Pesta Jailangkung Season 2

Pesta Jailangkung Season 2
43 Cawan Emas


__ADS_3

“Kau tidak pantas, AKU LAH YANG LAYAK!!!!”


Susan menghunus Merry. Pisau buah itu menancap lengan kanan Merry.


“WOW BRAVO!!!” seru mbah Uti dengan sangat senang. Dia menikmati pertandingan ini sambil menikmati wine_entah sejak kapan ia menuangkannya.


“GYAAA!!!” Merry merasakan kesakitan.


Rasa sakit itu belum berakhir, sebab Susan menarik pisau itu dari kulit Merry. Darah segan mengalir.


Mbah Uti melihat pemandangan yang menakjubkan itu.  Ia meraih cawan emas yang berada di atas meja. Kemudian mendekati Susan dan Merry.


Darah Merry yang menetes ia tampung ke dalam cawan.


Tindakan Mbah Uti membuat keduanya heran. Terlebih lagi wajah tua Mbah Uti terlihat aneh. Garis-garis keriput itu timbul dengan warna biru dan merah yang mencolok. Begitu juga dengan garis-garis di bawah mata tuanya yang membuat menjadi gelap.


“Untuk apa, Mbah?” tanya Susan.


“Saya berubah pikiran.” Ucap Mbah Uti. “Kalian berdua tidak layak menjadi penerus saya, maka saya memilih dengan cara saya sendiri.” Jelasnya sambil menyeringai dan memamerkan taring-taring tajam giginya.


Baik Merry dan Susan merasa terancam. Penampakan neneknya ini membuatnya takut. Mbah Uti terlihat seperti dirasuki.


“Mbah… kenapa wajah mbah Uti berubah?” tanya Susan khawatir.


“Apa? Wajahku kenapa?”  Mbah Uti mendekati Susan bagai kilat. Seketika ia tanpa ampun menarik kepala Susan, dan melemparnya hingga membentur tembok.


“Aaaghh!!!”


Mbah Uti mendekati Susan. Seringai diwajahnya membuatnya terlihat menakutkan.


“Susan!” suara mbah Uti mulai parau. “Selamat bergabung ke dalam keluarga.” Ucapnya.


Susan sesaat tersenyum, “Apa aku diterima? Apa aku layak?” ucap Susan terbata-bata karena terharu sekaligus merasa sakit.


Dia menatap wajah Susan dengan ekspresi datar_wajah tersenyum dan senyuman itu membuka menjadi sangat besar, bahkan mulut itu terbuka lebih besar dari ukuran kepala Susan.


Susan membelalakkan matanya. Dia ketakutan tapi tubuhnya terlanjur kaku untuk bisa bergerak bebas.


Dagunya dipegang mbah Uti dengan kuat. Kemudian aura Susan dihisap hingga seluruh wajah dan kulit badannya mengering.


Merry memperhatikan pemandangan yang mengerikan itu. Dia melihat bagaimana jiwa Susan yang terlepas dari raga itu berusaha melarikan diri agar tidak terisap ke dalam mulut mbah Uti. Tapi usahanya sia-sia.


Ia mendengar bagaimana Susan berteriak minta tolong hingga suara itu lenyap dan tubuh itu menegang, menyusun seperti daun kering hingga tak bernyawa.


Merry tidak ingin bernasib sama. Dia mencari jalan keluar. Tapi sayangnya tidak ada tempat yang bisa membanya keluar dari sini.

__ADS_1


Mbah Uti menikmati hidangannya. Matanya kembali normal saat itu juga wanita tua itu menitikkan air matanya.


“Saya melakukannya lagi?” gumamnya.


Tidak ada jawabannya, semuanya hening. Hanya Merry yang menatap dengan penuh kewaspadaan.


Mbah Uti menatap Merry dan cawan emas yang ia pegang.


“Itulah takdir kita Merry. Jika saya tidak bisa menemukan pengganti yang pantas, maka Dia akan memakan kita semua, seluruh garis keturunan Mbah.” Jelas Mbah Uti meletakkan cawan yang berisi noda merah milik Merry.


“Itu bukan keinginan saya, Merry. Ini keinginan Nya.” Lanjut Mbah Uti.


“Dia siapa yang kau maksud?” tanya Merry masih mempertahankan kewaspadaannya.


“Sang Ratu. Ratu iblis dari neraka.” Jelas Mbah Uti. “Saat ini dia ada di sini.” Mbah Uti menunjukkan dirinya.


“Dia yang memberi harta berlimpah, membuat saya tetap kuat meski usia ini sudah renta, dan dia juga yang membunuh orang tuamu.”


Merry hanya menelan ludah kering mendengar penjelasan Mbah UTi. Terdengar tidak masuk akal, tapi faktanya beberapa menit lalu ia melihat keberadaan sang Ratu.


“Saya ingin kau menjadi inang berikutnya, Merry. Tapi sayang… Sang Ratu mulai tidak menyukaimu.” Jelas Mbah Uti.


Merry membelalakkan matanya. Dia melihat cairan merah keluar dari mata mbah Uti. Perempuan tua itu menangis, tapi yang keluar bukan lah air mata, tapi noda merah.


“Mbah Uti… kau tau, dari awal ini tidak benar. Kenapa kau terima?”


Mbah Uti mengambil cawan emas yang ia letakkan di atas meja. Dia membiarkan noda merah itu jatuh di atas cawan.


“Tapi tenang, aku terus meyakinkan sang ratu dan bagaimanapun, cucuku yang bodoh ini sangat pas baginya. Dengan begini kau tetap menjadi penggantiku, jika tidak saya, suami dan anakmu akan menjadi korbannya.”


“Bukankah dia tidak memiliki inang lagi?” tanya Merry.


“Huahahaha… pantas kau selalu ku puji sebagai cucu bodoh. Kau suka mempertanyakan hal sia-sia.” Tawa mbah Uti mengaduk dua noda merah didalam cawan. Kemudian ia campurkan dengan anggur merah dan beberapa ramuan dari daun kering yang sudah ada diatas meja.


“Merry, jika dia tidak membunuh kau dan aku, maka yang menjadi inang berikutnya adalah seseorang yang menurut pantas. Salah satunya ada diantara tumbal itu.” jelasnya.


“Pas ada cara lain menghentikannya.”


“Tidak ada Merry.”


Mbah Uti meletakkan cawan diatas Meja makan. Kemudian ia menyalakan lilin-lilin yang sudah dipajang diatas meja. Dengan tenang wanita tua itu duduk disalah satu bangku. Dia menatap Merry dengan mimik wajah serius.


“Sekarang kau duduklah.” Ajak Mbah Uti yang menunjukkan satu kursi kosong tepat di hadapannya.


Merry tidak bergerak sedikit pun. Dia melihat mbah Uti, tatapannya juga kosong, tapi otaknya mempertimbangkan banyak hal. Banyak hal sampai dia tidak bisa menghentikan skenario yang sedang ia buat didalami otaknya yang selalu dinilai bodoh walau perempuan tua itu.

__ADS_1


“Tunggu apa lagi, Merry.”


Merry melangkahkan kaki dan mendekati kursi yang sudah disediakan untuknya.


“Saya sudah duduk, dan sekarang apa yang kita lakukan.”


“Serah terima warisan leluhur.” Ucap mbah Uti singkat.


“Sebelum memulai, boleh saya sampaikan satu fakta…” tawar Merry.


“Apa?”


“Sang Ratu bukanlah warisan leluhur kita, tapi kesalahan yang kau ciptakan sendiri karena serakah akan ilmu hitam yang ingin kau kuasai. Dan satu fakta lagi…”


Mbah Uti tidak bertindak dia menunggu Merry.


“Cucumu yang bodoh ini Ternyata juga sangat gegabah karena mengandalkan nyali tanpa memikirkan perhitungan yang matang untuk menantang Sang Ratu mu_Mbah Uti!” jelas Merry dengan tatapan dingin.


Ia langsung melempar biji hitam tepat diahadapan mbah Uti, yang membuat sesuatu di dalam dirinya meronta kesakitan.


“GYAAAA!!!!”


Kesempatan itu diambil Merry untuk mengambil cawan emas dan melemparnya kewajah Mbah Uti. Dia mengambil satu keris tua yang juga tersedia diatas meja.


“Aku berlindung kepada sang penguasa manusia, Raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan iblis yang bersembunyi di dalam dada manusia!” Merry mencoba menghunuskan keris ke dada Mbah Uti.


Di waktu bersamaan Mbah Uti menangkap keris dengan kedua telapak tangannya. Wajah tua itu memerah akibat terbakar. Riasan mencolok dan sanggul yang tertata besar itu terlihat kacau.


Ya! Karena saat ini Merry tidak lagi dihadapkan dengan wajah neneknya, melainkan wujud sang Ratu yang bersemayam selama ini.


“KAU BERANI MELAWANKU MANUSIA HINA!!!!” serak suara yang bergema itu mengancam Merry.


"Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, Raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan, bisikan


setan yang bersembunyi, yang membisikkan, kejahatan, ke dalam dada manusia.” Merry harus mengalahkan sang ratu.


.


.


.


.


Pesta Jailangkung 2

__ADS_1


Home Sweet Home


bersambung


__ADS_2