Pesta Jailangkung Season 2

Pesta Jailangkung Season 2
Pengkhianatan


__ADS_3

Arinda menggelengkan kepala. Dia menolak ajakan Kanaya, atau orang yang mengaku dirinya sebagai Kanaya. Dia juga menoleh kepada Agus dan Karin. Matanya juga menatap tajam kepada Susan.


Tayangan ditelevisi juga bersikap sama, diam dan memperhatikannya.


Saat merasakan ketidaknyamanan ini, Arinda tanpa sengaja memperhatikan bayangan hitam yang lewat di jendela. Buntut hitam panjang yang melintas di sana.


“Luna!” pikirnya. Bayangan kucing hitam itu membuatnya sedikit tenang. Mata Arinda diam-diam memperhatikan kucing hitam itu yang menatap tajam ke atas rumah.


“Apa Luna menemukan sesuatu? Bukan tikus, kan?” pikir Arinda.


Seolah dapat membaca pikiran Arinda, Luna si kucing hitam seketika menatap kearah Arinda. Dia duduk dengan tenang diluar jendela dan kedua mata hijau zambrudnya dipejamkan secara anggun. Kemudian kucing itu mengambil ancang-ancang dan melompat kebagian atas rumah ini.


Arinda memperhatikan semua pola tingkah Luna dari jendela. Tidak lama setelah itu, sepasang sepatu dan tas ransel jatuh dari sana. Kemudian kucing hitam itu juga melompat turun. Dia menduduki benda-benda yang ia jatuh dan berada diatas rumput taman.


Sepasang mata kucing itu kembali menatap Arinda. Kucing hitam bermata hijau itu juga mengambil sesuatu yang sedang ia gigit. Selembar rumput kering.


Kali ini Arinda paham dengan apa yang sedang disampaikan Luna.


Susan yang menatap Arinda dengan curiga juga menoleh ke arah jendela. Arinda menyadari hal itu, dia tidak ingin kucing hitam itu berada dalam bahaya.


“Kalian semua bukan manusia, ya?” tanya Arinda. “Kalian siapa?” tanya Arinda lagi.


Kanaya hanya menyunggingkan senyum penuh bahagia. Kai kecilnya satu persatu menuruni anak tangga. Dia mengerlingkan matanya dan menutup mulutnya yang ingin memuntahkan tawa karena penuh bahagia.


“Aku manusia kok!” jawab Kanaya. “Aku kan remaja 14 tahun. Anak SMP dari keluarga bahagia.” Jawabnya penuh ceria. Kecerian yang di buat-buat bagi Arinda.


Arinda kali ini memperhatikan Agus dan Karin dengan wajah prihatin, dia mencemaskan keadaan teman-temannya. Tapi dia harus was-was dan tidak boleh lengah dari ABG aneh dan perempuan mengerikan didepannya.


“Maaf kalo saya salah.” Jawab Arinda mencoba menegosiasi. “Ini pertemuan pertama kita, sebelumnya kita belum pernah bertemu. Oleh sebab itu saya salah mengira tentang kalian berdua.” Ucapnya.


“Tante Arinda, bukannya kita pernah bertemu?” tanya Kanaya. “Tante pernah kesinikan sebelumnya?” ucap Kanaya.


“Iya, pernah. Tapi saya tidak bertemu dengan anak perempuan. Saya hanya bertemu anak laki-laki, namanya Ardaya Putra Gusrendra.” Jelasnya.


Tiba-tiba Kanaya terdiam. “Dia saudara saya, tante.”


“Ya, saya tau.” Jawab Arinda. “Ardaya itu anak baik, dia sebenarnya cerdas. Meski agak berbeda karena syndrome-nya, tapi sebenarnya dia anak yang jenius. Saya senang dengan Ardaya, sekarang dimana Ardaya?” tanya Arinda.


Kanaya memukul meja dengan kesal. Dia menoleh ke arah Arinda. “Tante sendiri tau kalau Arda tidak ada di rumah ini. Dia dibunuh oleh Merry.”


“Oo jadi di bunuh sama Merry?” tanya Arinda.


“Sayang sekali, saya kira selama ini dia ada dirumah ini. Tapi kamu sembunyiin. Kamu juga sembunyiin Karin dan Agus kan, kenapa?”


Susan menoleh ke arah Kanaya. “Kamu sembunyikan pasangan suami istri itu juga? Bukannya dari awal perjanjian kita bukan seperti ini?” tanya Susan tersulut emosi.


PRANK!!!


Kanaya kembali memukul meja yang terbuat dar kaca tebal hingga berkeping-keping.


“Mereka semua dibunuh Merry!!!!”

__ADS_1


“Bukan kanaya! Oh ya, kau juga bukan Kanaya!!!”


“ARINDA BRENGSEK!!!” Kanaya melempar vas bunga kearah Arinda. Untung lemparan itu tidak tepat sasaran, sehingga vas bunga berbahan keramik itu mengenai tembok dan pecah di sana.


Arinda melindungi bagian kepalanya agar tidak mengenai pecahan kaca. Saat Arinda membuka dekapan tangannya dia mendapatkan Kanaya telah berdiri di depannya dengan membawa vas lainnya.


Tangan kecil itu mengayun dengan kencang dan memukul kepala Arinda dengan vasyang ia genggam.


“GYA!!” satu pukulan mengenai kepala Arinda.


“GYAA!!” Pukulan kedua masih dibagian belakang kepalang dan “GYAA!!” pukulan telak di belakang batang lehernya.


Arinda jatuh tersungkur dan “BUK BUK!!” ia menerima beberapa tendangan dibagian perut.


“KANAYA, HentikAAn!!!” teriak Susan.


“GYAAAAAAAA!!!! DIA MEMBUAT SAYA KESALLL!!!” teriak Kanaya.


“Jangan bunuh dia, darah sucinya… saya butuh!!!! Saya ingin cantik lagi!” teriak Susan.


“Bangs*t, minggir!!!” dorong Kanaya. Gadis itu pergi meninggalkan Arinda yang tidak berdaya. Disela sudut bibirnya terdapat noda darah.


“Uhuk…uhuk!!!” Arinda terbatuk. Dia merasa panas dalam perutnya, seolah ia merasa baru saja ditimpa benda berat.


Susan tidak tinggal diam. Dia menarik rambut Arinda dan mendongakkan kepala Arinda. Melihat wajah Susan yang hancur, membuat Arinda tertawa.


“Ternyata…” gelak Arinda mulai tidak waras. Dia menemukan beberapa jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kecil yang sempat bersarang dipikirannya.


“Kau tidak boleh mati dulu. Darah dan jantungmu sangat saya butuhkan dalam keadaan hidup dan utuh, Arinda!”


“Tertawalah sebelum semuanya berakhir.” Ucap Susan.


Dengan sisa tenaga yang ada, Arinda melingkari tangannya keleher Susan. Kulit lengket dan juga aroma tidak sedap itu tidak membuatnya jijik lagi. Arinda menemukan kepercayaan dirinya karena otak cerdasnya menemukan jawaban di balik susuk sempurna perempuan itu.


Dia kemudian menarik rambut Susan dengan sangat kencang. Semakin sakit Susan menarik rambutnya, dia juga membalas dengan lebih menyakitkan lagi. (Lah kok main jambak-jambakan)


“Susan, bukan?” tanya Arinda meyakinkan nama lawan bicaranya. “Seberapa kau yakin kalau saya dalam keadaan suci?” tantang Arinda.


“Kau kesepian selama ini Arinda. Kami mengetahuinya!!” Jelas Susan.


Arinda menyunggingkan senyum getir. Dia menggelengkan kepala sambil menujukkan eskpresi, betapa sotoynya orang yang ada didepannya.


“Sendirian?? Kesepian?? Kau salah!!”  Arinda semakin menarik rambut Susan.


“GYAAAAA!!!!” Susan teriak kesakitan, hingga ia melepas rambut Arinda.


Arinda mendorong Susan. “Kau tau, manusia paling menjijikan adalah manusia yang hidupnya terlalu sibuk mengurus hidup orang lain sedangkan dia tidak bercermin dengan rupanya. Seperti kau Susan.” Ucap Arinda.


“Andaikan kita bertemu sebelum kau mengambil jalan salah, mungkin saya akan memberimu banyak tips mudah untuk perawatan wajahmu, sehingga efeknya gak perlu separah ini. Kalau kau butuh gossip, saya punya banyak gossip. Ingin kenalan pembisnis, model, selebiriti, akan saya kenalkan.”


“Dan satu hal lagi Susan, dunia saya sangat gemerlap dan tidak sesepi dirimu. Dan kau pikir saya sesuci itu? Bukan? Saat ini saja saya bisa menumpahkan darah busuk dari kulit menjijikan ini, Susan!”

__ADS_1


Susan mendengar kata-kata Arinda. Dia tidak menyangka jika wajah selembut ini, yang setiap ia lihat di majalah, sosial media dan iklan ternyata memiliki mulut yang sangat tajam.


Arinda mengambil beling dan mendekatkan ke batang leher Susan. Dia mulai mengancam, “Sebelum kau kehabisan darah busukmu, sekarang coba kau jelaskan, dimana Karin, Agus dan Ardaya sekarang? Kenapa saya tidak bisa menemukannya? Kalian kemanakan mereka??”


“Gyahahaha!!!” kali ini giriliran Susan tertawa. “Sampai mati tidak akan saya beri tau, Arinda!” balas Susan.


“Wanita busuk seperti saya akan mengaku? Tidak semudah itu Arinda.” lanjutnya.


“Arinda, perempuan paling menyedihkan. Dari pada kau repot-repot membunuhku, kenapa kita tidak kerja sama saja. Posisi kita sama Arinda.”


“Apa maksudmu, set*n?”


“Kita sama-sama dipermainkan dan dikhianati teman sendiri.”


“Tidak ada seorang teman yang mengkhianatiku, tidak ada. Kau dan Kanaya abal-abal itu yang menghancurkan hidup teman-temanku.”


“Agus itu setia, tapi dia lemah. Karin itu bodoh dan Cuma taucinta, temanmu Bernama Fitri pengecut, tapi yang terparah satu orang ini, Tito…”


“Dari mana kau tau teman-temanku?”


“Biar saya lanjutkan dulu, Arinda.” Ucap Susan. Dia merasa sebentar lagi akan membalikkan keadaan. Arinda tidak akan berdaya dengan satu hal ini.


“Tito, cinta pertama yang kau sadari setelah lulus SMA, yang menjadi penyemangat, teman curhat dan kau yakini akan menjadi pendampingmu, ternyata meninggalkan mu. Benarkan?”


“Apa maksudmu?” Arinda menarik kerah baju Susan. Dia tidak suka Susan membahas tentan Tito ataupun Merry.


“Saya tau, dia meninggalkanmu dan menikah dengan Merry dan mereka sudah dikaruniai satu orang anak.”


Arinda semakin memperketat genggaman tangannya di batang leher Susan. “Tidak mungkin!” Susan merasakan energi amarah Arinda. Dia mulai terpancing emosi.


“Ya itu benar, Arinda. Saya melihatnya.” Jelas Susan.


“Itu benar tante.” Ucap Kanaya yang tiba-tiba berdiri dibelakang Arinda.


Arinda menoleh kepada remaja aneh itu. Seperti yang dilihatnya, Kanaya kini menunjukkan wajah imut ala remaja seumurannya. Tapi dimata Arinda pemandangan itu semakin membuatnya takut.


“Ibu guru Susan dan Merry itu sepupu. Mereka punya satu nenek, yaitu mbah Uti.” Jelas Kanaya.


“Siapa? Mbah Uti?” tanya Arinda bingung.


“Iya mbah Uti. Nenek yang memberikan boneka Jailangkung ini kepada temanmu, Mikha. Yang kemudian membuatmu dan teman-temanmu bermain bersama.” Jelas Kanaya memperlihatkan boneka Jailangkung.


Melihat boneka beruang biru lusuh yang diikat dengan dua ranting itu tentu membuat memori Arinda terlempar beberapa tahun yang lalu.


Tidak ada yang bisa melupakan kejadian paling aneh itu.


“Dari mana kau dapat boneka ini?” tanya Arinda.


“DARI SAYA, CU….!!!”


Pesta Jailangkung 2

__ADS_1


Home Sweet Home


Bersambung….   


__ADS_2