
Merry memberanikan diri untuk memijaki halaman rumah dengan disaign minimalis modern. Rumah yang sepatutunya terlihat sangat modern karena sesuai jamannya itu begitu menyeramkan.
Namun yang lebih aneh lagi, beberapa rumah yang berada disamping kiri dan kanan itu juga terlihat sepi, seperti tidak ada penghuninya.
“Sejak kapan perumahan serasa seperti pemakaman umum?” pikir Merry.
Merry terus memperhatikan sekitar bangunan rumah. Dia melihat bayangan putih berlewatan dibalik jendela. Dia bisa meyakini, rumah-rumah ini dihuni, tapi bukan oleh manusia, melainkan makhluk lain.
Merry menggenggam tas kecil ditangannya. Didalam tas berbahan kain itu ada benda-benda penting yang bisa menjaganya sementara Rohi kembali dengan bala bantuan.
“Kau bawa ini. Setelah aku mengantar supir dan anak ini, saya akan kembali dengan bala bantuan. Kau bertahanlah sampai kami datang.”
Sesuai perkataan Rohi, dia juga tidak yakin apakah dia bisa sekuat itu?
Merry telah berdiri didepan pintu. Dia hendak mengetuk pintu tersebut, namun pintu itu membuka dengan sendirinya.
Merry dihadapkan dengan sebuah pemandangan, yaitu sebuah foto keluarga dengan frame cukup besar.
Wajah Karin, Agus, Kanaya dan Ardaya tersenyum disana dengan balutan semi formal disebuah studio. Ukiran frame berwarna emas itu memberi kesan mewah terhadap penghuninya.
“Ya, mereka berdua adalah Karin dan Agus.” Angguk Merry yang masih ingat dengan kedua orang tersebut.
Merry memasuki rumah itu. Dan ia tidak menyadari jika balutan frame bewarna keemasan itu berdesis dan bergerak secara melata di dinding.
“Sssttt!!!!”
Langkah kaki Merry terhenti dengan pemandangan aneh didepannya.
Dia tidak menemukan sipemilik rumah, melainkan Susan dan neneknya sendiri, Mbah Uti.
“Selamat datang dirumah, Merry!!” seru Mbah Uti yang duduk diatas sofa. Dia mengenakan pakaian serba hitam yang dipenuhi manik-manik yang membuatnya glamor.
Riasan diwajahnya juga tidak berubah. Begitu juga beberapa perhiasan yang menempel di sekitar leher dan jari-jarinya. Dia terlihat sangat mencolok seperti biasanya.
“Ini bukan rumah. Dan Jangan berpura-pura didepanku.” Ucap Merry dingin. Tidak ada keluarga lagi diantara dia dan pembunuh orang tuanya.
“He he he…!!” Mbah Uti tertawa dengan reaksi wajah Merry yang penuh amarah. “Kau masih belum berubah Merry. Kau masih cucuku yang paling bodoh.” Ucapnya.
“Pantas ibumu mati, sebab kau tidak bisa menjaganya, Merry.” Celetuk Susan.
“Jaga ucapanmu, Susan!” bentak Merry.
“Tapi itu fakta, bodoh!”
“Kalian Jangan bertengkar, bagaimanapun kita keluarga, bukan!” ingat Mbah Uti.
Merry melirik Susan dengan penuh dendam. “Kau mengirim cucu kesangayanmu untuk membunuhku. Apa itu masih keluarga?” tanya Merry.
“He he he…!!! Aku hanya ingin mengujimu, Merry.”
Susan melirik Mbah Uti dengan tatapan sinis. Dia merasa kehadirannya tidak sepenting itu.
“Bukan seperti itu keluarga. Keluarga juga tidak menghancurkan keluarga lainnya.” Ingat Merry. “Kembalikan keluarga ini seperti semula.” Perintah Merry.
“He he he…! Andaikan aku bisa.” Kekeh mbah Uti.
__ADS_1
“Maksudnya?”
“He he he… keluarga ini sejak awal tidak ada. Mereka saya ciptakan untukku, untuk persiapan pertemuan kita.” Terang Mbah Uti.
“Seorang pemuda terlahir dari keluarga tidak beruntung, dia punya cita-cita, dia punya ambisi, hanya saja keberuntungan jauh dari tangannya. Maka sebab itu, saya membantunya. Dia menikah dengan perempuan yang juga saya siapkan. Melahirkan anak-anak dan mendapatkan apa yang dia inginkan. Kesuksesan.”
“Kau pintar sekali berbohong wanita tua.” Sela Merry.
“Itu bukan kebohongan Merry, itu kenyataan.”
“Saya pernah bertemu dengan mereka. Dan mereka adalah orang-orang yang gagal kau tumbalkan.”
“Bukan seperti itu Merry.”
“Agus selamat dari incaran dari pamannya yang ternyata terjebak dengan rayuanmu untuk mendapatkan uang dan harta.Sedangkan Karin sudah kau incar sejak dia bermain bersama anak Bernama Mikha itu.”
“Karena kau gagal akan dua hal itu, sekarang kau pertemukan mereka dan kemudian kau sengaja mengincar anak-anaknya. Bukan begitu?” jelas Merry.
Prak Prak Prak
“He he he…!!” Mbah uti tertawa dengan girang. Bibir merekah itu memberikan garis senyum. Dia bangga dengan cara berpikir Merry.
“Kamu sudah memiliki kemajuan. Tidak percuma saya membunuh Kusuma.” Pujinya.
Mendengar nama ibunya disebut, Merry naik pitam. Dia mengepal tangannya dengan sangat kencang. Susan memperhatikan gerak tubuh Merry.
Pancingan emosi mbah Uti berhasil. Merry mengambil benda yang tersimpang didalam tasnya. Sebilah keris langsung mengancung didepan Mbah Uti.
“Kau pantas ke neraka!” ucap Merry yang kemudian memajukan keris sehingga tepat dipuncak batang hidung mancung neneknya.
“Kau yakin bisa membunuhku, Cu?” tawa mbah Uti yang melempar keris itu ke lantai.
Kemudian Uti maju dengan kecepatan angin dan menyerang Merry dengan tongkatnya. Kepala tongkat berbetuk tengkorak itu mendorong tepat didadanya.
Meski terlihat pelan, namun pukulan itu membuat Merry terpelanting hingga menabrak dinding rumah yang ada dibelakangnya.
“UHUK UHUK!!” batu Merry. Ia merasa sesak didadanya. “Sial wanita ini sangat kuat!” gumamnya.
“Meski sudah sedikit pintar, tapi kau masih lemah. Kau membuatku semakin ragu Merry, masa penerusku sangat lemah.” Ledek mbah uti.
Kata-kata mbah Uti sama sekali tidak menarik minat Merry. Tapi sebaliknya, kata-kata itu sangat membekas bagi Susan yang dari tadi diam dan memperhatikan disudut ruangan.
“Merry.” Panggil Mbah Uti mendekati Merry yang masih meringis menahan dadanya yang sakit.
“Kau kenapa? Apa sakit?”
Merry tidak menjawab. Dia menyiapkan satu senjata yang ia sembunyikan dari balik tasnya. Dia kembali ingat akan pesan Rohi sebelum mereka sempat berpisah.
“Merry bertahanlah sampai bala bantuan datang. Dan gunakan beberapa benda dalam tas ini. Satu hal lagi, kau tidak akan bisa mengalahkan nenekmu sendiri, maka dari itu buat dia lengah agar kau bisa menyelematkan anak itu terlebih dahulu.”
Merry menggenggam tas kecil yang melingkari badannya. Dia meraba salah satu benda.
“Sakit?” Merry mencoba mengalihkan perhatian agar rencananya tidak bisa terbaca oleh mbah Uti. “Saya sudah terbiasa dengan rasa sakit, sehingga yang sekarang ini tidak ada apa-apanya.” Jawab Merry mencoba mengumpulkan kekuatan kembali.
Tapi kata-katanya bekerja. Rasa sakit yang ia terima saat ini belum sebanding dengan perpisahan yang ia alami dengan sang ayah saat ia masih berusia balita dan perpisahan dengan ibunya yang mati mengenaskan didepan matanya.
__ADS_1
“Ini belum ada apa-apanya, Mbah uti.” Ucap Merry sekali lagi.
“Menarik, sangat menarik. Aku melihat kekuatan dimatamu.” Puji Mbah Uti yang semakin mendekat dan tepat didepannya.
Ia meraih dagu kecil Merry dan kemudian menariknya agar bisa berdiri. Merry mengikuti tarikan mbah Uti, tatapan mata Merry semakin tajam.
“Apa benar tidak sesakit itu, Merry??” tanya Mbah Uti.
“Tidak!” ucap Merry yang kemudian melemparkan sebuah abu kearah matanya mbah Uti. Namun perempuan tua itu menahan tangan Merry.
“Tidak semudah itu, Cu!” dia memplintir tangan Merry kebelakang.
Tapi Merry tidak kehilangan akal disitu, dia mencoba melepas plintiran tangan itu dengan mengikuti arah putaran tangannya. Kemudian menggunakan tangan lainnya untuk menyerang perempuan tua itu.
“Demi pengsuasa langit dan alam semesta, berikan kekuatan agar berlindung dari setan dan kekuatan gaibnya.” Seru Merry yang mencoba menyerang Mbah Uti dengan belati ditangannya.
Mbah Uti mundur dalam beberapa langkah. Tiba-tiba badannya tertahan dengan tembok dibelakangnya. Rumah ini terlalu sempit untuk pertarungan antara cucu dan nenek.
Tapi sekali lagi, perempuan tua itu kembali tersenyum. “Doa mu tidak akan didengar oleh penguasa langit. Kau taukan?!” ledek mbah Uti.
Tangannya kembali menahan belati Merry. Merry tidak mau diam, dia menekan kuat belati itu.
“Kau begitu semangat rupanya, he he he!!” gelak mbah uti.
“Sangat!” balas Merry, “Untuk penguasa langi dan Bumi, berikan hamba berlindungan dari golongan jin dan manusia yang senang memberdaya jiwa.”
“Kau yakin?!” tanya mbah Uti yang melempar belati itu hingga hamper mengenai kaki Susan. Belati itu menancap ke kaki sofa dekat ia berdiri.
Merry memberikan serangan dengan melempar abu tepat diwajah mbah Uti.
“GYAAAA!!!” Mbah Uti merasa kesakitan dan karena jarak mereka dekat Merry terdorong dengan tinju brutal yang dilayang mbah Uti.
“ANAK KURANG AJAR!!!!” teriak mbah Uti.
Merry terjatuh, didekatnya ada kerisnya. Ia mengambil keris itu dan berusaha untuk bangun. Waktunya tidak banyak untuk menemukan anak Bernama Ardaya.
“SUSAN!!!! Cepat ambilkan air suciku!!!” teriak mbah Uti.
Susan hanya terdiam melihat mbah Uti. Dia yang merasa diberlakukan secara tidak adil merasa enggan menolong perempuan tua itu.
“SUSAN!!!!!” teriak Mbah Uti yang menggerakkan tongkat dengan kepala tengkorak itu.
Melihat tongkat tengkorak yang mengeluarkan cahaya merah dikedua matanya membuat Susan tersadar. “Jika tidak dilaksanakan, maka nyawa taruhannya.”
.
.
.
.
Pesta Jailangkung season 2
Home sweet home
__ADS_1
To be continue…