Pesta Jailangkung Season 2

Pesta Jailangkung Season 2
Mencari Ardaya


__ADS_3

Terdapat beberapa adegan kekerasan


Dimohon kebijakan pembaca


Tidak cocok dibawah 13 tahun


Atau yang memiliki trauma terhadap darah dan


kekerasan.


Merry, waktunya tidak banyak. Abu khusus untuk iblis dan sejenisnya hanya bertahan sementara. Abu ini didapatkan khusus dari goa tempat Rohi selalu bertapa. Dia memberikan kepada Merry.


Kepada iblis tentu kekuatannya hanya sebatas abu yang akan mengelabui perlihatannya, ada efek panas dan perih. Sedangkan untuk manusia rasa sakitnya tentu lebih dari itu.


Rasa panas hingga melepuh, terlebih butir-butir pasir yang bulat sempurna mampu merusaka perlihatan manusa sehingga berefek buta.


Merry melihat reaksi yang dirasakan mbah Uti. Saat dilempar diwajah tepat diwajahnya, asap putih sekita datang seolah wajah itu panas terbakar. Sekitar mata dan pipinya memerah dan mengelupas.


Tapi berdiam diri dan melihat kehebatan abu itu akan hanya menghabiskan waktu Merry. Dia kemudian melihat keadaan sekitar dan mencari anak Bernama Ardaya.


Tangga menuju lantai atas menjadi pilihannya.


Merry segera menuju lantai atas sementara Mbah Uti dan Susan sibuk mengurus luka diwajahnya.


“Merry SIALAN!!! Kau tidak akan kubiarkan hidup!!!!” teriak Mbah Uti.


.


.


.


Merry tiba dilantai dua. Dia melihat tiga pintu kamar tidur, satu kamar mandi dan satu pintu ke balkon.


“Demi penguasa Bumi dan langit, hamba bermohon atas petunjuk pemilik penguasan tanah, tunjukkan kebenaran dan tepiskan kemungkaran.” Doanya.


Seketika ruangan menjadi gelap. Menyisakan cahaya disetiap pintu ruangan. Kemudian berlahan jejak langkah kaki bermunculan, ada banyak jejak yang membekas dimana satu persatu menghilang yang kemudian menyisakan satu jejak saja.


Jejak sepatu anak laki-laki berusia remaja yang melewati satu pintu bewarna biru.


“Inikah?” Merry mengikuti langkah itu dan membuka pintu bewarna biru.


Pintu terbuka dan dia melihat seorang anak laki-laki dengan kaki kirinya dililit rantai. Anak laki-laki itu terkejut melihat kehadiran Merry.


“Ma… ma ma!!” dia berbicara terbata-bata.


“Ardaya?” tanya Merry.


Remaja yang terlihat pucat dan kusut itu mengangguk. Tapi sudut matanya terlihat was-was.


Saat Merry akan melangkah masuk, Ardaya menggeleng seolah dia tidak ingin Merry masuk. Merry tidak membaca instruk bahaya dari remaja itu.


Ia segera masuk dan mendekati Arda. Ia mengecek rantai yang sangat kuat mengikat pergelangan kaki anak itu. Ia melihat kulit remaja berkebutuhan khusus itu memar dan berdarah.


“Ini rantai penghisap darah.” Gumam Merry. “Dia mencoba menikmati darahmu dengan cara berlahan-lahan.” Jelas Merry lagi.


Merry memperhatikan keadaan Ardaya dan melihat kondisi kulit dan sekitar matanya. Pucat. “Darahmu sudah cukup lama dia nikmati. Nenek itu benar-benar iblis.” Kesal Merry.

__ADS_1


“Ja Jangan… Jangan!!!” tolak Arda.


Merry bingung dengan sikap Arda. Kenapa bocah ini menolaknya.


“Kamu tidak dengar kalau dia menolak buat dibantu.” Jelas seseorang yang berdiri dibelakang Merry.


Merry menoleh dan ia melihat Kanaya. Tapi Kanaya yang ia lihat berbeda. Bukan hanya penampilan yang terlihat sangat ekspresif dengan pakaian sport serba merah jambu dengan rambut juga dikepang dua.


Perbedaan itu juga lihat dari cara menatap, garis senyum dan tentu aura dipancarkan. Kanaya yang ia lihat dipenuhi aura kegelapan. Merry tau Kanaya jenis apa ini.


“Berikan kunci jika kau tidak ingin saya robek.” Ancam Merry.


“Beraninya kau mengancamku?”


“Ukuran boneka sepertimu untuk apa takut?”


Kanaya terlihat kesal, dia tidak suka dibilang seperti itu. “KAU JAAHAAAAAAATTTTT!!!!!!!!!” teriaknya dengan suara melengking sehingga membuat seisi ruangan terguncang.


“MAMA!!!! PAPA!!!!” teriaknya lagi.


Waktu bersamaan, dua orang berukuran dewasa masuk. Dia terlihat seperti Agus dan terlihat seperti Karin. Wajah mereka datar tanpa ekspresi.


“Manekin.” Tebak Merry. “Dimana Agus dan Karin?” tanya Merry.


Kanaya tidak menjawab. Dengan wajah merengek dia meminta kepada dua manusia tanpa ekspresi itu untuk menyerang Merry.


“MA, PA!! DIA JAHAT!! AKU TIDAK SUKA TANTE INI!!”


“BA IK ANAK KU!” ucap Karin.


Agus juga langsung mengeluarkan sebuah palu yang ia sembunyikan dibelakang badannya.


“Kalian ingatkan, darah dari manusia seperti Merry akan membantu kalian hidup seperti saya.” Ucap Kanaya kepada dua makhluk itu.


Kanaya kemudian keluar meninggalkan ruangan itu. Pintu itu kemudian di tutup dan meninggalkan Merry bersama Ardaya dan dua boneka yang memiliki rupa seperti Agus dan Karin.


“Sembunyilah ditempat aman!” perintah Merry kepada Arda.


Arda mengikuti instruksi Merry dia segera turun dari tempat tidur dan kemudian berlarin kedalam kolong Kasur. Merry tidak yakin itu aman, tapi setidaknya anak itu tidak melihat adegan kekerasan yang akan terjadi.


.


.


.


Makhluk dengan rupa sama seperti Karin dan Agus namun tanpa ekspresi langsung menyerang Merry. Palu ukuran besar dan memiliki bobot berat yang bisa membuat otak menjadi geger itu terayun indah begitu saja.


Begitu juga dengan pisau dengan matanya yang mungkin bisa membuat kulitnya tecincang-cincang seperti bawang Bombay.


PRANG!!!


PRANG!!!


Beberapa benda mulai terjatuh ke lantai. Beberapa lainnya hancur akibat benturan palu. Untungnya Merry sejauh ini masih bisa menghindar. Agus dan Karin ternyata tidak memberinya jeda untuk melakukan serangan balik.


Merry mencoba mendeng mereka, tapi makhluk aneh itu kembali bangkit. Karena bukan dari manusia, mereka juga tidak menunjukkan ekspresi apapun.

__ADS_1


Alhasil Merry hanya menyerang dengan melempar benda yang temuka untuk menyerang mereka.


“Apa yang bisa mengalahkan kalian??” pikir Merry.


Belum sempat mendapatkan jawabannya, sebuah palu hamper mengenai kepalanya. Untung tangannya reflek menangkap tangkai benda yang juga terbuat dari besi itu.


Disaat bersamaan tangan Karin juga mengayunkan pisau sehingga mengenai lengan tangannya.


“Gya!!!” teriak Merry. Posisi tangan yang masih memegang palu dari tangan Agus, ia ayun kearah wajah Karin.


Wajah Karin penyok seketika, tapi sekali lagi tidak ada ekspresi apapun padahal pelipis matanya membiru dan memar.


Agus yang kehilangan palu dari tangannya, langsung meraih kepala Merry. Rambut hitam sebahu itu itu ditarik dengan keras dan kemudian ia benturkan ke cermin.


“GYAA!!!” teriak Merry merasa sakit perih diarea wajahnya.


Benturan itu tidak terjadi sekali tapi berkali-kali sehingga noda merah menempel dicermin. Merry merasa beberapa kali benturan lagi, kepalanya akan retak seperti cermin ini.


Tangan mungilnya mencoba meraih bilah kaca dan menggenggam kuat. Beberapa tetes darah menetes didalam genggamannya akibat menahan tekanan dari tangan Agus yang terus menerus membentur.


“Ghhhh!!!” Merry terus melawan Agus dan memgang bilah kaca itu untuk menjadi senjatanya. Dia menggores wajah Agus sehingga mengenai mata hingga ujung bibirnya.


Agus mundur beberapa langkah akibat kehilangan keseimbangan. Tubuh boneka Agus masih kaku. Merry menyadari itu, bahwa boneka-boneka ini belum sempurna.


Namun perhatiannya tertuju boneka yang menyerupai Karin yang terus menatap darah yang menetes dari tangan Merry.


“Kalian mengincar ini?” tanya Merry. “Coba saja kalau kalian mau!” ucapnya.


Ia melihat palu ukuran besar yang tidak jauh dari posisi Karin berdiri. Dia harus berhasil mengambil palu itu untuk menjadi senjatanya.


“Ini!!” Merri memperlihatkan darahnya yang terluka kepada Agus dan Karin. Dua makhluk itu terus menatap dan mengikuti kemana setiap tangan itu digerakkan.


“Kalian lapar? Kalian butuh darahku?” tanya Merry.


Kedua makluk itu membentuk ancang-ancang seolah-olah ingin melompat kearah Merry. “Ini ciri khas boneka mbah Uti, mereka memiliki sifat seperti kutu, melompat mengikuti arah target dan kemudian siap untuk menjilati darah itu.”


Sesuai dugannya, dua makhluk itu melompat dan kesempatan itu membuat Merry harus segera baralih keposisi berlawanan agar tidak menjadi sasaran makanan mereka.


Merry segera mengambil palu, memegangnya dengan kuat dan mengayunkan jika salah satu dari mereka berhasil mendekatinya.


Sesuai perkiraannya, boneka mirip Karin mendekat dan Merry mengayun dengan keras tepat mengenai tulang pipinya. Karin tersungkur dilantai.


Namun hal itu tidak membuatnya jera. Mahluk itu masih bisa bangun. Marry perlua melakukan beberapa kali pukulan lagi. Tapi dia lengah dengan makhluk yang mirip dengan Agus.


Saat ini sosok itu menempel dipundaknnya yang membuatnya terjatuh kelantai. “KYA!!!” teriak Merry.


Posisi Merry sama sekali tidak menguntungkan. Riwatanyanya bisa tamat. Darahnya bisa habis dimakan dua jenglot maha karya Mbah Uti.


.


.


.


Pesta Jailangkung season 2


Home sweet home

__ADS_1


To be continue…


__ADS_2