
“K kanaya, a aku takut…” bisik Ardaya.
Kanaya mengangguk pelan-pelan kepada Ardaya. Ia juga takut. Kana mulai memikirkan hal terburuk, “Apakah kami semua bisa selamat?”
“ARDAAA!!!”
“KANAYA!!!”
Agus dan Karin tidak terima anaknya ditarik dan berada ditangan sang Ratu. Tapi mereka juga tidak sanggup untuk menghadapi makhluk dengan aura mengerikan itu.
Sang Ratu cantik, namun mengerikan.
“Merry… mau bertukar tempat?” tawar sang Ratu kepada Merry.
Merry tidak sanggup untuk menjawab. Sementara itu Rohi dengan sebisanya mencoba menerobos ribuan makhluk-makhluk berwujud hitam itu.
Sang Ratu juga memperhatikannya. Ia menghentakkan kakinya yang dalam sepersekian detik tepat di hadapan Rohi.
“Serangga pengganggu!” Rohi ia sentil kepala Rohi yang membuatnya terpental jauh.
Sang Ratu kembali menghentakkan kakinya yang dalam sepersekian detik membuatnya kembali di posisi semula dan menggenggam Kanaya dan Ardaya.
“Rohi…” Merry mencemaskan Rohi. Jarak terpelantingnya cukup jauh. Tapi Rohi mengangkat tangan dan menunjukkan jempolnya. Dia mengatakan kalau dia tidak apa-apa.
“Merry, kau tidak akan bisa melawanku. Lebih baik kau menjadi pengikutku dengan begitu sebagian kekuatanku akan aku berikan kepadamu.” Tawarnya.
“Apa kau akan melepaskan mereka?” tanya Merry.
“Hmm…?”
Semua mata menoleh kepada Merry. Sang Ratu tersenyum sinis. Dimatanya Merry mulai menarik, pikirannya yang tidak terduga membuatnya menyukai Merry.
“Tampaknya wanita tua itu ada benarnya, manusia ini begitu menarik.” Gumam sang Ratu.
“Tidak masalah,” jawab sang Ratu. “Sekarang datanglah kepadaku.” Sang Ratu menjulurkan tangannya.
Merry melangkahkan kakinya. Karin, Agus, Arinda dan Fitri hanya diam menatap. Tidak ada yang bisa ia lakukan. Tapi keputusan Merry tidak tepat.
“Ingat kataku, ini tidak ada kaitannya dengan kalian. Ini masalah keluargaku.” Ucap Merry sambil terus berjalan. Seolah dia bisa menerka isi pikiran teman-temannya.
Merry melihat satu makhluk hitam yang memiliki perawakan ibunya. Makhluk itu terus menatapnya. Merry benar-benar tidak melakukan Gerakan yang mencurigakan dan sang Ratu mengetahuinya.
Makhluk-makhluk hitam itu juga memberinya jalan. Membiarkan Merry menyerahkan dirinya kepada sang Ratu.
Saat tepat di hadapan sang Ratu. Merry menghentikan langkahnya. Tanpa getar dia kembali mengingat sang Ratu.
“Lepaskan mereka.” Ucap Merry.
“Hmm…” Sang Ratu kembali menorehkan senyum. Ia melepaskan Ardaya dan Kanaya. “Cepat lari, Sebelum saya berubah pikiran!” perintahnya.
Ardaya dan Kanaya langsung bergandengan tangan dan berlari meninggalkan sang Ratu. Tapi senyum liciknya terus mengembang. Dan tatapan matanya mewakilkan betapa serakah dan piciknya dia.
Merry menyandari-Nya. Dan peraturan dunia gaib “Jangan takut dengan dan jangan percaya dengan ucapannya sedikit pun.”
“Demi penguasa dua dunia, pemilik kunci dua gerbang yang saling berseberangan, tunjukkan kepada iblis betapa lemah tidak berdayanya dia selain bualannya!!” Merry langsung mendekati sang Ratu.
Sang Ratu yang akan menyerang dua remaja itu bergidik, gerakannya langsung dicekal. Hal itu membuatnya hanya bisa menyerang Merry.
Beruntungnya dua remaja itu, ia juga langsung dibawa oleh Rohi yang masih fit.
“Om ini k kuat!” gumam Ardaya sadar-sadar berada di pundak Rohi dan diturunkan di depan ayah dan ibunya.
__ADS_1
“Ardaya Kanaya!!!” Karin langsung memeluk anaknya.
“Kalian segaralah pergi dari sini, pergilah menuju gerbang sana.”
“Bagaimana dengan Merry?” tanya Arinda.
“Saya yang akan menyelamatkannya.” Ucap Rohi.
“Hayu… buruan!!!” Fitri menarik Arinda. Karin dan Agus juga menarik anak-anaknya agar segera pergi.
Suasana kembali chaos. Para makhluk itu juga kembali bergerak dan menghalangi langkah mereka.
“Mereka hidup lagi!!!!” teriak Fitri.
“Dorong mereka Fitri, jangan sampai lengah!” ingat Arinda.
“Agus… Kanaya, Ardaya!!!” Karin juga mulai terpisah dengan anggota keluarganya.
“Mama…Papa!!!” teriak Kanaya. “Kana di sini!” Kana melambaikan tangannya.
“Sayang, dorong mereka sekuat tenaga. Jangan sampai kalah!” teriak Agus.
Para manusia ini berusaha sekuat tenaga. Tanpa mereka sadari jika salah satu dari mereka sedang berusaha menjalin komunikasi.
“Ber b berhen..ti!” teriak Ardaya.
Satu makhluk tiba-tiba berhenti.
“Ja jangan… ber ber henti!” satu benda lagi tiba-tiba tidak bergerak.
“Pe Pergi!” satu makhluk tiba-tiba meninggalkan Ardaya.
Mereka mendengarkan Ardaya. Awalnya Kanaya tidak menyadarinya, namun seketika, saat tempat ia berdiri menjadi sedikit lega ia menyadari itu adalah perbuatan saudara kembarnya yang menyuruh mereka berhenti.
.
.
.
.
Sementara itu pertarungan Merry dan Sang Ratu dimulai. Mantra Merry tidak berguna di sini. Karena ini adalah sarangnya. Rumah dari sang Ratu.
Merry malah dilempar cukup jauh hingga tenggelam ke dalam lautan makhluk hitam itu. Rohi menarik tangan Merry.
“Seharusnya kita bawa dia keluar dari sini.” Ucap Rohi.
“Kau benar, tapi bagaimana?”
“Sayangnya tidak ada cara lain!” tiba-tiba sang Ratu berada di belakang mereka dan merahi dua batang leher itu dan mencengkeramkannya dengan sangat kuat.
Ia melempar Rohi ke atas. Tubuh kekar hijau zamrud itu terlempar hingga jauh ke atas dan dalam kemudian terjun bebas ke daratan.
Merry yang melihatnya merasa tidak kuasa. Jika terus dibiarkan Rohi benar-benar mati dan musnah.
“Apa perlu menyayat makhluk itu dengan pisau belati. Seperti yang saya lakukan kepada Kusuma?” tanya sang Ratu.
“Eghh!!! Tidak.. T Tidak akan ku biarkan Iblis jahanam!”
Sang Ratu menarik Merry hingga wajah mereka bertatapan dengan jarak dekat. “Saya suka amarah yang kau timbulkan.” Puji sang Ratu.
__ADS_1
Rohi akan menyentuh daratan dan siap memecahkan kepalanya. Sebelum hal itu terjadi, sebuah bayangan dengan kemilau putih seperti kumpulan awan datang menyambut tubuh kekar Rohi.
Sang Ratu juga melihat hal itu. Dia menyadari ada tamu tak diundang datang ke kediamannya.
Merry juga melihat nya dengan tatapan penuh bertanya-tanya. Benda berupa angin putih itu kemudian mendekati satu makhluk hitam yang sedari tadi hanya diam dan tidak bergerak.
Ia mengitari nya yang kemudian membuat warna hitam bak manekin itu luntur dan melihat satu sosok wajah yang sangat familier.
“Kusuma?!” ucap Rohi yang takjub dengan apa yang dia lihat.
“I Ibu?” Merry berkaca-kaca. Dugaannya benar, makhluk itu ibunya. Dia terperangkap dalam tubuh makhluk hitam itu.
Kusuma melihat makhluk yang membantunya. “Terima kasih Mbah Karto.” Ucapnya.
Rohi langsung memberi hormat kepada Kusuma. Atau sosok lain yang selalu ada dan bersama Kusuma. Kusuma membalas hormat Rohi dengan anggukan kepalanya.
Dia melihat menatap sang Ratu. Tatapan keibuan itu langsung mengintimidasi sang Ratu.
“Kau tidak tau dengan siapa ibu mempelajari ilmunya?” terang Merry. “Dia Ratu dari leluhur kami, Dewi Kesembuhan! Dengan selamatnya jiwa ibuku, Dewi Kesembuhan kembali menyatu dengannya dan mencari pengganti berikutnya, yaitu kau bisa tebak siapa?” senyum Merry.
Sang Ratu hanya membelalakkan matanya. Dia murka. “GYAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!”
Amarahnya ia lampiaskan kepada Merry dengan menggenggam dengan sangat keras hingga tangan itu merobek kulit leher Merry dan merusak semua jaringan dan saraf yang berada dibalik kulit itu.
“GYAAAAAA!!!!”
“GYAAAAAAA!!!”
Rintihan teriak kesakitan Merry, amarah sang Ratu menjadi suara yang mengerikan sekaligus menyedihkan untuk didengar.
Ardaya dan Kanaya yang berhasil membawa kedua orang tuanya, Arinda dan Fitri di depan pintu gerbang berhenti mendengar suara itu.
“Suara apa itu?” tanya Fitri.
“Tante Merry…” ucap Kanaya dengan wajah cemas.
“Apa dia selamat?” tanya Arinda.
“Semoga saja! Jika dia mati, aku akan mengutuk diriku seumur hidupku.”
“Jangan berpikiran seperti itu.” ingat Agus. “Merry sudah mengingatkan kita, ini masalah keluarganya.”
Mereka semua mengangguk. Tapi jauh dari lubuk paling dalam, mereka merasa sedih, takut dan diselimuti rasa bersalah.
Kanaya kembali mendapat sebuah ide. Dia membisikkannya kepada Ardaya yang kemudian Ardaya mengangguk setuju.
Ardaya mendekati makhluk hitam yang tidak bergerak. “Ardaya ke mana?” tanya Karin.
Ardaya tidak mengindahkan ibunya. Dia kembali berbicara kepada makhluk itu dengan memberi instruksi.
“Se serang s sang Ratu!” ucapnya. Sekelompok makhluk yang awalnya diam kembali bergerak dan berbalik arah. Mereka menuju sang Ratu.
.
.
.
.
Pesta Jailangkung 2
__ADS_1
Home Sweet Home
bersambung