
Kediaman Agus dan Karin yang Suram
“Pa…Pap..pa… Pap pa pa… Bang..ngun! Ar Arda ta takut!” Ucap Arda memegangi tangan Agus yang masih belum sadarkan diri.
Agus meringis. Ia berusaha membuka matanya yang masih berat dan mengantuk.
Tapi suara Arda memberinya energi untuk tetap bisa membuka matanya.
“Pap pa..!!”
Suara itu terus memberinya kekuatan. Lambat laun matanya terbuka. Ia melihat wajah anak lelaki didepannya.
Wajah itu terlihat samar-samar. Tapi Agus yakin, itu adalah Arda.
“Arda!” rintih Agus yang akhirnya bisa melihat dengan jelas.
“Papa, udah bangun?” ucap Kanaya dengan mata berkaca-kaca.
“Papa udah bangun!” ia memamerkan mimik wajah senang.
“Mama…!! Papa udah bangun, papa udah bangun!!” panggilnya kearah pintu luar.
Tak lama kemudian Karin datang. Ia membawa segelas air hangat dan juga secangkir gelas yang sedikit unik.
“Sayang, kamu udah bangun?” Karin yang terlihat cemas menghampirinya.
“Aku melihatmu sudah tidak sadarkan diri. Maaf ya aku pulang telat, tadi aku pergi ke pasar buat beli bahan belanjaan.” Jelas Karin.
Agus melihat sekitar ruangan. Dia baru menyadari jika dia masih dikamar Arda dan berbaring di atas kasur Arda.
“Untung Kanaya pulang lebih cepat. Dia merasa tidak enak badan dan memutuskan untuk pulang.” Karin masih terus berbicara.
“Iya, aku pulang diantar bu Susan.” Lanjut Kanaya.
Agus menghiraukan cerita mereka. Kali ini perhatiannya tertuju kepada cangkir bentuk unik itu.
“Itu apa?” tanya Agus.
“Oo ini jamu yang diberi Bu Susan. Katanya bagus buat kamu. Dia sempat cek keadaan kamu. Katanya kamu kecapean.” Jelas Karin.
“Ayo minum jamunya, biar kamu cepat pulih.” Tawar Karin.
“Tidak, aku tidak mau.” Tolak Agus.
Karin terlihat kecewa. Sedangkan Kanaya terlihat tidak suka. Dia terus menatap Agus dengan tatapan penuh selidik. Agus merasakan ada atsmosphere yang aneh.
Dia sadar saat ini sedang diawasi. “Aku mau minum air putih saja.” Ucap Agus kepada Karin.
Karin mengangguk dan membantu mengambilkan gelas berisi air putih. “Terimakasih, sayang.” Ucap Agus sambil mengusap pipi Karin.
Kanaya melihat pemandangan manis itu. Hatinya tiba-tiba merasa sesak. Dia tidak suka jika Karin terlihat senang dengan Agus.
Dengan kesal ia segera bangkit dan meninggalkan kamar Arda. Terus berjalan dengan tegap kekamarnya.
Ia menutup pintu kamar dengan pelan dan menguncinya. Wajah itu tidak memberikan ekspresi apapun. Tapi jelas jauh dalam lubuk hatinya dia menyimpan rasa benci.
Tidak tahan dengan perasaan kalut dan cemburu, Kanaya mengambil bantal dan membenamkan kepalanya disana.
“GYAAAAAAAAAAAA!!!!!” ia menumpahkan rasa benci itu dalam bentuk teriak didalam bantal. Namun suara itu tidak akan tembus sampai keluar kamar sebab bantal dan juga tembok kamar itu menyembunyikannya.
.
.
.
.
Kediaman Merri
Mbok Lastri segera mengambil sapu dan juga kain pel. Ia segera membereskan bekas keributan yang terjadi tadi siang.
Dengan sigap lantai ia sapu, begitu juga wajah porselen yang juga hancur berserakan dilantai kamar itu. Setelah semua beres ia membuang semua sampah itu kedalam kantong pelastik sampah.
Namun satu benda unik segera ia letakkan diatas meja makan. Merri segera duduk dan mengamati benda aneh yang dibawa Mbok Lastri.
Sebuah boneka yang terbuat dari gulungan seperti benang kasar bewarna hitam. Merri memegangi boneka menyeramkan itu. Ukurannya tidak lebih dari 15 sentimeter. Ada aroma amis dan nodah darah yang menetes.
“Licik sekali.” Gumam Rohi yang juga memperhatikan benda itu.
Kanaya yang juga duduk di hadapn Merri hanya melihat benda itu dengan heran.
“A apa itu?” tanyanya sedikit takut.
__ADS_1
“Jenglot.” Jawab Merri. “Wanita sialan itu membuat makhluk yang menyerupai adikmu dengan jenglot.”
“Lalu darah itu, apa itu darah…?” Kanaya tidak berani melanjutkannya. Dia takut apa yang ia pikirkan adalah sebuah kenyataan pahit.
“Aku tidak tau.” Jawab Merri datar.
“Kita akan cari tau.” Lanjut Rohi.
Merri mengangguk tanda menyetujui perkataan Rohi. “Kita akan kerumahmu. Tapi apa kau tau dimana rumahmu?” tanya Merri.
Kanaya hanya terdiam, dia tidak yakin dengan ingatannya bisa membantunya pulang kerumah. Kemudian sejak tadi perasaannya juga tidak nyaman.
"Aku ingin pulang, tapi aku takut." jelas Kanaya.
Merry menggenggam tangan Kanaya. Dia memberi kekuatan melalui usapan tangan lembut. "Aku akan membantumu."
Kanaya mengangguk pelan. Sementara itu Merry terus menenangkan hati Kanaya dan juga menguatkan hatinya sendiri.
Merri sadar, dia akan menghadapi sosok yang sangat berbahaya. Mau tidak mau, suka tidak suka dan siap ataupun tidak siap dia akan menghadapi wanita itu.
.
.
.
.
Studio Kerja Arinda
Arinda memasuki sebuah studio. Disana terdapat deretan patung manekin dengan beberapa baju yang melekat dibadan patung.
Kedatangannya juga disambut beberapa kariawannya yang menyapanya dengan ramah. Tapi wajah Arinda hari itu tampak lesu. Hal itu sangat biasa, sebab dia tidak terbiasa datang kekantor di jam 9 pagi.
Hal itu masih terlalu pagi bagi matanya. Tapi demi professional kerja dia harus melawan rasa kantuknya.
“Kopi americano-nya, bu.” Salah satu pegawainya meletakkan secangkir kopi hangat diatas meja.
“Aku ingin es kopi saja, tolong ganti ya.” Ucapnya.
“Oh baik!” kariawannya segera mengambil kopi hangat itu dan menggantinya sesuai permintaan Arinda.
“Hmm… jam berapa kita mulai meetingnya ya. Saya lupa mau bertemu dengan siapa.” Tanya Arinda.
“Oiya, maaf saya lupa. Terimakasih….” Arinda kumat, dia lupa dengan nama kariawannya.
“Susan, bu.”
“Oh ya, Susan.” Lanjutnya. Kemudian Arinda berfikir sejenak, “Familiar sekali.” Pikirnya.
Tak lama, tamu Arinda datang; pemilik industry kain linen dan juga pemilik toko baju ternama. Arinda menyambut kedatangan mereka dan meeting santai itu berlangsung.
Tapi Arinda kembali ingat dengan kejadian aneh yang ia alami kemarin. Karin yang cemburu dan juga pertemuan aneh dengan seorang perempuan.
“Susan…?” gumam Arinda.
“Maaf, siapa?” tanya salah satu tamunya.
“Hmm… tidak ada apa-apa.” Arinda tersadar kalau ia saat ini tidak sendiri.
“Su..susan?” tanggap tamunya.
“Aku rasa itu nama yang bagus untuk produksi kita kali ini. Bukankah itu nama boneka yang sempat terkenal waktu kita kecil?” ucap mereka.
Arinda meringis dan menggelengkan kepala. Dia memberikan senyum yang menyatakan dia tidak setuju dengan nama itu.
“Itu terlalu kekanak-kanakan.” Ucap Arinda.
“Hahaha…! Saya setuju. Itu terlalu lucu aja.” Ucap mereka.
“Hahaha… kalau sekretarisku memang lucu.” Ucap Arinda yang tersenyum kepada kariawannya yang Bernama Susan yang baru saja masuk bersama petugas catering yang membawa makanan.
Tiba-tiba suasana sedikit merasa canggung. Mereka memperhatikan kariawan Arinda dan kemudian beralih kepada Arinda yang sibuk menyeruput es americano.
“Kenapa?” tanya Arinda sadar kalau mata mereka menatap Arinda dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Oh tidak. Bukan apa-apa.” Jawab salah satu dari mereka.
“Kami hanya tertegun kalau ada aroma enak dan ternyata itu datang dari Susan.” Ucap Mereka. Kemudian mereka saling tatap.
.
.
__ADS_1
.
.
Meeting itu kemudian berakhir. Semua tamunya telah pergi dan menyisakan mangkuk dan piring kosong di ruang meeting Arinda.
Mereka merasa senang ditraktir makan siang oleh salah satu designer muda berbakat ini.
Tapi Arinda dapat menangkap beberapa dari mereka menaruh curiga kepada Arinda. Selain itu Arinda menangkap gossip itu.
“Sepertinya rumor itu benar, kalau Arinda suka perempuan.” Ucap para tamu itu saat berjalan menuju parkiran.
“Hahaha.. bukankah sekretarisnya baru lagi, apa yang kemaren dipecat karena perihal peribadi? Namanya siapa ya? Luna, ya ga salah Luna Hehehe.”
“Mana saya tau, yang penting dia professional dan menu makanannya enak. Perihal dia straight apa tidak bukan urusan saya.”
“Tapi sayang sekali, padahal dia cantik.”
Meski berada di ruang kerjanya, Arinda bisa menebak apa yang tengah mereka bicarakan. Dia berusaha tidak peduli.
“Meong!!” kucing kesayangannya keluar. Sihitam Luna dengan mata kiri yang terluka.
“Luna, kau ternyata disini.” Ucap Arinda. “Apa kau naik mobilku secara diam-diam lagi?” tanya Arinda.
“Meong!!” Kucing itu mengeluskan badannya kepada tangan Arinda.
Sekretaris Arinda yang datang dan membereskan meja meeting hanya bingung melihat tingkah Arinda. Dimatanya, Arinda hanya bersikap konyol: mengelus udadara dan berbicara sendiri.
Dia keluar dan bertemu beberapa kariawan senior disana. “Ibu Arinda kenapa? Kok bicara sendiri? Apa dia tidak apa-apa?” tanyanya.
Wanita berumur empat puluh tahunan itu paham apa yang dimaksud sikariawan baru. “Ooo… itu, jangan kamu fikirkan. Itu Luna.” Jawabnya.
“Siapa itu Luna?”
“Kucing.”
“Tapi aku tidak melihat kucing.”
“Kita tidak bisa melihatnya, Cuma Ibu Arinda yang bisa melihatnya.”
“Maksudnya?”
“Luna itu bukan kucing pada umumnya. Kalau dia ada dikantor kamu harus sediakan susu di mangkuk dan taroh dekat jendela di ruang kerja Bu Arinda.”
“Kenapa harus saya?”
“Karena tugas sekretaris sebelumnya seperti itu.”
“Kalau tidak aku lakukan bagaimana?”
“Hmmm percaya atau tidak, dia akan dicakar Luna. Sebab, sekretaris terakhir lupa memberi Luna susu dan dia dicakar bagian kaki dan tangannya, karena ketakutan makanya dia akhirnya keluar.”
Kariawan baru itu terlihat ketakutan.
“Kalian membicarakan apa?” tanya Arinda yang tiba-tiba berada didekat mereka.
“GYAAA!!!” sikariawan baru kaget.
“Bukan apa-apa, bu.” Kariawan senior itu kembali ketempat meja kerjanya dan melanjutkan pekerjaan menjahitnya.
“Hmm.. kamu…??” Arinda kembali mengingat nama kariawan atau sekretaris barunya.
“Susanti, nama saya Susanti bu. Panggil saja..”
“Santi, kamu buat susu dan taroh dimangkok. Letakkan didekat jendela meja kerjaku ya.” Ucap Arinda.
“Apa?” dia tidak percaya mendapat pekerjaan untuk memberi makan kepada kucing tidak terlihat itu.
“Oh ya, aku panggil nama kamu Santi ya. Aku tidak suka nama Susan, Santi lebih bagus dan alami.” Ucap Arinda.
“Oh… ya…baik..bu!!” ucapnya.
“Luna jangan main-main dengan benang woll, itu dipakai buat kerja.” Ucap Arinda kepada kucingnya.
Tapi yang dilihat orang-orang adalah gulungan woll yang bergelinding dan jatuh kelantai. Padahal mereka bekerja diruang tertutup dan ber-AC alias tidak ada angin yang mendorong hal itu.
.
.
.
.
__ADS_1
Pesta Jailangkung Season 2/ Bersambung…