Pesta Jailangkung Season 2

Pesta Jailangkung Season 2
21 Dua Tikus Got


__ADS_3

“Mbok Lastri, saya titip Satria, ya?” pinta Merri kepada Lastri. Sosok dengan perawakan perempuan setengah baya itu mengangguk paham.


Rohi dan Merri kemudian menaiki anak tangga. Diatas sana ada tiga kamar. Satu kamar yang ia tempati saat ini. Di tengah adalah kamarnya sewaktu masih kecil yang sekarang juga ditempati Mbok Lastri.


Yang terakhir adalah kamar yang pernah ditempati neneknya. Kamar itu tidak pernah dibuka kembali, dikunci oleh gembok khusus.


Namun sepertinya pintu kamar itu harus kembali dibuka. Sebab, sumber suara yang mereka dengar sepertinya berasal dari sana.


DUG  DUG  DUG!!!


“Kenapa kamar ini masih ada?” tanya Rohi sedikit keberatan.


“Ibuk yang suruh. Di ngelarang aku agar tidak mengusik kamar itu.” Jawab Merri datar.


“Kenapa?”


“Ntah lah. Andai aku juga bisa menanyakannya kepada dia.” Jawab Merri sedikit kesal. Dia tidak suka semua hal berkaitan dengan neneknya. Atau sosok yang tidak ingin ia anggap sebagai keluarga lagi.


DUG DUG DUG!!!


Bunyi itu semakin jelas. Suara itu bersumber diatas loteng di dalam kamar nenek Merri.


“Yakin mau masuk?” tanya Rohi kembali meyakinkan Merri.


Luka masa lalu membuat Merri sangat membenci kamar itu. Terlebih saat ia tau kalau nenek yang ia sayangi selama ini ternyata adalah seorang Wanita yang memiliki hati seperti iblis.


Merri menatap Rohi dengan wajah serius. “Mari kita cari tau bersama-sama makhluk apa yang ada di atas sana.” Ajak Merri.


Rohi tersenyum senang."Pasti, mari kita cari tau sama-sama."


Merry memanggil Lastri. Ia meminta Lastri menjaga Satria. Ia takut jika sesuatu yang buruk lainnya datang mengancam keselamatan mereka. Kemudian ia mengambil kunci gembok yang disimpan disalah satu laci yang berada dikamar ibunya dulu.


Merry berhenti didepan pintu kamar Mbah Uti. Dia masih merasa ragu. Leboh tepatnya, dia merasa gugup, takut, cemas dan juga marah.


"Biar saya saja, kau mundur dan tunggu di kamar." ucap Rohi.


Merry menarik nafas dalam-dalam. "Beberapa malam ini aku sering dihantui mimpi buruk. Dia selalu bilang takdir." jelas Merry. "Mungkin salah satu takdir itu ada disini." lanjutnya.


Rohi menngangguk paham.


"Aku harus hadapinya Rohi. Aku harus berani Rohi. Tapi aku Takut!" ucap Merry dengan suara gemetar.


Rohi menepuk pundak Merry pelan. "Kau manusia, dan hal wajar jika kau merasa takut. Almarhum ayahmu juga sering mengalami ketakutan. Tapi dia tetap menghadapinya."


"Terimakasih Rohi."


"Ya...!" angguk Rohi. Rohi terdiam dan kemudian dia ingat satu hal. "Ngomong-ngomong dalam beberapa satu tahun ini saya baru dapat ucapan terimakasih, loh!" seru Rohi tiba-tiba.


Merri tidak merubris. Rohi bersikeras, "Ternyata ucapan terimakasih sehangat ini." lanjutnya. "Ayo buka kuncinya, Merry."


.


.


Pintu dibuka. Lampu kamar itu dinyalakan. Merri dan Rohi melihat sekitar ruangan kamar ukuran cukup luas itu.


Suasana kamar dan juga perabotan di sana juga masih sama. Dipan kayu dengan ukiran khas jepara lengkap dengan lemari dan meja rias dengan warna coklat gelap.


DUG DUG DUG


Merri dan Rohi segera fokus mencari sumber bunyi asing itu. Mata mereka tertuju dengan fentilasi aneh yang terpasang diatas loteng yang sejajar dengan lemari kamar itu.

__ADS_1


Fentilasi itu sebenarnya adalah pintu atau jalan menuju loteng tempat ibunya menyimpan barang-barang bekas disana. Ada tangga khusus, tapi tangga itu telah hilang, begitu juga dengan kunci untuk membuka fentilasi itu.


“Kira-kira apa ya?” tanya Merri dengan raut wajah cemas. Dia takut jika neneknya masih menyisakan masalah di rumahnya.


"Kita akan segera mengetahuinya." ucap Rohi sok keren.


Bahasa Rohi membuat kuping Merri geli.


Rohi yang juga tidak tau bahaya apa yang mengancam dibalik sana langsung menunjukkan wujud aslinya. Setidaknya dengan wujud aslinya ia bisa mengatasi masalah besar dengan lebih cepat.


Sekali tebas pintu fentilasi itu terbuka dan menjatuhkan genangan bewarna hitam dan bau tidak sedap dari sana. Setelah beberapa kuintal air got gelap dan kental itu tumpah, dua onggok tubuh juga terjun bebas dari sana.


“GYA?!” Merri teriak. Dia mengira dua orang itu adalah mayat.


“Uhuk..uhuk… apa mereka mayat?” tanyanya yang berusaha bernafas karena aroma busuk genangan tersebut.


Rohi mendekati tubuh anak-anak yang sangat asing tersebut. Dia mencek keadaan mereka.


“Masih hidup, tapi salah satu dari mereka terlihat bukan seperti manusia.” Jelas Rohi memperhatikan keduanya.


“Maksudnya?” Merri mencoba mendekati kedua anak-anak tersebut.


Mereka sepasang, anak perempuan dan laki-laki diusia masih belasan tahun awal.


Sekilas Merri mengingat dua kejadian aneh. Pertama sepasang anak yang ia kira tertabrak setelah dari pemakaman. Kedua sepasang remaja yang hadir dalam mimpi mereka.


Anak laki-laki yang mengenakan seragam sekolah dan anak perempuan yang mengenakan baju tidur. Semua itu persisi denga napa yang ia lihat di pemakaman.


“TAKDIR!!” ucapan si buruk rupa.


“Takdir?” lirih Merri yang kemudian merasa berdebar sekaligus bingung.


“To… long… to to long… uhuk... uhuk....!!!” lirih salah satu dari mereka.


Sekali lagi ia mencoba berteriak, memanggil nama seseorang, membangunkan sianak laki-laki, tapi lagi-lagi suaranya tidak keluar. Gadis itu mulai panik, Rohi dan Merri hanya diam dan menyaksikan keanehan tersebut.


Si gadis kemudian melihat kearah Merri. Dia mencoba berkomunikasi, tapi sialnya hal itu sia-sia.


“Pertama-tama mereka butuh mandi.” Ucap Rohi. Merri mengangguk paham.


Sigadis memegang kaki Rohi dan menatap dengan wajah heran. Dengan mata berkaca-kaca dia memohon


kepada Rohi.


Rohi dan Merri terkejut. “Gadis ini bisa melihatku?!” ucap Rohi kaget.


“Dia pasti mengira kau telah mengambil suaranya dan membunuh temannya.” Duga Merri.


Rohi menatap Merri dengan raut wajah serius. Mereka memiliki satu pemikiran yang sama. Kemudian menatap anak gadis yang terlihat tidak berdaya itu.


Dengan dingin Merri bertanya, “Siapa kalian?”


.


.


.


.


“Kanaya.”

__ADS_1


Panggil Karin kepada putrinya. Dia merasa cemas. Putrinya hanya memperhatikan cermin


didepan kamarnya sendiri.


Wajah pucat Kanaya sempat menoleh kepada Karin, lalu kemudian kembali lagi menatap cermin.


“Arda dimana?” tanya Karin kembali lagi.


“Kana, kamu bersama Arda?” tanya Agus juga ikut menanyakan keberadaan putranya.


Kanaya tetap diam. Hal itu membuat Karin frustasi. Sedangkan Agus mengusap wajahnya yang sudah kusut.


Dia menatap pundak kecil Kanaya. Dia mulai merasa ada yang aneh dengan putrinya. Kemudian Agus memperhatikan Fitri dan Arinda yang hanya  menjadi penonton dari tadi.


Agus menatap Arinda yang memberikan instruksi agar segera menemuinya di bawah. Agus mengikuti intruski tersebut.


“Arinda, aku ikut.” Pinta Fitri yang mengikuti dari belakang.


Agus kemudian meminta Karin agar mau menemani Kanaya, sedangkan ia mau mengantar Arinda dan Fitri ke ruang tamu. Karin mengangguk. Mimic wajahnya menunjukkan rasa cemas dan sedikit takut dengan gelagat Kana.


“Aku hanya sebentar.” Ucap Agus menenangkan.


Kemudian ia menyusuli Arinda dan Fitri yang sudah duduk diruang tamu. Agus duduk dengan lesu dihadapan dua temannya.


“Aku rasa itu bukan Kanaya.” Ucapnya tiba-tiba.


“Eh kok bisa gitu?” Fitri terkejut dengan ucapan Agus. “Kalau itu bukan anak lo, terus siapa? Jangan ngomong yang aneh-aneh dong!” ingat Fitri.


“Gue juga gak tau Fit. Tapi gue takut kalau nenek sialan itu mengambil anak-anak gue.”


“Nenek yang mana, nenek siapa lagi?” desak Fitri.


“Neneknya Merry.” Jawab Arinda.


“Merry anak baru dikelas kita dulu? Yang sekolah Cuma dua bulan doangkan?” tanya Fitri meyakinkan. “Hubungannya apa coba sama neneknya?”


“Yang membunuh teman sekelas kita, Mikha adalah neneknya Merri. Dia menjadikan Mikha tumbal untuk kekayaan orang tuanya dan sekaligus keabadian buat nenek itu sendiri. Lalu yang membuat kita main jailangkung juga neneknya Merry.” Jelas Arinda.


“Loe tau dari mana?” tanya Fitri.


“Merry yang certain ke gue.”


“Kapan? Bukannya dia pergi buru-buru setelah insiden aneh itu. Bahkan dia gak sempat jenguk Agus dirumah sakit.” Lanjut Fitri.


“Aku ketemu lagi sama dia, 3 tahun yang lalu.” Ucap Arinda.


“Kita sempat bertemu dirumah sakit. Tapi sebentar.” Jelas Agus.


Arindan dan Fitri menatap Agus dengan tatapan serius. “Ketemu sama Merry?” tanya Fitri.


“Iya.” Angguk Agus pelan. Dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan berlahan, “Dan neneknya di hari bersamaan.” Lanjut Agus.


“Serius lo? Sumpah, demi apa?” tanya Arinda.


“Dia menitipkan boneka jailangkung yang kita mainkan waktu itu. Lalu dia akan Kembali untuk menitipkan beberapa hal lagi, begitu katanya.” Ucap Agus.


.


.


.

__ADS_1


.


Pesta Jailangkung 2// Bersambung…


__ADS_2