Pesta Jailangkung Season 2

Pesta Jailangkung Season 2
23 Who Are You?


__ADS_3

Pagi, Kediaman Merri


Di kediaman Merry yang tua dan bersahaja. Ia sibuk membuat sarapan. Walau ceritanya adalah sarapan, tapi menu yang telah ia siapkan cukup banyak.


Walau memiliki tubuh yang kecil, urusan makanan Merri membutuhkan banyak karbo dan protein. Dia bisa menghabiskan dua porsi nasi padang dan 3 jus alpukat disaat bersamaan kalau dia mau. Hal itu sudah ia lakukan saat masih perawan.


Saat memiliki anak, tentu porsinya bisa dua kali lipat dari itu. Apalagi nafsu makannya juga turun kepada Satria yang sangat suka minum ASI.


Mbok Lastri juga membantu Merry. Berbagai sajian sudah tersedia diatas meja. Ikan kakap filled, cumi tumis dengan bumbu tinta hitam, kemudian sayur kol dan lalapan tertata disana.


Mungkin beberapa orang yang melihat ini akan terlihat bingung. Menu makan pagi yang sangat berat. Tapi tidak bagi Merri yang harus memiliki banyak energi.


“Ini saja?” tanya Merri.


“Menu utama akan segara siap.” Ucap Lastri dengan wajah datar.


Tidak lama setelah itu, satu ekor ayam taliwang utuh ukuran besar tertata diatas meja. Aroma Taliwang yang kaya akan bumbunya langsung mengugah selera.


Merri menundukkan kepala untuk mengucapkan rasa terimakasih atas jamuan yang akan ia santap kepada penciptanya. Setelah selesai berdoa, tiba-tiba pemandangannya langsung berubah. Didepan meja makan tepat ia duduk telah ada satu anak remaja yang melihat ayam taliwangnya.


“Loh?” tanya Merri yang kemudian menyenggol Rohi. Makhluk itu sejak tadi sibuk dengan smartphonenya.


“Tunggu, sabar, gua lagi baca pasar saham. Ini harga mau naik apa turun?”


Merry tidak peduli dengan ocehan Rohi. DIa memutarkan kepala Rohi dan menyuruhnya untuk melihat makhluk apa yang duduk didepannya.


“Bo bob oleh makan?” tanya anak itu dengan wajah polos.


“Kau sudah bangun?” tanya Rohi.


“Wa wanginya enak. Mirip masakan ma mama.” Ucap Arda.


Mbok Lastri juga memperhatikan Arda. Sementara itu, anak dengan wajah polos itu menunggu tanggapan dari Merri.


Merri tersadar kemudian mengangguk canggung. “Ya, makan, silahkan.” Jawab Merri.


Anak itu langsung berlari. Hal itu membuat Merri dan dua makhluk astral yang menyerupai manusia itu kebingungan.


“Bukannya dia mau makan?” tanya Rohi.


Merri hanya mengangkat bahu, heran. Tak lama setelah itu, anak laki-laki itu kembali. Ia menarik tangan sianak perempuan untuk bergabung dimeja makan.


Pemandangan seketika menjadi kontras. Seperti dua musim dengan rentan waktu yang jauh. Sianak laki-laki seperti musim panas yang terkesan ceria sedangkan sianak perempuan terlihat dingin bagaikan seperti berada di kutup es.


Selain itu, sianak laki-laki menunjukkan ekspresi wajah ceria seperti anak kecil pada umumnya. Sedangkan sianak perempuan seperti gadis yang siap terjun bebas dari atas jembatan layang penghubung dua pulau. Tragis.


“Nama kalian siapa?” tanya Merri kepada keduanya.


“A aku, Arda I in saudara kembar saya Ka kana.” jawab Arda responsive. Sedangkan gadis yang ia kenalkan sebagai kana itu hanya diam tanpa melakukan apa-apa.


Merri mengangguk pelan. “Kalian dari mana?”


Arda menunjukkan atap rumah. Merry paham maksudnya tapi bukan itu yang ia mau.


“Kalian punya keluarga?” tanya Merri.


“A ada.” Jawab Arda.


“Dimana?” tanya Merry.


Saat itu juga tatapan Kanaya yang awalnya kosong langsung melihat Merri. Tatapan matanya seketika menjadi tajam.


“Merri” lirih Kanaya.


Darah Merry langsung berdesir hebat. Dia kaget, anak ini tau Namanya. Saat itu juga Merri lansung siaga. Ia menggenggam garpu dengan kuat.


“Siapa kau?” tanya Merri tajam kepada Kanaya.


“Tak dir!” lirih Kanaya.

__ADS_1


Merri menyeringitkan dahinya. Kemudian saat itu juga Kana juga langsung jatuh tak sadarkan diri. Mereka yang dimeja makan kaget. Takut terjadi apa-apa dengan gadis itu.


Tapi Arda tetap melanjutkan makannya dengan lahap tanpa peduli kalau Kana sudah tersungkur di lantai dapur.


Melihat pemandangan aneh itu Merri langsung berfikir keras, Siapa kalian sebenarnya? Pikirnya.


.


.


.


.


Pagi, kediaman keluarga Agus dan Karin


Fitri sengaja datang kerumah Karin. Ia membawa beberapa menu sarapan untuk Karin. Saat itu dirumah itu hanya ada Karin dan putrinya, Kanaya.


Sementara Agus sudah berangkat bekerja. Dia berencana akan mengurus cuti dan berada di kantor setengah hari kerja saja. Oleh sebab itu ia meminta bantuan kepada Fitri untuk menemani Karin.


Disaat bersamaan, Fitri juga mendapat tugas dari Arinda agar ia bisa memperhatikan kesehatan Karin. Selain itu ia juga ditugaskan untuk mengawasi semua gerak-gerik Kanaya.


Pemandangan dirumah itu sedikit suram. Karin masih terlihat sedih. Hal itu terlihat dari wajahnya. Sedangkan Kanaya bertingkah tidak seperti anak-anak pada umumnya.


Dimata Fitri, Kanaya terlihat tidak seperti yang ia kenal sebelumnya. Fitri terus memperhatikan Kanaya.


Anak remaja itu berada dibelakang halaman rumah.  Ia tampak aktif. Jika biasanya Kana suka duduk sambil membaca buku dan menggunakan earphone, maka kali ini ia sibuk melakukan selfie di smartphonenya dan sesekali mencoba Gerakan dance.


“Gue tau loe mikirin apa?” ucap Karin dengan wajah sedihnya.


Raut wajah itu tampak menahan air mata. “Memang ini yang gue ingin, melihat Kanaya terlihat seperti anak-anak gadis lainnya. Ceria. Sedikit centil”


"Kayak loe dulu ya?" sambung Fitri mencoba mencairkan suasana.


"Hmm...!!" Karin tersenyum sesaat. “Iya, gua pengen dia kayak gua dulu! Baik Kanaya maupun Ardaya. Tapi mereka berbeda dari gua, mereka juga tidak sama dengan Agus. Tapi lihat anak gue kayak gini secara tiba-tiba dan satu anak gue entah kemana... gua...”


“Gue nggak apa-apa.” Ucap Karin.


“Mama.. Kana laper, mau makan?!” rengek Kana manja.


Fitri yang menjadi saksi tubuh kembang dari anak-anak Karin tiba-tiba bergidik. Sifat Kana membuatnya takut.


Tapi Karin bersikap biasa. Dia menyembunyikan kesedihannya dan kemudian menyambut Kana. “Kamu mau makan? Ayo kemeja makan.”


Mereka menuju meja makan. Fitri yang penasaran ditengah rasa takutnya juga mengikuti Karin dan Kana.


Makanan tersedia. Kana melahap makanannya dengan nikmat.


“Kanaya…” panggil Fitri.


“Iya tante.” Jawab Kana dengan senyum manis. Fitri mengakui wajah cantik Kana melebihi wajah cantik emaknya. Tapi kenapa Fitri masih ketakutan?


“Kamu gak ingat Arda dimana?” tanya Fitri.


Kana yang sedang mengunyah makanannya tiba-tiba terdiam. Matanya berkedip seolah mencoba mencari tau apa maksud dari pertanyaan Fitri.


Karin yang sedang menghangatkan sup yang juga masih dekat dengan meja makan juga terdiam. Dia diam-diam memperhatikan Fitri dan Kana.


“UHUK!!”


Tiba-tiba Kanaya tersedak. Batuk yang aneh dimata Fitri. Kesannya sangat dibuat-buat.


“UHUK UHUK UHUK.. Mamaaa… UHUK!!”


“Iya Kana?!” Karin mendekati Kana dan memberikannya segelas air.


Tapi bukan air yang diambil Kana, dia meraih tangan Karin dan memeluk Karin dengan sangat erat. Fitri menyaksikan pemandangan yang aneh itu. Bulu kuduknya kembali merasa dingin dan panas.


Perasaan yang sama juga dirasakan Karin. Dia memperhatikan gadis yang memeluknya dengan sangat erat. Gadis itu menangis ketakutan. Setelah itu ia melihat kearah Fitri dengan ekspresi ketakutan.

__ADS_1


“Kenapa dia, apa dia Kanaya?” pikir Fitri.


.


.


.


.


SEMENTARA ITU di Rumah Merri


“UHUK UHUK!!”


Dikediaman Merri yang jauh dari keramaian kota. Ia kembali di kagetkan dengan pemadangan aneh. Merri yang sengaja duduk menunggu gadis itu sadar.


Setelah kurang lebih 10 menit tidak sadarkan diri. Gadis itu terbangun dengan batuk yang menyerangnya.


“UHUK UHUK!”


Mbok Lastri memberikannya segelas air. Tapi gadis itu tidak langsung mengambil gelas yang diberikan Lastri. Dia hanya menatap Wanita paruh baya itu dengan tatapan selidik.


“Minum!” suruh Merri.


Gadis itu kemudian mematuhi Merri dan mengambil gelas yang disodorkan Lastri. Ia meminumnya dengan berlahan.


Merri kembali bertanya setelah ia menyelesaikan tugas minum itu. “Kana.” Panggil Merry.


Gadis dengan poker face itu menatap Merry. “Siapa itu Arda?” tanya Merry memulai penyelidikannya.


.


.


.


Sementara itu diruang berbeda, Rohi juga mengajak Arda untuk berbicara. “Siapa Kana?” tanya Rohi.


“Ka kana, saudara kembar aku.” Jawab Arda terbata.


“Siapa yang bilang kalau kalian kembar?” tanya Rohi.


Arda terdiam sejenak. Dia tampak berpikir. Mata Arda juga melihat foto-foto yang terpampang di ruangan tengah rumah itu. Kemudian mata Arda tertuju pada satu foto. Dia menunjuk arah foto itu.


“Nenek!” seru Arda terlihat Bahagia.


Rohi menatap kearah foto tersebut. Dia penasaran siapa yang dipanggil nenek.


"Nenek!!" seru Arda lagi.


Rohi menatap tidak percaya siapa yang dipanggil nenek oleh Arda.


"Kenapa kamu manggil dia nenek?"


"Di dia kan... nen..nenek Arrda!!" jawab Arda senang.


"Nenek Arda? Mbah Uti?" pikir Rohi. "Memangnya kalian pernah bertemu?"


Dengan sangat senang hati Arda mengangguk. "Iya, sering!" jawabnya sembari tersenyum lebar.


.


.


.


.


Pesta jailangkung season 2// Bersambung

__ADS_1


__ADS_2