Pesta Jailangkung Season 2

Pesta Jailangkung Season 2
42 Warisan


__ADS_3

Merry, Karin, dan Arinda sama-sama menarik napas dalam-dalam. Mereka saling pandang dan saling memberi kekuatan dengan tatapan mata antara takut dan penuh berjuang.


Daun pintu kayu itu digenggam, kemudian “CKLEK”, satu pemandangan yang luas telah menanti mereka.


Yakni sebuah bangunan sekolah dimalam hari. Sebuah pemandangan yang pasti tidak ingin mereka kunjungi lagi. Tidak ada yang berubah, semua tampak sama.


“Hai! Ada yang merindukan ku?” sapa Kanaya dengan wajah jahat. Jelas itu bukan Kanaya.


Ardaya saudara kembarnya sendiri juga merasakannya.


“Kanaya!” Karin mencoba mendekati remaja yang ia kira anaknya. Ardaya langsung menarik. Begitu juga Merry dan Arinda.


Tanpa ba bi bu dan basa-basi, Kanaya mengeluarkan suara tinggi melengking dan membuat mereka terdorong oleh angin yang kencang. Kekuatan angin bersama dengan lengkingan suara yang keluar dari mulut gadis itu.


Karin, Ardaya dan Arinda terdorong sementara, Merry ia tarik untuk kembali bertemu takdirnya_Mbah Uti.


“Hai Merry, cucuku yang paling bodoh.” Senyum licik itu terpampang dengan jelas.


Merry terduduk diatas kursi kayu hitam. Seluruh tubuhnya dililit akar kayu yang berwarna senada. Tubuh kecilnya


meronta, berusaha untuk lepas.


“Hehehehe!!” Mbah Uti tertawa melihat usaha Merry.


“Sia-sia, kau tidak akan bisa lepas dari sana.” Omel Susan yang sibuk memerban wajahnya yang hancur.


“Jangan bertengkar. Kalian berdua cucu Mbah, jadi akur ya.” Ucap Mbah Uti.


Merry hanya memperlihat wajah tidak senang. Dianggap cucu atau berada disituasi seperti ini, keduanya adalah hal yang memuakkan.


Susan dengan wajah bak mumi, duduk di sofa-tepat di samping mbah Uti, di hadapan Merry. “Saya tidak sudi memiliki saudara seperti dia.” Ucapnya.


“Tidak ada yang ingin menjadi bagian dari kalian. Jika bukan karena kebetulan saya terlahir dari keluargamu, saya tidak akan sudi, sekalipun tidak.” SanggahMerry.


Jawaban Merry membuat mbah Uti tertawa terbahak-bahak. “Itulah kenapa saya menyukai anakmu, Kusuma.” Ucapnya sambil melihat langit-langit. “Dia Belajar banyak dari kau.”


“Jangan bawa-bawa ibu saya, Jahanam!” erang Merry. Dia meronta, berusaha kembali agar lepas.


Susan bangkit dan menendang kursi dan membuta Merry jatuh dari sana.


“Jaga mulutmu, tidak sopan berbicara seperti itu kepada nenek.” Ingat Susan.


“Hag hag hag! Sudah-sudah jangan bertengkar.” Ingat Mbah Uti dengan bahagia. “Rubi, kau sudah menyiapkannya?” tanya Mbah Uti kepada sosok yang dari tadi sibuk menata meja makan.


“Sesuai keinginan Anda, semuanya sudah ditata.” Sahut Kanaya palsu yang memiliki panggilan Rubi dari mbah Uti.


Mbah Uti melihat tatanan meja. Sebuah hidangan makanan malam yang terlihat menggugah selera. Daging ayah utuh yang telah di panggang, sayur-sayuran, dan makanan manis seperti puding.


Kemudian sebuah cawan terbuat dari emas yang ditengah-tengah antara menu makanan tersebut. Mbah Uti tersenyum melihat persiapan ini.


Dia mendekati Rubi dan memberikan beberapa batu permata indah.


“Letakkan ini ditubuh saudaramu yang ditumbangkan cucuku. Dan kalian bersenang-senanglah dengan para tumbal terlebih dahulu.”


Rubi menerima dengan senang hati. Tapi mbah Uti belum selesai.


“Jangan biarkan mereka mati terlebih dahulu. Saya ingin para tumbal itu menjadi energi pertama Merry sebagai sang pewaris.” Ingat Mbah Uti.

__ADS_1


Sontak Merry membulatkan matanya. Dia tidak ingin menerima warisan bentuk apa pun dari mbah Uti. Susan juga menggenggam tangan dengan erat. Ia benci dengan keputusan mbah Uti.


“Saya lebih layak, tapi kenapa?” gumamnya yang melotot Merry.


Susan melihat pisau buah yang terletak rapi diatas meja_ dengan benda itu ia ingin menghabiskan Merry.


Hanya Rubi dengan penampilan menyerupai Kanaya yang terlihat senang.


“Bagaimana dengan pria tampan itu?” tanyanya. Yang dia maksud adalah Agus.


“Bermainlah sepuasmu. Kau bukan makhluk yang setia, bukan?”


Dia meninggalkan ruangan itu dan siap melakukan permainan yang sangat menyenangkan.


Sekarang disana, tersisa Merry, Susan dan Mbah Uti. Suasana menjadi tegang. Sedari awal tidak ada suasana menyenangkan disana. Namun Ketika mereka tau pilihan hidup mereka tidak sesuai harapan, maka ketegangan pun mengancam ruangan itu.


“Aku tidak akan mengikuti jejak langkah mu.” Ucap Merry.


“Saya lebih pantas!” erang Susan.


Mbah Uti kembali menggoreskan senyum licik di wajahnya. “Buktikan.” Ucapnya.


Merry dan Susan sama-sama tidak mengerti maksud perempuan tua itu. “Apa yang harus dibuktikan lagi, saya selalu mengikuti semua keinginanmu, mbah!” protes Susan.


“Buktikan kalau kau layak.” Lanjut mbah Uti.


Ia menjelaskan, “Keahlian saya dan kemampuan yang saya miliki adalah turun-temurun dari para leluhur. Kemampuan ini hanya dimiliki oleh satu keturunan yang dinilai kuat. Tapi keran kegigihan saya dalam mengasah kemampuan, para roh leluhur meminta pewaris yang memiliki kekuatan yang sebanding. Tidak ada toleransi.”


“Orang tua kalian gagal. Ayahmu, Susan_ dia tewas saat mempelajarinya, dan ibu mu Merry dia menolaknya dan akhirnya mati.”


“Kau yang membunuhnya. Dia mati terbunuh oleh mu!” Merry bersitegang. Ia menunjukkan sorot mata tajam. Nafasnya menggebu-gebu, Hasrat untuk menghancurkan batang hidung orang-orang didepanya semakin kuat.


Menapikkan penawaran-penawaran siapa yang paling layak, Susan mengambil pisau buah dan bersiap-siap untuk menyerang Merry.


“SAYA LEBIH PANTAS!!” teriak Susan yang hendak menghunus pisau.


Merry memejamkan mata, “Saya muak dan saya lelah, saya mati pun tidak masalah. Saya bersedia dengan takdir, apa pun itu.” Pikirnya dalam hati.


Tapi serangan itu terhalang. Pisau itu hanya berjarak 1 inci dari wajahnya. Begitu juga Susan, gadis itu tampak bingung dengan tubuhnya sendiri yang seketika berhenti.


Mbah Uti hanya tersenyum. Dia terlihat puas.


“Leluhur telah memilihmu, Iblis juga menginginkanmu. Selamat Merry.” Ucap Mbah Uti.


Susan semakin panas mendengar ucapan Mbah Uti, begitu juga Merry yang jelas tidak menginginkannya.


Susan menitikkan air mata karena iri, marah dan tidak dihargai. “Percuma apa yang saya inginkan, percuma!” ucapnya.


Ia berusaha meronta dan melepaskan diri dari kungkungan apa pun itu. Sisi gelap mbah Uti mulai melirik Susan dan sepertinya sang iblis juga tertarik dengan Susan.


“Dendam dan Kepedihan, bukankah itu juga menarik?” bisik mbah Uti_yang jelas terucap bukan keinginan dari wanita itu sendiri.


Susan terlepas dari belenggu yang menahannya, dia bisa melanjutkan untuk membunuh Merry. Bersamaan dengan akar pohon yang melepas Merry juga terlepas.


Tangan mungil itu berhasil menahan pisau yang akan menancap bola matanya. Dia menahannya dengan sekuat tenaga.


“Para leluhur memilih Merry dan Iblis menyukai Susan. Tapi kekuatan Iblis lebih kuat saat ini.” Pikir mbah Uti.

__ADS_1


Darah mulai menetes di balik genggaman Merry. Ia menendang Susan, Sehingga sepupu menjengkelkan itu terdorong.


Merry membuang jauh pisau buah itu. Diujung sana, Susan kembali bangkit dan kembali melawan Merry. Perempuan itu haus akan pengakuan.


“Dia serakah…”


Kali ini Susan menggunakan benda lainnya untuk menyerang Merry.


“… Tapi dia lemah…”


Susan menyerang Merry dengan membabi buta. Ia melempar benda apapun itu. guci, piring, televisi, gelas, botol, vas bunga dan lain sebagainya. Merry berhasil lolos dari benda-benda itu. Ia bersembunyi dibalik sofa.


Susan kehabisan senjata. Kesempatan itu dibaca Merry. Ia mendorong sofa hingga menabrak tubuh Susan dan terdorong menghantam rak kaca di ruangan itu.


“…dan bodoh…”


PRAKK!!!


“Merry… uhuk… uhuk…!” Susan terhempas dengan kuat. Kaca yang pecah juga melukai tubuhnya, cukup dalam.


“Susan! Susan!” Merry menyadari perbuatannya terlalu berlebihan.


“Susan!” Merry menarik kembali Sofa tersebut. Tubuh Susan terjatuh ke lantai. Dia batuk darah.


“Merry… kau…!” Susan berusaha berbicara.


Merry mengangkat tubuh Susan hingga kepalanya berada diatas pangkuannya. Meski membenci sepupunya ini, Merry tidak ingin ada yang mati di hadapannya. Terlebih lagi Susan adalah korban juga.


Mbah Uti masih tidak berkutik, dia memperhatikan kedua cucunya. Sebab ini belum berakhir.


“Merry kuat, dia layak, tapi bodoh…


Sedangkan Susan dia lemah, tidak ada kekuatan tapi licik!”


Susan berhasil mengambil pisau yang dibuang Merry dan kesempatan itu ia gunakan untuk menusuk gadis itu.


“Kau tidak pantas, AKU LAH YANG LAYAK!!!!” ia menghunus Merry. Pisau buah itu menancap lengan kanan Merry.


“WOW BRAVO!!!” seru mbah Uti.


“GYAAA!!!” Merry merasakan kesakitan.


Susan bangkit dan menarik pisau yang tertancap itu.


“GYAAAA!!!”


.


.


.


.


Pesta Jailangkung 2


Home Sweet Home

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2