Pesta Jailangkung Season 2

Pesta Jailangkung Season 2
22 Spidol dan Lilin


__ADS_3

Setelah melewati hari yang panjang di rumah sakit, akhirnya aku pulang. Aku langsung menuju kekamar untuk istirahat.


Saat pintu dibuka, aku melihat orang asing. Dia Wanita tua dengan pakaian nyentrik. Dia memakai sanggul besar dikepalanya.


Aku juga ingat kalau seluruh jari tangannya juga dipenuhi oleh perhiasan bewarna kuning emas.


Awalnya aku mengira itu arwah nenekku. Tapi sedikit aneh, sebab almarhum nenek tidak akan datang dengan penampilan senyentrik itu.


Wanita tua itu menghampiriku. Tidak ada yang aneh. Bahkan senyumnya yang hangat membuatku tidak merasa terancam. Sampai pada akhirnya dia mengeluarkan sebuah boneka beruang biru lusuh yang diikat dengan dua kayu.


Aku ingat boneka itu.


“Aku tau gadis pemilik boneka ini cinta pertamamu. Simpanlah.” Ucapnya menyerahkan boneka itu ketanganku.


Setelah melewati banyak masalah karena permainan gila itu, aku justru menolak permintaan Wanita tua itu. Dia hanya tertawa saat aku tolak dengan keras.


“Hahaha…!! Ini baru permulaan, nanti aku akan meminta bantuanmu lebih sering. Ini baru permulaan.” Ucapnya.


Aku hanya terdiam tapi kakiku bergetar begitu hebat. Barulah aku merasa jika dia bukan orang baik.


Senyum yang awalnya hangat seketika menjadi isyarat untuk awal sebuah mimpi buruk di kehidupan nyata.


Aku sangat ketakutan. Sumpah! Dia Wanita tua dengan wajah lembut tapi aura didalam dirinya sungguh mengerikan.


“Aku akan sering datang berkunjung, seperti dihari kelulusanmu, saat kau menikah, memiliki anak, naik jabatan hingga saat kau dimakamkan. Aku akan selalu mengawasimu.”


“Jika kau marah, maka salahkan cucuku, Merry.”


Saat itu aku yang lupa akan kejadian masa itu langsung Kembali ingat. Termasuk dengan Merry dan Mikha. Aku langsung membenci Merry atapun Mikha. Tapi disisi lain aku membutuhkan pertolongan dia.


Hal itu membuatku bingung.


Saat bersamaan pintu kamarku terbuka. Kakakku masuk untuk mengajakku makan siang. Saat itulah nenek itu menghilang. Akan tetapi hal itu belum berakhir.


Kediaman keluarga Agus dan Karin


Agus memperlihatkan beberapa lembar foto. Foto saat ia lulus wisuda. Foto kantor karena mendapat penghargaan. Foto pernikahan dan perayaan saat melahirkan anak kembarnya.


Semua foto dengan suasana ramai itu mereka melihat satu sosok yang sama. Seorang Wanita dengan pakaian nyentrik tersenyum. Dia berdiri tidak jauh diantara mereka yang ada dalam portrait tersebut.


“Gila?!” sebut Fitri.


“Gua memang mau gila pas menyadari foto-foto ini.” Sahut Agus. “Yang lebih gila lagi, Arda dan Kana yang pertama kali menyadarinya. Waktu itu usia mereka tiga tahun.”


“Apa kata mereka?” tanya Arinda penasaran.


“Nenek!” ucap Agus, “Mereka selalu senang melihat foto wanita tua itu.”

__ADS_1


Fitri langsung mengusap telapak tangan hingga kebahunya, “Merinding gue!”


“Karin tau?” tanya Arinda.


Agus mengangguk pelan. “Makanya dia sangat protektif terhadap Arda dan Kana. Saking protektifnya dia memutuskan untuk menjaga anak-anak kami dan keluar dari pekerjaannya.”


“Tapi Karin tidak pernah cerita.” Gumam Fitri merasa kecewa.


Arinda hanya mengusap tangan Fitri. Seketika Arinda ingat akan suatu hal, “Apa sebelumnya kalian pernah alami kejadian aneh?”


“Ada, sewaktu anak-anak itu masih bayi. Mereka suka tertawa saat malam hari. Aku melihatnya, padahal waktu itu Karin tertidur disamping mereka, tapi mereka tertawa seolah ada orang disana.” Jelas Agus Kembali mengingat kejadian aneh tempo lalu.


“Bagitu juga waktu mereka usia 3 tahun. Aku ingat Kanaya sedang berbicara sendirian di taman. Karin segera menghampiri dan menanyai dengan siapa ia bicara,  Kanaya jawab “Sama Nenek!”” jelas Agus.


“Tapi sumpah demi apapun, aku tidak akan biarkan anak-anakku diambil oleh wanita sialan itu!!” geram Agus.


“Gus, tenangin diri loe. Jangan teriak-teriak, kasihan kalau Karin sampe denger!” bujuk Fitri.


“Maaf gue terbawa emosi.” Ucap Agus Kembali mengusap wajahnya sendiri.


“Gue akan bawa foto-foto ini.” Ucap Arinda mengambil selembar foto.


“Ya, udah larut malam. Besok gue kesini lagi. Loe jagain Karin. Pasti dia masih syok soalnya Arda belum balik dan Kana juga masih syok.” Ucap Fitri.


Agus mengangguk pelan. Dia berusaha tegar. Sekali lagi, dia meminta bantuan kepada Arinda untuk terus mencari informasi mengenai Merri dan juga anaknya Arda.


Setelah mengantar para tamu pulang. Agus segera menyusul kekamar. Ia melihat Kanaya telah tertidur dipangkuan Karin.


Pukul 01.00, Rumah sekaligus studi kerja Arinda


Tengah malam. Arinda tidak bisa tidur. Di kamar yang sangat luas dan besar dan dikelilingi manakin dengan pakaian hasil rancangannya, Arinda terus melihat foto Agus dan Karin dengan pakaian pernikahan mereka.


Ia ingat, hajatan diadakan di taman terbuka. Ada banyak tamu baik dari teman semasa SMA dulu hingga teman-teman setelah lulus kuliah.


Disetiap sisi kiri dan kanan pasangan pengantin itu juga berdiri Arinda, Fitri, Suami Fitri dan juga Tito. Ia sengaja memilih foto itu, sekalian mencoba Kembali mengingat raut wajah satu sahabatnya tak kunjung ada kabar, Tito.


“Kemana manusia ini, ya?” tanya Arinda menunjuk wajah Tito.


Kemudian, mata cantik itu Kembali terfokus dengan satu wajah asing lannya. Wanita tua dengan pakaian hitam namun terlihat nyentrik. Ia mengenakan make up tebal dengan leher dan juga setiap pergalangan tangan hingga jari yang dipenuhi perhiasan.


“Apa benar dia neneknya, Merry?” gumam Arinda. “Tapi kenapa jauh berbeda dengan ibunya Merry yang tampil apa adanya. Ibunya juga baik. Merry juga pemalu.” Pikir Arinda.


Ia Kembali melihat ekspresi wajah wanita tua itu. Mata berkantong itu jelas sekali memperhatikan pasangan pengantin difoto itu. Jika orang lain yang melihat foto ini, jelas wanita tua itu hanya tamu yang mungkin mengagumi Agus dan Karin.


Tapi bagi mereka yang sudah mendengar cerita Agus, jelas foto ini memiliki makna yang sangat menakutkan.


“Insomniaku memang selalu berguna,” gumam Arinda dengan senyum cemerlang. “Tapi wanita ini sedikit familiar.” Pikirnya tiba-tiba.

__ADS_1


Wajah cantik itu seketika ingat akan satu hal. Dia segera membuka laci paling bawah dimeja kerjanya. Sebuah spidol hitam tua dan juga lilin.


Ia yakin spidol dan lilin itu adalah benda yang ia dan teman-temannya gunakan saat bermain jailangkung waktu itu.


Benda itu ia dapatkan saat mengadakan seminar disebuah kampus. Seorang wanita tua mendekatinya dan meminta tanda-tangan kepadanya.


“Kau perancang busana yang sering tampil di tv bukan?” tanya nenek itu yang tiba-tiba membuka pandora memori di masa itu.


“Iya, ibu, apa ibu pengajar disini?” tanya Arinda yang sibuk dengan americano yang masih panas.


“Hehehe bukan!” jawab nenek itu. “Saya kesini hanya ingin meminta tanda tangan kamu dan menitip barang ini saja.” Ia kemudian menyerahkan sebuah spidol.


Arinda tentu agak bingung dengan bentuk spidol yang terlihat kotor dan juga tua. Namun saat ia melihat si nenek, seketika wajah itu tidak ada. Wanita tua itu menghilang.


Wanita tua itu juga meninggalkan kertas dengan tulisan; “Takdir!”


“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” pikirnya lagi mencoba Kembali mengingat wajah wanita tua itu.


DREGGG!!


Arinda kaget. Satu manakinnya tiba-tiba bergerak.


“Luna, apa itu kamu?” panggil Arinda.


Hening… tidak ada jawaban.


DREGG!!


Manakinnya kembali bergerak. Arinda tersenyum melihat gangguan kecil yang sering ia alami tiap malam.


Dengan santai ia melangkah kearah manakin yang mengenakan gaun putih dengan corak merah darah. Manakin itu sedikit bergeser dari tempat asalnya.


“Asal kamu tau ya Luna, aku bikin gaun ini cukup lama tau. Jangan sampai kamu rusakin ya?!” gertak Arinda yang seolah menahan gemas kepada Luna.


Saat Arinda mengangkat kain yang menutupi kaki manakin, sesosok makhluk dengan kilauan satu mata hijau yang dibaluti bulu bewarna hitam menatapnya.


Arinda terlihat senang. “Luna?!” seru Arinda. Dia kemudian mengangkat Luna dan merangkulnya dalam pangkuannya.


“Meong!!” seru Luna yang senang melihat wajah Arinda.


Arinda meletakkan kucing gendut berbulu hitam lebat itu diatas meja kerjanya. Kucing cacat yang hanya bisa melihat dengan satu mata itu mengelus manja kepada Arinda. Dia mendengkur lembut.


Kemudian dengkuran itu tiba-tiba berhenti saat mata hijau menyala itu melihat lembaran foto diatas meja. Dia duduk diatas foto itu dan kemudian menatap Arinda dengan tatapan khas kucing.


“Apa yang kamu rasakan Luna?” Tanya Arinda.


“Grrr!!!” Tiba-tiba kucing hitam itu menderu kesal. Dia tidak menyukai Gambari dari foto itu.

__ADS_1


Pesta Jailangkung 2/ bersambung…


__ADS_2