
***Kediaman Fitri yang sederhana ***
Arinda telah sampai dikediaman Fitri yang kecil dan juga padat. Ada banyak mainan anak-anak berceceran dilantai rumah.
“Mama Pulang!” seru Fitri.
Seorang anak perempuan dengan pipi menggemaskan keluar dari kamar. “Mama!!” serunya segera memeluk Fitri.
“Kamu sendirian? Papa mana?” tanya Fitri khawatir.
Gadis berusia lima tahun itu menunjuk kearah kamar. “Papa tidur.” Jelasnya. “Tadi aku dandanin eh ketiduran. Ya udah aku lanjut aja kepang rambut papa.” Jelasnya dengan mulut kecil menggemaskan itu.
Arinda tertawa melihat tingkah gadis cilik. Si gadis cilik itu juga memperhatikan Wanita dewasa yang berdiri didepannya. Penampilan Arinda yang modis membuatnya penasaran.
“Dia siapa, ma?” tanyanya.
“Tante Arinda, kamu nggak ingat?”
“Tentu saja lupa, aku sudah beberapa bulan ini tidak pulang kerumah dan main dirumahmu.” Jelas Arinda. “Hai cantik!” sapa Arinda.
“Hai juga tante cantik.” Balas sigadis cilik.
"Kamu main dulu gih, mama mau cerita orang dewasa dulu sama tante Arinda." ucap Fitri keanaknya.
"Oke boss!!"
Gadis cilik berpipi gempal itu langsung berlari menuju kamar. Dia sibuk membawa perlengkapan main-mainan. "Hari ini mau main dokter-dokteran. Niiiinuuuu niiinuuuu!!!" serunya masuk dalam dunia imajinasinya.
“Apa lo benaran balik kerumah Karin?” tanya Fitri memulai pembicaraan.
“Iya, gue harus mastiin.”
"Loe harus hati-hati disana, Nda!"
"Loe lihat apa lagi disana, Fit?"
Fitri terdiam. Ia tampak gusar. "Gua gak yakin."
"Ngomong aja. Loe tau kan gue tertarik sama hal-hal yang aneh ini bukan?"
Fitri mulai menjelaskan apa yang ia lihat saat keluar dari rumah Karin. "Gua gak yakin banget, tapi gua lihat Arda dan Karin berada dilantai dua. Di jendela terpisah terlihat kebingungan."
"Serius, sumpah demi apa?" tanya Arinda.
"Makanya, gua ga tau itu benaran atau gua salah lihat? Tapi gua berharap itu cuma halusinasi gua."
"Gua berharap itu benar-benar mereka." jawan Arinda.
"Gila lu!!" Fitri jadi gemas, "Gua lihat Karin sama Kanaya tuh dilantai bawah!" jelas Fitri, dia jelas-jelas sangat ketakutan.
"Loe yakin?"
"YAKIN NDAAAAA!!!"
"Gue harus kesana langsung, Fit! Karin dalam bahaya."
"Kalo loe kesana, loe juga dalam bahaya!" ingat Fitri.
Arinda tau, berada disana dia akan kembali mengulangan kejadian yang sama untuk kedua kali. Tapi, jika tidak segera kesana keluarga kecil itu pasti berada dalam bahaya.
.
.
__ADS_1
.
Arinda tetap dalam pendiriannya. Dia menyetir untuk kembali ke kediaman keluarga Agus.
Saat mendekati rumah tersebut, ia melihat seorang Wanita baru saja keluar dari sana .
Samahalnya dengan Agus. Arinda juga melihat sosok lain yang menempel dengan perempuan misterius itu.
Seolah tahu diperhatikan, perempuan yang mengankan stelan bewarna serba putih tu juga balik menatap Arinda.
.
.
.
.
Kediaman Keluarga Agus dan Karin
“Karin?! Ardaya, kamu tidak ingat? Baru saja tadi pagi kamu menangisinya sekarang kamu berlagak kamu tidak memiliki anak selain Kanaya?” tenya Agus yang bingung dengan sikap Karin.
Tiba-tiba saja Karin terlihat diam dan membatu ketika ditanyai perihal Ardaya. Dengan sikap biasa ia menanyai “Siapa Arda?”. Hal itu membuat Agus jelas naik pitam.
“Ma… Pa… Jangan bertengkar.” Rengek Kanaya.
Agus juga memperhatikan sifat Kanaya yang juga tidak seperti biasanya. Hal itu membuat kepala Agus menjadi sangat berat.
“Kalian ini sebenarnya kenapa?” tanya Agus.
“Agus,kamu yang kenapa?” bentak Karin.
“Aku?!” ingin rasanya Agus membenturkan kepalanya ditembok. “GYAAA!!!” namun yang terjadi dia hanya bisa teriak dan meninggalkan rumah.
“Maaf, gue dengar loe teriak dan maki-maki.” Ucap Arinda.
“Jadi loe dengar?” tanya Agus. Suaranya pelan dan terlihat putus asa.
“Iya, gue dengar. Anak loe bagaimana?” Tanya Arinda.
"Gua nggak tau. Otak gue mau pecah. Loe ada saran?"
“Gue juga gak tau. Seandainya bisa kembali jaman sekolah, gue memilih untuk tidak ikut dengan ide gila Karin dan Mikha main jailangkung. Atau andai saja gue buang semua boneka, spidol dan kerta itu pasti Mikha gak mati.” Ucap Arinda.
“Loe mikirin ini sejak tadi?” tanya Agus.
“Iya, gue mikirin sepanjang jalan sampe gue dengar Karin teriakin lu.” Jawab Arinda.
Arinda menarik nafas dalam dan menghelanya dengan suara Lelah. “Andai gue waktu itu gak naif, dan memang gila aturan seperti mak gue, semua ini ga terjadi kan?
Loe gak masuk ke dimensi lain dan tidak ada dari kita yang menderita seperti ini. Kemudian gue bisa berteman lebih lama dengan Merri.” Ucap Arinda tiba-tiba.
“Menurut loe seperti itu?” tanya Agus. Ia meremehkan ucapan
Arinda.
“Iya, kadang gue suka menyalahi diri gue dimasa lalu.”
“Loe salah, Nda."
"Iya gue salah dan gue begok."
"Bukan itu maksud gue." potong Agus.
__ADS_1
"Sebelum hari kejadin itu, Mikha mengajak gue main permainan yang menurutnya seru. Jailangkung itu. Kita coba, tapi malam kejadian itu gagal dan tidak terjadi apa-apa. Mungkin karena posisinya gua main ogah-ogahan." Ditengah permainan gue memutuskan untuk balik dan bertengkar dengan Mikha." jelas Agus.
"Loe dan Mikha?" tanya Arinda.
"Gue udah kenal dia sejak SMP. Satu sisi gua suka sama dia, sisi lain gua juga malu mendekatinya. Mikha sudah sangat penasaran dengan permainan seperti itu sejak dulu." jelas Agus.
"Asal loe tau, saat kita terjebak disana, dan gua hampir mati, gua udah siap. Perasaan itu juga muncul saat gua bertemu Mikha, gua ingin berada disana, karena gue merasa bersalah. Saat ini pikiran gue, kalau gua jadi mati hari itu,mungkin kejadian ini tidak akan terjadi.” Jawab Agus dengan senyum getir.
"Menurut gue loe ga salah, Gus!"
"Entahlah!"
Seketika sebuah hembusan angin segar menerpa wajah Agus. Terpaan lembut itu terasa sangat sejuk dan cendrung dingin.
“Bunuh Merri!”
Suara itu tiba-tiba lewat begitu saja. Bergema lembut dikedua daun telinga Agus. Terasa ringan seperti angin dan juga dingin sehingga memberi efek merinding dikuduk Agus. Ia terbangun dan menegapkan dirinya.
“Arinda, apa lo dengar sesuatu, barusan?” tanya Agus.
“Dengar apa? Gua gak dengar apa-apa.” Ucap Arinda.
Agus menoleh kebelakang mobil Arinda memastikan tidak ada siapapun dibelakangnya kecuali seekor kucing hitam yang tidur mendengkur di jok belakang.
Arinda tiba-tiba ingat akan suatu hal. “Gue kesini sebenarnya ingin omongin sesuatu ke lu, kalau Karin...” Tapi ucapannya terhenti. Arinda melihat Karin berdiri didepan mobilnya.
Mata kucing Karin menatap mereka berdua penuh kecurigaan. Ia menatap Arinda dengan tajam kemudian berganti kepada Agus.
Agus paham maksud tatapan dan wajah dingin Karin. Ia segera keluar dari mobil Arinda dan menemui Karin yang langsung berbalik dan meninggalkan mereka.
“Karin, dengarin dulu. Karin!” panggil Agus. Namun langkah Karin terlalu cepat untuk dicegat.
Arinda masih terdiam dan duduk didalam mobilnya. Ia melihat punggung Karin dan Agus yang memasuki rumah.
"Jika benar yang dibilang Fitri, berarti ada sesuatu di rumah ini..." Arinda memperhatikan depan rumah ini. Tidak ada yang aneh, semua tampak normal.
Arinda memijat kepalanya yang pening dan menyandarkan dirinya. Rasa Lelah menjalar hingga menyerang batang leher jenjangnya.
“Haahahaa..!” suara tawa halus seketika membawa suasana menjadi dingin dan mencekam. Ia kembali memperhatikan keadaan sekitar. Seketika ia melihat bayangan seseorang duduk dibelakang mobilnya melalui kaca dashboard.
Sosok itu terliha duduk dengan wajah menunduk. Namun saat badannya berbalik, tidak ada seorang pun dibelakangnya, kecuali Luna yang terjaga dan siap dalam posisi siaga keluar mobil.
Tok Tok Tok
Arinda kembali kaget untuk ketiga kalinya. Seseorang mengetuk kaca mobilnya. Arinda memperhatikan orang asing tersebut.
“Ya?” tanya Arinda menurunkan kaca mobilnya. Dihadapannya seorang perempuan muda berdiri dengan mimik wajah yang sedikit agak cemas.
Luna menyeringai menunjukkan rasa tidak sukanya. Arinda menanggapi itu sebagai tanda bahaya.
“Boleh saya menumpang sampai perempatan jalan besar didepan. Soalnya disini sangat susah menunggu taksi.” Ucapnya.
Arinda mempertimbangkan banyak hal. Dia menunggu, apakah perempuan ini menyadari keberadaan Luna? Jika dia sama sekali tidak tau ada Luna disini, berarti dia akan diperbolehkan masuk.
“Anda temannya bu Karin bukan? Saya guru di sekolah anaknya.” Jelasnya yang memamerkan senyum ramah.
Tapi entah kenapa Arinda melihat ada satu garis keriput ditengah bibir itu.
.
.
.
__ADS_1
Pesta Jailangku Season 2/Bersambung…