Pernikahan Yang Menyakitkan

Pernikahan Yang Menyakitkan
Bab 89 Jevanya


__ADS_3

Semua orang pasti punya kebiasaan mereka sendiri. lebih tepatnya saat pagi hari tepat pukul tujuh pagi setempat, kebiasaan orang yang santai, duduk bersinar kan matahari yang tidak begitu menyengat. menyesal susu hangat dengan pendamping satu slice roti berisikan selai strawberry. masih menggunakan piyama tidur yang sedikit tipis dan licin.


Duduk di sebuah kursi yang cukup empuk, salah satu kakinya terangkat, berpose bak putri anggun.


Sosok perempuan berumur 23 tahun itu menyunggingkan senyumnya. "Hariku sangat sempurna" batin wanita itu sekilas.


Menempatkan segelas susu tadi, tanpa menyentuh Roti, memperhatikan sekitar, mengingat apartemen keluarganya tempati berada di lantai 10 dengan kamar yang memiliki jendela kaca besar, memperlihatkan pemandangan negara Amerika di pagi hari, maniknya meliirik sekeliling, menghela nafas panjang.


Salah satu tangan bergerak anggun, mengambil satu benda kesayangan. swunggingan senyum itu perlahan semakin lebar, rona merah di pipi muncul.


"Ah! Itu dia!" memekik tanpa sadar, matanya membulat antusias. membuang semua keanggunan nya tadi, Rambut hitam panjang itu bergerak perlahan, masih menggunakan piyama, wanita itu beranjak dari kursi.


Satu hal yang ia rahasiakan dari siapapun, bahkan keluarga atau yang lain. sosok wanita rajin, serta penurut yang tidak pernah membantah orang tua, kimi berdiri memegang sabuah teropong yang ia beli online dengan harga khusus.


Menajamkan mata, senyuman itu melebar " oke, tirainya terbuka" menahan menetes, seperti orang bego mengunakan kemampuan matanya dengan baik, saat tirai jendela di seberang sana sudah terbuka dengan sempurna.


Sebuah keuntungan mendapatkan kamar dengan kaca yang lebar dan langsung tertuju keluar. tubuh tegal tertutupi sebagian oleh eh handuk putih, check.


Kulit sawo matang dengan tetes air sehabis mandi, rambut seksi yang basah, dan perut dengan enam kotak mengoda sebgai sarapan pagi. mengantikan semua roti yang dibuatkan untuk nya.


Tidak bisa menahan tetesan air liurnya, "Hari ini pun dia tetap sempurna, Tuan tampan ku" suaranya berubah, jiwa stalker nya muncul begitu saja, "Eh, kenapa dia?!" sedikit kaget saat melihat tubuh tegap itu tiba-tiba menunduk sekilas.


Teryanta hanya sebentar saja "Kukira kenapa" ucap nya dengan nada pelan, mencoba kembali fokus pada pemandangan indah didepan sana.

__ADS_1


Dirinya menunggu hidangan utama, "Ini dia!!!" Berteriak dalam hati, seperti wanita fangirl. Saat tubuh tegal itu berusaha membuka handuknya, mme perlihatkan sedusta didalam sana, yang masih tersemyi dengan rapat.


Reflek meneguk ludahnya, matanya hampir memerah karena tidak berkedip. "Nona Vanya!! Anda sudah bangun!? Cepatlah je bawah! Nyonya dan tuan sudah menunggu" Suara teriakann wanita paruh baya yang sangat ia kenal, menghancurkan semua momentanya, dilanjutkan dengan ketukan pintu berkali-kali.


Berdexan kesal, landangannya teralihkan " sebentar, bibi aku masih sibuk!" tukas wanita itu cepat.


"Sibuk kenapa, Non? Tuan sudah nungguin dibawah lho, sekarang tinggal nunggu non Vanya saja" sekali lagi berteriak, WAnita paruh baya itu itu seolah sudah terbiasa dengan tingkah nona nya.


"Ish, iya bibi sebentar lagi! " mencoba melihat pemandangan langkah itu sekali lagi, "Non Vanya pasti lagi tidur ya? ayak non, sudah siang segitu malah kah untuk bangun! kan non sekrang harus pergi" ujar sang bibi dia heran dengan kepada majikan yang mudanya itu yang suka dengan tidur sudah seperti keboh saja.


Astga! satu hari saja kegiatannya tidak pernah diganggu oleh wanita itu, "Tunggu sebentar, bibi".


" BI Ina buka pintu nya ya non,! " terdengar suara kunci cadangan bergemerecing, wanita itu panik. "Ah! jangan buka dulu!" meringsek panik, suara kenop pintu berhasil dibuka, "Bibi masuk" suara semakin keras.


"Reputasku!!" reflek membuang teropong kesayangan nya sejauh mungkin, jauh darinya suara retakan itu membuatnya nangis darah karena kehilangan teropong kesayangan yang sudah lama dibelinya pas vanya kuliah semester pertama sampe karena reputasi dia reflek mengahancurkan benda itu.


"Non vanya? oh, sudah bangun rupanya" wanita paruh baya itu berdiri diambang pintu dengan wajah lega mengelus dada, melihat nonnya sudah jauh dari tempat tidur. berdiri menatap jendela kamar dan nampak segar.


"Kalau begitu kita turun saja kebawah Non, disitu sudah ada tuan besar sama nyonya besar nunggu nona vanya agar gabung" ujar sang bibi.


"kan tadi pelayan sudah memberikan ku roti dan susu, bibi. jadi aku tidak perlu sarapan lagi dibawah" jawab vanya dia malas bergerak untuk kebawah karena malas naik turun atas bawah.


"Itu nona hanya makan roti sama susu dan itu juga tidak habis sekarang nona harus ikut sarapan dibawah gimana pun caranya ada jawabnya" karena dipaksa untuk sarapan Vanya langsung bergerak dengan cepat untuk menutup tirai yang terbuka untuk melihat pada jendela tetangga.

__ADS_1


"Besok pagi kembali lagi tuan tampan" batin vanya setelah selesai menutup tirai itu kembali dia sangat menyukai tuan tampanya dengan diam-diam tidak suka terbuka dengan hal percintaan.


"Ha sarapan pagi ku" batin Vanya kembali dengan kecewa menatap malas ke depan dimana sang bibi berada "Non Vanya, harus ikut sarapan sama tuan dan nyonya besar apapun alasannya" sosok itu berujar tegas dia menyerah "hh, baiklah" desah panjangnya kembali teedengar.


"pagi semua" ucap Vanya setelah duduk gabung dimeja makan.


"Pagi juga, kenapa kamu lama sekali turunya van" tanya sang nenek dia sudah lama menunggu dengan sang suami di meja makan menunggu sang cucu untuk bergabung dengan mereka sarapan pagi.


"Itu nek, Vanya agak tidak selera sarapan tapi karena sudah dipaksa oleh bi ina aku turun deh" jawab Vanya dengan malas dua sudah kenyang saat melihat tuan tampanya.


"Kamu tuh tidak boleh begitu, mau gimana pun tidak selera harus kehargain masakan orang" protes sang nenek untuk ingatin sang cucu.


"Iya nek, kalau begitu kita langsung makan saja" ujar Vanya dia tidak ingin terlalu lama berbelit dengan urusan masakan dan makan, karena sudah kenyang dia mengiau piringya dengan lauk dan pauk yang sedkit.


**Hay kembali lagi dengan othor jadi othor nulis satu hari lebih dari tiga atau pas tiga bab, jadi buat kalian yang selalu ikuti cerita ini dari awal dan penasaran dengan akhirnya. ikutin selalu.


dan jangan lupa dengan vote, like and komen atau kritik saran dari kalian mana yang kurang tapi kritiknya yang bagus bukan sindiran othor juga punya hati yang cepat sakit hati.


kalian sudah baca gratis bila tidak suka tidak apa langsung pergi ke cerita yang lain saja karena othor gak butuh musuh othor hanya butuh dukungan kalian.


jadi saling mengerti dengan othor di dua bab ini maaf banget banyak prolog karena othor ingin kasih tahu saja agar saling mengerti satu sama lain.


Dan pada bab ini semua tentang Jevanya jadi jangan salah baca kirain ada tokoh baru.

__ADS_1


IG:ekashn90**


__ADS_2