sekedar halusinasi karena Mawar sedang rindu dengan putrinya yang hilang.


Mawar :"Tunggu Bulan, Bunda lihat ada noda hitam di punggungmu.!"


Bulan :"Noda hitam apa Bun?"


Mawar menghampiri gadis itu memastikan penglihatannya, Mawar menyentuh sebuah tanda lahir seperti bulan sabit di punggung gadis itu mengusapnya dengan tangan yang gemetaran seakan tak percaya kalau tanda lahir itu nyata bukan ilusi.


Bulan :"Bunda..., ko bunda diam aja? Ada noda apa Bun di punggung aku?"


Mawar :"Apa kau memiliki tanda lahir LAN?, seperti berbentuk bulan sabit?"

__ADS_1


Bulan :"Iya bunda, kata nenek aku memiliki tanda lahir itu di punggungku makanya aku di beri nama Bulan.


Mawar :"Ya Tuhan.... anakku!"


Mawar segera memeluk Bulan dari belakang sambil menangis, dan Bulan sendiri merasa binggung kenapa bunda Mawar menangis sambil memanggil anakku.


Bulan :"Bunda...., kenapa bunda menangis?."


Mawar melepaskan pelukannya, perempuan itu memutar tubuh Bulan dan memegang kedua pipi gadis itu.


Mawar :"Kamu putri bunda yang hilang nak, namamu sebenarnya Diah Permatasari Ningrum."


Bulan terkejut mendengar perkataan bunda Mawar antara percaya dan tidak itu yang gadis itu rasakan saat itu, Mawar yang mengerti tatapan Bulan yang seakan ingin meminta penjelasan akhirnya mengajak Bulan duduk di ranjang untuk mendengar cerita yang ingin Mawar ceritakan mengenai hilangnya Putri mereka yang bernama Diah Permata Ningrum.


Mawar :"Dulu bunda pernah melahirkan anak perempuan yang memiliki tanda lahir seperti dirimu, Anak bunda di culik oleh seorang mafia di saat kita keluar dari rumah sakit tempat bunda melahirkan. Keesokan harinya bunda mendapat paket baju bayi yang sudah di cabik-cabik dan berlumuran darah juga surat kalau putri bunda sudah di bunuh oleh mafia itu."


Bulan yang mendengar cerita itu begitu syok, seakan tidak percaya atas semua ucapan mawar. Gadis itu juga teringat ucapan Cahyo yang pernah melakukan kesalahan pernah membunuh anak adiknya sendiri karena dendam dan kebencian terhadap Haryo.


Mawar yang melihat Bulan berlari segera mengejarnya, Mawar memanggil suaminya dan semua keluarga Sebastian keluar mendengar suara mawar yang terus memanggil Bulan sambil menangis.


Sebastian :"Ada apa ini?"


Haryo :"Iya sayang, ada apa? kenapa kamu menangis? memangnya Bulan kenapa?"


Mawar :"Bulan ternyata putri kita mas, Bulan ternyata Permata anak kita yang hilang mas."


Ningrum :"Apa..., kamu tau darimana mawar kalau permata adalah Bulan?"


Mawar :"Tanda lahir yang ada di punggungnya, kamu ingat mas kalau anak kita memiliki tanda lahir seperti bulan sabit?"


Haryo :"Iya aku ingat."

__ADS_1


Mawar :"Bulan memiliki tanda lahir itu, dan dia syok lalu pergi setelah aku menceritakan kebenarannya mas."


Cahyo yang mendengarkan cerita itu segera berlari keluar mencari Bulan, sebagai seorang papa yang selama ini memahami bagaimana Bulan Cahyo dengan mudah menemukan kemana keberadaan putri kesayangannya itu.


Bulan yang saat ini meluapkan kesedihannya di atas bukit dengan berteriak memaki sang papa yang sudah memisahkan dirinya dengan kedua orangtuanya itu di dengar langsung oleh Cahyo.


Cahyo :"Maafkan papa nak, saat itu papa khilaf karena rasa dendam di hati papa. Papa juga ga tau kalau kamu adalah permata anaknya Haryo,


Bulan :"Terus kalau papa seandainya tau aku anak om Haryo apa papa bakal benar-benar ingin membunuhku pah? Segitu besarnya dendam papa hingga papa tega berniat ingin membunuh bayi yang tidak berdosa?"


Cahyo :"Setelah papa memerintahkan Bimo untuk membunuh bayinya Haryo, hati papa menjadi tidak tenang LAN. papa selalu di bayang-bayangi rasa bersalah setiap hari bahkan berbulan-bulan."


Bulan :"Bohong.., pasti papa merasa puas kan!, sekarang ternyata bayi itu masih hidup pah kalau mau bunuh silakan bunuh aja.!"


Cahyo :"Enggak sayang, papa sangat menyayangimu bahkan papa rela bertukar keselamatanmu dengan nyawa papa."


Bulan :"Aku gak percaya sama papa, Bulan benci papa."


Bulan berlari meninggalkan Cahyo di bukit itu, bahkan Bulan tidak pulang kerumah Dewi. gadis itu masih ingin menenangkan dirinya dia pergi menelusuri sungai dan tanpa sadar Bulan tiba di desa seberang desa tempat Dewi tinggal.


Bulan duduk di pinggiran sungai, dia membayangkan cerita sang kakek saat menemukan Bulan di sungai dengan mengunakan pakaian dari daun pisang.


"Ternyata aku di buang oleh orang suruhan papa, dan ternyata yang ingin membunuhku adalah papa angkatku orang yang paling aku kagumi, dan yang ternyata adalah pamanku sendiri. Ya Tuhan ... apa yang harus aku lakukan?"


Bulan terus memandangi luas dan derasnya air sungai di hadapannya, tanpa gadis itu sadari ada seseorang yang mengintainya dari kejauhan. dan orang itu adalah Alex dan Cristyn.


Cristyn yang sekarang jatuh miskin dan tidak bisa membayar orang buat mencelakai Bulan rela menjadi wanita simpanan Alex untuk mencapai ambisinya.


Alex yang dulu pernah menjadi tawanan Cahyo kini sudah merasa bebas karena pria itu sudah mengeluarkan chip yang terpasang di dadanya lewat operasi, sehingga Cahyo tidak dapat melacak keberadaannya sekarang.


Sebenarnya Cahyo tau saat Alex melakukan operasi bertujuan mengambil chip itu tapi Cahyo membiarkannya, karena Cahyo yang sedikit berubah ingin membebaskan tawanannya dan meninggalkan semua pekerjaannya sebagai seorang mafia.

__ADS_1


__ADS_2