Pesta Jailangkung Season 2

Pesta Jailangkung Season 2
45 Membantu Merry


__ADS_3

Fitri menarik suaminya untuk segera ke kediaman Karin. Pasangan gembil ini segera meluncur


menggunakan mobil mereka. Sebelumnya, putri kecil mereka telah mereka titipkan kepada sang mertua tercinta.


“Buru sayang, jangan sampai telat. Perasaan aku gak senang ini.” Risau Fitri.


“Ini juga sudah ngebut, mobil kita punya kapasitas 120 km/jam, jadi aman!” jelas sang suami.


Suami Fitri mengenakan kaca mata hitam dan berlagak dengan sangat keren\, _versi dia_. “Siapa tau ada momen prestisius yang tidak boleh dilewatkan begitu saja.” Ucapnya dengan penuh percaya diri.


“Terserah kamu beb.” Entah kenapa Fitri agak menyesal menanyakannya.


Selang beberapa detik, Fitri dan suaminya hampir saja menabrak mobil taksi didepanya.


“Sayang AWAS!!!” peringat Fitri.


Sementara itu, di dalam mobil taksi yang dikendarai Rohi dan Kanaya juga merasa ada dorongan kuat dari belakang mobil itu. Rohi tidak bisa membanting stir, tapi dia bisa keluar dalam sepersekian detik.


Dia menarik Kanaya untuk keluar dari mobil itu. Telat satu detik, kepala remaja itu bisa saja hancur terbentur dasbor dan ranting pohon yang di depan.


Mobil Fitri menabrak taksi. Padahal sebelumnya mobil dengan logo kha situ tidak terlihat sebelumnya.


Pasangan itu segera keluar dan mengecek korban.


“Kenapa ada mobil?! Saya sumpah gak liat apa-apa di depan beb!!”


“Ada korban?! Ada korban ga?!!!”


Mereka berdua benar-benar diserang panik.


“Saya di penjara ga nih?!”


“Tante Fitri!!!” Kanaya yang berada di pinggir jalan langsung meneriaki Fitri.


Fitri tidak mendengar, dia masih panik. Kanaya mencoba bangkit. Bersamaan dengan itu, ia menyadari Rohi tidak ada di sekitarnya. Hanya hembusan angin menjelaskan jika makhluk itu pergi meninggalkannya.


“KANAYA!!!!!” Fitri melihat Kanaya.


“Tante Fitri, Kanaya tidak apa-apa. Ayo bantu tante Marry dan mama!” tarik Kanaya.


“Merry?” Fitri bingung. “Marry mana ya?”


“Beb, mobil ini gimana?” tanya suami Fitri.


“Aku tidak apa-apa om. Mobil itu yang bawa. Sekarang mama dan yang lain butuh bantuan kita. Ada tante Merry yang bantu, tapi kami takut dia dalam bahaya juga.”


“Kami? Merry….?” Fitri mencoba mencerna perkataan kanaya.


“Tante Fitri buruaan!!!”


Tidak ada waktu untuk mengingat nama yang sepertinya pernah ia dengar sebelumnya. Tapi bukankah nama Meri cukup umum.


.


.


.


.


Kemana perginya Rohi?


Dia mengejar tersangka penyebab kecelakaan yang menimpanya dan Kanaya. Pelaku itu tentu bukan manusia. Dia masih utusan mbah Uti, si buruk rupa.


Rohi melewati bangunan, pohon-pohon dan bahkan beberapa bangunan rumah. Ia terus mengikuti kemana si buruk rupa pergi.

__ADS_1


Tidak ada yang melihat mereka, tapi beberapa barang terjatuh dan beberapa ranting patah oleh terpaan angin akibat ulah mereka.


Rohi yang sangat kesal, akhirnya bisa mendekati si Buruk Rupa dan memberi bogem tepat di wajah SI buruk rupa. Makhluk itu terpelanting dengan sangat jauh hingga menghantam sebuah atap rumah.


Entah kebetulan atau tidak, yang jelas Rohi sekarang berada di depan kediaman yang sebenarnya ingin ia tuju.


Saat bersamaan, ia juga melihat Kanaya yang juga turun dari mobil yang ia tumpangi. Kanaya menengadah, melihat Rohi. Makhluk hijau zambrud itu mengangguk, seolah menginstruksikan kepadanya untuk berhati-hati.


Dia melihat kearah si Buruk rupa dan kembali memberikan Bogem maut agar makhluk itu mati untuk kesekian kali.


“GYAAAAAAAA!!!!!!!” Si buruk rupa berteriak akan serangan maut dan tubuhnya terpelanting hingga merusak atap rumah minimalis_modern.


.


.


.


.


Bagaimana keadaan Merry?


Tidak begitu baik. Kelihatannya ia sedang berjuang melepas badannya dari genggaman Mbah Uti. Tubuh kecil itu menempel didinding rumah dengan kakinya sedikit menggantung


Nafasnya sesak, akibat cengkraman kuat mbah Uti yang mencekik batang leher kurus itu.


“GHA hah…!!!” Merry menahan batang lehernya yang rasanya mau peyot. Matanya memerah dan mengeluarkan air mata. Urat-urat di sekitar wajah hingga lehernya juga menunjukkan betapa ia berusaha agar tetap hidup.


Tapi ini bukan lagi mbah Uti. Dia ada sosok lain, yang dipanggil sang Ratu-yang selama ini berada di dalam tubuh tua neneknya.


“Hmmm hahaha…!!!” suara mengerikan itu tertawa. Penderitaan Merry hiburan baginya.


“Nenekmu membanggakanmu, tapi Ternyata hanya segini saja kemampuanmu?” ledeknya.


Dengan sisa tenaga, Merry mencoba mengambil biji hitam terakhir yang tersimpan di dalam tas kecilnya. Dia mencoba melafalkan sebuah doa untuk mengalirkan kekuatan.


“GYAHAAAA!!!” Gelak tawa si iblis memenuhi ruangan itu. “Kau tidak akan bisa, manusia bodoh!!” dia menampikan tangan Merry dan membuang tas kecil itu.


“HABIS SUDAH KEKUATANMU, DAN TIDAK ADA JALAN LAIN SELAIN MENJADI PENGIKUTKU, MERRY!!”


Wanita tua itu memperlihatkan telapak tangannya di hadapan Merry. Dalam sayupan pandangannya, Merry bisa melihata da sesuatu yang bergerak di telapak tangan Mbah Uti.


Bahkan jika diperhatikan, garis tangan Mbah Uti sedikit berbeda. Jika kebanyakan orang memiliki garis tangan seperti huruf A atau M, maka mbah Uti memiliki segi tiga sama sisi, yang terlihat seperti piramid.


Ditengah gambar garis tangan itu, satu mata muncul. Mata yang memiliki bola mata berwarna merah dan pupilnya membentuk bintang dengan lima sisi.


“JADILAH HAMBAKU DAN BIARKAN AKU SEMAKIN KUAT!!!” ucap si iblis.


Merry bergidik. Dia tidak ingin berakhir sebagai pengikut setan, seperti mbah Uti. “I ibu… a aku harus ba bagaimana?” rintih Merry dalam hati.


Air mata menetes di pipinya. Bersamaan dengan itu.


PRANG!!!!!


Langit-langit kediaman itu runtuh akibat ulah… siapa lagi kalau buka Rohi yang memberi bogem besar kepada si buruk rupa.


Makhluk itu tersungkur dan mendarat dengan hebat setelah menghantam lapisan besar bata. Tubuh makhluk itu terpisah Ketika mendarat di ruangan dimana Mbah Uti dan Merry berada.


“S Sang R ratu… T tolong s saya!!!” rintihnya kepada mbah Uti.


“Cih!” Mbah Uti kesel melihat anak buah tidak berguna ini membuat ulah lagi. Ditambah atap yang bolong membuat cahaya masuk ke dalam ruangan itu.


Kelengahannya itu dimanfaatkan langsung oleh Merry. ia sengaja menaruh beban berat badan tidak seberapa itu di kakinya. Sehingga membuat tangan mbah Uti tertarik ke bawah.


Melihat keberadaan Rohi yang datang membantunya, membuatnya kembali bertenaga. Merry kemudian melilit tangan tua Mbah Uti dengan kakinya. Memutar tangan itu dan mengayunkan kakinya hingga menendang wajah mbah itu.

__ADS_1


“GYAAA!!!” mbah Uti tersungkur. Badannya terjatuh dan tangan kiri yang memiliki mata itu terpapar sinar matahari yang membuatnya merasa kepanasan.


Rohi yang melihat diatas atap memperhatikan itu. Sementara Merry langsung mengambil tasnya. Tapi satu hal yang pasti, baik Rohi maupun Merry, mereka tau apa yang ditakuti sang ratu.


Mbah Uti menarik tangannya yang berasap karena kepanasan.


“Kau menganggap dirimu hebat?” tantang Merry. Suaranya serak. Cekikan si sang ratu melukai batang tenggorokannya.


“Ini belum selesai Merry!!” ucap sang ratu yang kemudian dengan kekuatan gaibnya memanggil semua pengikutnya.


Semua makhluk dengan wajah gelap dari ujung kaki hingga kepala. Makhluk dengan fisik menyerupai manusia tapi tidak memiliki wajah dan perasaan. Hanya suara gemuruh seperti hujan badai yang siap menghadapi Merry dan Rohi.


.


.


.


“ITU MAKHLUK APA???” teriak Fitri yang mengintip dibalik pintu.


Kanaya, Fitri dan suaminya berhasil masuk ke rumah itu. Tapi melihat semua hal-hal aneh bin menyeramkan membuat nyalinya ciut.


“Mereka pengikut setan, sayang.” Jelas suami Fitri yang juga kaget tapi mencoba menahan emosinya. “Mereka yang tidak bisa membayar apa yang diminta oleh sang iblis akhirnya menjadi tebusan itu sendiri. Ia akhirnya mati, dan rohnya menjadi kaki tangan si iblis, seperti mereka saat ini.”


“Kamu tau dari mana?”


“Aku belum cerita ya, aku dipindah tugaskan untuk program uji nyali. Dan kami bahas hal beginian, mengenai sang ratu yang menjanjikan banyak hal namun meminta banyak hal. Salah satu pengikutnya adalah teman nongkrongku.”


“serius?”


“Dia… “


“Kuncoro.” Jawab Kanaya.


“Kamu tau dari mana?” tanya suami Fitri.


“Aku melihat siaran live Dimas. Dia  vloger yang suka menipu kalau bisa melihat setan. Namun malam itu aku melihat sosok menakutkan di konten live dia. Bobby dan Dimas seakan-akan sudah terikat benang, namun tidak bagi tim lainnya bernama Kuncoro.”


“Benarkah?” tanya Fitri.


“Iya, di tongkrongan Kuncoro memang suka mentraktir kita. Dia terlihat kaya meski hanya bagian dari tim vlogger Dimas. Padahal Dimas yang sudah kaya dari lahir tidak seperti itu. Setelah mereka menghilang, satu orang teman melihat kalau dia melihat Kuncoro berada di Makau, bermain judi. Saat di sapa, pria itu menjauh.”


“Om, saat aku melihat semua makhluk itu, aku melihat ada Dimas dan Bobby tapi tidak bagi Kuncoro.” Jelas Kanaya, Lalu mata Kanaya terbelalak. “Aku juga melihat Bianca dan ibunya, ada bu Susan juga.”


Bianca tidak pindah sekolah. Dia dan ibunya Ternyata…sudah mati…


Kanaya yang kaget secara tiba-tiba mundur dan menyikut frame keluarga yang berada diatas meja dekat pintu itu berada.


Suara itu membuat semua makhluk aneh itu menoleh ke sumber suara. Bagaikan segerombolan zombie yang merasa lapar, mereka langsung menuju ke sumber suara.


Rohi dan Merry sedang menghadapi makhluk-makhluk itu. dengan sisa-sisa biji hitam yang ada di dalam tasnya, jumlahnya tentu tidak sebanding dengan musuh yang ia hadapi. Begitu juga dengan Rohi yang hanya mengandalkan fisik.


Mereka kewalahan dan tidak sempat untuk membantu menyelamatkan tiga manusia itu.


.


.


.


.


Pesta Jailangkung 2


Home Sweet Home

__ADS_1


bersambung


__ADS_2