
Merri dan Kanaya kembali melanjutkan perjalanan mereka. Mereka sempat menunggu Rohi agar bisa merasuki supir Taxi yang belum sadarkan diri.
Pukulan yang dilayangkan Susan ternyata cukup keras. Hal itu disadari Merri dan Kanaya saat melihat noda darah yang membasahi sekitar area rambutnya. Luka itu, meski tidak besar, mungkin saja bisa mengancam nyawanya.
Mereka tidak mau ada korban yang meninggal lagi.
“Setelah mengantar ku, kau bawa dulu orang ini ke rumah sakit?” perintah Merri kepada Rohi.
“Berarti kita harus buru-buru.” Jelas Rohi. “Badannya terasa dingin, lama-lama bisa mati nih orang.” Jelas Rohi.
Ia langsung menginjak pedal gas dan melaju dengan cepat. Kanaya menggenggam erat-erat save belt yang membalut badannya. Dia mencemaskan banyak hal yang terus melayang-layang dipikirannya.
“Bibi Merry.” Panggil Kanaya memecahkan keheningan di tengah perjalanan yang harus cepat dan tegang ini.
Merry menoleh, “Iya.”
“Aku mau nanya…” ucapnya ragu-ragu. “Aku bingung, kenapa keluargaku diganggu?” tanya Kanaya.
Merri mencoba menjelaskan dengan cara sederhana, “Ada banyak penyebabnya, tapi bagi Mbah Uti, siapa pun yang pernah mengikuti permainannya, dia tidak akan lepas begitu saja.” Jelas Merri.
“Siapa Mbah Uti?” tanyanya lagi.
“Dia orang yang haus akan kekuasaan. Manusia serakah. Dia tega mengorbankan keluarganya demi hidup abadi.” Jelas Merri.
Kanaya terdiam. Dia agak bingung, kenapa keluarganya bisa menjadi korban orang sejahat itu.
“Sekarang giliran saya yang nanya, orang tua kamu pernah terlibat apa dengan Mbah Uti?”
Kanaya menggeleng, dia tidak tau. “Mama dan papa tidak bicara apa-apa.” jelasnya.
Setelah pembicaraan singkat itu, mereka bertiga kembali hening. Mereka hanya sibuk berkutat dalam pikiran masing-masing. Kanaya sibuk memikirkan keluarganya, sedangkan Merri memikirkan bagaimana cara menghadapi masalah nanti.
.
.
.
.
Kediaman Karin dan Agus yang semakin gelap dan Mencekam
Ting…
Tong…
Bel berbunyi berulang kali. Tapi baik Agus maupun Karin tidak berniat membuka pintu itu. Mereka masih sibuk menatap Arinda dengan tatapan kosong.
Siaran televisi yang mereka tonton melakukan barisan dan semua pasang mata itu juga menatap Arinda. Arinda merasa risih diperhatikan seperti itu.
“Saya akan melihat siapa yang datang.” Ucap Arinda yang langsung menuju arah pintu rumah.
__ADS_1
Dia berniat ingin keluar dari rumah ini. Dia merasa takut jika berlama-lama di sana.
Namun niatnya sepertinya tidak akan terlaksana, sebab seseorang yang menunggu di depan pintu adalah salah satu tamu yang tidak ingin dia pergi begitu saja.
Pintu dibuka, dan seorang perempuan dengan bentuk tubuh tidak sempurna langsung menyerangnya.
“GYAAAA!!!” Arinda teriak.
Perempuan dengan wajah peot dan bertangan kurus menyerang leher ramping Arinda. Jari-jemari itu mencengkeram dengan cukup kuat. Arinda berusaha untuk melawan. Dia melihat pagar yang terbuka, Hasrat ingin segera lepas dan keluar dari sini semakin kuat.
Arinda mencoba melepaskan cengkeraman itu dengan cara mendorong si perempuan aneh ini.
“Mati kau!!! Mati!!!!” teriaknya berusaha mencekik Arinda. Tangan kurus itu ternyata memiliki genggaman yang kuat.
Arinda mengalami kesulitan agar lepas dari cengkeramannya. Untung otaknya masih bisa berpikir jernih. Kakinya masih bisa ia andalkan untuk menendang perut perempuan gila.
BUK!!!
Perempuan itu terbanting ke pintu.
“Uhuk uhuk!!!” Arinda terbatuk-batuk.
Perkelahian ini tidak berhenti disitu, perempuan aneh itu ternyata masih melakukan penyerangan. Dia melompat diatas tubuh Arinda dan mencoba sekali lagi untuk mencelakainya.
Arinda langsung beringsut mundur untuk menghindarinya. Sesuai dugaan, perempuan aneh dengan wajah peot itu tidak berhasil mengenainya.
Tapi Arinda melupakan dua orang lainnya, yakni Karin dan Agus. Kedua tangannya ditarik oleh dua orang temannya yang terlihat kaku itu.
“Karin… Agus.. Sadar!! Ini gue!!” teriak Arinda lagi berusaha melepaskan dari cengkeraman kedua temannya itu.
“Gyaaaahahaha!!!! Gak akan bisa!! Mereka bukan lagi temanmu!!!” gelak tawa perempuan itu.
“Kau siapa??!! Apa urusanmu denganku?” Erang Arinda.
“Gyaaaaahahaha!!!” perempuan itu hanya tertawa. Dia membanting guci yang terpajang disana. Guci berbentuk mangkok dengan ukiran yang daun dan ranting itu, kini hancur menjadi pecahan kaca dengan sudut runcing.
Perempuan itu mengambil satu pecahan dengan sudut paling runcing. “Urusan saya? Hmm.. huahaaahaha.. tidak ada! Tapi saya senang menyakiti orang lain!” ucapnya
“Gila!” umpat Arinda. Dia kembali meronta, tapi kedua temannya yang bereperan sebagai algojo benar-benar membuatnya tidak bisa lepas.
“Agus!! Karin! Kalian kenapa?” tanya Arinda. “Lepasin gue!!!” erangnya lagi.
Perempuan aneh dengan wajah terburuk mendekatinya. Dibalik rambut lepek dan tidak beraturan itu, Arinda melihat kulit keriput, beberapa bagian ada bengkak dengan luka yang bernanah.
Arinda dapat melihat salah satu bopeng itu ada yang membusuk dan dihuni beberapa ulat putih yang bergerak-gerak di luka wajahnya. Penampakan itu membuat perutnya terasa diaduk-aduk.
Wajah Arinda memucat menahan takut, sakit dan juga mual karena jijik. Namun perempuan di depannya merasa senang dengan ekspresi dilihat Arinda.
“Gyahahaha… kau merasa jijik?” tanyanya. Dia sengaja mendekatkan wajahnya kepada wajah Arinda.
“Nikmati sebuah karya seni ini!!!” ucapnya menempelkan kulit pipi yang penuh luka dan lengket itu kepipi Arinda.
__ADS_1
“Uhuk-uhuk!!! Huweeek!!!”
Aroma busuk langsung mengaduk sistem indra penciumannya. Aroma itu juga menusuk sampai ke otak, hingga membuatnya menjadi takut dan histeris.
“GYAAAAAAAAAA!!!!!!!” teriak Arinda.
“SUSAN!!!!”
Perempuan itu berhenti. Dia menjarakkan wajahnya dan melihat ke arah seseorang yang memanggilnya, Kanaya.
“Ma, Pa, lepasin tante Arinda.” Perintahnya. Kedua orang itu dengan patuh melepaskan cengkeramannya.
Arinda menjatuhkan badannya. Kejadian tidak terduga membuat badannya Lelah. Tapi yang membuatnya tidak habis pikir, sejak kapan temannya menjadi aneh? Dan benarkan didepanya adalah Susan yang pernah ia jumpai sekali itu?
“Jadi ini bentuk wajah asli perempuan itu?” gumam Arinda dalam hati.
“Ngapain kesini?” tanya Kanaya tidak sopan.
“MERRI AKAN KESINI!!!!” teriaknya dengan histeris.
Mendengar hal itu semua orang ada di sana sangat terkejut. Kanaya membelalakkan matanya, dia terlihat sangat cemas. Namun kecemasan itu ia sembunyikan dalam bentuk senyum getir.
Karin dan Agus juga melakukan ekspresi yang sama. Mereka tersenyum getir seolah kabar itu sangat mengancam mereka.
Hanya Arinda yang mendengar dengan perasaan senang. Setidaknya bala bantuan akan datang.
“APA YANG HARUS KITA LAKUKAN??” tanya Susan panik.
“Tenang aja Susan, kedatangannya adalah takdir. Dia akan menyerahkan dirinya kepada Mbah Uti.” Jelas Kanaya.
“Tapi anak yang mirip denganmu juga akan datang. Ingatannya sudah kembali.”
“Tenang saja, mama dan papanya yang akan membunuhnya.” Jelasnya sambil memperhatikan kukunya. Kanaya terlihat congkak dan menganggap remeh dengan apa yang akan terjadi.
“Apa kau tidak takut dengan Merry?” tanya Susan. “Dia sepupuku dan saya tahu bagaimana kemampuannya.”
“Tau! Tapi dibandingkan dengan mbah uti dia tidak ada tandingannya.” Jelas Kanaya tersenyum puas.
“Ka kau?” Arinda menunjuk ke arah Kanaya.
“Oh ya?” Kanaya memperhatikan wajah Arinda yang ternyata mendengar pembicaraan mereka. “Arinda, jangan kaget, aku hanya jembatan penghubung.” Jelasnya. “Izinkan saya memperkenalkan diri, saat ini nama saya adalah Kanaya.”
“Bukan, kau bukan Kanaya. Sejak awal kau bukan bagian dari keluarga ini. Kembalikan keluarga ini seutuhnya. Kembalikan Agus dan Karin seperti semula!”
“Ups telat. Mereka sudah di tangan mbah Uti,” Jelasnya. “Kalau mau menjemput mereka semua, kita main dulu aja yuk!” ajaknya dengan mengeluarkan sebuah benda yang tidak asing baginya, sebuah boneka jailangkung yang ditempeli boneka beruang.
Arinda membelalakkan matanya. Dia tidak ingin lagi berurusan dengan boneka itu.
Pesta Jailangkung season 2
Home sweet Home
__ADS_1
bersambung