
Kediaman Merri
“Siapa Arda?” tanya Merri.
Kana menggelengkan kepalanya.
“Dia bilang kalau kalian bersaudara.” Lanjut Merri. “Apa kalian kembar?”
“Aku tidak ingat.” Lirih Kana. Dia terlihat tidak bertenaga.
Merri membantunya untuk minum. Dia mencoba simpati dengan kondisi gadis itu. Terlihat seperti mayat hidup.
“Siapa yang kamu lihat terakhir kali?” tanya Merri. Dia mencoba mencari jawab dengan berbagai celah.
Kana berpikir sejenak. Beberapa ingatan mulai muncul dikepalanya, “Tidak tau.” Lirihnya.
“Apa aroma yang kau cium terkahir kali?”
“Lavender, kayu, shampoo dan… busuk.” Dibagian akhir, Kana menyeringit.
"Kamu ingat, ada dimana terakhir kali?" tanya Merry.
"Aku tidak ingat!" jawab Kanaya. "Tapi seseorang manarik tanganku." lanjutnya.
Merri mengangguk paham. Dia menelaah semua ucapan gadis ini. Merri menyentuh telapak tangan Kana. Dingin, sungguh sangat dingin.
Sekali lagi, ia kembali mengecek denyut nadi dipergelangan tangan si gadis itu. Ia merasakan denyut nadi Kana, tapi gerakannya tidak secepat denyut nadi manusia pada umumnya. Kana berdenyut sedikit lambat.
Merri memperhatikan wajah gadis itu. Kedua mata mereka bertemu. “Apa benar namamu Kana?” tanya Merri.
Si gadis hanya terdiam. Dia terlihat tidak yakin dengan dirinya sendiri.
“Aku tidak yakin aku siapa?” jawabnya. "Aku ingat apa yang aku genggam terakhir kali." lanjutnya tiba-tiba.
"Apa?"
"Aku menarik tangan saudaraku, tapi genggaman itu lepas, karena ada sosok yang lebih kuat meraihnya. dan dia berteriak memanggilku."
"Kanaya...!"
"Siapa yang menarik tangan saudaramu?" tanya Merry.
BLAM!!!
Pintu terbuka dengan keras. Merri dan Kana menoleh. Diambang pintu kamar, Arda berdiri dengan tegap. Dibelakangnya juga berdiri Rohi.
“Iya, ne nenek. Nenek bilang ke Arda seperti itu.” Jelas Arda.
“Dia meracau tentang nenek dan menunjuk foto Wanita itu.” Jelas Rohi.
Merri bergidik. Dia masih menyimpan amarah besar dengan Wanita itu. “Dia bukan nenek kalian, dan dia bukan nenek siapa-siapa.” Merri menegaskan kepada Arda.
“Dia nenek. Dia nenek Arda dan Kana.” Ulang Arda.
“Bukan. Dia bukan nenek kalian. Tidak ada yang boleh mendekati Wanita berbahaya itu.” Tegas Merri.
“Nenek ba baik.”
“BUKAN!! JANGAN PANGGIL PEMBUNUH ITU DENGAN NENEK!!!” Merri melengkingkan suaranya.
Arda terkejut begitu juga Rohi. Kana yang duduk didepannya hanya menunduk lesu. Suara Merri sungguh melengking sampe semua orang terkejut.
“Oowaaa!!!” suara Merri juga membuat anaknya yang berada cukup jauh darinya terbangun dari tidur siangnya.
“Satria!” Merri langsung bangkit dan meninggalkan dua tamu misteriusnya.
Saat Merri tidak ada disana. Arda mendekati Kana dan berbisik, “Dia nenek kita, Kana. Apa kau ingat?” tanya Arda.
Rohi mendengar ucapan Arda. Insting reptil Rohi memberikan peringatan, entah kenapa Arda kali ini terlihat sangat berbahaya.
Terlebih lagi kondisi gadis yang ia sebut saudara kembar itu juga sangat aneh. Bagi hidung tajam iblis Bernama Rohi ini, Kana tidak memiliki aroma seperti manusia.
.
.
__ADS_1
.
.
Sementara itu…
Kediaman keluarga Karin dan Agus
Agus telah sampai dirumah. Sesuai janjinya, dia hanya mengurus cutinya di kantor. Cuti dadakan itu untungnya mendapat persetujuan dari pihak kantor.
Fitri langsung berpamitan. Dia sungguh merasa aneh selama berada di rumah itu.
Saat keluar dari pagar rumah, ia melihat mobil Arinda. Salah satu sahabatnya itu langsung membuka kaca mobil untuk bisa menyapa Fitri.
“Loe mau pulang?” tanya Arinda.
“Iya, lo harus anterin gue pulang dulu.” Perintah Fitri yang langsung masuk dan duduk dibangku depan.
“Loh kok? Gue baru aja mau mampir.”
“Ayo buruan!” desak Fitri. Ia melihat kearah rumah Karin yang terlihat minimalis dan modern itu.
Mata Fitri terbelalak saat melihat kearah jendala yang ada dilantai dua.
“Buruan, Nda!!” desak Fitri.
“Iya, iya!” Arinda mengalah dan segera menyalakan mobilnya.
.
.
.
Setelah agak jauh, Fitri mulai menjelaskan apa yang ia alami di rumah Karin.
“Gue rasa ada yang ga beres disana, Nda.” Jelas Fitri. Suara bergetar. “Gue bingung, Karin gak curiga sama anaknya apa? Udah jelas Kana itu NGGAK seperti Kana.” Tutur Fitri dengan nafas tersengal-sengal.
“Coba loe jelasin apa yang telah loe lihat.” ajak Arinda.
"Loe seyakin itu?"
"Yakin banget, demi apapun... tuh bocah freak tau....!! Gua aja takut lihat kelakukan dia. Agak aneh aja!"
“Kita cek lagi bagaimana?” ajak Arinda.
“Gila lu, gue gak mau balik. Anterin gue pulang dulu. Gue benar-benar gak mau balik. Loe tau sendirikan gue sangat tidak suka dengan semua hal yang berkaitan dengan setan atau mistis.” Rengek Fitri.
“Tapi kalau Karin kenapa-kenapa gimana?”
“Udah ada Agus. Agus anak Indigo, dia bisa atasi masalah rumah tangganya.” Jelas Fitri.
Arinda mengangguk paham. Sama hal dengan dirinya, setelah kejadian itu Agus tiba-tiba bisa melihat setan. Bukan hanya Agus, dia juga bisa melihat setan. Hanya Fitri satu-satunya teman mereka yang tidak mengalami secara langsung kejadian malam itu.
Tapi ada beberapa hal yang membuat Arinda aneh. Jika tragedi setelah pesta Jailangkung itu membuatnya menderita berbagai kejadian aneh, tapi kenapa kejadian itu tidak dialami oleh Karin dan juga Tito. Setelah kejadian itu mereka berdua tidak diganggu makhluk tak kasat mata.
Bahkan Arinda saat ini memelihara kucing hitam bernama LUna, agar terhindar dari makhluk-makhluk halus yang berniat jahat kepadanya.
“Gue anterin lu pulang, baru gue pastiin keadaan Karin.” Putus Arinda.
“Huhu… thanks Nda, ntar pas dirumah gue, gue bikinin kopi susu kesuaan loe.” Ucap Fitri.
Arinda menancap pedal gas lebih dalam. Saat matanya fokus kejalanannya, pikirannya terus memutarkan beberapa ingatan masa lalu.
Lalu wajah Merri terlintas begitu saja dibenaknya. “Kenapa gue ingin dia disini?” pikirnya tiba-tiba. Kemudian ia juga mengingat salah satu wajah sahabatnya, Tito. “Apa Toto benar-benar tidak diganggu?” pikirnya.
Sementara itu…
.
.
Ting Nong
Bel rumah kediaman keluarga Agus dan Karin berbunyi. Agus yang telah mengenakan baju rumahnya segera mengecek siapa yang datang.
__ADS_1
Seorang Wanita yang terlihat masih muda. Ia mengenakan outfit serba putih dan terlihat sangat formal.
“Siapa?” tanya Agus.
“Saya Susan, Guru bimbingan konseling SMP Bougenvil.” Jawabnya sambil menyunggingkan senyum ramah.
“Bu Susan!” seru Kanaya yang tiba-tiba ada dibelakang Agus.
“Hai Kanaya!” balas Susan ramah. Senyum manis membuat guru muda itu terlihat sangat cantik.
Agus hanya diam memandangnya. Dia mengakui kecantikan Susan, tapi dia juga kasihan dengan sosok yang menempel dibadan susan.
“Silahkan masuk,” ajak Agus.
Susan masuk dan duduk disofa meja tamu setelah dipersilahkan oleh tuan rumah. Karin yang menyadari kedatangan tamu juga segera menghampiri mereka.
“Bu Susan, anda datang?” tanya Karin.
Susan membalas dengan senyum tipis manisnya. “Saya datang untuk menyampaikan beberapa masalah terjadi tempo hari.” Jelas Susan.
“Oh ya, saya minta maaf kalau anak saya bikin ulah disekolah. Lalu bagaimana keadaan anak itu?” tanya Karin.
“Iya, saya ingin membahas hal itu. Orang tua Bianka sempat melaporkan masalah ini ke kepolisian sebagai tindak perundungan dan penganiayaan.”
Karin dan Agus terkejut mendengar kabar buruk itu.
“Tapi untungnya kejadian itu terpantau di CCTV. Disana jelas kalau yang memulai bukan Kanaya.”
“Lalu bagaimana?” tanya Karin.
“Bianka memutuskan untuk pindah sekolah. Sebab sehari setelah kejadian itu seorang pelajar juga datang mengadu. Dia mengaku juga pernah dibully oleh Bianka.”
“Orang tuanya saja aneh, ya pantas anaknya juga suka kasar disekolah.” Racau Karin.
“Untuk itu, Kanaya tidak usah khawatir. Kana bisa bersekolah mulai besok dengan aman. Anak-anak yang lain juga tidak akan mempermasalahkan hal itu lagi.” ucap Susan.
“Syukurlah kalau begitu.” Ucap Karin. Dia memeluk Kanaya yang tidak henti-hentinya tersenyum senang.
“Saya hanya menyampaikan itu, saya harus segera balik. Masih ada beberapa siswa lagi yang harus saya kunjungi.” Ucap Susan.
“Oh ya bu Susan. Terimakasih sudah mampir.” Ucap Karin dengan ramah.
Susan pamit dan meninggalkan rumah kediaman keluarga kecil itu. Karin dan Kanaya mengantarkan tamu itu dengan keramahan tiada dua.
Agus yang ada diantara mereka hanya diam dan terus memperhatikan sosok yang terus menempel dibadan Wanita itu. Entah kenapa dalam hati kecilnya dia merasa was-was dengan guru satu itu.
“Bukankah pembahasan seperti ini bisa dilakukan dengan menggunakan telpon, kenapa harus repot-repot untuk datang kerumah?”
“Dan lagi kenapa dia terus memperhatikanku?”
Namun, kejanggalan itu tidak terusik oleh Karin ataupun Kanaya sedikitpun.
“Kamu besok mulai sekolah, mau dibuatin sarapan apa?” tanya Karin kepada Kanaya.
“Apapun boleh, tapi aku ingin minum kopi aja.” Jelas Kanaya.
Agus memperhatikan semua keanehan itu. Dia melihat raut wajah Karin terlihat lebih tenang. Bahkan cenderung sangat normal seolah tidak terjadi apa-apa kembali. Bukannya sebagai suami dia merasa jahat, hanya saja suasana hati Karin membuatnya kesal.
“Karin, sudah dapat kabar tentang Arda?” tanya Agus.
Karin tidak menyahut. Dia masih sibuk mengobrol dengan Kanaya.
"KARIN!!!" panggil Agus tegas. Karin dan Kanaya langsung menoleh.
"Arda bagaimana?"
“Hah, apa? Siapa?” tanya Karin dengan ekspresi datar dan bingung.
.
.
.
.
__ADS_1
Pesta Jailangkung Seaoson 2/ bersambung…