Pesta Jailangkung Season 2

Pesta Jailangkung Season 2
49. Dewi Penyembuh


__ADS_3

“GYAAAAAA!!!!”


“GYAAAAAAA!!!”


Rintihan teriak kesakitan Merry, amarah sang Ratu menjadi suara yang mengerikan sekaligus menyedihkan untuk didengar.


Kusuma, makhluk berbentuk awan putih dan Rohi tidak tinggal diam. Mereka membantu Merry. Meminjamkan energi mereka, mengeluarkan sisa-sisa tenaga agar bisa menang melawan sang Ratu.


Sang ratu memang kuat. Tapi empat lawan satu, adalah musuh yang tidak sebanding. Mbah Karto dengan energi nya terus mengusik sang Ratu dengan menampar wajah dengan terpaan angin yang sulit  di prediksi kedatangannya.


Rohi yang melingkarkan badannya kepada sang Ratu, yang membuat badannya tidak bisa bergerak bebas, dan Kusuma yang siap memberikan kekuatannya kepada Merry agar terus sadar. Bagaimanapun hanya dia yang bisa mengakhiri Merry.


“Merry.. bertahanlah!” ucap Kusuma yang menempelkan badannya kepada Merry.


Merry tidak sadarkan diri. Bola matanya berwarna putih. Kerongkongannya rusak, dan mungkin batang lehernya juga patah akibat ulah sang Ratu.


“I..bu…!” lirih Merry.


“Ya ibu ada disini, membantumu nak!” ucap Kusuma yang kemudian memindahkan energi sang Dewi ke tubuh Merry. “Berjuanglah nak. Mati pun ibu tidak mempermasalahkanmu, asal kau masih menjaga wasiat para leluhurmu, kau akan selalu aman.” Ucap Kusuma yang kemudian menghilang dalam butiran kaca yang berkilauan.


Dengan begini Kusuma kembali kepada leluhurnya. Dia tidak bisa lagi membantu Merry. tapi bantuan terakhir itu


sangat berarti bagi anaknya.


“Terima kasih ibu…” ucap Merry. Matanya masih terpejam, dalam mimpinya ia melihat bayi mungilnya yang gendong oleh suaminya.


“Maaf jika ibumu tidak pulang, nak!” ucap Merry tiba-tiba.


Ia kemudian mendapat sebuah uluran tangan. Merry meraih uluran tangan itu, dan tubuh mungilnya ditarik untuk menaiki sebuah burung dengan ukuran besar. Kepala burung elang, dengan badan menyerupai kuda putih kekar dengan sisi kiri dan kanan terdapat tiga pasang sayap berukuran lebar.


“Merry… mari kita selesaikan masalah ini bersama-sama!” ucap suara yang berasal dari tunggangan yang ia naiki ini.


“Sang Dewi…” bisik Merry.


Hewan yang indah dan karisma itu melesat begitu cepat hingga menembus keluar dari dunia mimpi Merry yang sedang koma.


Saat bersamaan, Merry membuka matanya. Ajaibnya tubuh itu kembali segar. Rasa sakit di lehernya yang remuk tidak terasa. Badan kecil mungil itu juga berdiri dengan kokoh dan dalam posisi siap melawan Sang Ratu.


“Kau… belum mati, Merry? saya semakin ingin memiliki mu!! GYAHAHAHAA!!!!”


Sang Ratu melepaskan lilitannya dari Rohi dan kembali menghajar Rohi hingga benar-benar babak belur. Sedang mbah Karto ia tepis dengan selendang yang juga membalut badannya. Sehingga energi yang dikirim mbah Karto hilang begitu saja.


Dan di kediamannya, Mbah Karto terlempar hingga membentur dinding rumahnya. Pria tua itu terbatuk dan mengeluarkan muntah d*r*h.


Kali ini pertarungan satu lawan satu. Antara Merry dengan iblis yang menjulukinya sang Ratu. Merry meraih tanah yang berada di tempat ia berdiri.


Sang Ratu tertawa dan semangat dengan apa yang ia lihat sekarang. “Kau mulai berpikir ingin menjadi pengikutku?”


Merry mengabaikannya. Ia menyebutkan sebuah mantra dalam bahasa sanskerta. Doa yang ia dapatkan secara turun temurun dan doa yang tertulis dalam kitab suci. Tatapan sendu Merry terkesan dingin bak kutup itu juga dirasakan sang Ratu.


“Kembalilah ke asalmu…” ucap Merry yang kemudian mendekati sang Ratu. Saat ia tepat berdiri di hadapan sang Ratu dalam jarak dekat Merry mengangkat pasir itu “Ke Neraka, fyuuhh!!” ia meniupnya ke mata sang Ratu.


“GYAAAAAAAAA!!!!” sang Ratu teriak histeris.


Meski hanya segenggam pasir, namun serangan itu menyiksa sang Ratu. Tubuh itu bertransformasi antara menjadi tubuh tua renta Mbah Uti atau wujud indah menakutkan sang Ratu.


“GYAAAAAA!!!!!”


Ditambah para makhluk hitam yang telah diboikot oleh Ardaya berbalik menyerang sang Ratu. Makhluk yang jumlahnya sangat banyak itu mendekati semut. Persis seperti pasukan semut yang menyerang bangkai belalang.


“GYAAAAA!!!! Merry!!! Ampuun!!! Bantu mbah muuu!!!!” tubuh indah itu hilang. Begitu juga dengan bangunan sekolah yang ia ciptakan sendiri di dunia lain.

__ADS_1


Pintu gerbang yang sedari terkunci, akhirnya terbuka. Fitri, Karin, Agus, Kanaya dan Ardaya keluar. Namun Arinda masih mencemaskan Merry. Dia memutuskan untuk kembali menjemput Merry.


Yang ada wajah keriput yang lebih menakutkan dibandingkan oleh Mbah Uti sendiri. Merry hanya menatap dingin ke arah neneknya.


“Kau tidak membantu nenekmu?” rintih mbah Uti.


“Tidak ada nenek yang mengorbankan keluarganya demi kebahagiaannya yang sesaat.” Jawab Merry.


“MERRYYY!!!!”


“Seharusnya kau berhenti disaat kau harus berhenti!”


“MERRYYY!!!!” pasukan hitam itu seketika kembali setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan, yaitu energi negatif.


Sekarang hanya tersisa badan tua Mbah Uti yang tidak berdaya.


“Setidaknya, kuburkan nenekmu dengan layak, Merry.” ucap mbah Uti.


Merry terdiam sesaat.


“Aku tau, tidak akan ada yang menerima saya saat berkumpul bersama leluhur. Saya pasti akan berada di kerak api neraka. Tapi setidaknya saya juga ingin dimakamkan, seperti suamiku, anakku, dan mertuaku.”


Merry mengangguk paham. “Kau juga keluarga, mbah.” Ucap Merry yang mencoba membopong tubuh tua, kurus kering dan tidak berdaya itu.


“Merry!” panggil Arinda. Wajahnya juga kaget melihat sosok di samping_nya itu.


“Dia Mbah Uti, setelah kembali ke dunia kita, dia akan mati. Dan dia minta dikuburkan dengan layak.” Ucapnya.


Arinda hanya mengangguk. “Ayo kita segera keluar!” ajak Arinda.


“Iya!” angguk Merry.


Mbah Uti melihat Arinda dengan senyum lemah tidak berdaya. Dia kemudian melihat Merry.


Merry yang tanpa curiga apa pun mengikuti permintaan Mbah Uti. Ia meraih tangan kiri tua keriput itu. mbah Uti yang lemah membuka telapak tangannya yang masih menyisakan satu tanda mata.


Merry kaget. Tapi telat, Mbah Uti telah menempelkannya di jidat Merry. wanita tua itu membaca mantra dengan bahasa yang sangat aneh.


Arinda yang melihat hal itu kaget. Tubuhnya langsung bereaksi untuk mendorong tubuh tua renta itu menjauh dari Merry.


“Terimalah inang barumu, Baginda Ratu!” setelah kata itu terucap badan lemah itu tersungkur ke tanah.


Tapi terlambat, perpindahan jiwa sedang berlangsung dan tengah ingin menguasai badan Merry.


“GYAAAAA!!!!”


“Merry!!! Sadarlah!!!” teriak Arinda.


Tubuh Merry diselimuti hawa panas. Ia merasa ada sesuatu yang berusaha masuk melalui kepalanya dan menembus batang tenggorokannya.


“GYAAAAAAAAA!!!!!” teriak histeris itu membuat Merry kehilangan kontrol akan dirinya. Dia meronta hingga membuat Arinda juga terdorong.


“Merry!!!! Lawan makhluk itu, kau pasti bisa!!!”


“GYAAAAAA!!!!” teriak Merry. “Apa yang harus saya lakukan, ini s sakit!!!!” rintih Merry dalam hati.


Jiwanya bergejolak. Sang Dewi yang ada di dalam dirinya juga terusik dengan kehadiran sang Ratu. Pertarungan mereka dalam perebutan tubuh Merry terjadi dan membuat Merry menggeliat ketanah.


“Merry!!!” Arinda mencoba menenangkan Merry tapi ternyata suhu badan Merry sangat panas.


“GYA! Panas!” teriak Arinda.

__ADS_1


Rohi terhuyung-huyung mendekati Merry. wajahnya terlihat cemas. Tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.


“Pergilah!” ucap Rohi kepada Arinda.


“A apa?” tanya Arinda. ia menoleh kepada Rohi.


Pria yang memiliki tubuh kekar itu menitikkan air matanya.


“Pertarungan ini tidak akan berakhir dalam waktu dekat. Mereka akan terus bertarung dan Merry akan menderita. Dia harus berada di sini, hingga semua selesai atau sampai tubuhnya sudah tidak bernyawa lagi.” Jelas Rohi.


“A apa?” Arinda menitikkan air matanya. “Trus dia bakal gini sampai mati, gitu? Lu harus bantu, kita pasti bisa membantunya!” Arinda mencoba mendekati Merry.


Rohi menahan Arinda. “Jangan, yang ada kau akan mati.” Ingat Rohi.


“Trus gua harus apa?!” teriak Arinda.


“Hanya keturunan murni yang bisa menyelamatkannya. Itu sudah tradisi keluarga ini.” Ingat Rohi. “Untuk itu jaga Satria demi Merry!” ingat Rohi.


Arinda terduduk lemas. “Semua yang terlibat akan saya hapus ingatannya, kecuali kau. Tapi jagalah rahasia ini hingga Satria berusia 17 tahun.”


Arinda tidak menjawab apa-apa. Dia hanya menitikkan air mata. Dia tidak tahan melihat penderitaan Merry, begitu juga beban yang akan ia tangani.


Merry terus meronta dan berteriak hingga kehabisan suara.


“Sudah cukup melihat penderitaan ini, saatnya kau harus kembali.”


CK!


Rohi menjentikkan jarinya yang membuat Arinda tertidur.  Merry yang berada tidak jauh dari Arinda juga terbaring tidak sadarkan diri. Dia koma dengan mata terbelalak.


Mbok Lastri berdiri di belakang Rohi dengan wujud aslinya.


“Lastri, kau bawa anak ini ke rumah sakit. Saya akan membawa Merry ke tempat paling aman.”


“Setelah itu apa saya harus menemani Satria?” tanya Lastri yang mendekati Arinda.


“Tidak, biarkan Satria bersamanya. Begitu juga dengan ayah dari anak itu. tugasmu melindungi mereka telah selesai.” Jelas Rohi yang memapah tubuh Merry.


“Baik! Setelah saya membawanya saya akan menyusulmu.” Ucap Mbok Lastri.


“Segera! Saya pasti kewalahan menghadapinya.” Pinta Rohi tulus.


“Baik!”


Keduanya berpisah di sana. Dan mereka tidak akan bertemu lagi dalam waktu dekat. Tapi Arinda akan selalu ingat siapa itu Merry dan pengalaman aneh ini.


Sedangkan Merry mungkin akan melupakan semuanya, petualangan ini, Kanaya, Ardaya, Karin, Fitri, Agus, Mbah Karto, Kusuma, Tito dan bahkan Satria.


Dua jiwa yang menyatu dibadannya akan merenggut pikirannya, perasaannya dan juga seluruh raganya. Sisi keibuannya akan hilang, sifat manusiawinya akan lenyap dan rasa ingin menolong ini pasti akan dipenuhi persyaratan. Tergantung siapa yang akan bertakhta di dalam raganya.


Warisan leluhur ini apakah sebuah keberkahan yang patut di banggakan atau kutukan yang harus dihentikan.


Tapi sesuai perkataan Rohi, keturunan murni yang hanya bisa membantunya untuk kembali pulang ke rumah, ke pelukan keluarga yang hangat dan penuh cinta. Dan hal itu membutuhkan waktu cukup lama.


.


.


.


Pesta Jailangkung 2

__ADS_1


Home Sweet Home


The End


__ADS_2