Pesta Jailangkung Season 2

Pesta Jailangkung Season 2
40 Akhirnya Ketemu


__ADS_3

Terdapat beberapa adegan kekerasan


Dimohon kebijakan pembaca


Tidak cocok dibawah 13 tahun


Atauyang memiliki trauma terhadap darah dan kekerasan.


.


.


.


Dalam beberapa langkah kedepan Karin akan dimakan oleh ribuan tangan bergigi tajam. Nasibnya


akan sama dengan orang-orang yang berbaris didepannya.


Pilihan sekarang ada ditangan Arinda; membiarkan Karin dimakan tangan-tangan menakutkan itu atau terus menarik Karin dengan risiko, dia juga akan tersert dan dimakan oleh makhluk-makhluk itu.


“GYAAA!!” Arinda merasa buntu. Tidak ada jalan keluar yang lebih mudah.


Atau sebenarnya ada.


Hanya saja dia enggan melakukannya.


Saat hilang akal dan hamper dirasuki rasa putus asa, Arinda melihat boneka jailangkung yang ia pegang. Dia menatap boneka lusuh tersebut.


Masalahnya, apakah bonek ini bisa? Atau dia bisa menggunakannya.


“Mantranya….” Arinda merasa bulu kuduknya merinding.


Dia menjadi takut dengan pikirannya sendiri. Ide yang terpintas dikepalanya, sama saja dengan


bunuh diri.


Tapi tidak ada jalan lain. Dia harus membantu Karin dan segera keluar dari tempat ini.


Arinda duduk bersila, tangan kirinya memegang erat-erat boneka. Dan pegangannya terlihat


gemetar, Arinda ketakutan.


“Sluku-sluku bathok, bathok’e ela-elo Si romo menyang solo, oleh-oleh’e payung muntho Mak jenthit lo-lo lobah, wong mati ora obah Yen obah medheni bocah Jaelangkung jaelangkung disini ada pesta, pesta kecil-kecilan datang tak dijemput, pulang tak diantar.”


Mantra telah diucapkan. Arinda membuka satu matanya. Belum ada yang terjadi. Dia menarik nafas dalam-dalam dan kembali mencoba mengucap mantra sekali lagi.


“Sluku-sluku bathok, bathok’e ela-elo Si romo menyang solo, oleh-oleh’e payung muntho Mak jenthit lo-lo lobah, wong mati ora obah Yen obah medheni bocah Jaelangkung jaelangkung disini ada pesta, pesta kecil-kecilan datang tak dijemput, pulang tak diantar.”


Sekali lagi


“Sluku-sluku bathok, bathok’e ela-elo Si romo menyang solo, oleh-oleh’e payung muntho Mak jenthit lo-lo lobah, wong mati ora obah Yen obah medheni bocah Jaelangkung jaelangkung disini ada pesta, pesta kecil-kecilan datang tak dijemput, pulang tak diantar.”


Dan lagi...


“Sluku-sluku bathok, bathok’e ela-elo Si romo menyang solo, oleh-oleh’e payung muntho Mak jenthit lo-lo lobah, wong mati ora obah Yen obah medheni bocah Jaelangkung jaelangkung disini ada pesta, pesta kecil-kecilan datang tak dijemput, pulang tak diantar.”


Angin tertiup keras hingga menamparpipi Arinda. Sepasang bola matanya terbuka dan ia melihat sekitarnya. Kali ini Karin menatap kearahnya.


“Karin!” Arinda merasa senang karena temannya telah menghentikan langkahnya.


Tapi Ternyata bukan hanya Karin seorang. Semua orang yang ada disana menatap ke arah Arinda. Segerombolan tangan ini juga bergerak tidak beraturan sehingga menghembuskan angin yang kencang.


“Sekarang apa?” pikir Arinda. dia tidak yakin apa yang telah ia lakukan adalah ide yang bagus.


“ARINDAAA!!!!!” ruangan itu langsung bergema. Angin berhembus begitu kuat.


Arinda menoleh ke penjuru ruangan, hingga ia melihat ke titik dimana sumber suara itu berasal. Gema suara itu keluar dari gelombang tangan-tangan yang berada di ujung panggung.


Tiap telapak tangan memperlihatkan satu kelopak mata. Gigi-gigi bertaring juga terlihat jelas


karena senyum seringai.

__ADS_1


“AARRRRINDDAAAAAA!!!!”


Arinda merinding. Dia sepertinya melakukan sebuah kesalahan besar. Ditambah lagi Karin dan semua yang ada dipanggung melihat kearahnya dengan tatapan menakutkan.


“Arinndaaaa!!!!!” gema suara tersebut yang sepertinya akan memberikan sebuah instruksi, “Bawa…


kesini!!!!”


orang-orang tersebut mendekatinya. Karin memegangi pergelangan tangannya. Arinda tidak ada


kesempatan untuk lari.


Tubuh Arinda diangkat begitu saja oleh banyak orang. Karin juga ikut membantu. Wajah-wajah tanpa ekspresi itu siap membuat tubuh Arinda kedalam lembah yang penuhi tangan-tangan yang haus akan jiwa-jiwa dan tubuh manusia.


“Lepaskan… lepaskan… Karin!! Sadar Karin!!” usahanya untuk melepaskan diri.


Arinda menarik dirinya agar lepas dari cengkeraman Karin. Tapi dari belakang, seseorang tubuh tinggi tambun menahannya. Bukan hanya seorang, beberapa orang dengan fisik aneh dan rupa unik menakutkan juga mengitarinya.


“S*al!” Arinda terperangkap.


“Persembahan agung!” ucap mereka serempak.


Tubuh ramping itu diangkat dengan mudah. Arinda tidak bisa berbuat apa-apa. Dia berharap akan


sebuah keajaiban.


“ARINDAAAA!!!!”


Mungkin salah satunya suara seseorang yang terdengar familier, seperti suara Merry.


“MEEoong SSSHHH!!!” Atau suara desis Luna, kucingnya.


“Tan tee Inda!” atau suara ABG Ardaya.


Arinda menoleh ke sumber suara. Sedikit samar-samar, ia melihat seorang perempuan dengan tubuh mungil. Meski tidak begitu yakin dengan apa yang ia lihat, tapi sosok itu seperti seseorang yang dulu ia kenal.


“ARINDA!! SADAR!!”


“Tetap pertahankan kesadaranmu!!!” teriaknya.


Sementara itu para rombongan itu semakin dekat dengan tepi jurang panggung misterius ini.


“Demi Pencipta dan Penguasa langit, bumi dan semesta, hindarilah kami dari petaka, bala bencana, kekejian, kemungkaran, sengketa, kekejaman dari yang tampak dan dari kegelapan. Sesungguhnya engkaulah pemilik semesta dan penguasa dari segala sesuatu!” Ucap Merry sembari melemparkan sebuah biji berbentuk menyerupai tasbih berwarna hitam.


Lemparan itu mengenai makhluk-makhluk aneh yang membawa Arinda. Langsung saja lemparan itu membuat mereka merasakan kesakitan dan kepanasan. Terkecuali Karin.


Arinda jatuh dari kungkungan mereka. Sementara Karin yang mulai tersadar kaget karena berada di tempat asing dengan orang-orang aneh di sekitarnya.


“GYAAA!!!”


Kehebohan itu membuat Karin tersenggol dan tubuhnya yang telah berada dipinggir panggung jatuh ke dalam. Ribuan telapak tangan yang memamerkan gigi-gigi taring siap menyambut tubuh Karin untuk di kunyah.


Untung! Dengan sisa tenaga yang tersisa… Tangan Karin masih dapat ditarik oleh Arinda.


“Ka.. Karin!!!”


“ARINDAAAA GYAAAA Gua dimana?!!!” teriak Karin syok.


“Jangan bergerak beg*. Lu berat!” ucap Arinda.


Karin menoleh kebawah. Dia meliah beberapa orang-orang dengan penampilan aneh yang terjatuh secara berbondong-bondong dilahap parang tangan tersebut. Darah merah segar mulai muncrat dimana-mana.


Di atas kepala Arinda, Karin melihat seorang perempuan seolah mengeluarkan cambuk dengan warna kuning. Begitu juga seekor kucing hitam dengan wajah menyeramkan menghajar para orang-orang yang berusaha menyerang Arinda.


Baik pemandangan di bawah maupun di atas, sama-sama menakutkannya dimata Arinda.


“Arindaaaa angkat gue! Buruaaaan!!!!!”


“Gua lagi usaha! Lu bisa diam, berat tau!!!”


“Mama!!!!” Ardaya mendekati Arinda, dia mengulurkan tangannya dan mencoba mengangkat tubuh Karin.

__ADS_1


“Ardaya! Ardaya!!!” Melihat wajah putranya, Karin seolah mendapat kekuatan untuk bangkit.


Tapi kekuatan Arinda dan Arda tidak cukup untuk menarik Karin. Satu uluran tangan juga datang menarik tangan Karin.


Arinda menoleh. “Merry!” sekarang dia yakin jika di depannya adalah Merry. Merry mengabaikan Arinda, nyawa seorang ibu di depannya harus diutamakan saat ini.


Karin terangkat dan ia terselamatkan. Sesampai diatas panggung, Merry dan Luna langsung mengajak mereka untuk meninggalkan tempat ini.


Namun arwah gentayangan Mikha menghalangi mereka.


“Kalian tidak boleh pergi!” ucap Mikha. “Kalian persembahan untuk mbah Uti. Nyawa kalian berarti untukku.” Rengek Mikha.


“Tidak Mikha, jangan halangi kami lagi, Mikha!” jawab Arinda.


“Terima takdirmu, Arinda!” ucap Mikha dengan raut marah.


Dia mendekati Arinda dengan tangan yang siap mencekik batang leher perempuan itu.


Merry menghela napas kuat dan berdiri dihadapan arwah penasaran tersebut. Tangan kanannya


telah menggenggam keras sebuah biji batu hitam hingga hancur seperti bulir tanah kasar.


“Penguasa Langit dan pemilik kegelapan sesungguhnya, lindungi kami dari bala dan takdir jelek yang dikirim para jin dan keturunanya.” Dia menghembuskan bulir-bulir tanah kasar didepan wajah Mikha.


Butiran tanah itu menyerang dengan lembut wajah pucat Mikha dan kemudian saat menempel dengan wajah arwah hitam butiran itu langsung mengeluarkan asap dan bintik-bintik merah seperti bara api.


Wajah arwah itu terbakar yang membuatnya teriak dengan suara serak seperti laki-laki tua. “GYAAAA!!! Kurang Ajar kau Merry!!!”


“Dia bukan Mikha.” Ucap Merry.


“Merry, Merry… “ Karin tidak tau berkata apa-apa. Dia ketakutan sekaligus merasa bersyukur


melihat teman-temannya ada di hadapannya. Terlebih lagi satu energinya, Ardaya ada didepanya.


Hanya bulir air mata yang bisa menggambarkan perasaannya saat ini.


“Hai… Karin… Arinda… Lama tidak berjumpa.” Ucap Merry agak canggung.


Karin langsung memeluk Merry, ia juga menarik Arinda untuk bergabung memeluk Merry. Ketiga perempuan pemberani dengan versinya ini sama-sama menitikkan air mata. Tentu yang paling banyak adalah Karin.


Lalu Karin ingat dengan buah hatinya. Ia juga memeluk Ardaya. “Maafkan mama, nak! Mama tidak akan meninggalkanmu walau sedetikpun lagi, maafkan mama!”


“Iya..iya!!” ucap Arda, “ma ma jangan nangis!” ucap Arda.


“Ayo kita pergi dari sini.” Ingat Merry.


“Tapi anak gue, Kanaya bagaimana?”


“Dia aman.” Ucap Merry.


“Agus? Bagaimana dengan Agus?!” ingat Karin.


“Entahlah, mungkin dia tidak akan selamat!” ucap Merry.


“Apa?!” Karin membelalakkan matanya. “Kenapa bisa begitu?”


“Karena ini takdir jika berurusan dengan Mbah Uti.” Jelas Merry.


“Tapi Merry, dia ayah dari anak-anak gue.”


Merry melihat Ardaya. Kemudian menatap Karin dengan wajah penuh penyesalan.


.


.


.


.


Pesta Jailangkung

__ADS_1


Home Sweet Home


Bersambung


__ADS_2