PERMATA YANG HILANG

PERMATA YANG HILANG
bab 42


__ADS_3

Mawar tiba di rumah sakit, melihat putrinya masih terbaring lemah di bangsal rumah sakit membuat Mawar bersedih hingga tidak mau meninggalkan Bulan walau hanya sebentar.


"Ternyata kamu adalah putriku, LAN!" ucap mawar sambil terus mengusap pipi gadis itu.


Hati Mawar berkecamuk antara bahagia dan sedih menjadi satu, di saat dia mengetahui kenyataannya tapi malah musibah yang di rasakan Bulan.


Perasaan benci Mawar dengan Cahyo yang memisahkan dia dan putrinya hingga belasan tahun hilang karena melihat kasih sayang Cahyo kepada Bulan yang begitu besar.


Sebulan sudah Bulan tak sadarkan diri di rumah sakit, gadis yang tertidur itu sedang bermimpi Didalam mimpinya dia sedang berada di sebuah taman dengan banyaknya burung merpati, dari sekian banyak burung yang hinggap Bulan melihat ada seekor burung yang berbeda dan melihat ada surat di kakinya.


Bulan melangkah mendekati burung itu dan mengambil surat untuk di bacanya,


"Pulanglah, Sayang! kau sudah terlalu lama bermain."


Bulan teringat ucapan papa saat menasehatinya "Jadilah seperti Burung merpati sejauh mana dia terbang dia pasti ingat pulang" kata papa Cahyo.


Bulan berdiri dan segera berlari mencari sang papa, tapi taman itu sangat luas hingga Bulan merasa lelah tapi suaranya terus memanggil papa.


"Papa..., Papa...!" ucap Bulan lirih.


Mawar mendengar suara Bulan langsung memanggil dokter, semua team medis datang untuk memeriksa keadaan Bulan dan semua anggota keluarga menunggu di luar.


Dokter keluar dari ruangan Mawar dan Cahyo segera menghampiri dan bertanya bagaimana keadaan Bulan.


"Bagaimana keadaan putriku dok?" kata Cahyo dan Mawar kompak.


"Bulan belum sadar, tapi dia terus memanggil papanya dan saya berharap papanya masuk dan berbicara dengan Bulan. Ajak terus Bulan bicara semoga suara papanya dapat menuntun dia untuk sadar." kata Dokter menerangkan keadaan Bulan.


Cahyo langsung masuk keruang dimana Bulan tertidur, di pegang ya tangan Bulan sambil memanggil nama gadis itu.


"Bulan ini papa.., Bangun yuk nak semua keluarga menunggumu di rumah!" kata Cahyo


Mawar bersedih kenapa bukan namanya yang di panggil dalam mimpi Bulan, namun Haryo selalu memberinya semangat dan nasehat karena selama ini Bulan lebih dekat dengan papanya dan meminta Mawar untuk bersabar karena sebenarnya Bulan juga menyayangi Bundanya.


Setelah mengetahui siapa Bulan Erlangga menjadi pendiam, pemuda itu memilih melamun di taman rumah sakit ketimbang berkumpul dengan keluarganya di dalam ruangan.

__ADS_1


Erlangga berfikir kalau Bulan anak papa Haryo dan bunda Mawar berarti Bulan adiknya tapi kenapa usia Erlangga dan Bulan hanya berbeda 1 tahun.


Selama ini Haryo dan Mawar menutupi siapa Erlangga sebenarnya, Haryo dan Mawar menyayangi Erlangga seperti anak kandung sendiri mereka berdua tidak mau mengatakan kebenaran yang terjadi kalau Erlangga bukan anak mereka tapi anak yang di adopsi di panti asuhan.


Erlangga yang sangat menyayangi Bulan berusaha melawan hati nuraninya untuk menerima kenyataan bahwa Bulan adiknya.


"Aku tidak boleh jatuh cinta dengan adikku sendiri." ucap Erlangga sedih. sebagai seorang lelaki Erlangga menutupi kesedihannya dari keluarganya.


Dewi yang melihat Erlangga duduk menyendiri segera menghampiri pemuda itu, dengan lembut Dewi mencoba berbicara dengan Erlangga. Dewi yakin pemuda di hadapannya itu sudah jatuh cinta dengan adiknya sendiri.


Dewi :"Lang..., Tante tau apa yang kamu rasakan, tapi itulah kenyataannya dan Tante harap kamu bisa menerima kenyataan itu.!"


Erlangga :"Iya, Tan! tapi kenapa rasanya sesakit ini Tan? lebih sakit di tinggal selingkuh."


Dewi :"Memangnya kamu pernah di tinggal selingkuh?"


Erlangga :"Belum si Tan, tapi kata orang sakit rasanya apa sesakit ini ya Tan?"


Tanpa terasa airmata pemuda itu mengalir di pipinya, Dewi segera memeluk Erlangga dan menenangkan pemuda itu.


Erlangga :"Tidak ada wanita sesempurna Bulan Tan! dia cantik, tomboy, pintar dan tidak matre. Banyak wanita yang Erlang temui mereka hanya melihat kekayaan papa aja, gak benar-benar tulus."


Dewi :"Tidak semua wanita begitu Lang! pasti masih banyak yang seperti Bulan."


Erlangga :"Iya Tan, buktinya ada di depan Erlang. sosok wanita lembut tapi mandiri pantas om Cahyo yang dinginnya melebihi kutub selatan bisa luluh dengan Tante."


Dewi :"Hahahaha kamu bisa aja, dalam keadaan sedih masih bisa gombal pantas banyak remaja cewek tergila-gila sama pesonamu Lang."


Erlangga :"Biarin mereka yang gila, nyatanya aku tipe pria yang setia. dan sekarang aku galau karena wanita yang singgah dihatiku adikku Tan."


Dewi :"Tante percaya kamu pasti bisa melewati masalah ini Lang."


Erlangga langsung memeluk Dewi, kehadiran Dewi memberi kenyamanan pada diri Erlangga dan sedikit mengobati rasa sedihnya.


Haryo melihat kedekatan putranya dengan Dewi dari kejauhan, Haryo yang hendak membeli makanan buat semua orang tanpa sengaja melihat Erlangga dan Dewi.

__ADS_1


Haryo mengira Erlangga sedikit cemburu karena perhatian kedua orangtuanya hanya tertuju pada Bulan dan sedikit mengabaikan putranya.


"Papa tau kamu sekarang sedang sedih karena perhatian papa dan bunda saat ini fokus ke Bulan, papa yakin kamu bisa memahami kami Lang karena kami baru saja bertemu dengan permata." ucap Cahyo dalam hati.


Haryo melanjutkan perjalanannya meninggalkan Erlangga dan Dewi, Haryo membeli makan siang buat keluarganya karena Mawar masih betah menunggu kabar Bulan di ruang rumah sakit.


Usaha Cahyo mengajak Bulan berbicara membuahkan hasil, gadis yang tertidur itu akhirnya bangun dan langsung membelai wajah papanya yang hampir tertidur karena lelah mengajak bicara putrinya.


Cahyo yang merasa ada tangan yang mengusap pipinya segera bangun dan betapa bahagianya melihat putrinya membuka matanya.


Cahyo segera memanggil dokter untuk melihat perkembangan Bulan, Mawar yang mendengar Bulan sadar segera ingin berlari menuju ruang perawatan tapi di tahan dengan bunda Ningrum.


Ningrum :"Sabar sayang! biarkan dokter periksa dulu keadaan Bulan."


Mawar :"Aku gak sabar ingin memeluknya bunda, aku kangen sama anakku Bun!"


Ningrum :"Iya bunda tau, tapi Bulan baru sadar sayang jangan bikin dia cape dengan kenyataan kalau dia anakmu."


Mawar :"Iya Bun, kemaren pas dia tau kalau ternyata aku ibunya dia syok dan lari meninggalkan rumah."


Mawar teringat awal mula Bulan pergi meninggalkan rumah, saat ini mawar berusaha sedikit bersabar dan menuruti perkataan bunda Ningrum dan suaminya.


Dokter :"Keadaan Bulan semakin membaik, mungkin hanya melakukan cek up rutin aja kedepannya."


Cahyo :"Terimakasih dok!"


Setelah dokter keluar satu persatu keluarga masuk ke kamar perawatan Bulan. gadis itu tersenyum memandang satu persatu keluarganya tapi Bulan merasa heran kenapa Erlangga dan mama Dewi tidak ada.


Mawar menghampiri Bulan dan mencium keningnya, Bulan merasa bersalah terhadap bundanya karena pergi meninggalkan Bundanya pas tau kebenaran siapa dirinya.


"Bunda..., Bulan minta maaf ya karena sudah ninggalin bunda.!" ucap Bulan lirih.


Mawar :"Kamu gak salah nak! Bunda maklum kalau sikap kamu begitu."


Bulan ingin sekali memeluk Mawar namun dia tidak bisa karena alat-alat medis masih menempel di tubuhnya, Mawar yang mengerti gerak tubuh putrinya segera memeluk Bulan tapi hanya sekedar menempel aja takut menyakiti tubuh anaknya.

__ADS_1


__ADS_2