Pesta Jailangkung Season 2

Pesta Jailangkung Season 2
46. Tito


__ADS_3

Gemuruh hujan menerpa desa. Anginnya juga begitu kencang hingga batang kayu beringin yang berada di antara sungai juga ikut bergoyang.


Mbah Karto yang baru saja membereskan makam para leluhur di taman khusus. Dia melihat keadaan langit yang gelap. Firasatnya jadi tidak enak.


Fenomena ini seolah membuatnya merasa jika pemilik dari alam dan semesta sedang murka.


“Kejadian apa lagi ini?” pikirnya.


Saat ia sedang mengambil cangkir kopi yang berada di atas meja,ia mendengar rintik-rintik hujan menerpa lantai kayu rumahnya.


Ngik…ngik…


Bunyi langkah kaki diatas lantai kayu itu juga berderik.


“Ambu, udah balik dari balai desa?” tanya mbah Karto.


Tidak ada jawaban.


Namun punggung tua lelaki itu bergidik. Aura dingin bagaikan es menjelar keseluruh tubunya. Dia mulai sadar jika suara itu ditimbul bukan karena istrinya.


“Karto….!!” Suara dingin berbisik hingga menyentuh daun telinganya.


Karto terdiam. Dia tidak akan membalik badannya. Bukan karena takut, karena ini caranya jika roh leluhur sedang mencoba berkomunikasi dengannya. Harus menundukkan kepala atau membalikkan badan. Ini semua dilakukan agar tidak menggoyahkan keimanan para anak cucu yang ditinggalkan.


“Bantu anakku, dia sedang dalam bahaya.”


Mbah Karto langsung mengenal siapa leluhur yang sedang berbicara dengannya. Dia lelaki bijak yang sangat disegani semasa hidupnya, dia adalah ayah Merry.


“Bantu dia Karto, saat ini ia sedang berjuang melawan Sang Ratu yang telah membunuh kami semua.”


Mbah Karto mengangguk paham. “Saya akan melindungi Merry.” Jawab Mbah Karto.


Sesaat kemudian, suasana kembali hening. Ruhitu telah kembali kedunianya. Satu hal lagi, para ruh leluhur hanya bisa meminta bantuan kepada anggota keluarga yang ditinggalkan, mereka tidak memiliki hak, wewenang dan kekuatan untuk ikut campur kepada masalah yang ada didunia.


Sebelum memasuki ruangan ritual. Mbah Karto menelefon putranya.


“Kau sekarang dimana?”


“Hallo ayah, saya hampir sampai di dermaga. Tapi saat ini hujan deras, sangat mengerikan menepi.”


“Bertahanlah disana dulu.”


“Tapi ayah, saya tidak bisa menghubungi Merry. Dia dimana?”


“Dia… Saya akan menemuinya. Tito, apapun yang terjadi tetaplah menjadi ayah yang baik untuk Satria.”


“Maksud ayah? Halo?!”


Telfon dimatikan.


“Abah… ini ambu bawain makanan dari balai, Abah mau goreng singkong?” tanya  istrinya yang tampak basah kuyup.


Mbah Karto melihat istrinya lebih seksama. Dia menapak, dan terdengar berisik. “Aduh hujan deres, bikin kesel, baju ambu basah semua. Tadi ambu hampir kepleset, ini kenapa ya hujan?”


“Fix dia bini gue, bukan demit.” Pikir mbah Karto.


Begini-begini Mbah Karto adalah mantan orang gaul di Kota yang akhirnya kembali pulang ke desa karena mendapat tanggung jawab sebagai tokoh adat di desa. Dia meninggalkan Kota dengan segala kemewahannya, dan begitu juga dengan istrinya di sana yang tidak mau ikut kedesa dan lebih memilih meninggalkannya.


Dan ia menikah dengan perempuan sederhana yang sangat bawel namun pengertian. Namun mereka tidak dikaruniai anak. Tapi tenang, Mbah Karto sudah memiliki tiga anak dari pernikahan sebelumnya. Salah satunya


adalah Tito.


Tito sangat rajin mengunjungi ayahnya. Saat liburan kuliah dia akan menemui ayahnya yang berada di desa. Begitu juga saat anak itu galau patah hati oleh cinta pertamanya. Dia akan menemui ayahnya di desa dan menikmati rasa sunyi, asri dan sejuk di desa ini.


Entah kebetulan atau suratan takdir, anak lelakinya yang polos itu jatuh cinta dan menikah dengan anak dari kerabat jauh Mbah Karto, yang tidak lain adalah anak dari Kusuma, Merry.

__ADS_1


Hubungan itu berlanjut dan mereka menikah. Mbah Karto senang jika putranya menikah dengan Merry. Tapi Kusuma dan Mbah Karto telah merencanakan banyak hal demi keselamatan pasangan ini.


Mereka telah memikirkan banyak kemungkinan terburuk, mengenai takdir Merry dimana cepat atau lambat akan berhadapan dengan Mbah Uti. Kemungkinan besar hal ini akan memberi pengaruh buruk kepada Tito dan keturunan berikutnya.


Tugasnya sebagai Angkatan laut membuatnya jarang pulang kerumah. Bagi Kusuma dan Karto, pekerjaan itu setidaknya bisa menjadi tameng untuk Tito. Dan hal itu juga yang membuat Merry juga merasa bersyukur, setidaknya suaminya jauh dari terror mbah Uti.


Berkat Kusuma, dan Karto; mbah Uti hingga saat ini tidak tau siapa ayah dari Satria. Sesuai harapan Merry dan keluarganya, Satria lebih mengikuti sifat-sifat Tito, dimana tidak ada tanda-tanda jika ia adalah seorang penerus murni seperti yang dialami Merry.


“Ambu, bantu Abah buatkan sajian kembang tujuh rupa dan yang lain-lainnya.”


“Buat apa?”


“Perang!”


“Oke deh kalau gitu.”


Sajian kembang tujuh rupa ditata diatas meja di ruangan praktek Mbah Karto. Begitu juga benda-benda sacral lainnya, termasuk keris.


Ruangan itu di tutup. Hanya mbah Karto yang berada di sana yang memulai ritual untuk memberi bantuan kepada Merry.


Merry dan Rohi semakin terdesak. Jumlah makhluk itu semakin banyak dan tidak terkendali. Mereka berada di tengah lautan makhluk berwajah gelap.


Merry mencoba melawan. Ia menendang hingga memanjati orang-orang itu agar bisa lepas dari jeratan mereka yang hanya memenuhi ruangan tanpa melakukan penyerangan.


Namun mata Merry tiba-tiba berhenti akan satu sosok yang tepat di hadapannya. Meski tidak memiliki wajah dan rupa. Namun entah kenapa Merry menyadari satu hal.


“Ibu.” Tebak Merry. tapi yang dipanggil ibu tidak memberi respons apa-apa selain menindih Merry hingga tubuhnya ikut tenggelam dan terjatuh dalam satu tempat jebakan yang sudah dipersiapkan oleh sang Ratu.


Begitu juga dengan Fitri, Kanaya dan sang suami. Suami Fitri berhasil menaiki anak tangga dan menjatuhkan makhluk-makhluk itu ke lantai dasar. Dia membantu Fitri dan Kanaya.


Tapi karena jumlahnya semakin tidak terkendali, dan memenuhi ruangan. Suami Fitri terlempar dan jatuh dari jendela.


“AYANG!!!!” teriak Fitri.


Tidak ada sahutan balasan. Fitri membelalakkan mata. Takut jika suaminya meninggal. Namun apa daya posisinya dan Kanaya juga tidak bisa berbuat apa-apa. mereka juga terjebak dalam lautan manusia hitam itu dan jatuh dalam jebakan berikutnya.


Tubuh Merry, Kanaya, dan Fitri tiba-tiba mendarat dalam satu ruangan. Ruangan yang menurut Merry dan Fitri sangat mereka kenal.


Ruangan tempat mereka pernah bertemu, tempat mereka berkenalan dan memulai pertarungan tidak masuk akal. Namun sebagai pengingat, ini kali pertama Fitri terlibat langsung dengan hal gaib.


Ruangan itu adalah kelas mereka sendiri. Fitri ketakutan dan langsung menempel ke Merry dan Kanaya.


“Fitri? Kanaya?” tanya Merry yang menyadari keberadaan mereka.


“Mer…Merry!!” sontak Fitri mulai ingat. Dia teman sekelas yang pendiam dan penuh misterius yang juga Ternyata baik. Fitri langsung memeluk Merry.


“Gue takut!!!” rengek Fitri.


“Tante kita dimana?”


“Kita berada di dimensi lain. Arena permainan sang Ratu Sebelum memakan tumbalnya yang dulu sempat lepas.” Jelas Merry.


“HUAAAAGYAAAA!!!!!” Fitri semakin takut. Pelukannya semakin erat Sehingga Merry merasa kesakitan tiba-tiba di peluk erat oleh Fitri yang memiliki badan cukup besar.


“Ka Kana ya!” panggil Arda.


Kanaya, Fitri dan Merry menoleh dalam satu sudut ruangan. Ruangan itu cukup gelap. Tidak ada pencahayaan selain sinar rembulan yang tembus dari jendela. Oleh sebab itu mereka kesulitan melihat keberadaan Karin, Arinda dan Ardaya yang sudah disana.


Dalam dimensi nyata mungkin berlalu satu atau dua jam yang lalu. Namun didimensi, perpisahan mereka berlangsung sekitar beberapa menit yang lalu.


Ruangan yang gelap itu tiba-tiba menjadi terang. Lilin-lilin membentuk barisan dan garis lingkaran itu menyala secara tiba-tiba.


Mereka dapat melihat Ardaya, Karin, Arinda dan Tito.


“Tito?” tanya Fitri.

__ADS_1


“Bukan, dia bukan Tito!” jawab Merry.


Arinda dan Karin kaget. Mereka sejak awal berpikir jika dia adalah Tito dengan segala cerita yang menurut mereka masuk akal.


“Me Merry, kau seyakin itu?” tanya Karin yang kemudian menarik Ardaya dan diam-diam mengambil langkah menjauh makhluk bukan Tito itu.


“Dari mana kau tau kalau saya bukan Tito, Merry.” jawabnya dengan suara angkuh.


“Jangan coba-coba melakukan hal menjijikkan makhluk menjijikkan.” Seru Merry yang Emosi. Dia mengambil sebuah bilah pisau dari tas kecilnya. Pisau yang digunakan untuk menyerang jenglot yang memiliki kemampuan tinggi seperti makhluk yang berdiri didepanya.


“Berani melawanku, wanita pembawa sial!”


“MERRY JANGAN!” Tiba-tiba Arinda menahan serangan Merry.


“ARINDA SADARLAH!” seru Merry. “Dia bukan Tito!”


“MERRY JANGAN!!” Arinda bersikukuh.


“Benar Arinda, kau tau siapa yang tidak aku sukai? Yaitu Merry. Kau menjadi akrab dengannya adalah hal menjijikkan. Lawan dia Arinda. dia penyebab semua ini!” makhluk it uterus-terusan mencuci otak Arinda.


Dan sepertinya Arinda mulai terperangkap dengan jebakan jenglot. Bala mata indah itu dibutakan oleh perasaannya dan tipu daya iblis sehingga melupakan logika.


Merry melihat semuanya dari mata Arinda. Dia menyadari suatu hal, namun sisi lain dia merasa tidak enakan dengan Arinda. Tapi fakta pahit ini harus Arinda dengar.


“Arinda, aku mengenal Tito, dia ayah dari anakku. Dan didepanmu adalah iblis.” Ucap Merry dengan tegas.


Arinda merasa ada hal lain menusuk perasaannya tiba-tiba. Dia tidak ingin meyakininya, tapi perasaannya  menerima semua perkataan Merry begitu saja.


Bukan hanya Arinda, Fitri dan Karin juga berpikir sama. Selama ini mereka memang tidak mendengar kabar Tito. Setelah putus dari Arinda dan meneruskan kesibukannya sebagai Angkatan laut, Ternyata Tito menjalin hubungan dan menikah dengan Merry.


Arinda merasa lemas. Ia melepaskan Merry.


Merry mengambil kesempatan itu dan menyerang badan jenglot yang membuatnya terhunus.


“Demi pencipta dan penguasa semua makhluk di bumi dan dunia lainnya. Tunjukkan kuasamu kepada makhluk tamak serakah yang menyebarkan keburukan dan penyakit iri dengki. Tunjukkan padanya cahaya dan


kuasa yang kamu miliki. Dan buat dia silau atas apa yang tidak dia miliki selain kesombongan, keserakahan dan ketamakan yang tidak ada nilai ini.” Ucap Merry.


“GYAHAAAAAAAAAAAAAAAAA HUEK HUK HUK HUK!!!!” tusukan yang dalam itu merobek semua rongga badan yang terbuat dari kayu itu.


Ardaya dan Kanaya menutup mata. Mereka tidak sanggup melihat hal kejam yang ada didepanya.


Tubuh itu menjadi balok kayu yang kemudian terpencar seperti serbu serbuk yan terurai. Lilin yang berkobar dengan sangat terang kembali menyala normal.


Makhluk itu musnah. Energi Merry cukup terkuras untuk mantra satu itu. dia terduduk lemas. Karin mendekati Agus yang berbaring tidak sadarkan diri.


“Sayang… bangun!!! Sayang bangun!!!” ia mengguncang Agus dengan cukup keras. Ardaya dan Kanaya juga mendekati Agus.


“Papa… bangun!”


“PA Papa!!!” teriak Ardaya juga.


Berlahan-lahan Agus membuka matanya. Ia melihat keluarganya di hadapannya. Ia melihat Karin dengan air mata yang membasahi pipinya.


“Keluargaku… kalian.. kenapa di sini?” tanya Agus.


Tidak ada yang peduli kenapa mereka di sini. Tapi Agus mendapat pelukan dari keluarganya. Jawaban dari pertanyaannya sendiri terjawab di sini. Kehangatan keluarga.


“Ini belum selesai…”


Pesta Jailangkung 2


Home Sweet Home


bersambung

__ADS_1


__ADS_2