
“Mbah Uti memiliki aturan yang hanya menguntungkan dirinya. Dia akan menolong seseorang dengan imbalan salah satu hidup orang itu harus diberikan kepada mbah Uti.” Jelas Merry.
“Tapi nggak mungkin Agus melakukan hal itu, Agus itu bersih.”
“Ini bukan masalah Agus, tapi sepertinya dia dari awal tertarik dengan Agus. Dia memaksa Agus untuk mengabdi kepadanya.”
“Tertarik dengan Agus?” tanya Arinda.
“Bukan hanya Agus, tapi kalian semua yang pernah terlibat bermain dalam jailangkung waktu itu.”
Arinda dan Karin saling berpandangan. “Seharusnya gue aja yang mati. Soalnya sejak awal gue main dengan Mikha dan setelah Mikha mati, gue yang ngeyel untuk memainkannya lagi.” Ucap Karin.
“Setelah kejadian itu gue selalu dihantui rasa takut dan bersalah.” Sambung Karin.
“Bukan salah lo, intinya kita semua terlibat, maka kita yang menanggung risiko.” Jelas Arinda.
“Iya cukup kita saja, jangan sampai ke anak-anak kita!” ucap Karin yang memeluk erat Ardaya.
Merry melihat Ardaya cukup lama. Dia merasakan ada yang berbeda dari anak ini.
“Kita akan kemana?” tanya Arinda.
“Meong.” Suara Luna mengalihkan perhatian mereka semua. Kucing hitam itu melihat kearah satu pintu kayu. Warna yang kontras diantara tembok bercat hitam legam.
Merry, Karin, dan Arinda sama-sama menarik napas dalam-dalam. Mereka saling pandang dan saling memberi kekuatan dengan tatapan mata antara takut dan penuh berjuang.
Daun pintu kayu itu digenggam, kemudian “CKLEK”, satu pemandangan yang luas telah menanti mereka.
Yakni sebuah bangunan sekolah dimalam hari. Sebuah pemandangan yang pasti tidak ingin mereka kunjungi lagi.
“Apa kita harus kesini lagi?” tanya Karin.
Merry tampak ragu. Arinda menggelengkan kepala. Tapi keputusan mereka untuk kembali ke Lorong sekolah ada ditangan Mbah Uti.
Boneka Kanaya mendorong Karin, Arinda dan Ardaya untuk masuk kesana, sedangkan Merry ditarik paksa untuk keluar dari dimensi itu.
Kejadian itu berlangsung selama sepersekian detik. Bahkan Merry tidak menyadari jika ia terpisah dengan teman-temannya.
Ia kaget, tiba-tiba berada di kursi hitam yang di hadapannya adalah mbah Uti. Senyum misterius sang nenek seolah mengisyaratkan sebuah pertanda buruk.
“Merry, cucuku yang paling bodoh hehehe.”
.
.
.
Sementara itu, disebuah rumah sakit.
Kanaya melihat pria separuh baya mendapat perawatan medis. Rohi dengan setelan rapi menjelaskan kronologi kecelakaan yang dialami pria tersebut. Setelah mendapat ruang untuk dirawat Rohi mendekati kanaya.
Ia memberikan instruksi kepada Kanaya.
“Saya akan menyusul Merry. Perasaan saya tidak enak.”
“Aku mau ikut!” ucap Kanaya.
“Tidak, kamu disini, temani orang tua ini.”
“Tidak mau, saya harus ikut. Keluarga saya dalam keadaan berbahaya.”
Rohi menarik napas dalam-dalam. “Tidak boleh, terlalu berbahaya.”
“Tapi, tapi saya tau bagaimana masuk kedimensi lain rumah saya!” ucap Kanaya dengan suara melengking yang membuat perawat dan pasien lain melihat kearah mereka.
__ADS_1
Rohi terdiam sekian detik. Lalu dia memasang wajah nyengir kuda kepada semua orang di ruangan itu, “Kami lagi main sandiwara, buat acara sekolah, he he he!!!”
“Kanaya!” tiba-tiba Agus memasuki ruangan tersebut.
Rohi melihat kearah pria dewasa itu. Kanaya juga. Raut wajah Rohi beringsut heran, sedangkan Kanaya terlihat bahagia.
“PAPA!!!” Kanaya memeluk Agus. “Dari mana papa tau Kana disini?”
“Tante Merry mengatakannya kepada papa. Dia menyuruh papa menjemputmu.” Ucap Agus.
“Bagaimana keadaan kamu, kau baik-baik saja? Kenapa bisa kamu berada dirumah Merry?” tanya Agus khawatir.
“Kana tidak tau, Pa. lalu bagaimana dengan Arda?”
“Ada, dia ada dirumah. Kami berhasil menemukannya. Ayo kita pulang.” Ajak Agus yang menarik tangan Kanaya.
Kanaya menoleh kearah Rohi. Dia ingin berniat pamit kepada Rohi, namun tangan Agus lebih dulu menariknya untuk segera keluar dari ruangan itu.
Rohi dengan tenang mengikuti mereka dari belakang.
“Pa, kenapa terburu-buru?” tanya Kana, “Tangan kana sakit.” Ia meringis kesakitan. Pergelangan tangannya mulai memerah.
“Bukan seperti itu perlakukan seorang Ayah. Seingatku, seorang ayah yang rindu anaknya merangkul anaknya dengan penuh kehangatan bukan menyakitinya”.
Agus tidak me_gubris perkataan Rohi. Kana mulai melirik takut kearah Agus. Tatapan pria itu begitu tegang dan kaku. Seolah dia bukan manusia.
“Papa… apa benar kamu papa-ku?” tanya Kana dengan ragu dan takut.
Saat ini mereka telah berada diluar ruangan rumah sakit. Tepatnya di Lorong tersepi dirumah sakit ini. Didepan adalah ruangan mayat dan disisi lain adalah ruangan terbengkalai yang sedang menunggu dana perbaikan, alias kosong.
“Kalau saya bukan papa mu, memangnya kenapa?” seringai Agus berubah mengerikan. Senyum itu melelehkan separuh wajah agus yang memperlihatkan wujud aslinya. Genggaman tangannya semakin kencang.
“GYAAA!!” Kana teriak karena wajah menakutkan dan genggaman tangan yang semakin kuat.
Rohi melihat sekitarnya. “Cepat sekali?” gumam Rohi.
Dibelakang Rohi, sebuah bayangan hitam langsung datang dan menyerangnya. Tubuh itu langsung tersungkur.
Serangan makhluk mengerikan itu sangat kuat. Rohi mengakuinya dengan rasa sakit yang ia terima ada tendangan tidak terduga yang ia terima.
Tubuh berisisk hijau zamrud itu segera bangkit, “Tidak ada waktu untuk meringis, tampan.” Ucapnya kepada dirinya sendiri.
Rohi memahami level lawannya. Surai berkibar karena mengumpulkan energi dan wajahnya menunjukkan raut serius.
Sosok mengerikan didepannya tersenyum. Ia merasakan energi lawannya. Ia menjentikkan jari yang seketika mengantar mereka berada di rumah sakit namun dimensi berbeda.
Bangunan yang hanya terdiri dari warna gelap dan matahari yang tertutup oleh awan-awan tebal.
Di dimensi ini Ternyata Kanaya dikurung dalam sebuah sangkar burung berukuran besar. Kanaya melihat Rohi dengan tatapan takut sekaligus berharapa bisa terselamatkan.
Dia berharap sepenuhnya kepada Rohi.
Rohi tidak akan berlama-lama disini, dan sosok mengerikan itu harus dihentikan.
Dalam hitungan detik, pertarungan dua iblis ini pun terjadi. Gerakan mereka begitu cepat, hingga Kanaya yang melihat dari bali sangkar hanya terdiam.
Dia tidak tau siapa yang lebih kuat. Pergerakan mereka terlalu cepat, Sehingga dimata Kanaya pun, ia hanya melihat dua bayangan_ hijau dan hitam saling beradu.
BUG BUG BUG…
“Rohi… Rohi pasti bisa mengalahkannya. Pasti.” Gadis itu hanya bisa berharap.
Satu bayangan terlempar cukup jauh. Kabar baiknya itu adalah bayangan hitam. Kanaya menitik air mata penuh haru, dia senang melihat Rohi yang berdiri di hadapannya_ sosok iblis hitam itu yang terpelanting jauh.
Tapi sayangnya, tubuh bersisik zamrud terlihat penuh luka. Pertarungan tadi pasti sangat melelahkan bagi Rohi.
__ADS_1
Rohi mendekati Kanaya, Ia melepaskan kurungan tersebut. Tapi saat berkuku tajam itu hendak melepas kurungan tersebut, sebuah bayangan hitam datang dengan cepat.
“Rohi..!!” peringat Kanaya.
Tapi telat.
Rohi sekarang terdorong jauh hingga dua sosok iblis yang memiliki kekuatan seimbang ini terlempar kedimensi manusia. Dua tubuh besar dengan corak khas saling berbenturan disetiap sela dinding ruangan dirumah sakit. Menciptakan angin yang membuat tirai, kertas berkas dan selimut pasien terjatuh.
Kekuatan itu lepas kendali dan mereka sama-sama terpelanting disebuah ruangan mayat. Rohi memasuki tubuh mayat bertubuh gemuk. Sedangkan musuhnya merasuki mayat bertubuh lebih tinggi dan atletis.
“Sh?t! kenapa dia dapat yang lebih bagus?” keluh Rohi. Lebih parahnya, tidak ada mayat yang memiliki bentuk tubuh yang sama lagi.
Terpaksa mereka bertengkar dengan menggunakan jasad seadanya. Hasilnya terlihat jelas, tubuh mayat Rohi lebih berat dan sangat mudah dihadapi oleh musuhnya.
“Sialan!!!” Rohi tambun mencoba bangkit, tapi batang lehernya diinjak. Dia seperti tidak memiliki harga diri saat ini.
Kesempatan itu membuat sang lawan ingin segera menghabisi Rohi. Dia mengambil sebuah benda berat dan akan dihancurkan ke kepala Rohi.
Tapi kesempatan emas bagi Rohi; seorang petugas kesehatan masuk dan tentu saja, reaksi pertama yang dia lihat Ketika ada mayat hidup adalah… teriak dan pingsan.
“GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!”
Rohi tidak peduli dengan di petugas. Dia segera mengangkat kaki berotot itu dan kemudian menarik si iblis itu dari tubuh si mayat.
Ia ingat kalung dengan biji hitam pemberian
Merry.
“Ini untuk jaga-jaga. Pasti mbah Uti mengincar anak ini dan mengirim musuh lebih kuat.” Perintah Merri memberikan dua kalung.
“Kenapa kau memberiku dua? Padahal ada tiga kalung?” tanya Rohi.
“Satu kalung untuk melawan iblis, dan satu lagi untuk melindungiku. Setelah kiriman mbah Uti berhasil kau kalahkan, datanglah untuk menolongku. Kalau pun aku mati, setidaknya aku tau kau masih selamat.” Ucap Merry dengan tersenyum.
Rohi melilit tasbih biji hitam ke pergelangan kaki si iblis. Tubuh itu langsung terpisah dengan jasad tersebut. Rohi dengan tubuh tambun langsung melilit leher si iblis.
“GYAAAAA!!!” si Iblis berteriak kesakitan.
Meski kesakitan, energinya masih begitu kuat. Terlalu berbahaya jika dibiarkan berlama-lama di dimensi manusia.
Sekuat tenaga, Rohi membawa makhluk itu ke alamnya. Tapi iblis itu berusaha melawan. Rohi sekuat tenaga menguncinya dan melilitkan dengan sangat erat.
“GYAAAAA!!!”
“HYAAAAAAA!!!!”
Keduanya sama-sama mengeluarkan teriakan. Menentukan siapa yang paling kuat di antara mereka. Diantara dua energi yang sama kuatnya itu, Rohi berhasil membawa makhluk itu ke alamnya.
Ia juga meninggalkan jasad gembul itu_ dan telah kembali wujud aslinya.
Pertarungan itu semakin sengit. “GYAAAAAAAAAA!!!!” Rohi mengeluarkan semua tenaganya dan iblis itu lenyap.
“Hah… hah… hah…!!!” Rohi kelelahan.
Tapi ini belum berakhir. Dia melihat Kanaya yang tampak menghawatirkannya. Dengan nafas masih terengah-engah Rohi membuka kerangkeng yang mengurung Kanaya.
“Mari kita selamatkan keluargamu, Sebelum terlambat.” Ajak Rohi.
Kanaya mengangguk.
Pesta Jailangkung 2
Home Sweet Home
bersambung
__ADS_1