Pesta Jailangkung Season 2

Pesta Jailangkung Season 2
50 setelah kejadian itu


__ADS_3

Suatu pagi yang cerah di sebuah area perumahan. Keluarga bapak Agus tengah dikejutkan dengan penemuan aneh di rumahnya. Di ruang keluarga perumahan ini, mereka menemukan satu bangkai babi hutan.


Plafon rumah yang bolong, jendela yang pecah karena pohon tumbang dan foto keluarga yang berserakan.


“J jadi b babi m malang I ini d dari ma mana?” tanya Ardaya.


“Ufo, mungkin!” jawab Kanaya asal.


“Kita harus bagaimana nih, Pa?” tanya Karin sedih melihat rumahnya hancur.


“Entahlah… tapi semalam papa ga dengar apa-apa.”


Tok Tok Tok


Pintu rumah mereka digedor. Karin dan Agus segera membukanya, dan mereka melihat pak RT dan beberapa petugas dengan seragam lengkap.


“Pak RT, kenapa tumben pagi-pagi gini?” tanya Agus.


“Aduhh punten atuh mas Agus, jadi gi gini…” pak RT terlihat gak enakan.


“Maaf pak, kami ingin menyampaikan amanat dari pusat, kepada semua penghuni perumahan ini untuk segera pindah, karena Kawasan ini adalah area sengketa. Jadi dalam waktu 2 kali 24 jam harus segera pergi.”


“Kenapa bisa gini, ini kan area properti perusahaan saya kerja, pak.”


“Bagus kalau gitu, bapak bisa konfirmasi langsung kepada perusahaan bapak kerja untuk kejelasan lebih lanjut.”


.


.


.


Karin syok mendengar perintah tersebut. Tapi dia tidak ingin suaminya menjadi lebih panik. Lagian ini rumah hadiah dari perusahaan, jadi dia tidak akan rugi materi, hanya saja… sayang sekali.


Agus segera menelefon pihak yang bertanggung jawab mengenai masalah ini.


“Halo, jadi saya…” Agus menjelaskan perkaranya.


Karin mengajak anak-anaknya ke atas agar tidak ketriger dengan masalah yang dialami Agus.


“Ma, kita mau pindah?” tanya Kanaya.


“Mungkin. Tapi lagi usaha in biar ga pindah, jadi kalian jangan panik oke.”


“Pindah juga gak apa-apa.” jawab Kanaya.


“I iya, d disini s sepi, g ga ada t teman.” Lanjut Ardaya.


“Iya. Jarak disekolah juga jauh. Kalau rumahnya dekat sekolah kita bisa berangkat sendiri, jadi mama bisa santai, atau mama mau kerja lagi juga nggak masalah.” Lanjut Kanaya.


Karin hanya tersenyum. Penjelasan anak-anaknya membuatnya sedikit lega, meski hati kecilnya dia sendiri yang susah move on dari rumah ini.


Setelah agus menelefon, Karin tiba-tiba kepo.


“Jadi gimana?”


“Ini tanah sengketa. Jadi tanah ini sudah ada pemiliknya, dan mereka juga tidak menyelesaikan surat-suratnya. Jadi sudah dibawa persidangan dan hasilnya perusahaan kalah dan menanggung ganti rugi besar.”


“Bukannya yang beli waktu itu kakakmu?”


“Makanya, dia tiba-tiba hilang. Tidak ada kabarnya. Barangnya ada, koper ada, KTP dan lain-lain ada, tapi dianya aja yang hilang. Anehkan dia?!”


“Iya sih.” Ucap Karin. “Jangan-jangan dia kawin lari?”


“Masa? Dia sudah bersumpah gak akan menikah, katanya biar hidupnya aman damai Sentosa. Tapi ga tau nih. Jika dalam 24 jam dia ga ada kabar, aku bakal bikin laporan ke pihak polisi atas orang hilang.”


“Walaupun dari dulu hobinya juga suka hilang-hilangan kan?”


“Oo.. ya, sementara kita akan pindah ke kontrakan sederhana, boleh?” tanya Agus.


“Boleh, asal banyak anak-anak yang seumuran Arda sama Kana. Mereka request kek gitu tadi.” Jelas Karin.


“Wahahaha… iya ya, kasihan mereka, disini ga ada anak-anak seumurannya?”


“Iya, orang udah tua semua. Pensiunan semua. Aku aja ga ada teman gosip disini tau.” Keluh Karin.


“Hahaha, maaf sayang!”


.


.


.


Karin meletakkan foto keluarga Agus saat ia masih SMA yang terjatuh begitu. Disana terdapat kedua orang tua Agus yang telah meninggal, Agus saat lulus kuliah dan kakaknya…. Yang sepintas mirip Susan, atau aura yang sama dengan Susan.


“KARIIIN!!!!” suara Fitri terdengar dari ujung dapur.


“Semua alat dapur lu mau dibawa ga?” tanya Fitri. Ia dan suaminya tampak membantu Karin dalam beres-beres rumah.


“Iya!!” seru Karin.


“Sorry repotin kalian ya!”


“Udah sering di repotin.” Keluh Fitri.


“Tapi sekali lagi boleh gak repotin lu lagi.” Ucap Karin ke Fitri.


“Iya apa ibu?”


“Gue boleh kerja di kafe lo gak?”


“Kan biasa main di kafe gue?”


“Kali ini kerja benaran, digaji oncom!”


“Lah tumben?”


“Laki gue, kantornya lagi bangkrut, dia bakal dapat gapok doang. Ga ada uang bensin, uang transport sama bonus-bonus ga ada dulu, jadi gua mau cari tambahan.”

__ADS_1


“Bisa apa lo kalau kerja tempat gue?”


“Bisa beberes lah!”


“Baking, cooking bisa?”


“Bisa, ada utube buat Belajar!”


“Mau gaji berapa?”


“UMR JAKARTA!!!”


“Ga bisa oncom!”


“Kok ga bisa!”


“Ya udah 8 juta!”


“Lu tukang beberes bukan manajer!”


“Kan beberes spesialis!”


“Ga.. bodo amat.. lu kirim CV nya ke Instagram kafe gue!”


“Ihh!!!”


“Brisik amat ciwi-ciwi!” ucap suami Fitri yang tangannya mengenakan gips.


“Kenapa tangan lu?”


“Biasa anak laki, ikutan lomba ninja warior di kantornya, malah kecelakaan.”


“Yang penting menang akunya, yang!” seru suami Fitri.


“Alah!!!”


Suara rumah itu diisi gelak tawa dan kebahagiaan. Sementara itu di halaman rumah yang terdapat dua mobil pick up tengah sibuk membawa barang-barang rumah tangga. Diantara dua mobil itu terdapat dua remaja tanggung dan satu anak kecil yang bermain lepas tanpa ada beban dan rasa takut yang menyelimuti mereka.


Saat sedang bermain, seorang remaja usia 17 tahunan yang mengendarai motor sport melihat Kanaya. Dia mengkode dua temannya yang datang menyusul.


“Ini Cewek gue maksud, cantikkan.”


“Masih bocah, bro.”


“Iya SMP kelas 1 atau 2 gitu.”


“Mau pede kate sama bocah SMP lu?”


“Iya.. kalau masih SMP kan gampang di bego-begoin. Lagian cantik tuh anak, ya why not dong. Tapi besok deh gue samperin.”


Ardaya mendengar pembicaraan itu. padahal jarak mereka cukup jauh manusia normal tidak akan bisa menangkap pembicaraan itu.


Ketiga pemuda itu kemudian pergi menjauh. Saat itu Ardaya yang tidak senang ada berniat jahat kepada saudarinya langsung memberi instruksi.


“J jauhi d dia dari k kakak kku!” instruksi Ardaya yang didengar makhluk hitam yang bersembunyi di balik bayangannya.


Setelah mendapat instruksi itu, makhluk hitam itu bergerak dan tidak lama kemudian terdengar bunyi motor terjatuh. Satu diantaranya terpeleset yang membuat siempunya motor masuk got, satu motor menabrak pohon, satu lagi yang paling songong masuk ke minimarket dan menabrak mesin seduh kopi instan.


“Aku jadi ingin ketemu sama dedek Satria!” ucap kanaya.


“A aku j juga!”


“Aku juga mau…!!” seru bocah kecil berpipi gembil, siapa lagi kalau bukan anak Fitri.


Mereka bertiga segera masuk ke dalam rumah. Sebab Karim dan Fitri membantu bantuan mereka untuk mengangkat barang-barang penting.


Saat mencoba mengangkat kotak kardus yang tidak di lakban, tangan kecil mengangkat satu bonek beruang. Boneka beruang lusuh yang diikatkan oleh dua kayu.


"Kalo di cuci pasti lucu." ucap suara kecil yang kemudian menggendong boneka beruang itu dan membawanya bermain di halaman belakang rumah.


.


.


.


.


Sementara itu kantor Arinda. Perempuan muda yang energik itu tampak sibuk membereskan ruangan kantornya. Dia membuang semua konsep pakaian berbau gotik.


Ruangan itu ia ubah dengan ruangan ramah anak-anak. Dia sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut tamu spesialnya. Bukan hanya seorang tamu tapi tanggung jawab yang cukup besar.


Kejadian waktu itu masih terbayang nyata dalam benaknya. Namun ia bersyukur, karena semua kejadian tidak masuk akal itu mengusik kehidupannya. Justru membuat Arinda semakin kuat.


“Ibu, yakin membuang semua desain gotik ini? Bukankah desain ini banyak yang meminati?” tanya Susan, karyawan Arinda.


“Iya, Susan. Semuanya.”


“Apa ibu tidak takut kita kehilangan pasar?” tanya yang lain juga cemas.


“Kenapa harus takut? Saya desainer profesional bukan, dan saya punya penjahit bertangan dingin. Dan kalian orang-orang yang ulet dan tekun. Aku yakin pasti bisa melewati ini.” Ucap Arinda dengan penuh hangat dan semangat.


“Ibu Arinda….” salah satu Karyawan yang berumur, dan mungkin paling lama bekerja dengan Arinda tampak terharu. “Sudah lama saya tidak merasakan perasaan hangat dan tulus seperti ini darinya. Hiks..hiks…!”


“Ayo semuanya, bereskan!!” seru yang lain.


Arinda mengangguk mantap. Dia tampak senang dengan semangat para pekerjanya. Wajah cantik dan penuh optimis itu juga merapikan beberapa berkas berisi ide-ide desainnya. Pakaian sporti ibu dan anak, gaun cantik penuh kerlap kerlip seperti yang ia lihat pada warna kulit Rohi dan Merry saat terakhir kali.


Entah kenapa, dua hal itu yang paling melekat kuat dalam benak Merry.


“Meeoongg!!” Luna tiba-tiba datang menghampiri Arinda.


“Luna… kau ternyata selamat.”


Kucing itu langsung mendusel kepalanya dengan manja ke tangan Arinda. “Meeong..” eongnya manja.


“Satria dan ayahnya akan segera datang?” tanya Arinda.


Luna mengangguk.

__ADS_1


“Luna, kau mau membantuku mengurus bayi. Satria pasti akan rewel saat malam dan saya butuh bantuan dari orang yang saya percayai, kamu pun juga ga masalah.”


Luna memamerkan perutnya seolah dia senang dengan permintaan Arinda. “Meoong!!” ucapnya dengan suara lucu.


“Terima kasih Luna!”


.


.


.


.


Tito?


Ya dia dari awal tidak ada dalam kisah ini karena keberadaannya yang sebenarnya memang dirahasiakan oleh keluarga Merry. Tito kembali dari pelayaran cukup lama.


Ketenangan laut Ternyata membuatnya gusar selama ini. Dan kegundahan itu terjawab saat dia telah berada di rumah. Ia menggendong Satria dan mencium anak itu dengan rasa haru dan rindu.


Mbah Karto membiarkan momen hening itu dirayakan oleh kesedihan mendalam anaknya. Duka ini hanya Tito yang tau.


Setelah berhasil menguasai emosinya, Tito menemui ayah dan Ambu. Perempuan itu meraih Satria dan menggendong sang bayi dengan penuh kasih sayang.


Tito dan Mbah Karto hanya terdiam. Mereka larut dalam kesedihan dalam waktu cukup lama.


“Satria akan dititipkan kepada seseorang yang sudah diminta oleh Merry.” ucap Mbah Karto.


“Kenapa tidak ayah?”


“Kami sudah cukup tua. Dan ini Ternyata permintaan Merry.”


Tito tidak menjawap apa-apa. Tidak masalah berada ditangan perempuan itu. Hanya saja Tito masih belum siap menemui gadis itu.


“Ayah sudah menemui Arinda, menurut para leluhur dia pantas mendapat tugas itu. Saya juga tidak tau alasannya.”


Tito hanya terdiam. Dia hanya bimbang, bingung, galau, tidak siap dan merasa bersalah.


Diamnya Tito juga berlangsung saat ia menemui Arinda di kediamannya. Tito membawa Satria dan semua keperluan bayi itu.


Suasana mereka berdua canggung. Tiga tahun tidak bersua, tidak ada komunikasi dan masing-masing menyimpan perasaan yang sulit untuk diselami.


“Hmmm…” Tito mencoba membuka obrolan.


“Tidak masalah, gua senang membantu lu kok.” Jawab Arinda seolah tau apa yang akan dikatakan Tito.


Tito hanya tersenyum canggung. Arinda langsung mengendong Satria, dia tidak ingin Tito menyadari betapa kikuknya dia saat ini.


“Hmm… gendongnya hati-hati.” Ucap Tito.


“Ohh iya. Maaf.”


“Lu pernah mengurus bayi?”


“Hmm ini pertama kali.”


Tito kembali cemas. “Apa Satria saya bawa bertugas saja?” pikirnya.


“Tapi ada banyak orang yang akan membantu saya.” Ucap Arinda. saat itu seorang perempuan dengan pakaian perawat datang untuk membawa barang-barang Satria.


Tito sedikit lega dengan adanya tenaga tambahan.


“Saya akan rajin mengirim kabar dan juga biaya ini juga akan saya tanggung.” Ucap Tito lagi.


“Ga apa-apa kok. Ini udah tanggung jawab gue! Permintaan Merry.” ucap Arinda.


“O oke.. aku eh saya, eh gue akan rajin mengirim kabar dan mungkin video call untuk melihatnya.”


“Oo tentu…”


“Hiks..Hiks… Oweeee!!”


Tiba-tiba bayi mungil itu menangis. Arinda sedikit panik, dia tidak tau bagaimana menangani bayi yang menangis.


“Biar saya gendong.” Tito meraih bayi itu dan menggendongnya dalam dekapannya. “Tenang ya.. anak ayah tenang ya… ada ayah… ssh.. ssh…”


Arinda terpukau dengan jiwa kebapakan Tito. Sikapnya jauh lebih dewasa dari sejak terakhir mereka bertemu.


“Gue gak nyangka lu jadi bapak.” Ucap Arinda.


“Hmm apa?”


Sebelum Arinda memberi penjelasan, Ternyata seragam yang dikena Tito basah. Satria nangis karena dia kebelet pipis. “AStaga.. !!”


“Astaga… Satria kok kamu ngompol…?” Arinda ikutan kaget. “Kamu ngasih kenang-kenangan ke ayah Sebelum dia berangkat kerja…?” ucap Arinda dengan suara lucu.


“Sini biar mami gendong. Hmm… kamu nakal juga ya… sayang.. sayang.. ayo pake popok dlu kita…” ucap Arinda mengambil Satria. “Oh ya, kamar mandi gua masih ingat dimana kan? Ganti dulu seragamnya.” Ucap Arinda.


“Oo ya… oke!”


Tito segera mengambil seragam pengganti dan mengantinya di kamar mandi tamu. Namun ia sempat menoleh ke Arinda yang memanggil perawat bayi tadi. Dia menanyakan banyak hal dan perawat bayi menjelaskan cara-cara mengganti popok bayi dan Arinda mengikuti dengan semangat.


Tito menggoreskan senyum. “Merry apa kau ingin aku kembali bahagia dengan cara ini?” pikir Tito.


.


.


Tito bertugas dan melakukan pelayaran ke Samudra. Sementara Arinda kembali ke aktivitasnya sebagai desainer. Kehadiran Satria tidak membuatnya terganggu. Bahkan Satria menjadi salah satu sumber kebahagiaannya, dimatanya bayi itu juga tidak rewel.


sebab anak yang sempat disangka normal oleh Merry adalah bayi indigo yang diasuh oleh Luna, kucing hitam dari dunia arwah. Alasan ini juga yang membuat Arinda juga bisa tidur nyenyak tanpa di ganggu oleh tangisan bayi.


Sebelum Arinda terbangun, Luna dengan sigap mengganti peran ibu dan mengurus keperluan bayi itu saat terjaga di tengah malam. Bahkan ia juga melindungi dari arwah pengganggu, termasuk sosok Merry yang juga mencoba melihat anak itu dengan tatapan kosong.


Luna kucing yang sangat diandalkan.


Dia juga rajin masuk pagi dengan wajah cerah dan pulang sore hari untuk bermain degan Satria dan video call dengan Tito.


Pesta Jailangkung 2

__ADS_1


Home Sweet Home


The End


__ADS_2