
Cahyo dan keluarga tiba di rumah keluarga Sebastian, saat mobil mereka memasuki halaman rumah Sebastian dan Haryo menyambut di depan pintu begitupun Erlangga dan Mawar.
Bunda Ningrum turun dari mobil langsung mengandeng putranya seakan gak mau terpisahkan lagi, Dewi dan Bulan berjalan di belakang mereka sedangkan kakek dan nenek sedang di jemput Bimo setelah mengantar Cahyo terlebih dahulu.
Sebastian segera memeluk putranya, rasa rindunya bertahun-tahun membuat airmata Sebastian jatuh di pipinya. Pemandangan haru di rumah itu tidak berpengaruh bagi Erlangga yang tidak berkedip melihat penampilan Bulan yang cantik dan anggun bagai seorang putri saat memakai gaun.
Gadis yang biasa terlihat tomboy di kampus kini datang datang kembali kerumahnya dengan penampilan feminim membuat Erlangga terpesona di buatnya.
Mawar dan Haryo mempersilakan semua untuk masuk ke rumah dan bunda Ningrum segera mengandeng Dewi memasuki rumah terlebih dahulu membiarkan Cahyo dan ayahnya melepaskan kerinduan mereka.
Ningrum :"Ini rumah kami Wi, di atas sana kamar Cahyo masih sama tidak berubah sedikitpun karena Cahyo sendiri yang mendesain kamarnya sendiri."
Dewi :"Wah rumah yang nyaman dengan kehangatan keluarga Bun."
Ningrum :"Perkenalkan Wi, ini Haryo adiknya Cahyo dan ini Mawar istrinya Haryo. yang ganteng itu cucu saya Erlangga anak Mawar dan Haryo.
Dewi :"Hallo, perkenalkan saya Dewi calon istrinya mas Cahyo."
Dewi segera menjabat satu-persatu tangan keluarga Sebastian untuk memperkenalkan diri, pas tiba bersalaman dengan Erlangga Dewi merasakan jantungnya berdetak lebih cepat seakan-akan darahnya mengalir dengan cepat di dadanya.
"Ada apa dengan jantungku saat melihat pemuda ini seakan memiliki ikatan khusus dengannya?" Ucap Dewi dalam hati sambil memandang pemuda itu.
Begitupun juga Erlangga, pemuda itu seakan menemukan kenyamanan saat menjabat jangan Dewi.
"Perempuan ini mirip yang di foto paman Cahyo waktu di perlihatkan denganku, ternyata calon mamanya Bulan." Ucap Erlangga dalam hati.
Bulan :"Jangan lama-lama memandang mamaku nanti jatuh cinta lagi, cukup papa aja yang boleh lihat mama lama.
Erlangga :"Ternyata calon mamamu lebih cantik dari kamu Lan."
Bulan segera menjewer Erlangga karena secara tidak langsung mengatakan dia jelek padahal Bulan sampai bela-belain dandan feminim biar terlihat cantik.
Erlangga :"Ampun LAN, sakit nih. Nanti telingaku bisa panjang kalau di jewer terus."
Bulan :"Biarin, biar lebar sekalian kaya telinga gajah."
Semua orang yang melihat keributan mereka bukanya memisahkan malah pada tertawa, memang Bulan dan Erlangga kalau sudah ketemu bagaikan tom dan Jerry gak pernah akur padahal di luaran mereka sangat kompak.
Erlangga memutar-mutar tubuh Bulan sambil menilai penampilan gadis itu dari depan ke belakang.
__ADS_1
Erlangga :"Mimpi apa semalam ko tiba-tiba bisa berubah jadi cantik begini sih LAN.?"
Erlangga :"Mimpi ketambrak singa, dan singanya kamu."
Semua orang terbahak-bahak mendengar jawaban Bulan, mawar segera mengajak mereka duduk di ruang keluarga.
Sebastian :"Ayah sangat bersyukur akhirnya kamu mau pulang kerumah nak, ayah sangat rindu sama anak ayah yang nakal dan keras kepala ini."
Cahyo :"Maafkan Cahyo ya yah, sudah bikin ayah cemas dan emosi dengan kenakalan Cahyo."
Sebastian :"Maafkan ayah juga ya nak, sudah bikin kamu salah paham sama ayah."
Haryo :"Selamat datang di rumah ka, maafkan saya yang selalu membuat kakak marah."
Cahyo :"Iya Yo, saya juga minta maaf karena sering berbuat jahat sama kamu."
Haryo dan Cahyo akhirnya berpelukan, belajar untuk saling memaafkan dan memulai dengan persaudaraan.
Haryo :"Oh iya ka, ini semua dokumen perusahaan Mentari Mega Jaya, semua ini milik kakak dan saya akan mengembalikannya karena kakak yang berhak atas semua ini.
Cahyo :"Tidak Yo, kau yang selama ini bekerja keras untuk perusahaan itu. MMJ sangat pantas jika kau yang pegang dan aku sudah punya perusahaan sendiri, aku mendirikan pabrik senjata terbesar di berbagai negara dan perusahaanku resmi.
Cahyo dan Haryo :"Kami juga bangga memiliki orangtua seperti ayah dan bunda.
Kebersamaan hari ini begitu indah, tanpa terasa hari mulai siang dan keluarga besar itu melakukan makan siang bersama karena nenek dan kakek Bulan juga sudah datang dan berkumpul dengan keluarga itu.
Ningrum mengantarkan Cahyo kekamarnya supaya putranya bisa beristirahat sementara Bulan dan Dewi di antar ke kamar tamu begitupun kakek dan nenek Bulan.
Bulan menemui Mawar di dapur, gadis itu merasa kangen dengan Mawar karena lama tidak bertemu semenjak papanya memisahkan Bulan dan Erlangga.
Bulan :"Bunda, bagaimana kabar bunda? boleh Bulan bantuin bunda di sini?"
Mawar :"Alhamdulillah bunda baik sayang, kamu makin cantik aja."
Bulan :"Ah bunda bisa aja, bunda juga selalu terlihat cantik."
Bulan dan Mawar saling bercanda dan bercerita hingga tak terasa waktu terus berputar, membuat Erlangga merasakan di abaikan oleh 2 wanita itu.
Melihat Erlangga yang ngambek minta ini dan itu supaya di perhatikan membuat Bulan merasa gemas melihat pemuda itu dan ingin mencubit pipinya.
__ADS_1
Erlangga yang gak terima pipinya di cubit membalasnya dengan menarik hidung Bulan dan terjadi kejar-kejaran di dalam rumah itu.
Sebastian :"Ya ampun nih anak udah besar juga kelakuannya masih kaya anak kecil."
Haryo :"Begitulah mereka yah, kalau ketemu kaya tom dan Jerry tapi kalau di pisahkan kaya ayam sayur gak ada semangat hidup.
Mawar :"Hahaha iya ya kemaren Erlangga banyak melamun di kamarnya."
Bulan dan Cahyo memutuskan menginap di rumah ayahnya, mau tidak mau Dewi juga meminta izin ke bapaknya kalau dia sekarang lagi di rumah calon mertuanya.
Malam harinya Cahyo berniat ingin membicarakan soal pernikahannya dengan Dewi, Cahyo juga menceritakan masalah anaknya yang dulu di titipkan Dewi di panti asuhan kepada ayahnya.
Sebastian :"Jadi kalian sudah lama kenal?"
Cahyo :"Iya yah."
Sebastian :"Kenapa kalian baru mau menikah?"
Cahyo :"karena Cahyo yang dulu tidak pantas mendampingi wanita sesempurna Dewi."
Sebastian :"Jadi sekarang kau sudah merasa pantas nak."
Cahyo :"Semenjak aku bertemu Bulan, aku belajar menjadi seorang papa yang bisa di banggakan anakku yah."
Sebastian :"Kau ketemu di mana dengan Bulan?"
Cahyo :"Di desa, Bulan saat itu sedang bersedih karena kehilangan orangtuanya sama seperti diriku yang saat itu merindukan kalian."
Sebastian :"Dasar anak nakal, kalau rindu kenapa tidak pulang."
Cahyo :"Karena aku masih ditutupi kebencian yah, Dewi lah yang menyadarkan aku kalau selama ini aku salah."
Sebastian :"Anakmu pasti ketemu, dia pasti mendapatkan kasih sayang dari keluarga barunya."
Cahyo :"Semoga Tuhan mau mengampuniku yah, dan mau mempertemukan aku kembali dengan anakku.
Sebastian :"Pasti nak, ikatan darah pasti akan bertemu walaupun terpisahkan jauh sekalipun.
Cahyo merasa sedikit lega setelah menumpahkan semua beban kepada ayahnya, bahkan ayah Sebastian memberi restu pernikahannya dan juga mau membantu mencari cucunya.
__ADS_1