Pesta Jailangkung Season 2

Pesta Jailangkung Season 2
32. Takdir Merri dan Ulah Agus


__ADS_3

Merri terbaring diatas tanah sirah. Badannya saat ini terlihat sangat kotor kerena timbunan tanah.


Tapi masalahnya belum usai, saat ini sosok berjubah masih terus memperhatikannya.


“Apa maumu?” tantang Merri. “Aku tidak peduli dengan kalian.”


Sosok berjubah itu mendekatinya dan kemudian menunduk kepadanya.


Pemandangan yang aneh, begitulah gumam Merri.


“Terimalah takdirmu, Merri.” Ucap sosok berjubah hitam itu.


Merri berusaha bangkit. Matanya tertuju dengan sebuah benda yang dikeluarkan dari balik jubah tersebut.


Sebuah boneka jailangkung.


“Terimalah takdirmu, Merri.” Ucapnya sekali lagi.


“Ini bukan takdir saya.” Merri.


“Kau ingin menyelamatkan anak itu?” tanyanya tiba-tiba.


Merri tidak menanggapi. Dia tidak ingin masuk jebakan untuk kesekian kalinya.


“Ini kunci menuju kesana. Dia ada disana Bersama Nenekmu. Cepat atau lambat dia akan menjadi persembahan keluarga itu.”


“Persembahan keluarga?” tanya Merri.


“Temanmu, dia sempat membuat perjanjian dengan nenekmu.”


“Temanku, siapa?”


“Anak yang sempat kau selamatkan tempo dulu.”


Merri terdiam sejenak. Ada banyak anak yang telah ia selamatkan bersama ibunya. Tapi jelas pengalaman mengerikan itu terus bersarang dibenaknya.


“Agus.” Gumam Merri.


“Iya. Tepatnya 15 tahun yang lalu anak itu melakukan sebuah kesepakatan dengan mbah Uti. Dia ingin hidup bahagia dan mendapatkan apa yang ia inginkan. Tentu semua itu tidak gratis. Walau hanya sebuah permohonan kecil, mbah mu ingin bayaran yang mahal dan pastinya dengan bunga.”


“Lantas?”


“Ya, salah satu yang dianggap paling kuat akan menjadi asetnya.”


“Anak itu adalah?”


“Anak laki-laki dengan darah murni dan jiwa masih bersih. Dan dia mempunyai kemampuan setara denganmu.”


“Apa yang terjadi dengan anak itu?”


“Dia akan menjadi tumbal terakhir, dan mbah Uti akan menjadi abadi.” Lanjutnya. “Untuk menyelamatkan anak itu, kau harus temui takdirmu.”


“Apa takdirku?”


“Selamatkan anak itu dan gantikan posisinya.”


Merri terdiam sejenak. Dia dapat mencerna dengan baik arah pembicaraan ini. Jadi selama ini takdirnya adalah mengobarkan dirinya agar kesaktian neneknya semakin abadi.


"Jiwaku sudah tidak murni lagi, aku sudah menikah dan mempunyai anak. Dan setiap tetes darahku penuh dengan dendam. Kau tau itu?" ancam Merry.


"Kau keturunannya." jelas sosok berjubah. "Dalam garis keturunan keluarga Uti Atmojo, hanya boleh ada satu orang yang memiliki kekuatan murni. Jika di temui lebih dari satu, maka ia harus dikorbankan agar kekuatan leluhur ini masih terjaga."


"Omong kosong!" bentak Merry.


"Kalau kau tidak mau dikorbankan, kau harus rebut kekuatan itu dengan cara mengorbankan darah nenek mu."


Merry terdiam. Dua pilihan yang sama-sama tidak menguntungkannya.

__ADS_1


"Pilihan itu ada ditanganmu Merry. Tapi saya yakin, kau tidak akan mampu melawan Mbah Uti, karena kau tidak ada apa-apanya."


Dengan kata lain sosok berjubah itu ingin ia menyerahkan diri kepada mbah Uti dengan begitu anak itu selamat.


Saat ia mencoba kembali bertanya beberapa hal, seketika sosok itu menghilang. Anehnya, boneka Jailangkung secara mengejutkan juga telah ia genggam.


Saat ia menoleh kedepan sekali lagi, sosok si buruk rupa juga berdiri tepat didepan wajahnya.


“Sudah tau takdirmu?”


.


.


.


SRAAAAKKKKK


Dengan reflek Merri mencabikkan wajah siburuk rupa dengan ujung boneka jailangkung.


Sosok itu kemudian lenyap begitu saja. Ia memperhatikan sekitarnya. Saat ini ia berada dipinggir jalan dimana sebuah mobil yang rusak terus mengebulkan asap putih.


Ada seorang supir yang jatuh tersungkur dan belum sadarkan diri. Kemudian Susan yang ternyata menyeret paksa Kanaya.


“Lepaskan!” berontak Kanaya. “Bibi Merri… Tolong!!!!”


Merri tanpa pikir panjang segera mengejar Susan. Ia meraih tangan Susan dan melepaskan Kanaya dari genggaman Wanita itu.


Susan kaget melihat Merri selamat dari halusinasi yang diberikan setan si Buruk rupa. Hal mengejut lainnya adalah cengkaraman kuat Merri yang berada dibatang lehernya.


“Mer  ri!!”


“Demi penguasa langit dan bumi dan pemegang kunci dua alam.” Ucap Merri dengan elegan didepan wajah susan, “Bebaskan kami dari sihir dan mantra belenggu iblis.” Lanjutnya.


Ia mengalungkan Susan dengan sebuah kalung pemberian ibunya. “Jangan pernah permainkan aku dan ibuku, sepupu jauh!”


“Merri!!! Jangan!!!!” teriaknya. Wajah itu seketika meleleh seperti sebuah plastic yang dibakar api.


Kanaya memperhatikan fenomena yang sangat aneh. “Apa dia akan mati?” tanya Kanaya cemas.


“Tidak, dia tidak akan mati. Kalung itu hanya menghancurkan susuk yang dia pakai.” Jelas Merri.


“Susuk sejenis apa?”


“Susuk paling menjijikkan.”


“GYAAAA!!!!” Susan yang kesakitan menggeliat diatas tanah.


Tubuhnya mengurus dan kemudian menumbuhkan sebuah benjolan aneh dipunggungnya. Seketika tubuh kuyu itu mengeluarkan muntah bewarna merah dan juga hijau.


“Apa dia seburuk itu?” tanya Kanaya.


“Tidak. Waktu kecil dia anak yang manis. Tapi saat usia remaja anak manis itu seketika menjadi serakah tapi juga ceroboh. Dia belajar sesuatu hal yang rumit tanpa dipandu guru yang tepat, alhasil tubuhnya menjadi kacau.”


Kanaya terus menyimak sambil melihat transformasi mengerikan yang terjadi didepan matanya.


“Bodohnya, demi memperbaiki kesalahannya, dia mengambil Langkah yang salah. Dia meminta kepada iblis gila dan mencari mayat bayi perempuan yang meninggal untuk diambil darahnya.”


“Apa ada bayi yang meninggal saat itu?”


“Cara satu-satunya dengan membunuh mereka barulah dia bisa mendapatkan apa yang dia mau.”


“Sadis!” gumam Kanaya. “Aku tidak percaya hal gila seperti itu masih terjadi.”


“Tutup matamu Kanaya, jangan sampai pemandangan ini terus tertanam di otakmu.” Nasehat Merri.


Kanaya langsung memejam matanya. Tapi teriakan dan rintihan Susan mengganggunya. Suara kesakitan dan umpatan kasar membuatnya terganggu.

__ADS_1


Merri membantu Kanaya untuk menutup kupingnya. Saat tangan Merri menyentuh setiap sisi wajah Kanaya, saat itu Kanaya merasakan aura kesejukan, kesedihan dan kesepian.


Saat bersamaan dia juga melihat air mata, aliran sungai bewarna merah dan sepasang tanduk bewarna emas yang berkemilauan diatas sebuah kepala dengan wajah masih samar. Terakhir adalah pemandangan Pundak seorang pemuda yang terlihat gagah dengan pakaian jaket kulit yang terlihat aneh.


Pemuda yang menggunakan hoodi yang menutup sekuruh wajahnya yang menggendong seorang bayi yang berdiri didepan sebuah rumah yang penuh dengan cat hitam. Suasana malam dan lentera terang yang datang dari sosok perempuan yang melayang diatas langit. Semua terbayang bak sebuah lukisan digaleri digital, tapi tidak jelas namun sangat indah.


“Sudah selesai.” Ucap Merri melepaskan tangannya dari Kanaya.


Kanaya terlihat canggung. Terlebih lagi dengan gambaran aneh dan ganjil yang melintas dibenaknya. “Suasana apa tadi?” pikir Kanaya.


Sementara itu, Susan sudah kembali kebentuk aslinya. Kisut dan terlihat sangat tua. Badannya mengurus seperti kulit membalut tulang. Matanya bengkak sebelah dan rambutnya juga botak separoh.


Tungkai panjang dan kurus itu juga tidak sanggup berjalan.


“Susan mari kuantar pulang, kau tidak boleh menyiksa dirimu seperti ini.” Ajak Merri.


“Tidak-tidak mau!!! Aku tidak akan pulang!!!” teriak Susan yang kemudian menyeret badannya menuju hutan.


Meski terlihat kurus dan tidak berdaya, kekuatannya masih cukup kuat. Susan dengan lincah meninggalkan Merri dan Kanaya.


“Dia pergi…”ucap Merri. “Ayo kita pergi juga.” Ajaknya kemudian kepada Kanaya.


Kanaya yang masih linglung mengangguk pelan dan mengikuti Langkah Merri. Setelah maju dalam beberapa langkah Merri kembali menoleh dan memperhatikan kepergian Susan.


Ilmunya belum sempurna dan Susan adalah musuh yang bukan tandingannya. Tapi bukan berarti perempuan licik itu akan menyerah begitu saja. Dia pasti sibuk melakukan berbagai macam hal agar tubuhnya kembali seperti semula.


.


.


.


Kediaman Agus dan Karin yang Mencekam


Arinda ingin sekali meninggalkan rumah Agus. Dia melihat jam di dinding rumah telah menunjukkan pukul 4 sore.


Dia telah berada disana cukup lama dengan pemandangan cukup aneh.


Saat ini anggota keluarga ini tengah duduk bersama diruang tengah. Mereka duduk dengan rapi dan menonton sebuah acara televisi.


Acara itu menayangkan sebuah program yang sangat aneh. Sebuah kegiatan sirkus yang sama sekali tidak melakukan apa-apa.


Para pemain sirkus berdiri diatas panggung. Ada yang gendut, ada yang kurus, pendek, gondrong, bahkan ada yang memiliki fisik aneh lainnya.


Merela seolah saling pandang. Pemandangan itu cukup membuat Arinda merinding.


Salah satu karakter di dalam televisi memperhatikan dirinya. Semua karakter mengikuti arah yang sama, yakni diarah Arinda berdiri.


Kemudian Karin, Kanaya dan Agus juga melakukan hal yang sama. Mereka menoleh kearah Arinda.


Kanaya membuka suara, “Kami menunggu kedatangan Merri dan bersiap-siap untuk membunuhnya.” Ucap Kanaya yang diangguki Karin dan Agus.


“Glek!” Arinda hanya bisa menelan air ludah dengan tenggorokannya yang kering.


Pesta Jailangkung Season 2/ Bersambung…


Sharing;


Mirip tapi tak sama. Kakiku pernah digrepe oleh makhluk


paling mengerikan, mereka kecoa. Waktu itu lagi sikat gigi dikamar mandi.


Seketika ada yang naik dan berjalan cepat dikaki hingga betis. Wadaw kagetnya


minta ampun.


Ternyata itu kecoa lagi belajar terbang. Langsung tak usir aja.

__ADS_1


Sumpah… ngeri plus menjijikkan….


__ADS_2