
Cahyo berlari sambil mengendong Erlangga melewati lorong rumah sakit menuju ruang UGD sambil berteriak memanggil dokter.
"Dokter.....dokter...!"
Cahyo sangat khawatir dengan keadaan Erlangga, perawat datang membawa brangkar pasien dan Erlangga segerah di bawa keruang operasi.
"Tolong selamatkan anakku dok, lakukan yang terbaik untuk dirinya berapapun bayarannya"
Cahyo merasa sangat sedih melihat keadaan Erlangga tanpa dia sadar memanggil pemuda itu anak, Bulan menangis di pelukan sang nenek karena dia khawatir akan keselamatan sahabatnya.
Di tempat lain Haryo berpacu dengan waktu menuju rumah sakit tempat Erlangga di rawat, rasa cemas dan panik membuat dia melaju dengan kecepatan mobilnya melebihi batas normal hingga tiba di rumah sakit.
Haryo berlari menelusuri lorong rumah sakit menuju ruang operasi, langkahnya terhenti saat melihat Cahyo di depan ruangan itu.
Cahyopun sama terkejutnya melihat Haryo yang datang dengan wajah panik, pria itu langsung berfikir apa Erlangga anaknya tapi langsung di abaikan karena usia Erlangga sepantar dengan Bulan.
"Haryo..., untuk apa kau kemari?" kata Cahyo pas melihat adiknya sudah berdiri di dekatnya.
"Aku ingin melihat anakku ka, aku dapat kabar putraku ketembak!" jawab Haryo sambil melirik pintu operasi berharap sang dokter keluar dari sana.
Cahyo sangat terkejut, ternyata Erlangga adalah putra Haryo, dia menatap adiknya itu dengan tatapan seakan ini mendengarkan penjelasan dari Haryo.
"Jangan kau bilang kalau putramu adalah Erlangga?" tanyanya seakan tak percaya dengan jawaban Haryo.
"Erlangga adalah putraku ka, darimana kau kenal dengan anakku?" jawab Haryo penasaran.
Tiba-tiba Bulan datang dan langsung menjawab pertanyaan Haryo.
"Dia papaku om!" kata gadis itu menjelaskan dan membuat Haryo juga terkejut mendengarkannya.
Haryo : "Jadi Bulan anakmu ka?"
Cahyo : "Iya kenapa kamu kaget kalau aku punya seorang putri.
Haryo : "Bukan begitu ka, selama ini aku dan Mawar dekat dengan Bulan dan nganggap Bulan seperti anakku sendiri, ternyata dia adalah keponakanku sendiri."
Haryo bendekati dan ingin memeluk Bulan tapi langsung di cegah dengan Cahyo.
Cahyo : "Jangan sok baik kau Yo, jangan pernah menyentuh putriku.
Haryo : "Ka aku memang tulus sayang sama Bulan meskipun aku tidak pernah tau kalau sebenarnya Bulan anakmu, pulanglah ka apa kau tidak kangen sama ayah dan bunda?"
__ADS_1
Cahyo : "Ayah dan bunda sudah memiliki anak yang selalu di bangga-banggakan buat apa dia kangen sama anak brandal seperti diriku."
Haryo : "Kamu salah ka, semenjak kepergianmu Bunda banyak melamun dan menangis, ayah juga sudah mencarimu kemana-mana ka."
Perkataan Cahyo tertunda karena tiba-tiba dokter keluar dari ruang operasi.
"Keluarga pasien!" kata dokter yang menangani Erlangga
"Saya dok !" Cahyo dan Haryo tanpa sadar menjawab berbarengan dan mengaku keluarga pasien.
Mereka saling pandang membuat sang dokter bertanya lagi.
Dokter : "Yang mana papanya pasien, karena pasien membutuhkan transfusi darah secepatnya?"
Haryo : "Apa golongan darah anak saya dok?"
Cahyo : "Ngaku bapaknya masa golongan darah anaknya gak tau!"
Haryo : "Selama ini Erlangga gak pernah membutuhkan darah ka, karena selama ini dia selalu sehat.
Cahyo : "Jadi kau menuduhku pas ketemu aku dia celaka?"
Haryo : "Bukan begitu ka, selama ini putraku gak pernah periksa darah maksudku."
Haryo : "Golongan darahku B dok aku tidak bisa donor, apa di rumah sakit ini tidak ada stok dok?"
Dokter : "Maaf tuan kebetulan golongan darah ini stoknya habis."
Cahyo : "Mana ada seorang papa memiliki golongan darah beda dengan anaknya? Ambil darahku aja dok kebetulan golongan darahku sama.!"
Perawat langsung mengajak Cahyo keruangan khusus untuk pemeriksaan, Haryo merasa bersyukur melihat kakaknya mau mendonorkan darahnya untuk putranya dan dia berharap Cahyo mau kembali pulang kerumah keluarga Sebastian.
Bulan masih berharap-harap cemas menanti kabar Erlangga, gadis itu selalu berdoa semoga sahabat dan sekaligus saudaranya itu selamat dari maut.
Sang nenek dengan setia memeluk Bulan dan menenangkan gadis itu, Haryo melihat sepasang orang tua lanjut usia yang sedang memeluk anaknya Cahyo dan mulai bertanya dalam hati siapakan sebenarnya kakek dan nenek Bulan kenapa Cahyo sangat dekat dengan mereka.
Hati Haryo ingin bertanya tapi di urungkan pas mendengar kabar operasi berjalan lancar, Bulan dan Haryo merasa bersyukur.
Erlangga di bawa keruang perawatan dan di sebelah ranjangnya terdapat Cahyo yang sedang istirahat paska mendonorkan darahnya untuk Erlangga.
Haryo : "Terimakasih ka, berkat pertolongan kakak putraku selamat."
__ADS_1
Cahyo : "Aku melakukan ini untuk Erlangga bukan untukmu."
Haryo : "Iya ka, apapun itu niatmu sekali lagi aku ucapkan terimakasih."
Bulan langsung memeluk sang papa, gadis itu merasa bangga atas sosok Cahyo yang dinggi tetapi memiliki hati yang lembut kepada sesama.
Bulan : "Papa Bulan memang terbaik, Bulan bangga dengan papa"
Cahyo : "Apapun akan papa lakukan untuk putri kesayangan papa"
Cahyo memeluk anaknya dengan kasih sayang, tingkah Cahyo membuat Haryo terkesima dan memberanikan diri menanyakan
Haryo : "Ka.., kamu sudah menikah?"
Cahyo : "Apa urusanmu? Mau aku udah nikah apa belum gak penting buatmu."
Haryo : "Penting lah ka, memang kamu gak ada niat mau mengenalkan istri dan anakmu kepada ayah dan bunda?"
Cahyo : "Gak perlu, karena percuma saja pasti ayah sama bunda lebih sayang sama anak emasnya."
Hahyo memijit pelipisnya, dia binggung harus menjelaskan bagaimana lagi kepada kakaknya itu bahwa ayah dan bunda sangat menyayanginya.
Cahyo turun dari tempat tidur pasien dan langsung mengandeng putrinya keluar dari ruangan itu.
Haryo berusaha membujuk sang kakak untuk pulang, dan itu di abaikan oleh Cahyo yang segerah pergi membawa Bulan juga kakek neneknya.
"Minimal keadaanmu baik-baik aja ka, semoga suatu hari nanti Tuhan membukakan hatimu untuk memaafkan kami dan menuntunmu kembali pulang" ucap Haryo dalam hati sambil memandang kepergian kakaknya.
Haryo mengambil Hand phonenya dan langsung menghubungi sang istri kalau malam ini dia tidak pulang karena menunggu Erlangga di rumah sakit.
Mawar terkejut pas mendengar kabar Erlangga, dia segera mencari Bunda Ningrum untuk mengabarkan keadaan putranya.
"Bunda.... Erlangga ada di rumah sakit, tadi dia kena tembak" kata Mawar menangis
"Terus bagaimana kabarnya Mawar?" jawab bunda Ningrum.
"Kata mas Haryo dia selamat bun, karena ka Cahyo menolongnya dan mau mendonorkan darahnya buat Erlangga."
Ningrum langsung meletakan gelas tehnya saat mendengar nama Cahyo, wanita itu langsung berdiri dan mengajak suami juga menantunya menuju rumah sakit.
Ningrum berharap semoga putranya Cahyo masih ada di sana, dia sudah tidak sabar ingin segera tiba di rumah sakit itu.
__ADS_1
Sebastianpun sama dia sangat bersemangat mendengar kabar putranya, walaupun lelah karena perjalanan jauh untuk bisnisnya tidak membuat sebastian mengeluh karena dia sudah sangat merindukan Cahyo dan ingin segera bertemu dengan putranya yang telah lama pergi dari rumah.
Akhirnya keluarga besar Sebastian tiba di rumah sakit tempat Erlangga di rawat.