Pesta Jailangkung Season 2

Pesta Jailangkung Season 2
44 Reunian


__ADS_3

Karin, Arinda dan Ardaya terus menapaki tiap Lorong sekolah. Jangan berhenti, meski Lelah; begitulah aturan mereka, meski saat ini Ardaya sangat membutuhkan istirahat.


“Ma, Ar arda capek!” keluh Ardaya.


“Sabar nak, sebentar lagi.”


“Ca capek!”


“Mana jalan keluarnya, Rinda!” rengek Karin.


“Gua juga tidak tau, sabaaar!” bentak Arinda.


Lelah, Emosi dan panik membuat energi mereka terkuras. Mereka bertiga memutuskan untuk berhenti.


“Oke, kita istirahat sejenak!” ucap Arinda.


Karin yang sebenarnya sangat kelelahan terduduk. Dia memijat kakinya. “Kenapa harus kesini, dan kenapa ini terjadi lagi?” keluhnya.


“Kenapa Rinda?” rengek Karin lagi.


“Seharusnya gua yang nanya, kenapa bisa Karin?!” Arinda benar-benar diambang batas kesabaran.


Karin terdiam, dia sendiri tidak tau. Dia hanya ingat kata-kata Merry, jika mereka semua adalah incaran mbah Uti.


“Maaf!” kata Karin.


Ardaya melihat sekitar, dia melihat bangunan sekolah itu. ada banyak Lorong dan ruangan.


“Ini ini se sekolah ma mama, k kan?” tanya Ardaya.


“Bukan sih, tapi hanya mirip saja.” Ucap Karin. Jika dijelaskan akan sangat rumit.


“Ke kelas ma mama mana?” tanya Ardaya.


“Sepertinya mama lupa, lagian buat apa ingat masa-masa sekolah mama, ga penting!” jelas Karin.


Arda hanya cemberut mendengar jawaban mamanya. Dia sungguh-sungguh ingin tau.


“Karin, Karin!” panggil Arinda.


Karin menoleh begitu juga dengan Ardaya. “Kelas kita…” ucap Arinda.


“Yaa maafin anak gue ungkit masa lalu.” Ucap Karin masih diselimuti rasa bersalah.


“Bukan itu. Tapi kita harus kekelas kita.” Usul Arinda.


“Buat apa? Membuka pandora penuh mimpi buruk itu sama saja mencari mati.”


“Kalau disana Ternyata ada akses untuk kembali ke dunia kita bagaimana?”


“Kita tunggu Merry saja. Dia pasti bisa menyelamatkan kita.”


“Aku tidak yakin segera datang menyelamatkan kita.” Pikir Arinda dengan wajah sendu.


“Dia selalu datang saat gue bikin ulah. Masa SMA sama sekarang sama aja. Semua karena gue.” Karin kembali merasa bersalah.


“Bu bukan. Ma mama t tidak bersalah. Ini takdir keluarga tante Merry.” Jelas Ardaya.


“Arda, kamu tau dari mana?” tanya Karin.


“Kanaya jahat menjelaskannya s sama a aku. D dia j juga b bilang k kalau T tante Merry menolak keinginan n nenek, maka s sang r ratu a akan memilih d diantara a anak pi pilihan da dari pengikut d dia.”


Arinda dan Karin sama-sama menyimak dengan wajah serius. Pikiran mereka dipenuhi banyak pertanyaan.


“Apakah ini benar?” “Siapakah orang itu?”


“Apakah kami adalah pengikut?” “Apakah Agus salah satu pengikut.”


“P pilihan r ratu antara aku atau K Kanaya.”


DEG

__ADS_1


Karin merasakan desiran darah yang mengalir deras hingga puncak kepalanya. Pundak dan punggungnya bergema mendengar pernyataan anaknya.


“Tidak mungkin. Gua gak pernah lakuin hal-hal aneh apalagi hal mistis. Keluarga gue, keluarga modern!”


“Ya, loe modern, laki lu?” tanya Arinda.


Karin tidak menjawab. Dia tampak gusar. Kepala kecilnya penuh dengan kecurigaan tapi hati kecilnya berusaha meyakinkan kalau suaminya adalah pria yang baik, pria dengan hidup lurus.


“K Kanaya!” tunjuk Arda.


Seorang remaja dengan penampilan mirip Kanaya masuk ke dalam salah satu kelas. Kelas yang seingat Karin dan Arinda dulu di gembok karena ulah mereka. Kelas yang hingga mereka lulus pun terkenal karena keangkerannya dan kejadian aneh sering terdengar dari kelas itu.


“Kana!” Karin memanggil remaja tersebut.


Arinda dan Ardaya menahan Karin. Mereka tau jika disana bukan Kanaya sebenarnya.


“Itu Kanaya!”


“Bu Bukan! Itu K kanaya jahat.” geleng Ardaya.


“Iya, Karin. Dia bukan Kanaya.”


“Lalu siapa?”


“Demit!” jawat Arinda.


“Bu bukan, Jeng Jenglot!” ucap Ardaya.


“Tau dari mana?”


“A aku dan Ka kana di incar mereka. Me mereka mengusir kami agar bisa meniru kami dan mengelabui mama sama papa.” Jelas Ardaya.


“Lalu.. lalu?” tanya Arinda juga penasaran.


“Kanaya dilempar entah jauh kemana, sedangkan Ar ardaya dikurung dan dirantai. Ra rantai itu bikin Ar Arda tidak bisa di dilihat sama ma mama.” Jelas Ardaya.


Karin hanya menggeleng-gelengkan kepala. Kenapa penjelasan Ardaya membuatnya bingung. Apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarganya.


Karin mengangguk mantap. “Bagaimanapun gue butuh penjelasan.”


Dua perempuan dewasa dan satu remaja tanggung ini memberanikan diri menuju ke kelas.


.


.


.


.


Saat Arinda mendekati kelas tersebut, tidak ada kecurigaan yang muncul. Hening, sepi dan tidak ada tanda-tanda seseorang berada di sana.


“Aman ga?” Tanya Karin.


“Sepertinya!”


“Kita harus masuk?”


“Sepertinya!”


Karin dan Arinda sama-sama memegang daun pintu kayu itu dan kemudian membuka kelas tersebut.


DREEEKKK!!!


Derik pintu itu menggema saat ditarik. Saat itu terbuka, Karin, Arinda dan Ardaya diperlihatkan sebuah pemandangan yang sangat menakutkan.


Sebuah garis yang mungkin di gores dari kapur putih membentuk bintang yang dilingkari batang lilin. Di setiap sisi garis lingkaran juga tergores mantra-mantra menggunakan huruf aksara kuno.


Yang paling mengerikan dan membuat mereka kaget adalah tubuh Agus yang terbaring ditas garis tersebut. Seolah semua goresan itu berkumpul di satu titik dan titik itulah yang menjadi tempat terbaringnya Agus yang tidak sadarkan diri.


“Selamat datang!” ucap Kanaya jahat.

__ADS_1


“Ka kana, apa yang kamu lakukan kepada papa mu?” Bentak Karin yang seketika menggigil ketakutan.


“Saya Kanaya?” tanya dengan senyum meremehkan. “Seketika wujud Kanaya berubah menjadi menjadi Mikha. Baik tinggi badan, wajah dan warna suaranya menyerupai Mikha, teman lama mereka.


“Kalau seperti ini, kalian akan memanggil saya Mikha?” tanyanya yang diakhir gelak tawa jahat.


Karin hanya menutup mulutnya yang seketika ingin berteriak dan menangis. Dia merasakan ketakutan dengan apa yang ia lihat.


“Karin, tenangkan dirimu.” Ingat Arinda. “Arda jaga mamamu.” Ingat Arinda kepada Ardaya.


“Kalian gak rindu sama gue? Bukankah kita reunian?”


Arinda menarik nafas dalam-dalam. Dari semua kegilaan yang sudah dia lewati, inilah yang paling bodoh ia temui.


“Mikha sudah mati, tidak usah meniru Mikha.” Jelas Arinda dengan suara datar dan dingin.


“Hahaha!!! Benar juga ya?” tawa si setan tersebut. “Maafkan saya menganggap remeh kalian. Saya hanya tidak ingin membuat kalian sadar siapa saya sebenarnya. Selama ini saya berada diantara kalian, menjebak kalian dalam sebuah permainan ini.” Jelasnya yang kemudian merubah wujud menjadi bentuk laki-laki.


Wajah familier, dengan sorot mata yang teduh namun hangat, hidung mancung, senyum yang lebar dengan sepasang lesung pipi yang menghiasi pipinya. Tinggi badan yang tidak terlalu tinggi, tidak terlalu kurus tapi masih ideal. Kulit sawo matang namun tetap terlihat manis, terutama di mata Arinda.


“Tito?!” ucap Arinda pas melihat wajah itu. “I itu K kau?”


“Tidak mungkin!” ucap Karin yang juga tidak percaya.


“Hai, lama tidak bertemu, kalian apa kabar?” tanya Tito.


“Gak mungkin loe, gak mungkin!” Arinda masih berusaha mengelak.


“Gak ada yang gak mungkin, Nda. Ini memang gue, maaf tidak cerita ke kalian.”


“Lu jangan pernah niruin Tito!!!!” bentak Arinda.


“Sayangnya ini memang gue. Gue melakukan perjanjian dan gue mendapat yang gue mau dan disini lah gue untuk membayar apa yang gue dapat.”


“A apa? Membayar apa?”


“Kesuksesan gue. Agus juga membayarnya, kalian juga sama saja tau! Kesuksesan lu dari Mbah Uti, dia memberikannya buat loe jika tidak ga mungkin lu sampai luar negeri, Arinda.”


“GAK MUNGKIN!”


“Iya, Arinda. datang bergabung bersama gue,  kita harus membayar apa yang telah kita dapatkan.”


Arinda menggeleng-gelengkan kepala.


“Mbah Uti menawarkan kekayaan abadi, kesuksesan dan juga kekuasaan. Tapi tidak ada yang gratis, semua itu harus di bayar. Agus awalnya ingin memberikan anak-anaknya, tapi karena dia sangat menyayangi mereka, dia mengorbankan dirinya. Gue… juga melakukan hal sama. Lu, lu tidak punya anak, maka, loe harus menyerahkan diri lo.”


“Bohong!!!” teriak Karin. “Agus bukan pria seperti itu. Diam bacot loe, To!”


“Agus sudah lama melakukan perjanjian dengan Mbah Uti, Karin.”


“Dia tidak pernah cerita!!”


“Karena dia cinta sama loe dan anak-anaknya.”


“GAK MUNGKIN!!!!!”


Tito hanya tersenyum. “Terima saja lah takdir kita.”


.


.


.


.


Pesta Jailangkung 2


Home Sweet Home


bersambung

__ADS_1


__ADS_2