Pesta Jailangkung Season 2

Pesta Jailangkung Season 2
28. Anak Tanpa Nama


__ADS_3

SMP Bougenvil


Kanaya berpisah dengan Karin di depan gerbang sekolah. Sebelum turun dari mobil dia memeluk erat sang ibu penuh hangat dan rindu.


Karin juga membalas pelukan anaknya.


“Apa mama sayang sama aku?” tanya Kanaya.


“Sayang, sayang banget malahan.” Jawab Karin.


“Kalau gitu mama gak boleh mikirin yang lain, harus aku dan hanya aku.” Ucapnya.


“Ya sayang!”


.


.


.


.


Kanaya melangkah digerbong sekolah dengan sangat percaya diri. Semua anak-anak menatapnya. Dari dulu Kanaya memang menjadi perhatian banyak siswa. Tapi perhatian yang ia terima hari ini cukup berbeda.


Berita pindahnya Bianka dari sekolah meninggalkan banyak kesan yang penuh misterius. Kabar burung juga bertebangan diantara para siswa dan guru. Ada yang beranggapan jika Bianka malu telah akan perbuatannya dan tidak berani datang kesekolah ini.


Ada juga yang menjelaskan, jika keluarga Bianka mendapat teror dari sosok misterius sehingga keluarganya harus pindah jauh dari kota ini. Bahkan ada berita aneh lainnya yang ceritanya tidak masuk akal. Entah lah, setiap orang memiliki versinya masing-masing.


Secara langsung, memang tidak ada kaitannya dengan Kanaya. Tapi beberapa siswa pecinta teori konspirasi mengaitkan, bahwa siapapun yang berani mengganggu Kanaya akan bernasip sial. Tapi sebenarnya, cerotanya berbeda dan hanya Kanaya yang tau kemana perginya Bianka.


Sejak awal mereka juga menyadari kalau Kanaya adalah ratus es yang tidak boleh diganggu. Tapi berbeda untuk hari ini. Dia bukan lagi si Ratu es, melainkan sosok yang penuh percaya diri dan juga ceria.


.


.


.


“Kanaya!”


Kanaya menoleh dan melihat gadis yang menyapanya. “Kamu sudah mulai masuk sekolah?” tanya anak itu. Dia Lia, teman yang mencoba selalu dekat dan ramah kepada Kanaya.


“Iya. Aku tidak kenapa-kenapa kok. Aku juga tidak dendam dengan kamu dan Bianka.” Ucap Kanaya.


“Ngomong-ngomong masalah Bianka, kamu tidak tau kalau dia dan ibunya hilang?” tanya Lia.


“Hilang? Bukannya mereka pindah?” tanya Kanaya sedikit heran. Ada perasaan senang mendengar gadis itu hilang.


“Bukan, dia hilang. Beritanya tersebar di internet, grup chat sekolah juga heboh. Kamu tidak tau?”


“Oh ya, hapeku rusak karena berantem waktu itu dan aku juga mengalami sedikit masalah karena si jal**g itu. Tapi kalau dia hilang bukannya lebih bagus ya?” ucap Kanaya.


Lia hanya melongo. Dia tidak peracaya dengan perubahan Kanaya. Gadis pendiam dan cuek itu benar-benar menjadi sangat berbeda.


Ia terlalu banyak bicara sampai-sampai kata-kata yang ia keluarkan juga tidak terkendali.


"Tidak ada yang peduli dengan orang bodoh kayak Bianka." Lanjut Kanaya.


“Jal**g.” gumam Lia. Dia tersenyum kecil dan menyukai kata-kata Ajaib yang keluar dari mulut Kanaya.


Sedangkan Kanaya tidak peduli. Dia meninggalkan Lia dan berlari kearah Susan yang juga baru datang disekolah.


“Bu Susan!” sapa Kanaya. Yang disapa membalas sapaan dengan hangat.


Sebelum Kanaya melangkah menuju Bu Susan, gadis itu tiba-tiba ingat akan suatu hal.


"O iya, kamu penasaran kemana perginya Bianka?" tawar Kanaya kepada Lia.


Lia mengangguk penasaran. Kanaya membisikkan sesuatu di kuping Lia, "Dia dan keluarganya mendekam di Neraka alias MATI!"


Lia menarik diri agar jauh dari Kanaya. Ekspresi yang ia tunjukkan tidak karuan antara bingung dan juga kaget. Dia tidak menyangka kata-kata aneh itu keluar dari mulut Kanaya. Tapi Kanaya hanya menunjukkan gelak tawa tanda ia puas melihat raut wajah Lia.


"Hahaha... cupu!!"omel Kanaya yang meninggalkan Lia.


.


.


.

__ADS_1


.


Sekolah berlanjut seperti biasa. Kanaya juga mengikuti mata pelajaran seperti biasa. Saking normalnya, ia mulai bosan.


Saat bersamaan perutnya juga tiba-toba merasa melilit. Serangan aneh itu juga menjalar ke kepalanya. Perasaan mual dan pening membuat nafasnya sesak.


Kanaya tanpa izin dari guru yang mengajar pergi meninggalkan kelas. Perbuatannya menarik perhatiannya semua orang yang ada di kelas.


“Kanaya, kau mau kemana?” tanya guru.


Tidak ada gubrisan. Gadis itu tetap berjalan dengan agak tertatih-tatih. Satu tangannya memegangi perutnya yang melilit dan tangan yang lain mencoba memegangi sesuatu agar tidak tumbang.


“Dia kenapa?”


“Iya ya, kenapa ya?”


“Sakit?”


"Perasaan tadi baik-baik saja?"


Anak-anak mulai berisik, mereka penasaran.


Jangankan mereka, Kanaya juga tidak tau dengan perubahan yang ia alami saat ini. Kenapa tiba-tiba hatinya terasa perih dan dadanya sesak. Disamping itu perutnya juga terasa sangat mual.


DIa terus berjalan meninggalkan kelas dan berusaha mencari tolilet. Saat berada disana, barulah ia mengeluarkan semuanya.


Muntah hitam dengan cacing putih. Bukan hanya sekali, perutnya juga terus mengeluarkan banyak cairan menjijikkan itu. Cukup banyak dan cukup lama.


Saat semuanya beres, ia mencuci tangannya. Saat itu bayangannya dicermin menunjukkan sosok dirinya.


Satu bola matanya berubah menjadi hitam dengan titik bewarna merah. Gadis itu terlihat sedih.


“Kanaya brengsek itu ternyata telah sadar. Tidak akan aku biarkan. Sedikit lagi aku bisa diterima dikeluarga itu. Jika aku berhasil, nenek akan mengangkatku menjadi cucunya dan memberikan semua ilmunya kepadaku.” Ucapnya.


“Aku harus segera kembali dan menjaga rumah itu sebelum Kanaya pulang dan menemukan Arda.”


.


.


.


.


Agus duduk diatas Kasur Arda dan menyentuh noda jejak kaki bewarna merah diatas Kasur itu. Entah kenapa dia yakin itu jejak kaki Arda.


“Arda, apa itu kamu nak?” tanya Agus.


Hening.


Agus sebenarnya tidak tau apa yang ia cari ini bisa membantu. Tapi entah kenapa dia ingat akan suatu cara.


Dia takut dengan pikirannya, tapi dia putus asa. Dia takut cara ini akan berhasil atau semakin memperburuk masalah.


Tapi tidak ad acara lain, dan dia bersikeras untuk mencoba.


Agus mempersiapkan sebuah kertas, pulpen dan dua buah kayu yang diikat membentuk silang. Tidak lupa ia membawa lilin. Agus merasa masih ada satu yang kurang. Dia mencoba mengingat kembali satu atribut lagi.


"Sial!! Boneka brengs*k!" pikirnya. Agus segera mengambil satu boneka kelinci yang yang ada dikamar putrinya. Kemudian Arda membawa semua benda itu di kamar Arda. Lampu ia matikan. Pencahayaan hanya bersumbr dari satu batang lilin yang ia taroh tepat didepan ia duduk menyilangkan kaki.


Semua benda itu ia rapikan dan menarohnya seperti yang pernah ia lakukan saat SMA dulu.


“Hong Hiyang Ilaheng Hen Jagad Alusan Roh Gentayangan Ono'e Jelangkung Jaelengsat siro Wujud'e Ning kene Ono Bolon'e Siro Wangsul Angslupo Yen Siro Teko Gaib Wenehono Tondo Ing Golek Bubrah Hayo Enggalo Teko Pangundango Hayo Ndang Angslupo Ing Rupo Golek Wujud..Wujud..Wujud!”


Ia mengucapkan mantera itu. Mantera Jailangkung.


Tidak ada respon apapun.


“Hong Hiyang Ilaheng Hen Jagad Alusan Roh Gentayangan Ono'e Jelangkung Jaelengsat siro Wujud'e Ning kene Ono Bolon'e Siro Wangsul Angslupo Yen Siro Teko Gaib Wenehono Tondo Ing Golek Bubrah Hayo Enggalo Teko Pangundango Hayo Ndang Angslupo Ing Rupo Golek Wujud..Wujud..Wujud!”


Agus putus asa. “GYAAAA!!!!” dia membuang boneka dan semua atribut itu.


“Kenapa papa melakukan itu?” tanya seseorang yang ternyata memperhatikannya.


Agus menoleh. Kanaya berdiri dihadapannya.


Agus tidak berbicara apa-apa. Dia hanya menitikkan air mata. Sementara Kanaya terus menatap ayahnya dengan mimic wajah serius.


“Arda mungkin telah dibunuh, Pah.” Ucap Kanaya dengan wajah serius.

__ADS_1


Raut wajah itu berubah sedih. Dia menitikkan air matanya.


“Cih, tidak mungkin!” ucap Agus. “Dia masih hidup, Arda ada dirumah ini, dia masih hidup. Dan kau siapa? Siapa yang mengirimmu kesini?”


“Hiks hiks!! Papa sadar, papa harus percaya sama aku!!”


“Tidak, jangan panggil aku papa. Kau sembunyikan dimana Arda dan kembalikan ingatan Karinku.”


“Papa sadar! Jangan biarkan Wanita itu menguasai kita, Pa!” seru Kanaya.


“Wanita siapa lagi?” Agus mulai muak.


“Merri!!!!” ucap Kanaya lantang. “Merri membunuh Arda. Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri!” jelas Kanaya.


“Merri juga mengancamku jika aku mengadu! Sekarang aku takut


dibunuh Merri!!!” Kana memeluk Agus. Badannya gemetar hebat dan membuat


Agus merasakan apa yang dirasakan Kana.


“Dia sekarang mengincar mama, lalu aku dan kemudian papa.” Lanjut kana. “Justru aku ingin nanya, apa hubungan Wanita jahat bernama Merri itu dengan keluarga kita?” tanya Kanaya.


Agus tidak menjawab. Pikirannya terus berputar-putar. Arda, Karin, Kanaya, jailangkung dan Merri. Semua wajah itu terus berputar dibenaknya.


Begitu juga dengan suara dentuman tidak jelas yang juga membuatnya semakin pusing dan terasa seolah berputar. Pikiran itu membuatnya kepalanya semakin berat dan pening seolah dunianya berputar.


"Pa, apa hubungan Merri dengan keluarga kita? Kenapa dia ingin meneror keluarga kita?" desak Kanaya.


Suara Kanaya mulai terdengar menggema dan juga samar. Perasaan itu juga diirngi dengan perubahan penglihatannya yang mulai kabur. Keseimbangan badannya tidak stabil.


Agus merasa berat disekitar pundak badannya.


"Pa!" suara Kanaya menyapanya. Ia melihat gadis itu mengambil boneka Jailangkung. "Bukan boneka kelinci, dulu bukannya papa pernah memainkannya dengan boneka beruang?" tanya Kanaya dengan suara dingin.


Agus tidak tahan dengan beban sakit yang tiba-tiba menyerangnya. Detik-detik sebelum terjatuh dia melihat dua bayangan mendekatinya. Dua wajah yang tidak asing, wajah Kanaya dan seorang perempuan dengan raut wajah penuh keriput.


“Pa! PAPA bangu!!! Gimana pa… Kana bingung… kana takut…!!!” ucapnya dengan air mata yang membanjiri wajahnya.


Ia terus menerus menggoyang tubuh Agus, tapi hasilnya tetap sama. Agus tidak sadarkan diri.


“Pa…!” Agus tetap tidak bangun. Dia banar-benar pingsan.


“Apa sudah beres, Nona?” seseorang menghampirinya. Dia mengenakan seragam formal serba putih.


“Susan.” Kana menyapa perempuan yang memanggilnya nona itu.


“Dia sudah tidak berdaya. Setelah ini akan sangat gampang mengurusnya.” Ucapnya dengan sangat angkuh.


“Tapi Merri sialan itu benar-benar membunuh saudaraku.” Ucapnya tiba-tiba.


Dia melirik sosok yang bersembunyi dibalik kasur. Kanaya mengangkat sprei yang menutupi bawah kolong dipan kasur tersebut.


“Ci luk ba!” serunya kepada Arda yang terlihat sangat ketakutan.


Anak itu tidak bisa berteriak. Saat ini satu kakinya dirantai dengan rantai yang sangat panjang. Tangannya diikat dan mulutnya terkunci dengan rapat. Kemudian ada benda aneh dilehernya.


Benda itu yang membuatnya tidak terhubung dengan Agus. Tapi darah akibat menginjak beling membuat Agus sadar akan kehadiran Arda.


“Susan, hapus semua noda ini sebelum mamaku kembali pulang. Jangan sampai dia ingat tentang Arda.” Ucap Kanaya lagi.


“Nona apa kamu serius ingin menjadi keluarga ini, bagaimana dengan saudaramu yang mati itu?” tanya Susan.


“Aku tidak suka ditanyai perihal perasaan pribadiku.” Ucap Kana tegas.


“Tugasmu hanya membantuku. Tugasku mengikuti perintah Mbah Uti. Tugas saudaraku telah selesai. Setelah papaku ini membunuh Merri, dia akan dipenjara. Mamaku akan menceraikannya. Aku bisa tinggal dengan mamaku dan saat itu kamu curi perhatian papaku dan menikah dengannya.”


“Lalu bagaiman dengan Kanaya?” tanya Susan ragu.


“Kanaya? Maksudnya aku?” tanyanya balik. “Hanya aku Kanaya. Jika ada yang meniruku, dia akan kubunuh.”


Susan mengangguk paham. Dia bersikap patuh seolah siap melayani Kanaya, atau bukan Kanaya, tapi anak tanpa nama yang lahir dari kegelapan.


.


.


.


.

__ADS_1


Pesta jailangkung 2/ Bersambung!!


__ADS_2