Pesta Jailangkung Season 2

Pesta Jailangkung Season 2
Siapa sini suka drakor Under The Queen's Umbrella? Gara2 Ibu Suri Auto ingat file di data D


__ADS_3

Terdapat beberapa adegan kekerasan


Dimohon kebijakan pembaca


Tidak cocok dibawah 13 tahun


Atau yang memiliki trauma terhadap darah dan kekerasan.


Jan sesekali buat lanjut baca!!


Merry tersungkur dilantai, dengan posisi Agus tepat diatas bandannya. Tangan agus dengan kasar menarik tangan Merry yang dipenuhi tetesan darah.


Karin juga ikut mendekat dan melirik darah itu dengan penuh rasa lapar dan haus. Mereka seperti Heina yang melihat mangsa yang siap untuk dimakan.


“TAmat sudah riwayatku!!” pikir Merry.


Sebelum lidah Karin dan Agus menempel ditangan Merry, sebelum riwayatnya tamat, sebuah bala bantuan turun.


Seekor kucing hitam melompat tepat diatas kepala Agus dan memberikan banyak cakaran diwajahnya.


“MEEEEOOWWW!!!!” bengis kucing itu.


“GYAAAA!!!!!” teriak Agus mendapat serangan bertubi-tubi dari kucing hitam legam. Kuku tajam dan hitam itu terus mencakarnya.


Merry tertegun sesaat. Tapi rasa heran ini harus ia tahan untuk beberapa saat. Dia mengambil palu yang berada disampingnya dan terus melakukan serangan kepada Karin.


“GYA!!!” teriak Merry untuk satu pukulan.


“GYAAA!!” pukulan kedua.


“GYAAA!!!” pukulan ketiga.


“GYAAAAAAA!!!!!” pukulan penghabisan.


Kepala itu hancur hingga tidak terbentuk.


“MEOWW!!!” Merry tersadar kucing hitam itu terlempar.


Ia harus menyelesaikan satu boneka lagi. Merry menghajar boneka menyerupai Agus dengan palu.


Tapi yang satu ini terlihat sangat kuat. Mungkin mendapat tetesan darah Merry ia bisa melakukan hal lain yang terlihat lebih kejam.


Tangan besarnya berhasil meraih leher kecil Merry dan menekannya disana. “UHUK!!” nafas Merry tertahan.


Berlahan tubuh Merry diangkat sehingga kakinya berada diudara. “UGH!!!” Merry berusaha meraih tangan bonek ini.


Tapi sayanganya tangannya terlalu panjang dan juga kekar. Merry kewalahan terlebih lagi dengan nafasnya yang teecekat.


“MEOWWW!!!” Kucing hitam itu kembali menyerang boneka didepannya ini. Ia kembali mencakar wajah bonek tanpa ekspresi itu.


Cengkaraman tangannya membuka karena harus menghalangi kucing itu. Merry terjatuh kelantai.


“UHUK UHUK UHUK!!!!” dia berusaha menarik oksigen sebelum paru-parunya benar-benar meledak akibat kurangnya udara.


“MEOOWW!!!” saat kondisi setengah sadar dan berusaha untuk sadar ia melihat kucing itu kembali dibanting ke lantai.


Tapi sosok lain yang ia lihat tiga orang bocah remaja tanggung yang memegang palu.


“GYAAA!!!” dia memukul kaki boneka tersebut yang membuatnya berlutut.

__ADS_1


“GYAAA!!” kemudian serangan itu ia lakukan kearah punggung dan beranjut kekepala.


“UHUK!!! UHUK!!! HMMMM HAAAA!!!” saat Merry berhasil mengumpulkan kesadarannya dia melihat tiga bayangan remaja laki-laki itu menyatu.


Ya semenjak tadi hanya ada satu anak laki-laki, dia Ardaya dan sekarang melawan makhluk didepannya.


“GYAAAAAA!! MA MATIII!!! MA MATIII MATI MATI MATI!!!!” teriak Ardaya.


Merry memeluk Ardaya.


“Sudah cukup. Cukup!!!” ucap Merry.


Makhluk yang ia serang sudah tidak terbentuk. Penyok seperti manekin rusak.


“CUKUP!!!” teriak Merry yang kemudian berhasil membuat Arda tenang.


Arda menarik nafas, dia merasa ketakutan, Lelah dan adrenalinnya terpacu dengan apa yang ia lihat didepan matanya sendiri.


Mereka bedua melihat dua makhluk itu menyusut dan melihatkan wujud aslinya. Dua buah boneka yang terbuat dari akar, tulang, bangkai binatang dan rambut yang dililit dengan kain putih.


“Mereka telah mati, tenang!” ucap Merry.


“Ma mama papa a aku…!!” isak Arda.


“Tenang, mereka bukan ayah dan ibumu. Percaya denganku, mereka bukan ayah dan ibumu.”


“Ma mama dan pa papa di ku kurung.” Jelas Arda.


Merry melirik Arda, untunglah kalau anak ini tau. “Ma mama.. pa papa di kurung nenek. Nenek jahat… kurung ma mama dan papa! Kanaya juga disana!” tunjuk Arda kepada lemari kayu.


“Bukan, Kanaya ada denganku. Dia aman!” ucap Merry. “Mama dan papamu dikurung dimana?”


“Lubang hitam!” jelas Arda.


“Lubang hitam?” pikir Merry. Dimana itu lubang hitam?


“Meow…”


Merry melihat kearah kucing hitam yang duduk diatas Kasur. Dia terlihat baik-baik saja. Padahal bantingan keras itu bisa membuat badannya kesakitan.


Namun yang ia lihat kucing itu terlihat biasa saja. Dia menatap ke arah Merry dengan satu matanya yang terbuka.


“Kau tau dimana mereka sekarang?” tanya Merry kepada kucing itu.


Pencarian ini membuat Merry putus asa sampai harus berbicara dengan arwah kucing.


Sementara itu Kanaya yang berada di kamarnya merasakan jika dua bonekanya telah kalah dari Merry. Dia mengambil sebuah benda yang terletak diatas meja belajarnya.


Dengan benda itu, ia segera menyerang Merry dan melakukan pembalasan dendam.


“Sudah cukup Merry, siapa lagi yang kau bunuh?!” gumamnya marah.


Sedangkan dilantai dasar Mbah Uti juga berhasil membersihkan debu yang membuatnya nyaris buta. Kulit wajahnya terkelupas sehingga merusak riasan wajahnya dan mahkota sanggulnya akibat meronta menahan sakit.


“SUSAN!! Siapkan ritual keabadian!! Anak itu pantas untuk mati!!” perintahnya kepada Susan.


Susan hanya mengangguk. Dia melakukan sesuai perintah Mbah Uti.


Didalam kamar bernuansa biru. Merry dan Ardaya membuka pintu lemari kayu. Lemari itu tidak terlihat aneh sama sekali. Terlihat normal dengan gantungan baju diatasnya.

__ADS_1


“Kamu yakin bisa lewat sini?” tanya Merry.


“Hmm…” Arda terlihat ragu.


Kucing hitam kemudian lebih dulu melompat dan masuk kedalam lemarin kayu itu. Dia terus berjalan sampai semua badannya yang dipenuhi bulu gelap itu tidak terlihat.


Merry melihat kucing itu menghilang. “Apa kucing itu bisa dipercaya?” tanya Merry kepada Arda.


“Iya!” angguk Ardaya dengan penuh yakin.


“Kucing un tuk A arinda.” Jelas Arda lagi.


“Kucing Arinda? Dia?”


Cekrek cekrek…


Tidak ada waktu lagi, Pintu kamar ini akan terbuka dan mungkin ada makhluk aneh lagi yang akan menyerang Merry.


Sebelum hal itu terjadi, Merry mengambil risiko untuk mempercayai kucing arwah milik Arinda. Dia mengangkat Arda dan dirinya agar masuk dalam lemari. Pintu lemari ditutup bersamaan terbukanya pintu kamar tersebut.


Kanaya masuk dan melihat keadaan sekitar.


Kamar itu terlihat sepi. Tidak ada Merry, atau pun Arda. Yang tersisa hanya dua boneka yang menyusut dan tergeletak tak berdaya.


“SIALAN!!” geramnya yang kemudian dan membanting pintu kamar.


Kanaya menuruni anak tangga dengan wajah kesal dan memberi laporan kepada mbah Uti.


“Perempuan sialan itu berhasil lolos.” Jelasnya.


“Kenapa bisa?” tanya Susan heran.


“Dia berhasil mengalahkan dua boneka itu dan sekarang dia lolos!!” jelas Kanaya dengan wajah kesal.


Susan membulatkan matanya, dia terkagum sekaligus heran bahwa Merry bisa melawan dua boneka yang telah dimantrai sekaligus. Tidak mudah menghadapi dua makhluk itu apalagi seorang diri.


“Biarkan, dia tidak akan pergi jauh!” jelas Mbah Uti dengan wajah kesal.


Saat itu Kanaya tersadar jika perempuan itu memiliki luka bakar diwajahnya. “Kau tidak apa-apa?” tanya Kanaya mencemaskan wajah tua keriput itu.


“Bukan waktunya mencemaskan make up ku.” Ucapnya yang secara tiba-tiba menorehkan senyum licik penuh kejahatan. “Saya tau kemana dia pergi! Dia akan bertemu dengan yang lainnya disana.”


“Bertemu manusia-manusia bodoh itu?!” tanya Kanaya dengan wajah cemas.


“Kenapa kau harus takut. Justru itu yang saya inginkan.” Senyum mbah Uti.


“Bukankah mereka akan reuni dan saya akan menjadi abadi. He he he…!!!”


Melihat reaksi yang tidak terduga, Susan dan Kanaya hanya bisa saling menatap satu sama lain. Kemudian Kanaya menorah senyumyang sama jahatnya. Namun tidak bagi Susan.


Ada banyak hal yang ingin ia pertimbangkan.



(Karakter Kim Hae Sook sebagai Ibu Suri di drama Under The Queen's Umbrella jadi ingat Mbah Uti. Gemesin!!!)


Pesta Jailangkung season 2


Home sweet home

__ADS_1


To be continue…


__ADS_2