
Seorang pria sedang bersimpuh di kaki Cahyo memohon pengampunan, dia adalah juragan Kosim sang rentenir yang menyita rumah panti.
"Ampun, Tuan!" kata juragan Kosim.
"Hancurkan semua rumah dan seisinya dan sita semua barang berharganya!" perintah Cahyo tanpa belas kasihan kepada anak buahnya.
Rumah mewah di tengah kota itu di hancurkan Cahyo dan anak buahnya, juragan Kosim yang mengetahui siapa dan bagaimana kejamnya Master C tidak bisa berbuat apa-apa pas semua barang berharganya di pecahkan di depan matanya.
"Kenapa tuan tega menghancurkan semua barang-barang berharga kami, apa kesalahan kami tuan?" tanya juragan Kosim. Pria itu merasa heran kenapa seorang Master C datang kerumahnya dan menghancurkan semua harta bendanya.
"Kalian sendiri tega menghancurkan masa depan anak-anak panti asuhan tanpa memikirkan nasib mereka semua di luar sana!" kata Cahyo emosi.
"Karena mereka berhutang kepada kami tuan! kami sudah memberi waktu untuk mengosongkan rumah tapi tidak di dengar oleh mereka" jawab juragan Kosim.
"Yang berhutang bukan kami, yang berutang si Eko anaknya bunda Syafa" kata Fajar membela diri.
"Tapikan tanah itu punya bundaku Jar!" jawab Eko yang ikut di seret kerumah juragan Kosim.
Eko yang sedang asik berjudi dengan teman-temannya di bawa paksa beberapa orang berjas hitam.
"Iya tanah itu memang punya bundamu tapi bangunan itu punya bundaku jadi kamu gak seenaknya mengusir kami" kata Fajar.
Setelah seluruh bangunan roboh Cahyo dan semua anak buahnya pergi meninggalkan juragan Kosim yang menangis, Eko menjadi sasaran kemarahannya pria itu di hajar habis-habisan oleh anak buah Kosim hingga meninggal.
Dewi dan Bulan membantu penghuni panti yang sedang membereskan kamar para anak panti di rumah baru mereka, tempat tinggal yang di berikan Cahyo sangat strategis memudahkan fajar berangkat kerja dan mengurus keperluan semua anak panti.
Cahyo juga memberikan beberapa mobil untuk antar jemput anak sekolah beserta supirnya, juga menjadi donatur tetap di panti itu.
Setelah semua pekerjaan selesai fajar mengajak Dewi dan Cahyo keruang kerjanya untuk mencari tau siapa yang mengadopsi anak mereka.
Di dalam buku besar milik bunda Aisyah tidak ada catatan siapa yang telah mengadopsi putranya, hingga Dewi bersedih karena tidak menemukan jejak keberadaan putranya.
Tanpa sengaja Fatimah menemukan buku harian bunda Aisyah dan memberikannya kepada Fajar.
Fajar membaca semua isi buku harian itu yang mengungkapkan semua isi hati bunda, airmata Fajar jatuh ke pipinya pas tau kebenaran kalau dirinya anak yang di temukan di jalan pas kecelakaan maut menerpa orangtuanya.
Hingga akhirnya dia menemukan sebuah informasi tentang siapa yang mengadopsi putranya Dewi
"Ka..., dalam catatan harian bunda yang mengadopsi anak kakak adalah keluarga donatur terbesar di panti ini dan dia seorang sahabat kecil bunda Aisyah dan bunda Syafa" kata Fajar.
__ADS_1
Fajar menunjukan foto persahabatan bundanya saat masih kecil kepada Dewi dan Cahyo.
"Haryo...!" kata Cahyo saat melihat foto anak laki-laki yang ada di foto itu.
Dewi yang mendengar nama Haryo yang di katakan suaminya terkejut dia langsung teringat dengan Erlangga.
"Kamu yakin mas... kalau anak kita di abdosi Haryo!" kata Dewi.
"Itu foto Haryo, kalau memang yang mengadopsi putra kita teman masa kecil bunda berarti anak kita Erlangga. pantas waktu dia membutuhkan transfusi darah Haryo tidak bisa mendonorkan darahnya karena darah mereka berbeda dan cocok dengan darahku" kata Cahyo yang teringat saat mereka di hadang Kla Tiger.
"Alhamdulillah... ternyata anak kita di rawat dengan keluarga yang tepat dan penuh kasih sayang, ayo mas kita ke rumah Haryo! ucap Dewi yang tidak sabar ingin memeluk putranya.
Cahyo dan Dewi segerah pergi meninggalkan panti asuhan itu, dan segera menuju rumah keluarga Sebastian.
Bulan menjadi pendiam, dia tidak menyangka kalau Erlangga sebenarnya anak papanya, selama ini Bulan yang berusaha menghindar karena merasa Erlangga adalah kakaknya.
Bulan menutupi perasaannya yang sesungguhnya karena dia menyukai kakaknya sendiri begitupun dengan Erlangga.
Setiba di rumah keluarga Sebastian, Cahyo dan Dewi tidak melihat Haryo dan keluarganya, sedangkan tuan Sebastian sudah berangkat ke perusahaannya.
"Bunda..., Haryo dan Mawar kemana?" tanya Cahyo kepada bunda Ningrum.
"APA....,!" jawab mereka kompak.
"Bunda..., jam berapa keberangkatannya?" kata Dewi.
"1 jam lagi pesawatnya berangkat!" jawab bunda.
Tampa menunggu perintah Cahyo dan Dewi segera menyusul Haryo ke bandara, bunda Ningrum binggung apa yang sebenarnya terjadi dan Bulan memutuskan tidak ikut untuk menemani neneknya di rumah.
"Nek..., sebenarnya Erlangga anak kandung papa dan mama" kata Bulan menjelaskan.
"Apa..., Erlangga cucu kandungku?" jawab Ningrum penasaran dan hampir tidak percaya.
Bulan menceritakan semua yang dia tau dari papanya, Ningrum mendengarkan dengan airmata kebahagiaan ternyata dia menyayangi Erlangga dengan tulus karena ada ikatan darah.
"Pantas aku sangat menyayanginya saat pertama kali dia datang ke rumah ini ternyata dia cucu kandungku sendiri, terimakasih Tuhan kau menyatukan kami dengan cucu kandung kami setelah kepergian ayahnya dari rumah kami" ucap Ningrum sambil bersujud syukur.
Di perjalanan Cahyo terus menghubungi Haryo, namun Haryo tidak mendengar kalau hpnya berbunyi.
__ADS_1
Di bandara Haryo dan Mawar masih sibuk merayu putranya untuk tidak keluar negeri karena mawar pasti merasa kesepian tapi keputusan Erlangga sudah bulat karena dia ingin melupakan Bulan.
Pesawat yang di naikin Erlangga akhirnya berangkat, Mawar menangis di pelukan suaminya melepas keberangkatan putranya.
Saat Haryo hendak meninggalkan bandara dia berpapasan dengan Cahyo yang baru tiba, karena kejebak macet Cahyo dan Dewi terlambat tiba di bandara.
"Mana Erlangga...,Yo?" kata Cahyo sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling bandara.
"Erlangga sudah berangkat, Kak!" jawab Haryo.
"Kita terlambat mas, anak kita udah berangkat" kata Dewi sambil menangis.
Cahyo memeluk istrinya dan berjanji akan menyusul anaknya ke Paris.
"Kenapa kau tidak mengangkat telponku, Yo? tanya Cahyo kesal.
"Maaf Kak, tadi aku dan Mawar mencoba mencegah Erlangga supaya tidak jadi kuliah di sana tapi memang keputusannya sudah bulat tidak bisa di cegah" jawab Haryo.
"Ngomong-ngomong kenapa tiba-tiba kalian mencari anakku?" tanya Haryo penasaran.
"Erlangga adalah putra kami yang kau adopsi dari panti asuhan dan kami baru mengetahuinya tadi" kata Cahyo.
"APA ...,!" jawab Haryo dan Mawar kompak.
"Iya Erlangga adalah putra kami, aku menitipkan dia di panti asuhan sebelum aku pergi ke Jepang untuk bekerja. Kami sudah menanyakan keberadaannya dan mereka bilang putra kami di asuh oleh kalian" kata Dewi menceritakan kebenarannya.
"Ya Tuhan ternyata kenyataannya anak kita tertukar Kak, Permata di asuh kakak sedangkan Erlangga di asuh kami pantas bunda dan ayah sangat memanjakannya ternyata mereka memiliki ikatan batin antara kakek dan cucu.
"Iya ternyata semua sudah di takdirkan supaya kita saling terikat Kak, Tuhan sangat baik pada kita dia menitipkan Erlangga untuk mengobati rasa rindunya kepada putranya dan Permata di takdirkan untuk membuat kakak kembali kepada kami" ucap Haryo.
"Kakak akan menyusul Erlangga ke sana dan Kakak titip Bulan ke kamu ya Yo!" kata Cahyo.
"Pasti kak...!" jawab Haryo.
Mereka akhirnya berpelukan melepaskan semua masalah di masa lalu dan merangkai kekeluargaan yang baru.
TAMAT.
Terimakasih untuk yang rajin membaca dan maaf apabila ada keterlambatan dalam menulis. nanti akan ada cerita lanjutan perjalanan cinta Erlangga dan Bulan ya.
__ADS_1