
Terdapat beberapa adegan kekerasan
Dimohon kebijakan pembaca
Tidak cocok dibawah 13 tahun
Atau yang memiliki trauma terhadap darah dan kekerasan.
.
.
.
A R I N D A
Arinda terbangun dari mimpi buruk. Dia merasa badannya ditarik oleh banyak pasang tangan yang membuatnya terjatuh dalam lubang penuh kegelapan.
Ditambah lagi, Mikha dengan wajah pucat dan menyeramkan ikut menyeretnya agar terjatuh lebih dalam. Arinda merasa itu mimpi yang nyata.
Atau dia memang tidak bermimpi?
Semua kejadian itu benar-benar dia alami. Seorang nenek dengan penampilan yang nyentrik mendorongnya. Dia melempar jasad Mikha tepat ke arahnya dan bersama puluhan pasangan tangan Arinda tenggelam di dalamnya.
Kenyataan itu ia yakini dengan keberadaan badannya yang terbaring di atas tumpukan jasad-jasad yang membeku.
Disampingnya juga terbaring jasad Mikha yang sudah tidak utuh. Badannya yang dingin dan aroma yang menyengat membuat sekujur tubuhnya merinding karena jijik dan ketakutan.
“GYAAA!!!” teriak Arinda menjauhi jasad Mikha. Dia segera bangkit dari sana berlari menuju satu terowongan.
Di ujung terowong dia melihat cahaya. Ia berharap ada pertolongan di sana. Dalam beberapa langkah menuju titik terang tersebut kakinya tiba-tiba ditahan.
Arinda melihat dan itu adalah sebuah tangan yang memegangi pergelangan kakinya.
“Rinda…!!” suara lirih memanggilnya.
Arinda menoleh, mencari sumber suara.
“Kenapa kau tega meninggalkanku?” ucap suara itu lagi.
Arinda melihat sekitar, siapa yang memanggil namanya?
“RINDAAA…!” suara itu berbisik tepat di daun telinganya.
Arinda menoleh dan sosok itu berada disamping kirinya. Sosok itu tentu saja Mikha.
“GYAA!!!” Arinda langsung terduduk karena kaget. “Menjauh dari ku… menjauh!!!” teriak Arinda.
Jasad Mikha tidak mengindahkan instruksi tersebut. Dia tetap maju menyetor wajahnya yang penuh luka dan ulat belatung. Terlebih aroma menyengat itu juga menusuk indra penciumannya.
“Aaa rinn daa!!! Tolong aakkuuu!!!” rintihnya.
Tangan pucat itu memegang kulit wajah Arinda.
Arinda meronta agar jari-jari dingin dan lembek itu segera lepas darinya. Ia berusaha menendang agar Mikha menjauh. Tapi badan kurus itu memang mati rasa. Dia tidak merasakan apa-apa.
“Menjauhlah Mikha!!”
“Arinndaaa pinjamkan jiwamu…!!!”
“Tidaak Mikha!!! Lepaskan MIKHAA!!!”
__ADS_1
Wajah pucat itu semakin mendekat. Dia ingin menghisap aura milik Arinda. Ia merasa ada gema yang membuat kesadarannya gamang.
Arinda tidak ingin berakhir seperti ini. Dia meraba-raba sesuatu disekitarnya. Dan telapak tangannya meraih sebuah kayu yang langsung ia gunakan untuk senjata.
Benda dengan sudut tajam itu ia tancapkan ke mata bolong Mikha. Mayat hidup itu merasakan perih. Badannya langsung bergeser ke belakang.
Arinda tidak membiarkan serangan itu terjadi sekali. Dia langsung melakukannya berkali-kali hingga tubuh itu terjatuh dari atas badannya.
Arinda bangkit. Ia melihat jasad Mikha. Tubuh itu tidak bergerak lagi, hanya mulutnya yang berusaha mengatakan sesuatu.
“Aarrindaa k kau bukan temanku!”
“Stop Mikha! Maaf kesalahanku dimasa lalu!” ucap Arinda tegas.
Namun mata Arinda tertarik dengan kayu yang tertancap di wajah mayat hidup itu. Kayu yang ternyata bagian atasnya terdapat boneka beruang berwarna biru kehijauan.
Boneka itu diikat seolah bentuknya sangat mirip dengan boneka jailangkung yang pernah ia gunakan tempo dulu.
“Ada banyak yang telah kamu lakukan, Rinda! Kau tidak pantas meminta maaf!” ucap Rinda.
Arinda tidak memberikan tanggapan apa pun. Matanya masih tertuju dengan boneka itu. Mata boneka itu berkilauan.
“Kau ingin tau apa takdir mu, Rinda?”
“Stop Mikha, tenanglah di alam mu. Berhenti ikut campur dengan kehidupanku!” Ucap Arinda yang kemudian mencabut benda yang menancap di badan Mikha.
Bukan hanya sekedar mencabut, tapi dia menancap kembali tepat dikepala Mikha, kemudian kembali dicabut dan melakukannya lagi, lagi, lagi dan lagi.
Zat cair berwarna hijau lengket langsung muncrat saat Arinda mencabut benda tersebut.
Dia melihat boneka jailangkung itu. Lalu menoleh kearah Mikha. “Kau mati dua kali gara-gara benda ini? Saya turut berduka cita, Mikha. Maafkan saya! Setelah masalah ini selesai saya akan menyekar kuburanmu.”
“Semoga kau selamat, Rinda.” Lirihnya menetes air mata. Tubuh jasad itu menghilang bagaikan debu yang dibawa terbang oleh angin.
.
.
.
.
Arinda berjalan dengan cepat. Dia menggenggam dengan kencang benda yang berada di tangan kirinya. Saat melewati ujung Lorong, ia disambut cahaya yang membuat matanya silau.
Arinda melindungi matanya dengan tangan kirinya. Saat bersamaan sebuah terompet dengan satu nada tinggi berbunyi.
Arinda sedikit kaget disambut dua hal tidak terduga itu; cahaya yang silau dan suara terompet.
Ia melihat keadaan pemandangan yang ada didepannya. Puluhan orang dengan penampilan aneh tepat dihadapannya. Mereka menggunakan kostum seperti pakaian sirkus, lengkap dengan make up tebal.
Mereka terlihat familier di sepasang mata Arinda. Orang-orang ini menatap Arinda dengan tatapan datar.
“Mereka orang-orang yang berada di dalam TV.” Pikir Arinda seketika.
Bukan hanya kostum, mereka juga memiliki postur tubuh yang unik. Diantara mereka ada yang terlalu tinggi yang mencapai 180 sentimeter atau bahkan lebih. Ada juga yang memiliki tinggi badan kurang dari satu meter.
Begitu juga dengan fisik mereka yang terlalu kurus dengan pipi cekung hingga memamerkan bentuk tulang pipi dibalik kulit wajahnya dan ada yang terlalu gemuk dengan wajah yang tidak semetris.
Mata terlalu besar, gigi terlalu maju, rambut terlalu tipis atau terlalu tebal, badan terlalu bungkuk, perut terlalu buncit.
“Apa mereka manusia?” Entahlah, sama seperti Arinda saya pun juga tidak tau.
__ADS_1
Tidak berhenti disana, Arinda melihat keadaan sekitarnya. Dia seperti berdiri di atas panggung peragaan busana. Lantai panggung yang lurus memanjang didepan. Di pangkal panggung terdapat dua sisi tambahan di sisi kiri dan kanannya dengan panjang yang sama.
Dibawah panggung Arinda melihat seperti bangku penonton yang kosong. Jaraknya cukup jauh, sehingga dia melihat susunan kayu yang terus bergerak pelan kekiri dan kanan. Tapi setelah dia lihat kembali, dia sendiri tidak yakin apakah itu sebuah ukiran kayu atau jari-jari manusia. Cahaya yang terlalu gelap disana membuat pemadangannya terbatas.
Tapi kembali kepada manusia-manusia aneh di depannya, Arinda merasa pernah melihat orang-orang ini. Tapi dimana?
“Tra la la la…!!” sebuah musik tiba-tiba melantun. Irama musiknya tidak enak didengar. Begitu sendu dan juga sedih.
Orang-orang aneh didepannya tiba-tiba membentuk barisan. Mereka berjalan secara beraturan seperti barisan dan mulai berjalan dalam lantunan lagu sedih.
“Apa ini fashion show?” pikirnya.
Tapi tentu saja tidak. Tidak ada peraga busana dengan para peraga yang memiliki karakter abstrak.
Tidak ada peraga busana dimana setiap langkah kakinya mengeluarkan sauara rantai yang beradu.
KLANTANG KLENTENG…
“Kaki mereka dirantai?” Arinda memperhatikan kaki-kaki mereka.
Tidak ada busana yang diperlihatkan selain baju compang camping dengan kaki di rantai.
Saat semua barisan itu berjalan melakukan sebuah peragaan, ekor mata Arinda menangkap pemandangan yang tidak terduga.
Dia melihat Karin juga berada di sana. Karin berdiri dengan wajah tanpa ekpresi berjalan mengikuti barisan lainnya.
“Karin!” Arinda langsung mengejar Karin.
Dalam beberapa langkah ia menghampiri Karin. Tapi perempuan itu belum menyadari keberadaan Arinda. Tatapannya masih kosong.
“Karin! Loe ngapain disini? Ayo pergi dari sini!” Arinda menarik tangan Karin.
Karin masih berperilaku seperti robot yang tidak mengenal siapa pun kecuali perintah untuk tetap melangkah maju hingga ujung panggung.
“Karin!” Arinda menarik paksa tangan Karin, tubuh itu otomatis mengikuti Tarikan Arinda.
“KLONTANG!!”
Tapi sayang, Karin tidak bisa ditarik begitu saja. Sesuatu menahannya. Saat Arinda memperhatikan kebawah, pergalangan kaki Karin juga dirantai.
Lebih naas lagi, saat dia memperhatikan keujung panggung ini, para orang-orang aneh ini Ternyata terus berjalan hingga menuruni panggung. Mereka tidak berputar balik menuju backstage seperti pikiran Arinda.
Satu lagi, yang berada di bawah panggung bukanlah bangku atau manusia yang berbadan mungil lainnya. Melainkan tangan-tangan yang menarik mereka dan siap memakan tubuh orang-orang itu.
“KARIIINNN!!! SADARLAH!!! KITA HARUS PERGI!!!”
“KARIINNNN!!!!”
.
.
.
.
Pesta Jailangkung 2
Home Sweet Home
Bersambung…
__ADS_1