
Arinda memberikan tumpangan kepada perempuan yang memperkenalkan dirinya sebagai Susan. Dia juga menjelaskan hubungannya dengan Karin dan juga Kanaya.
Meski Susan telah mempresentasikan dirinya secara lengkap dan terperinci, tapi tidak ada tanggapan apapun yang diberikan Arinda. Si cantik dengan prinsip hidup keras itu hanya diam dan tetap mencoba fokus melihat jalanan.
Faktor lain yang membuatnya tidak ingin berinteraksi adalah semua omongan perempuan itu tidak bisa ia percayai. Terlebih dengan makhluk halus yang terus mengikutinya dari belakang.
Tipe manusia seperti ini bukan untuk pertama kali ia temukan. Ada banyak jenis manusia yang suka memakai topeng, berbicara berlebihan agar mendapat simpati, bermuka dua dan tentunya membawa sesuatu yang ghaib dan dengan munafik mengatakan kepada semua orang kalau dia sangat apatis.
“Kamu sendiri, kenapa bisa dekat dengan Bu Karin?” tanya Susan.
“Teman.” Jawab Arinda ringkas.
“Oo..” angguk Susan paham. “Teman bapak Agus atau Ibu Karin?” tanya Susan penasaran.
“Kita satu SMA kami semua.” Jawab Arinda mulai muak diintrogasi oleh orang asing ini.
“Tapi kenapa saya melihat kamu lebih dekat dengan bapak Agus. Hmm maksudnya, tadi saya tidak sengaja melihat kalian duduk dimobil dan hanya berdua.”
“Anda turun dimana?” tanya Arinda. Sedikitpun dia tidak melihat wajah Susan.
“Didepan sini boleh.” Jelas Susan. “Tapi kenapa kamu belum menikah? Perempuan sukses seperti kamu harus punya pasangan, apalagi sangat rentan jika terlalu sering bersilaturahmi dengan suami teman sendiri.” Jelas Susan.
Arinda memberhentikan mobilnya. “Disinikan ya? Silahkan...!!” Ucap Arinda.
Susan hanya tersenyum dan kemudian membuka pintu mobil. Namun sebelum turun, Arinda mengeluarkan unek-unek yang berserang didalam hatinya sejak tadi.
“Sebagai seorang guru, ternyata ibu Susan terlalu memperhatikan keluarga siswanya. Saya jadi terharu.” ucap Arinda. "Saya harap peringatan Ibu Susan tulus, karena ingin menjaga kebahagiaan keluarga siswanya. OO ya, sebelum saya pergi saya jadi ingin pesan, Ibu Susan, guru yang baik, bisa lepasin Jin yang nempel dibadan Ibu? Dia dari tadi minta tolong ingin dibebasin. Cape jadi susuk ibu terus."
Susan membelalakkan matanya. Dia tidak percaya dengan apa yang diucapkan Arinda. Dia baru menyadari kalau Arinda mengetahui rahasianya.
“Kamu ternyata memang tidak punya hati. Cepat atau lambat karirmu hancur dan kamu bukan siapa-siapa lagi.” ucapnya yang kemudian membanting pintu mobil Arinda.
Arinda melihat punggung Susan yang berjalan dengan sangat angkuh. Dia hanya bisa menggeleng-geleng kepala.
“Emang pantas seorang tenaga pendidikan berbicara seperti itu. Dia tidak tau kalau saya dibesarkan oleh seorang guru juga.” Pikir Arinda. “Dan lagi, dia memakai susuk dimana? Kenapa hasilnya bisa sesempurna itu?”
Rata-rata mereka yang menggunakan susuk memiliki banyak syarat dan pantangan sehingga banyak diantara mereka berhati-hati dalam bersikap dan mengkonsumsi makanan.
Sebagai manusia dengan mata batinnya telah terbuka, ia selalu melihat seseorang menggunakan susuk terlihat mengerikan.
Tapi Susan berbeda. Dia terlihat sangat cantik alami. Tidak memiliki aroma aneh atau wajahnya juga tidak jelek. Hanya ada bekas jahitan diatas bibirnya yang terlihat sedikit keriput.
Selain itu atitudnya juga alami. Alami sebagai manusia bermuka dua dan gampang baper.Jika Arinda menatap matanya lebih lama, bisa saja dia mengakui kecantikan Susan dan kemudian mengikuti semua kata-katanya.
Terlebih lagi, jin yang menempel dengan Susan juga terus melotot dengan air mata darah.
“Sungguh mengerikan.” Nilai Arinda.
.
.
__ADS_1
.
“Karin kamu mau ngapain?” tanya Agus melihat gelagat Karin.
Karin diam. Tapi gerak tubuhnya menegaskan amarahnya. Karin mengeluarkan tas ukuran besar dari atas lemari kamarnya.
Ia mengambil pakaian dari dalam lemari dan memasukkan semua pakaian miliknya.
“Karin, hentikan!” perintah Agus.
Karin tidak mengindahkan permintaan Agus. Dia tetap melakukan hal itu.
“Kamu mau kemana?” tanya Agus.
“Aku mau pulang kerumah orang tuaku. Kanaya juga ikut.” Ucapnya dengan sangat marah.
“Jangan egois Karin. Jangan menambah masalah, jangan BIKIN SAYA PUSING!!!” bentak Agus yang membuat Karin berhenti.
Agus seketika menyesal. Lalu dia mendekati Karin dan memeluk tubuh istrinya dari belakang. Ia merasakan kalau Karin bergetar dengan hebat.
“Saya minta maaf, saya minta maaf. Saya salah Karin. Saya janji nggak akan bentak kamu lagi.” sesal Agus. Dia mencoba menatap wajah Karin yang terus membelakanginya.
Saat wajahnya dan wajah Karin bertemu, Agus merasakan ada yang aneh. Wajah Karin yang mulus seketika sedikit lengket dan berlendir.
Selain itu ada aroma amis yang menusuk hidung mancung Agus. Saat bersamaan Agus melihat pemandangan sangat mengerikan.
Wajah Karin menjadi hangus. Bahkan mata, hidung dan mulut nyaris tidak ada.
“Karin?! Kenapa?! Kamu kenapa?!” tanya Agus.
Karin tidak berbicara. Dia hanya menunjukkan wajah yang datar dan hancur itu.
“Agus, kamu kenapa?” tanya Karin diambang pintu kamar.
Agus dengan nafas belum teratur menoleh ke arah Karin. Dia memastikan apa yang ia lihat benar-benar Karin atau jenis yang lain. Setelah memastikan Karin napak dan memiliki bayangan ia kembali menoleh kedepan.
Namun sosok yang menyerupai Karin hilang. Yang ada hanya Kanaya yang berdiri didepannya sambil menjinjing ransel besar.
“Papa aku boleh pinjam tas ini untuk bawa tugas projek kelas buat besok?” tanya Kanaya.
Agus tidak berkata apa-apa. Dia tidak bisa menelaah kejadian yang membuatnya menjadi gila.
“Ayo siap-siap makan malam.” Ajak Karin.
“Sayang kamu bantu mama ya.” Lanjut Karin kepada Kanaya.
Karin meninggalkan kamar dan juga kegundah gulanaan Agus. Kanaya mengikuti Karin. Tapi sebelum melewati pintu kamar, Kanaya menoleh kepada Agus.
“Pa, aku tau Ardaya dimana.”
Agus merespon dengan tatapan penasaran.
__ADS_1
“Dia saat ini bersama Merri. Merri sengaja menculiknya. Aku juga hampir diculik oleh Merri tapi aku selamat.” Ucap Kanaya dengan mimik wajah serius.
“Mama juga lupa dengan Arda karena ini juga ulah Merri. Ingatan mama akan Arda saat ini hilang. Mungkin cepat atau lambat hal itu juga terjadi denganku. Mama akan melupakanku.”
“Papa harus bunuh Merri demi aku.” Lanjutnya.
Agus terdiam sesaat. Semua hal berkaitan tentang Merry yang ia tau kembali teringat dibayangannya. "Merry sengaja menculik anak-anakku untuk apa?"
"Membalas dendam kepada nenek Uti. Sosok yang ayah temui dulu. Selama ini aku dan Arda dijaga oleh Nenek. Tapi karena ayah tidak percaya sama nenek makanya nenek sedih dan kesempatan itu diambil oleh Merry."
"Pa, lindungi aku dari Merry. Nenek takut sama Merry, Pa." mohon Kanaya.
Agus tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Semua berkecamuk dalam benaknya. Dia belum banyak mengenal Merry. Pertemua mereka singkat. Namun ada banyak tragedi yang terjadi semenjak kedatangan Merry di kehidupannya.
Sedangkan perempuan itu? Entahlah, Agus tidak tau harus berbuat apa-apa sekarang.
.
.
.
Sementara itu kediaman Merry
“Turunkan semua foto Mbah Uti.” Perintah Merri kepada Rohi. “Bakar semua foto miliknya.” Ucapnya dengan tegas.
Rohi menurunkan semua foto yang ada wajah neneknya. Semua foto itu dibakar dibelakang halaman rumahnya.
Kemudian Merry kembali ruang keluarga. Dua tamu cilik tak diundang itu sedang menonton tv yang menayangkan sebuah berita.
“Laporan hari ini, disejumlah daerah pesisir tengah menghadapi angin kencang, membuat warga yang tinggal disana dalam status siaga satu. Para relawan telah datang dan membantu mereka mengungsi ditempat lebih tinggi. Kekuatan angin tampaknya berasal dari tengah laut. Saat ini kami masih mencoba menghubungi para petugas Angkatan laut untuk keterangan lebih lanjut…”
Merry memperhatikan berita itu dengan sangat serius. Keadaan itu membuatnya menjadi cemas.
“Ayah dari anakmu ada disanakan?” tanya Arda.
Merry menatap Arda dengan tatapan tajam. Dari mana anak ini tau mengenai suaminya? Suasana seketika menjadi canggung. Kanaya yang terdiam lesu memperhatika dua wjah yang saling adu tatapan tajam.
“Kamu kenapa menatapku?” tanya Arda. “Kenapa matamu seolah ingin membunuhku?”
Ardaya kemudian menyunggingkan senyum seolah memprovokasi Merry melakukan tindakan tegas.
“…”
.
.
.
Pesta Jailangkung Season 2/ Bersambung...
__ADS_1