Pesta Jailangkung Season 2

Pesta Jailangkung Season 2
Kau Tumbal


__ADS_3

Tidak ada yang bisa melupakan kejadian menyeramkan itu. Kejadian yang juga mengancam nyawa.


Tentu Arinda ingat. Kejadian itu pula yang membuatnya harus terbiasa dengan mata batin yang tidak bisa tertutup lagi.


“Dari mana kau dapat boneka ini?” tanya Arinda.


Kanaya tersenyum. Dia membiarkan Arinda dikerubungi pertanyaan-pertanyaan.


Sesaat kemudian, Arinda merasakan atmosfer yang dingin dan juga gelap. Dia merasa ujung kaki dan lehernya menjadi dingin. Suasana rumah juga menjadi semakin gelap, dan senyum Kanaya mengembang lebar yang menambah suasana menjadi lebihmencekam.


Di belakang tubuh gadis remaja itu, juga terlihat sebuah bayangan hitam yang semakin lama semakin mendekat. Diatas kepala bayangam juga terlihat sebuah benda yang terlihat mencolok, sepintas terlihat seperti mahkota, namun semakin mendekat, semakin terlihat jelas jika bend aitu adalah gulungan rambut yang ditata rapi seperti sanggul.


Arinda merasakan kehadaran satu makhluk itu. Dia mendengar langkah kaki dan juga suara tawa khas orang tua.


“He he he he…!!”


Arinda menoleh dan membuka lebar bola matanya. Dia melihat perempuan paruh baya dengan make up mencolok.


“DARI SAYA, CU….!!!”Ucapnya yang ternyata menjawab pertanyaan Arinda.


“Si- siapa?” tanya Arinda tergagap.Boneka Jailangkung ini dari wanita tua ini? Begitulah yang ada di dalam benak Arinda.


“kau teman gadis ini bukan?” tanyanya sambil mengangkat sebuah tubuh tidak bernyawa.


Mayat itu ia seret seperti menyeret sebuah manekin. Sangat ringan dan ia memiliki wajah pucat membiru. Dimata Arinda, penampakan manekin itu terlihat sangat familiar.


Dia terlihat seperti temannya yang meninggal secara misterius di waktu SMA dulu. Gadis itu adalah Mikha.


“GHYAAAAA!!!!” teriak Arinda. Dia merasa ketakutan melihat tubuh temannya diseret seperti itu.


Dan satu hal lagi, nenek-nenek macam apa yang bermain-main dengan mayat?


Langkah kaki Arinda mundur secara tiba-tiba. Dorongan rasa takut itu pergelangan kakinya melemah dan tergelincir.


Dan momen itulah yang benar-benar diharapkan oleh Kanaya palsu dan Susan. Jebakan yang tidak akan membuat Arinda kembali ataupun diketahui oleh orang lain.


Tubuh gadis itu terjatuh dan sebuah lubang kegelapan yang ada sejak kapan menangkapnya dan menenggelamkannya.


Arinda merasa tubuhnya seperti ada yang menarik. Saat ia melihat sekitarnya, ternyata puluhan pasang tangan yang pucat dan kotor menarik badannya untuk jatuh kedalam demensi penuh kegelapan.


Saat berusaha melepaskan jerat tangan itu, ia melihat satu tubuh terlempar tepat didepannya. Tubuh yang awalnya seperti kain kotor ukuran besar itu mendarat ditubuhnya.


Dua tangannya mencengkeram bahu dan sebuah kepala muncul dari sana. Wajah pucat Mikha muncul dan mata yang awalnya terpejam itu membuka dan memperlihatkan pemandangan wajah tampa bola mata.


“Arinda… Ikuti takdirmu!” ucapnya yang ternyata mendorong tubuh Arinda semakin terbenam dalam lautan tangan pucat.


“GYAAAAAA!!!!!!!!” teriak Arinda lenyap tenggelam dalam kubangan tangan.


Kanaya dan Mbah Uti hanya melihat kejadian itu dengan tatapan kosong. Saat gerbang itu tertutup suasana hening seketika.


Susanmenatap mbah Uti dengan raut wajah heran. “Mbah Uti… ga gadis itu, kok di kurung?”


Mbah Uti dan Kanaya melihat kearah Susan dengan tatapan bingung.


“Kenapa kalian membuang Arinda juga? Saya butuh kulit wajahnya untuk saya. Jika saya memiliki wajah Arinda, saya bisa jadi dia dan saya bisa terkenal!!!” protes Susan.


“Bukannya menjadi Susan saja sudah cukup?” tanya Kanaya.


“Wajah itu tidak menarik didepan pria seperti Agus!” rengek Susan.


“He he he he!!!” Mbah Uti tertawa terkekeh. Hal itu membuat Susan dan Kanaya terdiam.


“Agus tidak suka dengan perempuan mana pun, dia tertarik dengan uang dan perempuan kaya.” Jelas Mbah Uti. “Sabar ya Cu.”


Susan hanya bisa menunjukkan wajah kesal.

__ADS_1


“Lagian kalau Arinda tidak disingkirkan, dia hanya menjadi penghalang kita buat menaklukkan Merry.” Jelas Kanaya.


“Hehehe…” Mbah Uti tertawa senang. “Aku hanya ingin reuni keluarga dan bertemu dengan cucuku, Merry.” Jelas Mbah Uti.


“Sudah lama kita tidak bertemu. Semenjak aku habisi ibunya, aku merasakan keyakinannya untuk membunuhku semakin kuat.”


“Apa nenek tidak takut?” tanya Kanaya.


“Tentu tidak, tragedi ini sudah menjadi takdir kami berdua. Ada saatnya saya yang sudah tua akan mewarisi semua kekuatan ini kepada yang berhak. Tapi jika yang berhak menolak maka sebagai yang paling tua


saya akan membunuhnya agar bisa menambahkan kontrak dengan iblis untuk 100 tahun yang akan datang.”


“Aku mau! Kenapa tidak kepada aku saja!” teriak Susan.


“Kau belum cukup, Susan.” Ucap mbah Uti.


“Menjaga penampilan saja gagal, apalagi urusan yang satu ini.” Ledek Kanaya.


“Hei jenglot! Bisa diam gak?”


“Apa kau bilang?!”


“Hehehe… sudah jangan bertengkar, kalian tidak malu bertengkar didepan anak kecil?” ingat mbah Uti.


Jari telunjuk berhias batu akik berwana merah itu menunjukkan kesatu arah, yaitu kamar mandi. Disana Ardaya dengan kaki dan leher di rantai meringkuk ketakutan.


Dia ketakutan setiap melihat Mbah Uti. “Umpan menarik untuk Merry dan tumbal yang sedang ia bawa untukku. Hehehe!!!!”


GUBRAK


Seketika Kanaya ambruk dan menahan badannya di lantai. Dengung suara mengganggu pendengarannya. “Mbah Uti…! Aku merasa kesakitan lagi!!!” rengeknya.


Melihat reaksi salah satu bonekanya membuat Mbah Uti tersenyum lagi. Dia melihat kearah jendela. Awan gelap menghiasi langit siang itu dan itu membuatnya terlihat senang.


.


.


.


.


Kanaya memegang kepalanya yang ia rasa semakin nyeri. Sepasang indra pendengarnya juga merasa mendengung cukup keras. Gadis itu hanya meringsuk menahan sakit.


Merry memperhatikan gelagat kanaya. Apalagi wajah gadis itu juga terlihat pucat.


“Apa kau tidak apa-apa, Kanaya?” tanya Merry.


“Aku pusing.”


Merry memegang tubuh Kanaya. Badannya terasa dingin namun tubuhnya dibasahi keringat.


“Kita harus membawamu ke rumah sakit terlebih dahulu.”


“Jangan, aku tidak apa-apa. aku hanya ingin bertemu mama dan papa ku.” Ucap Kanaya.


“Aku juga ingin bertemu Ardaya. Aku rasa dia saat ini sedang ketakutan. Dia kedinginan dan ketakutan.” Ucap Kanaya dengan suara lirihnya. Bulir air mata yang hangat membasahi pipinya.


“Merry, kita akan segera sampai.” Ingat Rohi. “Aku ingatkan, kau harus hati-hati.” Lanjut Rohi yang menatap lurus di depan jalan.


Taxi yang mereka kendarai sudah memasuki area perumahan yang tampak sepi dan suram. Dari banyak rumah yang dibangun, mereka melihat satu rumah yang dikelilingi awan gelap.


Merry tersenyum getir. “Apa-apaan ini Rohi?” tanya Merry.


“Nenek mu sudah mempersiapkannya cukup lama. Dia melakukannya untuk hari ini.” Jelas Rohi.

__ADS_1


Rohi melirik kearah Kanaya melalui kaca dasbor, dia mencurigai beberapa hal. Maklum, Rohi adalah sebangsa jin yang telah lama mengabdikan dirinya dengan ayah Merry. Sedikit banyak, dia tau tabiat keluarga Merry, terutama Mbah Uti.


“Nak.” Sapa Rohi kepada Kanaya, “Boleh saya tau siapa nama ibu dan bapak mu?”


Baik Merry maupun Kanaya baru sadar, sejak awal mereka belum saling mengenal cukup jauh.


“Agus dan Karin.”


Merry merasa dua nama itu tidak asing. Tapi dia tidak mau menduga-duga.


Rohi melirik kearah Merry, “Mereka anak-anak yang terlibat dalam permainan Jailangkung yang diciptakan Mbah Uti.”


“Maksudmu SMA yang … Ooo…” Merry mengangguk paham. Dia melirik tajam ke arah Kanaya. “Siapa diantara mereka yang melakukan perjanjian dengan perempuan tua, ayahmu atau ibumu?” tanya Merry.


Kanaya menggeleng. Dia tidak paham apa yang dimaksud Merry.


Merry menyadari pertanyaan itu juga tidak akan membuatnya menemukan jawaban.


“Rohi antar aku kerumah anak ini, dan setelah itu bawa dia kerumah sakit atau tempat paling jauh dari sini.” Perintah Merry.


“Ke kenapa? Aku ingin pulang?” rengek Kanaya. “Aku ingin bertemu adikku juga.”


“Kau tau? Kembali kerumah itu sama halnya kau memberikan nyawa mu sendiri. Dia sengaja mengirimmu kepadaku agar kami bisa bertemu, dan membunuh kita berdua.”


“Ta tapi!!”


“Kau tumbal dari orang tuamu dan aku... tidak akan membiarkan hal itu terjadi.”


Kanaya tidak bisa berkata apa-apa.


“Bibi Merry, kamu mengenal orang tuaku?”


Merry tidak menjawab. Pertemuan saat itu begitu singkat ditambah ada sebuah masalah yang berbahaya yang membuat Merry tidak bisa berlama-lama disana.


Karin? Salah satu pemicu masalahnya. Seingat Merry, ide bermain jailangkung di dalam kelas tercetus dari perempuan itu. Sedangkan Agus, dia orang yang selamat dari target pembunuhan penjaga sekolah.


Entah apa hubungannya si penjaga sekolah dengan Agus. Semua itu masih misterius. Merry pun menyadari saat dia sudah meninggalkan kota itu bersama ibunya. Pindah ke kota baru dengan kisah mengerikan yang ternyata masih mengikutinya.


.


.


.


.


Sementara di dalam kediaman tersebut, Mbah Uti, Kanaya lain dan Susan merasakan jika mereka tamu yang mereka tunggu-tunggu telah datang.


Mbah Uti menorehkan senyum bahagia. Begitu juga dengan Kanaya dan Susan. Sementara itu Ardaya hanya bisa menangis agar bisa dilepaskan dari ikatan yang menjerat leher dan kakinya.


“Ma ma… mama… ka kana ya… dimana kalian!!” rengeknya.


.


.


.


.


Pesta Jailangkung season 2


Home sweet home


To be continue…

__ADS_1


__ADS_2