
Merry memiliki banyak pertanyaan kepada Agus. Saat ini waktu yang tepat menguak misteri kenapa dia melakukannya. Kenapa dia memiliki janji dengan Mbah Uti dan mencelakakan keluarganya.
“Sejak kapan kau melakukan perjanjian dengan Mbah Uti?” tanya Merry mulai menginterogasi.
“Kejadian itu sudah lama, Merry.” jelas Agus.
“Selepas dari rumah sakit, tiba-tiba ada perempuan tua mendekati gue. Awalnya gue kira dia hanya mimpi buruk. Tapi Ternyata dia nyata. Dia menawarkan banyak hal. Dan gue tidak mengindahkan tawarannya. Sampai suatu hari nyokap sakit parah dan kami tidak ada biaya. Gue juga harus bayar biaya kuliah dan kakak yang menjadi andalan keluarga mengalami Krisis di tempat dia bekerja Sehingga dia dipecat.”
“Tiba-tiba mimpi buruk itu datang lagi dan memberi sebuah Tawaran menarik. Gua mengiyakan dan melakukan perjanjian.”
“Awalnya beasiswa, kemudian perusahaan tempat kakak keluar dari keterpurukan, dia mendapat promosi kenaikan jabatan, padahal suatu yang sulit bagi perempuan untuk mendapat posisi kerja lebih tinggi. Nyokap mendapat donasi jantung, dan potongan biaya operasi Sehingga operasi bisa dilanjutkan. Sejak kejadian itu semua perjalanan hidup gue menjadi lebih baik hingga gue bisa mendapat pekerjaan dengan atasan kakak gue sendiri.”
“Tapi mimpi buruk itu Ternyata bagian dari hidup gue. Wanita itu ada. Dia selalu datang. Bukan hanya dalam mimpi, tapi juga dalam hidup gue. Saat gue wisuda, nikah, dan momen besar lainnya. Dia juga mendekati anak-anak gue saat mereka baru lahir dan tertarik akan suatu hal.”
“Semua privilege ini ada bayarannya. Itu yang dia ucapkan.”
Jelas Agus merangkum kejadian yang telah terjadi cukup lama.
“Kenapa kamu gakcerita apa-apa?” tanya Karin khawatir.
“Aku juga mengira semua hanya kebetulan. Jika Taunya seperti ini lebih baik aku tidak mengindahkan semua perkataannya dan membiarkan ibu mati dengan tenang.”
Karin terdiam, dia tidak ingin mengatakan apa pun lagi. Semua orang paham, posisi Agus saat itu sangat sulit. Manusia mana pun akan terjebak dengan cara sama jika mengalami kejadian yang sama.
“Tapi.”
Merry mulai mendapat pemikiran lain. “Semua ini belum tentu salah satu orang.” Jawab Merry.
“Terima kasih kata-kata hiburannya, tapi ini jelas salah gue. Apa perlu gue mati saja biar semua ini berakhir?”
“JANGAN BERPIKIRAN MACAM-MACAM!” bentak Karin.
“Mati saja tidak akan menyelesaikan masalah!” jawab Merry. “Ini semua bentuk balas dendam Mbah Uti dan sang Ratu. Sejak awal dia menginginkan kita semua.” Jelas Merry.
“Tapi gue tidak ikutan pas kalian pergi dulu.” rengek Fitri.
“Itu keserakahan Iblis, Fitri. Dia tidak peduli apa kamu pernah terlibat atau tidak. Dia hanya ingin kenyang, tapi sampai kapan pun mereka tidak kenyang.”
“Lalu kita harus berbuat apa?” tanya Karin.
“Kabur dari sini seperti dulu.” jawab Merry.
“Hiks…Hiks.. reunian macam apa ini?” rengek Karin.
“Maafkan aku sayang.” Ucap Agus.
“Kamu masih kuat untuk lari?” tanya Merry kepada Ardaya dan Kanaya.
“Siap!” jawab Ardaya.
“Kalian harus saling melindungi, apapun yang terjadi.” Ingat Merry kepada dua remaja itu.
__ADS_1
“Iya tante.”
“Setelah kejadian, rajin-rajin berkunjung dan bermain dengan Satria, ya!” lanjut Merry.
“Iya…!!” seru Kanaya tersenyum. Ardaya yang belum kenal Satria hanya mengangguk.
Mendengar kata Satria membuat Arinda yang sedari tadi hanya terdiam kembali bergidik. “Satria.” Bisiknya dalam hati. “Ternyata benar, Merry sudah menikah dengan Agus.” Batinnya yang terasa sangat pedih namun tidak berdarah.
.
.
.
.
Mereka semua bersiap. Mengerahkan semua tenaga yang ada untuk segera lari dari tempat yang sebenarnya sangat mustahil untuk kabur.
Tiba-tiba…
Dhuk… Dhuk… Dhuk… Dhuk…
Bunyi ribuan langkah kaki membuat gaduh. Asalnya sepertinya berada dari lantai atas. Kegaduhan itu juga membuat atap dan jendela bergetar dengan hebat seolah jumlah mereka sangat banyak.
“Bunyi apa itu?!” teriak Fitri.
“Jangan-jangan makhluk yang tadi tante?”
“Apa? Setan gosong?!” teriak Fitri yang sepertinya baru saja menamai satu kaum makhluk astral.
Mereka pun meninggalkan ruangan kelas itu dan menuruni anak tangga agar bisa keluar dari gedung sekolah. Bentuk bangunan sekolah yang terdiri empat lantai dan berbentuk leter U, membuat mereka bisa dengan mudah mengetahui siapa yang mengejar mereka.
Sesuai perkataan Fitri, para setan gosong yang jumlahnya ratusan atau lebih. Berlari tidak karuan membentuk lautan gelap yang mungkin menjebak mereka kembali.
Merrry dan yang lainnya berada di lapangan. Mereka hendak menuju gerbang sekolah yang berada diseberang bangunan. Cara menuju ke sana, dengan melintasi lapangan sekolah.
Tapi saat berada ditengah-tengah lapangan, makhluk-makhluk hitam itu juga sudah mengerumuninya. Membentuk lingkaran dan berdiri dengan tegap seperti manekin.
Merry dan yang lainnya saling memunggungi, melihat kenyataan mereka sudah berada ditengah lingkaran yang dibuat para makhluk-makhluk itu.
Saat bersamaan, mereka juga melihat satu bola hijau zamrud yang dilempar dengan kasar dari atas atap sekolah. Bola Hijau zamrud itu mendarat dengan kasar dan keras.
BANG!!!
“Apa itu?” tanya Fitri dan yang lain.
Sosok badan berotot yang terluka dan babak belur terbaring di sana. Setelan hitam seperti jas dan kemeja robek sana-sini. Setidaknya itu yang dilihat oleh Agus, Karin, Fitri dan Arinda.
Sedangkan Merry, Kanaya dan Ardaya tentu melihat Rohi dalam wujud aslinya. Iblis dengan wajah reptil dengan sisik-sisik kemilau berwarna hijau zamrud.
“Kenapa ada… ada makhluk lain di sini? Apa dia sudah mati?” tanya Karin panik.
__ADS_1
“ROHI!!!” Panggil Merry.
“I am Okay!” seru Rohi mengangkat jempolnya. Makhluk itu kembali bangkit.
“Kau mengenalnya?” tanya Karin.
“Dia berada dipihak kita. Dan dia temanku.” Jawab Merry.
Mendengar pengakuan terhormat “teman!” Rohi merasa tersanjung. Dia memasang kuda-kuda dan dalam posisi selalu siap dan siaga untuk melindung Merry dan semuanya.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Agus.
“Kalian, kabur dari sini. Saya akan hadapi mereka semua!” jawab Rohi.
“Apa dia bisa?” Fitri meragukan Rohi.
“Dia pasti bisa.” Jawab Kanaya. “Karena dia bukan manusia.” Lanjutnya dalam hati.
“TAPI TIDAK SEMUDAH ITU!! GYAHAHAHAA!!!” suara menyeramkan sang ratu kembali menggema.
Makhluk utusannya tiba-tiba bergerak meraih dan menahan Kanaya dan Ardaya.
“KANA, ARDA!” teriak Karin yang mencoba meraih kembali.
Tapi terlambat, usaha itu sia-sia.
“MAMA!!! TOLONG!!”
Rohi langsung bergerak menolong dua anak itu dan makhluk itu menghalangnya. Dia siap menyerang semua makhluk-makhluk itu, tapi jumlah mereka sangat banyak, sementara itu dua anak itu sudah dibawa lari menyerahkan anak-anak itu ke tangan sang ratu.
“Ma..mama!” Ardaya terdiam melihat wujud sang ratu. Begitu pun Kanaya.
Wajah itu memang terlihat cantik, tapi siapa pun bisa merasakan aura gelap dan jahat yang ia miliki. Bola mata yang kuning menyala, dengan bibir berwarna merah. Riasan di wajahnya penuh kemilauan, begitu juga pakaian megah yang kenakan.
Dia terlihat cantik, menawan, berkuasa, bengis, penuh dendam, serakah dan jahat. Yang melihatnya akan merasa takjub sekaligus ketakutan dalam waktu bersamaan.
Saat ia tersenyum, kanaya memperhatikan taring gigi dan lidah bewarna hitam.
“Apa gigi-gigi itu mencabikku?” pikir Kanaya dengan mata terbelalak.
“K kanaya, a aku takut…” bisik Ardaya.
Kanaya mengangguk pelan-pelan kepada Ardaya. Ia juga takut. Kemungkinan saat ini kesempatan dia dan Arda bisa hidup sangat kecil.
.
.
.
Pesta Jailangkung 2
__ADS_1
Home Sweet Home
bersambung