
Merri menarik lengan baju Arda. Tubuh remaja tanggung itu
tampak tak berdaya diseret seperti handuk lusuh.
Begitu juga dengan percikan noda bewarna merah gelap yang
tidak henti-hentinya menetes. Darah itu mengalir dan membentuk garis indah dari
pangkal lengan Merri dan bertumpu ke lengan baju Arda.
“Sreeeek… sreeeekkk!!” bunyi tubuh Arda yang diseret
dalam Lorong berlantai kayu.
.
.
.
.
Kediaman Rumah keluarga Agus dan Karin
Agus terbangun. Ia terduduk dengan nafas yang terengah-engah seolah baru saja melakukan lari marathon, tapi kenyataannya dia berada di sofa dan terbangun dari tidur yang singkat .
Keringat dingin juga membasahi wajahnya, detak jantungnya bergebu dengan cepat.
Ia kembali memastikan keadaan disekitarnya. Didepannya ada tv dengan layar plasma, foto keluarga, dan juga meja tamu yang diatas terdapat beberapa botol minuman.
Agus menyeka wajah dari keringatnya dan memijit keningnya. “Itu hanya mimpi,” ucapnya meringis karena pening.
Tidur di sofa ternyata memberinya efek mimpi buruk yang sangat mengerikan.
“Kamu tidak sarapan?” tanya Karin yang menghampirinya.
Agus melirik Karin. Pagi itu istrinya terlihat sangat rapi. Bukan hanya Karin, Kanaya juga. Anak sulungnya itu mengenakan seragam sekolah dan berpenampilan rapi.
“Kalian ke sekolah?” tanya Agus.
“Iya, hari ini Kanaya sudah boleh masuk sekolah.” Jawab Karin datar.
“Kenapa?” tanya Agus bingung.
“Kenapa? Ya, karena sekarang sudah jam sekolah.” Jawab Karin. “Pertanyaan kamu aneh banget deh.” Gerutunya lagi.
“Kok kamu aneh banget?” tanya Agus.
“Aku aneh? Kamu yang aneh!” tuduh Karin.
“Semalam tidak tidur dikamar, malah tidur di sofa. Kamu juga sengaja menghindari kami?”
“Karin… Aku apa kamu ingat Arda?” tanya Agus lagi.
“Ma, aku harus kesekolah cepat, aku takut kita telat.” Potong Kanaya yang telah menyelesaikan sarapannya.
“Ya! Ayo!” ajak Karin yang juga segera bergegas.
Agus semakin bingung dengan tingkah dua perempuan dirumahnya. Ia merasa sama sekali tidak mengenal keduanya.
“Oya, Arda sebentar lagi pulang. Jadi tenang aja.” Ucap Karin terlihat yakin.
Agus hanya melongo. Kedua alisnya bertaut. Otaknya berfikir dua kali lipat lebih keras. Tapi anehhnya tidak ada satu kata yang keluar dari benaknya.
“F***!” hanya kata itu yang keluar dari mulut Agus. Kata yang selama lima belas tahun ini belum pernah ia lontarkan lagi.
Saat Karin dan Kanaya telah pergi, saat itu juga Agus mengeluarkan unek-uneknya.
“PRANK!!!!” ia melempar botol minuman kosong di lantai hingga beling itu berceceran.
Agus terduduk lemas di sofa. Dia memegang kepalanya yang ingin pecah. “Sinting, sinting! Kalau ini kutukan kenapa harus keluarga gue???!!!!” geram Agus.
__ADS_1
CIPLAK CIPLAK CIPLAK
Agus mulai terganggu dengan bunyi aneh. Bunyi itu terdengar dekat dan mengganggu.
“DIAM!!!!” Agus kembali mengambil satu botol kosong dan mengangkatnya tinggi.
Ia ingin melemparkan botol sekali lagi, namun hal itu kembali ia urungkan sebab didepannya penuh dengan jejak kaki. Jejak-jejak kaki ternodai dengan darah.
Tapi sekali lagi, Agus yakin tidak ada orang dirumah selain dirinya saat ini.
Ia menelusuri jejak kaki yang memiliki Panjang sangat familiar baginya.
Sekali lagi jantungnya berdetak kencang. Bukan karena takut, tapi lebih kepada berharap.
Meski mustahil, ia ingin pemilik dari jejak kaki ini adalah Ardaya.
Agus mengikuti hingga menaiki anak tangga. Saat berada dilantai dua rumahnya ia mendengar derik pintu kamar.
Agus melihat pintu kamar Arda terbuka. Ia segera menghampiri kamar Arda dan mengecek keadaan kamar anaknya.
Tepat didepan matanya, ia melihat jejak kaki berdarah itu menyiplak dilantai kamar dan berhenti diatas Kasur milik Arda.
“Arda….?” Panggil Agus. “Apa itu kamu nak?”
Tidak ada sahutan. Agus menunggu dan dia berharap ada suara yang menyahutnya. Dia duduk dipinggir kasur anaknya dan memeluk bantal Arda. Agus merasa lemah saat itu. Dia ingin melepas rasa lelah dan stress ini.
"Pap...papa... tolong Ardaaa...!!!" bisik suara lirih yang tentu didengar Agus dalam hembusan angin sepoy-sepoy.
.
.
.
.
Kediaman rumah Merri
Mendengar kabar dari Rohi, Merry kemudian mengangguk paham.
Dia paham dengan situasi yang ia hadapi.
Wajah tanpa ekspresi itu kemudian melihat Arda dan Kana dengan cara bergantian, kemudian tersenyum simpul dan kemudian getir pahit.
Begitu juga dengan Rohi, dia melihat miris kepada kedua tamu tak diundang itu.
“Lakukan!” ucap Merry kepada Rohi.
Dengan cepat Rohi kemudian Rohi meraih lengan baju Kanaya.
“GRRRRRRRRR!!!” siluman itu juga mengaum dan memperlihatkan wujud aslinya kepada gadis cilik.
Kanaya yang berada digenggaman Rohi tersentak kaget dengan wajah asli Rohi. Dia bukan lagi lelaki dewasa dengan badan tinggi besar dan memiliki bentuk alis unik, tapi sosok siluman dengan wajah reptil dan bermata kuning keemasan.
Seluruh badan Rohi juga dipenuhi sirip hijau zambrud yang sangat mengkilap di wajahnya. Saat menyeringai Kanaya akan melihat deretan gigi taring yang tajam seperti hiu.
Kanaya ketakutan dengan wujud Rohi, begitu juga energi yang ia rasakan. Wajah gadis itu semakin ketakutan dan ia menumpahkan air mata.
Sementara itu Arda yang juga melihat perubahan Rohi menyunggingkan senyum. Ia terlihat Bahagia.
Merri memperhatikan ekspresi keduanya. Begitu juga Rohi.
Jari jemari yang panjang itu kemudian melepas genggaman yang mencekek Kanaya. Dia merangkul Kanaya dan membenamkan gadis itu dalam pelukannya.
Sementara Merri dengan sebuah Teflon yang telah ia persiapkan dari tadi memukul keras kepala Arda.
“PRAK!!!!” tepat dibagian belakang kepala anak itu.
Pukulan itu ia lakukan berkali-kali. Arda terjatuh kelantai. Kepala Arda retak. Anak itu mencoba berdiri, tapi retakan dibelakang kepala Arda mulai jatuh satu persatu.
Anehnya, tidak ada cairan merah disana. Hanya kepingan yang terbuat dari olahan tanah liat yang terus berjatuhan dari kepala Arda, sehingga separoh dari kepala itu hancur.
__ADS_1
“Jangan bersembunyi, keluarlah!” ucap Merri.
Arda tersenyum kembali. Ia bersiap menyerang Merry namun serangan dari Teflon dari tangan ramping itu lebih dulu menghancurkan kepalanya.
Tubuh remaja itu tidak bergerak sedikitpun. Kanaya yang melihat didalam dekapan Rohi bergidik ketakutan.
“ARDAAAAA!!!!!” teriak Kana. “GYAAA!!! Kenapa kau membunuhnya????” tanya Kana dengan wajah memerah ketakutan.
“Kau tidak mengenalnya, berarti dia bukan siapa-siapa.” Jawab Merri.
“AKU INGAT… DIA ARDAAAAAA… DIA ARDAAAAAYAAAA… Dia adikku!!!!” rengek Kanaya. “Aku ingatt!!!”
“Tapi sekarang dia bukan adikmu.” Ucap Merri yang siap melayangkan pukulannya.
Kana melepaskan dirinya dari pelukan Rohi dan segera melindungi Arda. “JANGAN AKU MOHON!!”
“Kanaya, dia bukan adikmu, dia hanya kiriman dari siburuk rupa.” Jawab Merri.
“Kau memang bodoh, Merri. Persis yang diucapkan nenekmu!!” Suara itu muncul dari tubuh Arda yang terkulai dilantai.
Kana memperhatikan senyum jahat diwajah Arda. Selain itu ada pemandangan aneh dipelipis wajah Arda yang terluka.
Seoasang benda seperti jari keluar dari sana. Wajah Arda seketika melunak seperti karet bersamaan dengan keluarnya jari-jari hitam dan kotor dari sana.
“SREEEKK” wajah anak polos itu sekarang robek dan kulitnya bertebangan diterpa angin yang datang dari mana.
“Hah?” Kanaya hanya menatap dengan wajah yang sangat ketakutan. Ia tidak menyangka Arda melakukan hal seperti ini.
“Dia bukan saudaramu. Saudaramu tidak ada disini dari awal.” Terang Merri kepada Kanaya.
“Dia siapa?”
“Dia mengincarku dan….”
“Ehek ehek WHUAAAA!!!” dari kejauhan suara tangis Satria menggelegar. Hal itu membuat si buruk rupa tersenyum licik, seolah menandakan bahwa ia telah menemukan apa yang ia cari.
Makhluk dengan tubuh Arda dan kepala hitam mengerikan itu segera berlari menuju arah suara tangisan bayi.
“TIDAK AKAN KUBIARKAN KAU MENYENTUH ANAKKU!!” ucap Merri.
Rohi juga segera bertindak. Dia melompat kearah siburuk rupa dan menginjak kepala makhluk itu hingga tersungkur ketanah.
Bersamaan dengan itu, Merri meraih keris milik ibunya, kemudian menancapkan ke kepala si buruk rupa.
“GYAAAA!!!” asap hitam mengepul dan kemudian siburuk rupa lenyap.
Kanaya yang melihat pemandangan itu hanya terdiam. Dia masih syok, ketakutan dan tidak percaya.
“Dia menelan ingatanmu secara berlahan, makanya kau lupa dengan dirimu dan keluargamu.” Jelas Rohi kepada Kanaya.
“Lalu Arda ada dimana?” tanya Kanaya dengan bulir air mata menetes diwajah cantiknya. Gadis itu tidak terlihat pucat lagi, wajahnya terlihat sedikit berseri.
Merri dan Rohi memperhatikan perubahan itu.
“Aku tidak tau!” jawab Merri.
“Hiks hiks!!” Kana menangis. Dia menangis sejadi-jadinya. Merri mendekati gadis itu dan memberikannya pelukan.
“Aku ingin pulang.” Rengek Kanaya.
Merry dan Rohi saling beradu pandang. Dengan bahasa isyarat Rohi menyampaikan sebuah pesan. Merry mengangguk pelan. Dia mulai memahami beberapa hal. Meski tidak yakin, dia harus memulai sebuah petualangan.
“Kami akan mengantarkanmu pulang dan mencari saudaramu.” Ucap Merri tulus.
“Dimana rumahmu?” tanya Rohi.
.
.
.
__ADS_1
Pesta Jailangkung Season 2/ Bersambung