Pesta Jailangkung Season 2

Pesta Jailangkung Season 2
30. Merri si Pembunuh(?)


__ADS_3

Kediaman Rumah Agus dan Karin yang Suram


Sore datang menjelang. Agus melaksanakan ritual mandi. Dia merasakan membutuhkan ritual satu ini agar bisa lebih rileks lagi. Beberapa kejadian membuatnya stres dan tertekan.


Beberapa kumis dan jenggot tumbuh disekitar wajahnya. Hal itu membuatnya semakin terlihat tua dari usianya. Atau lebih terlihat putus asa.


Sementara itu Karin dengan semangat menyediakan menu makan malam. Dia memutarkan lagu di streotape. Kanaya yang membantunya juga terlihat semangat.


Suara dentuman music itu juga terdengar hingga kamar mandi. Hal itu semakin membuat Agus merasa semakin putus asa.


Dia melihat bethup dan memasukkan air hingga memenuhi air itu. Kemudian ia menenggelamkan badan hingga kepalanya disana.


“Pah!”


Suara itu terdengar kembali dan Agus segera bangkit.


“Arda?!”


Beberapa air tertumpah dan membasahi lantai kamar mandi. Tapi ada pemandangan aneh yang terlihat dimatanya.


Sebuah jejak kaki dari air. Jejak kaki itu semakin bertambah dan mengarah kearah luar kamar mandi. Agus meyakini, kalau itu telapak kaki Arda.


Ia pun segera bangkit dan mengambil handuk. Ia tidak ingin jejak itu mengering dan menghilang.


.


.


.


Sementara itu Arinda telah berada  didepan rumah Karin dan Agus. Dia membawa beberapa makanan dan juga buah-buahan. Maksud kedatangannya tak lain untuk memastikan kembali kondisi Karin dan keberadaan Ardaya dirumah ini.


Penjelasan Fiitri tempo hari membuatnya juga penasaran dengan sikap Kanaya. Buah dan makanan adalah gimik yang ia coba sesuaikan dengan kesalah pahaman Karin yang mungkin saja cemburu.


Ting..Tong…


Bel ia bunyikan dan tak lama setelah itu Karin membuka pintu.


“Arinda?!” serunya dengan wajah senang.


Arinda juga melemparkan senyum. Untuk beberapa saat ia bingung. Ekspresi wajah Karin terlihat senang, apa dia telah menemukan Ardaya?


“Kamu datang disaat yang pas, aku baru aja selesai masak Yuk masuk!” ajak Karin.


“Ya, hmm aku juga bawa ini buat kamu. Ada kue kesukaan kamu sama buah-buahan.” Jelas Arinda. Dia tiba-tiba berbicara aku dan kamu. Sedikit bingung dan terasa aneh dilidah Arinda.


Tapi Karin lebih dulu menggunakan kata-kata itu dan ia merasa ada jarak diantara Karin.


“Waw Nda, kamu kok gitu sih. Ga usah terlalu repot-repot.” Ucap Karin yang menerima bingkisan itu. “Hayu masuk!” ajaknya lagi.


“Oh iya. Gue eh aku masuk.”


“Hmm jangan pakai Bahasa gue depan anakku.” Ucapnya.


“Okay, I got it.” Ucap Arinda.


Kejanggalan tak terhenti disitu saja oleh Arinda. Dia juga melihat tingkah Karin yang terlihat biasa saja. Bahkan sangat santai untuk seorang ibu yang kehilangan satu anak.


Musik pop yang ceria dengan volume cukup besar. Hidangan makanan yang banyak dan juga terlihat sangat lezat. Selain itu Kanaya juga terlihat sangat santai.


Sebagai seorang kakak dia tidak menunjukkan sedikitpun rasa kesepian karena adiknya belum pulang.


Sedangkan Agus seperti orang bodoh yang berjalan dihalaman belakang rumah dengan hanya mengenakan handuk dipinggangnya.


Entah apa yang dilakukan Agus. Arinda hanya memperhatikan sifatnya yang sibuk mencari sesuatu di belakang rumah itu.


“Karin, Agus kenapa?” tanya Arinda.


“Mana?” tanya Karin.


Karin menoleh kejendela yang memperlihatkan halaman belakang rumah mereka.

__ADS_1


“Agus?!” panggil Karin yang kaget melihat suaminya yang terlihat konyol dengan handuk dan badan masih ada bekas sabun.


Karin menyusul Agus dan Arinda hanya memperhatikan mereka dengan perasaan khawatir. “Kenapa dengan mereka?” pikirnya.


Kemudian Arinda menoleh kearah Kanaya yang juga memperhatikannya. Mata remaja itu menatapnya.


Arinda juga memperhatikan Kanaya. Gadis itu tidak sedikitpun melepaskan tatapannya kepada Arinda. Dia menunjukkan tatapan penuh selidik, seolah ada banyak hal ingin ia tanya kepada Arinda. Atau... dan mungkin saja, remaja tanggung ini tidak menyukai kedatangan Arinda.


“Aku sekarang dalam keadaan tidak senang,” ucapnya tiba-tiba.


“Kenapa?” tanya Arinda.


“Karena kamu datang.” Ucap Kanaya spontan dan tepat dengan dugaan Arinda.


“Apa Arda sudah ketemu?” tanya Arinda.


“Tidak ada Arda. Dia sudah mati.” Ucapnya.


“Maksudnya?”


“Arda telah dibunuh.”


“Tidak mungkin.”  Geleng Arinda tidak percaya. Lagian kalau Arda meninggal seharusnya keluarga ini sedang berduka di rumah duka. “Kalau dia telah mati tidak mungkin Karin seperti itu.”


“Mama belum tau kalau Arda dibunuh Merri.” Lanjut Kanaya.


“Siapa?” tanya Arinda tidak percaya.


“Merri telah membunuh Arda dan mungkin akan datang untuk membunuhku.” Ucap Kanaya dengan mata berkaca-kaca.


“Tidak mungkin!” geleng Arinda.


“Dia akan membawa Kanaya palsu. Kanaya yang ia ciptakan sendiri untuk menghukum keluarga ini. Aku harus apa?” ucap Kanaya.


“Tidak mungkin. Itu tidak mungkin. Merri tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Kamu dapat cerita dari mana? Dari Susan?” Arinda asal menuduh nama. Dia tidak suka dengan pernyataan Kanaya dan rasa kesalnya belum selesai dari Susan.


“Bu Susan guru yang baik! Apa kalian bersekongkol? Mungkin saja kau juga memiliki rencana jahat dengan keluargaku.”


“Tidak ada yang salah paham. Saya terlahir mewarisi sifat papa. Saya juga bisa melihat, mendengar dan merasakan mereka. Selain itu saya juga bisa melihat masa depan.”


“Kanaya… saya tau.. tapi Merri tidak mungkin.”


“Dia pasti datang dan membunuhku. Lihat saja nanti. Aku bisa merasakan aura jahat miliknya semakin mendekat kerumah ini.”


“Kanaya… maksud kamu apa?” tanya Arinda.


“Merri akan datang dan membunuhku, kamu masih tidak paham?!” ucap Kanaya.


“Merri akan datang?” tanya Agus yang ternyata menyimak pembicaraan mereka.


“Merri membunuh Arda?” tanya Karin.


Arinda menggelengkan kepala, “Aku tidak tau.” Ucapnya.


Suasana menjadi tegang dan juga canggung. Arinda merasa udara dirumah ini semakin sesak dan juga dingin.


Kemudian saat bersamaan.


“Ting….. Tong…..”


Bel rumah memecahkan keheningan diantara mereka. Kanaya tersontak kaget. Dia gelisah sekaligus cemas.


“Itu pasti Merri, itu pasti Merri.” Ucapnya langsung pergi menaiki anak tangga.


Begitu juga dengan Agus yang terlihat geram. Dia sadar harus menyambut kedatangan Merri dengan penampilan yang pantas dan juga siap menyerang perempuan yang ia nilai seperti iblis itu.


“Arinda, apa benar Merri membunuh Arda?” tanya Karin sedik.


Arinda menggelengkan kepalanya. “Gue gak tau, Karin.” Ucap  Arinda semakin bingung.


.

__ADS_1


.


.


.


Perjalanan dengan menggunakan Taxi


Merri dan Kanaya duduk dan saling berdiam diri dibangku penumpang. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


Kanaya mencemaskan dirinya dan nasib keluarganya. Dia tidak tidak tau harus berkata apa kepada kedua orang tuanya saat bertemu nanti. Terlebih lagi dia tidak Bersama Arda.


“Bagaimana nasib Arda, dimana Arda. Apa dia dirumah dalam keadaan selamat?” begitulah pertanyaan-pertanyaan yang terus berputar dibenak Kanaya.


Sementara Merri… tidak ada yang bisa menerka apa yang tengah ia pikirkan saat ini.


“Maaf, dari pada sepi saya izin nyalain radio, boleh?” izin supir Taxi yang merasa canggung dengan suasana penumpangnya.


Kanaya menanggapi perkataan supir driver, sedangkan Karin tidak peduli sama sekali.


Radio dinyalakan, “Waduh-Waduh pecinta dangdut dendang, kembali sama saya Riko yang akan menemani kalian berdendang selama satu jam kedepan. Kalian boleh request lagu kesukaan kalian melalui…”


Merri melirik supir taxi dengan tatapan tanpa ekspresi. Hal itu membuat supir taxi merinding.


“Tidak suka ya, Mba? Saya ganti kalau gitu.” Ucap supir taxi yang seketika merasa tidak enak hati.


Merri menggeleng pelan, “Tetap perhatikan jalan saja, Pak.” Ucap Merri sopan.


“Ya Baik!”


Dalam hitungan detik kejadian tidak diinginkan akan terjadi.


BAAMM!!!


Ban depan mobil menabrak benda keras dan tajam. Alhasil ban depan mengalami pecah dan mobil yang mereka kendarai rinsek.


“GYAAA!!!” kepanikan terjadi dalam hitungan detik namun berdurasi sedikit lama bagi mereka. Untungnya tidak ada yang terluka dari insiden tersebut.


Supir taxi keluar dan mencek keadaan mobilnya. Ada asap putih yang keluar dari depan mobil.


“Piye iki?” histeris si supir Taxi panik.


Kanaya dan Merri juga keluar dari mobil. Mereka melihat pemandangan tak diinginkan itu. Kanaya terlihat cemas.


Ia melihat sekitar, tapi sayangnya mereka masih dijalur lintas yang sepi. Kiri dan kanan hanya hutan dan semak, tidak ada rumah penduduk, begitu juga pengendara yang lewat.


Merri juga memperhatikan sekitar. Dia merasa ada yang aneh dengan kecelakaan ini. Terlebih lagi tidak ada benda keras yang terbentang di jalan yang mereka lintasi.


“Apa jangan-jangan?” pikir Merri yang menjurus pada satu sosok yang terlintas dibenaknya.


“AGH!” supir taxi terjatuh tersungkur. Pria berbadan kurus jangkung itu seketika tidak sadarkan diri.


Mata Merri dan Kanaya langsung terfokus pada satu titik. Diantara asap putih satu sosok bayangan mulai menampakkan diri.


“Hai Merr!!" sapa seseorang yang keluar dari kabut tebal. Warna suara dan paras wajah dengan senyum licik itu tentu sangat dikenal oleh Merry.


Merri menyunggingkan senyum sinis. “Ternyata ini ulah kau!!”


Siapakah yang dimaksud Merri?


.


.


.


.


Pesta Jailangkung Season 2// Bersambung


Luna, the shadow cat saya inspirasikan kepada Tamci my lovely cat yang mati diusia 2 tahun.

__ADS_1


Semoga kau mau memaafkan kesalahanku yang tidak telaten merawatmu. Dan Untuk my other lovely cats, Renci dan Pisle aku berjanji akan selalu merawat kalian.Karena kalian aku bawa kerumahku karena keinginanku, aku yang butuh dan aku yang memang ingin berkomitmen hidup bersama kalian. **


__ADS_2