
Merri tersenyum sinis memperhatikan sosok yang keluar dari kabut putih. Outfit bewarna serba putih itu selalu menjadi ciri khasnya.
Dia berjalan dengan anggun sambil membawa sebuah stik kayu yang ia gunakan untuk memukul supir taxi.
“Ternyata itu ulah kau.” Seru Merri melihat sosok tersebut. “Perempuan berwajah peot.” Tambah Merri.
Kanaya terus memperhatikan sosok perempuan dibalik kabut putih tersebut. Alangkah terkejutnya gadis itu saat sosok tersebut dengan sempurna memperlihat sosok dirinya.
Dia perempuan muda dengan wajah cantik dan outfit semi formal serba putih.
“Bu Susan?” seru Kanaya kaget. Dia tidak percaya dengan perempuan yang pernah ia lihat disekolah.
“Ya cucu mbah Uti paling durhaka, lama tidak berjumpa.” Balas Susan dengan senyum jahat yang menghiasi wajah cantiknya.
“Bagaimana kabar bibi? Oh ya, saya lupa, dia kan sudah mati dibunuh mbah Uti. Suka ikut campur sih jadi Wanita tua.” Ceracau Susan.
Merri meringis menahan amarah. Sekuat tenaga ia berusaha menahan amarahnya. Pokoknya dia tidak boleh terpancing omongan sepupunya ini.
“Bu Susan, a apa yang ibu lakukan?” tanya Kanaya.
Susan menoleh kearah Kanaya yang sebenarnya. Dia tersenyum sinis, “Membawamu pulang, Nak.” Ucapnya.
“Tidak, jangan kau sentuh anak ini.” tegas Merri.
“Aku diperintahkan untuk membawanya kembali kekeluarganya.” Jelas Susan.
“Bilang kepada yang kau maksud keluarga, saya sendiri yang akan membawanya kembali kerumahnya yang sebenarnya.”
“Kenapa kau tidak pernah percaya denganku, Merri?”
“Tidak ada yang mau percaya dengan penipu, untuk kedua kali.”
“Siapa yang kau maksud penipu?”
“Wanita yang suka menyebar fitnah kalau aku gila sejak kecil. Wanita yang iri karena aku dekat dengan ibuku dan kau berusaha mencelakaiku sejak kecil. Perempuan yang terobsesi dengan kekuatan ghaib, perempuan yang gila akan kecantikan hingga melukai wajahmu dan perempuan penggoda suami orang, dan perempuan yang menjual jiwanyanya kepada iblis.” Tutur Merri.
“Atau aku jelaskan juga kalau wajahmu juga palsu. Mataku masih bisa melihat sosok busuk dirimu walau kau telah meminum darah dari mayat bayi perempuan yang masih suci demi mendapatkan wajah itu?”
Kanaya menutup mulutnya. Dia tidak percaya jika guru disekolahnya adalah Wanita sekejam itu.
“Lancang sekali kau!” Susan naik pitam.
Dia memegang erat tongkat kayu dan mengayunkan dengan penuh emosi kearah Merri. Pergerakan yang sangat sembrono itu segera ditangkis Merri dengan melempar pasir yang ia genggam dari tadi.
Alhasil mata Susan menjadi perih dan sulit untuk melihat.
“S*tan! Kur*ng A*ar kau\, Merri! GYAAA!!!” Muak Susan.
Kesempatan itu langsung dimanfaatkan Merri untuk menaklukkan Susan. Saat ia mencoba melawan perempuan itu tiba-tiba satu sosok dengan wajah buruk rupa menangkisnya.
Merri menghindar. Kanaya segera menghampiri Merri. Dia takut melihat sosok mengerikan itu.
Siburuk rupa dengan gaun putih kotor dan wajah hangus terbakar menatap nanar mereka berdua.
“Merri…bukan waktunya bermain-main!” ucapnya meniru suara Kusuma, ibunya.
“HENTIKAN!!” seru Merri.
“Ingat tujuanmu!” lanjut buruk rupa.
“HENTIKAN! KAU BUKAN IBUKU!!!”
Semakin Merri emosi siburuk rupa semakin menjadi lebih berani. Langkah kaki diatas udara nan penuh darah itu mendekati Merri.
“Pergi kau dari sini. Jangan sentuh saya!”
Tangan kurus dan pucat itu menarik wajah Merri dan kedua mata mereka bertemu. “Waktunya kau harus hadapi takdirmu!!!” ucapnya yang kemudian membawa memori perempuan itu berkelana.
.
.
.
.
Merri berdiri diantara kegelapan. Tidak ada yang bisa ia lihat dan dunia yang ia hadapi juga sangat asing.
Hanya ada satu titik cahaya dari langit yang hanya menyoroti langkahnya.
“Dimana ini?” pikir Merri.
“Di duniaku.” Jawab sebuah suara.
Merri berbalik. Ia mencari sumber suara tersebut.
__ADS_1
Satu titik cahaya yang lain mulai menerangi pada satu arah.
“Aku disini!” ucap suara itu tepat berbisik disisi kirinya.
Merri berbalik dan melihat seseorang yang mengenakan jubah dan hoodi bewarna hitam. Dia tepat berdiri disisi kiri Merri.
Aroma amis langsung menyengat dari sosok tersebut.
Merri terkejut dan segera melangkah mundur. Namun hal aneh lainnya juga muncul. Kedua kakinya seperti ada yang menarik.
Saat ia melihat kebawah ternyata kakinya tengah dipegang sepasang tangan yang muncul dari tanah hitam.
“GYA!!” Merri kembali terkejut dan kehilang keseimbangan.
Dia terjatuh pada sebuah lubang yang memliki panjang sesuai ukuran tubuhnya dengan dalam melebihi tinggi badannya.
“Dimana-dimana ini?” tanyanya panik.
“Dirumahmu yang sebenarnya!” seru suara itu. Bersamaan dengan itu cahaya kembali menerangi suasana tempat tersebut.
Diatas mereka terlihat langit mendung dengan awan gelap,lengkap dengan gemuruh petir. Tapi matanya lebih fokus dengan dimana ia berpijak saat ini.
Sebuah liang kubur dimana dibawah kakinya terdapat sebuah mayat yang digulungi dengan kain kafan.
Jantung Merri berdetak kaget. Dia ketakutan, demi apapun kematian adalah hal yang paling ia benci.
Tubuh yang terbungkus kain kafan itu secara berlahan membalik. Meski ketakutan, Merri terus memperhatikan kepala mayat tersebut, hingga akhirnya sebuah wajah terlihat dari sana.
Jangan ditanyakan rupanya seperti apa. Hitam, hangus seolah hamper terbakar. Beberapa bagian juga masih memperlihatkan darah yang terus keluar sehingga membuatnya sangat menakutkan sekaligus menjijikkan.
“Kau tau itu siapa?” tanya sosok berjubah yang berdiri diatas liang kubur. “Itu kau, dan itu takdirmu! GYAAAAHAHAHAHAHA!!!”
“TIDAKKKK!!!!!!”
Tanah bergetar dan kemudian menutupi liang tersebut. Merri berusaha naik. Tapi mayat itu menahannya. Dia bangun dan memeluk Merri dari belakang.
“Temani aku Merri!!!”
“TIDAKKK!!!!”
Merri ingin meronta tapi dia tidak bertenaga saat mayat tersebut menggunakan suara ibunya.
“Jangan tinggalkan aku Merri.” Ucapnya.
“Tidak… aku tidak akan meninggalkan ibu.” Ucap Merri.
Wajah lugu Satria terlintas dibenaknya. “Bagiaman dengan Satria?”
“Kita akan menjemputnya setelah ini, kita akan berkumpul Bersama!”
“Benarkah?”
“Iya.”
.
.
“Bibi Merri Bangun!! Tolong!!!!”
“Apa aku harus mati?”
“Bibi Merri, Tooooolonggg!!!!!”
“Temani aku saja, Merri.”
“Tooooolonggggg!!!!!”
“Suara itu….”
“Suara apa, Nak?”
“Kau tidak mendengarnya, bu?”
“Tidak ada apa-apa hanya kau dan aku!!”
Tanah merah itu kini telah berhasil menguburi hingga keleher Merri. Merri mulai merasa gerah dan badannya keberatan karena timbunan tanah sirah yang basah.
“Bibi Merri, Tolong. Aku ingin Pulang!!!!”
“Merri aku akan pulang!”
Merri mendengar dua warna suara. Yang terakhir adalah suara pria yang sangat ia rindukan.
“Bu?”
__ADS_1
“Iya?”
“Apa benar kau ibuku?” tanya Merri.
“Tentu saja, aku adalah ibumu dan kita keluar….. GHAAA!!!”
Merri menyundul dengan bagian belakang lehernya. Mayat itu tidak merasa kesakitan. Hanya saja pelukannya lansung lepas dari badan Merri.
“Ibuku tidak pernah menyuruhku untuk menyerah.” Ucap Merri.
Dengan sisa tenaganya, Merri berusaha bangkit meninggalkan liang kahar yang hampir menimbun seluruh tubuhnya.
Tapi beberapa tangan kurus dan pucat juga tidak tinggal diam. Mereka berusaha menahan badan Merri agar tenggelam Bersama tanah merah.
Merri terus menggapai pinggiran atas liang. Dia berhasil meraih batu nisan dan berusaha menarik tubuhnya.
Tentu yang naik kedaratan bukan hanya dirinya. Beberapa tubuh mayat yang dibaluti kain kafan terus menempel kepadanya.
“Jangan pergi Merri.” Seru mereka dengan berbagai macam warna suara.
“Pergilah ke neraka!” seru Merri yang berusaha melepaskan diri dari pelukan semuanya.
“Demi pemilik langit dan bumi serta penguasa segala dunia, lepaskan segala bala dan juga pengaruh sihir dari hati dan juga tubuhku.” Seru Merri.
Doa tersebut terus ia panjatkan berulang kali. Sehingga para mayat penasaran itu merasa gelisah dan melepaskan diri.
Mereka merangkak dan kemudian kembali ke persembunyiannya, di liang kubur tak bernisan.
Merri melihat pemandangan itu. Satu sisi ia masih merasa ketakutan, disisi lain ia merasa lega bisa lepas dari pengaruh sihir.
“Ini sihir!” ucap Merri.
Tapi masalah belum selesai, sebab sosok berjubah hitam telah menantinya.
.
.
.
Pesta Jailangkung Season 2/ Bersambung…
Sharing;
Pernahkah kalian pernah terbesit untuk bunuh diri?
Jika pernah, kalian tidak sendiri. Ada banyak orang di
usia diatas 18 tahun mulai memikirkan “Bagaimana jika aku alami kecalakaan dan
mati ditempat.” Atau “Kenapa aku tidak mati saja, aku ingin mati saja.”
Jika itu terjadi segara abaikan. Caranya; Mulailah
aktiivitas yang membuat saraf sensorik dan motoric berkativitas.
Dekatkan diri dengan Tuhan.
Mulailah bersosialisasi dengan lingkungan lebih sehat dan
dinamis
Berbagilah, kalau bukan dengan anak yatim, orang tidak
beruntung atau dengan memberi makan kucing atau anjing liar.
Konsumsi makanan enak dan sehat.
Jangan bicara dengan teman atau keluarga jika mereka
tidak paham kondisimu. Bicaralah dengan ahlinya.
Kalau caraku tambah satu lagi: lampiaskan dalam bentuk
lukisan atau sebuah cerita biar semuanya lega
Berhentilah membandingkan dirimu dengan orang-orang yang kau lihat disosial media.
Tutup akun yang memaksamu menjadi hedon dan rendah diri
Tapi baca ceritaku, dan mari kita berpesat di Malam Holloween ini
Bersama pengikutku
Pesta Jailangkung
__ADS_1
You are invited till the end