Playing Victim

Playing Victim
Part 21 : Menelisik Kebenaran


__ADS_3

Sudah genap satu bulan sejak semua akun sosmed Thalita menghilang, dan Gideon sudah putus asa untuk menghubunginya. Cowok itu selalu uring-uringan ke Clara, penyebab utama Thalita menghilang.


Sore itu, Clara tiba-tiba muncul di depan rumah kontrakan Gideon, dengan wajah yang sedikit pucat.


"Siapa yang kasih tau alamat ku ke kamu?" tanya Gideon ketus.


"Adalah, kamu gak perlu tau siapa yang ngasih tau. Yang jelas, aku ke sini mau minta pertanggung jawaban dari kamu?"


"Gak salah? Kita gak pernah ngapa-ngapain, tapi kamu malah minta tanggung jawab. Ngaca dong, makanya jangan jadi cewek murahan, kalau gini kan jadi bingung, siapa bapak dari anak di perutmu."


PLAK


Gideon memegang pipinya yang merah dan bergambar telapak tangan Clara. Hampir saja cowok itu membalas, tapi kemudian sadar, Clara hanya seorang cewek.


"Apa-apaan kamu? Main t*mp*r seenak udel, coba cowok, udah habis kamu!" kata Gideon geram.


"Kamu ngomong gak pakai otak, aku belum sebejat itu! Aku meminta tanggung jawab, karena Vano sekarang ngilang, karena kamu menghasut dia."


"Aku? Menghasut Vano? Kamu pikir aku kurang kerjaan?"


"Buktinya, Vano menghilang setelah ngobrol sama kamu. Pasti kamu udah ngomong yang enggak-enggak ke dia. Ketularan si Cabe pasti tuh, sukanya menghasut orang."


"Selama ini aku cukup sabar ngadepin kamu ya, tapi sekarang kesabaranku udah habis. Pergi kamu dari sini, dan jangan ganggu hidupku lagi!!"


"Oh, kamu ngusir aku? Apa kamu mau seisi dunia tau, kalau Gideon, seorang pendiri dan moderator group riddle terkenal, ternyata cuma seorang cowok b*nci yang p*ng*cut?"


"Ng*nc*m? Kamu berani ng*nc*m seorang Gideon? Siapa yang kamu andalkan, hah? Vano?"


"Aku punya banyak duit, dan aku yakin bakal banyak yang mau pasang badan buat aku. Gak seperti Thalita yang modal pap ** untuk dapat simpati dari kamu."


Wajah Gideon berubah merah padam dan menakutkan, Clara sampai mundur beberapa langkah karena ngeri.


"Pergi dari sini, sebelum kesabaranku benar-benar habis!! Aku gak bakal pandang kamu itu seorang cewek, karena kamu sudah menghina pacarku. Dia cewek baik-baik, bukan cewek murahan kayak kamu, pergi!!"


"Tunggu saja Gideon, aku akan bikin perhitungan sama kamu!!" Clara segara beranjak pergi meninggalkan Gideon yang masih tampak emosi.


"DASAR CEWEK SI*L*N!!"


Gideon berteriak marah, membuat orang-orang di jalan depan rumahnya menoleh. Clara tergopoh meninggalkan tempat itu, sebelum Gideon berbuat nekad.


Gideon meraih ponselnya dengan kasar kemudian menghubungi nomor Rikka, teman akrab Clara.

__ADS_1


"Iya, Mas Dion. Tumben nelpon, ada apa?"


"Mbak Rikka, aku mau nanya dan ku harap Mbak mau jawab dengan jujur! Aku akan tau kalau Mbak ternyata berbohong, dan tanggung resikonya kalau itu terjadi."


"Tanya apa, Mas?"


"Clara udah melakukan apa aja ke Thalita?" tanya Gideon to the point.


"Aku gak tau, Mas."


"KAN AKU UDAH BILANG, JAWAB JUJUR!!"


"Iii...iya, Mas. Jangan bentak-bentak, aku takut!"


"Makanya, Mbak Rikka, kan tadi udah ku bilang, jawab jujur!" kata Gideon dengan nadi kalem.


"Anu...anu, Mas. Clara udah nyebar fitn*h kalau Thalita itu orangnya toxic dan suka playing victim. Pura-pura teraniaya, tapi sebenarnya dia jahat, tukang modus ke admin dan moderator group. Juga sering kirim pap ** agar dibelain."


"KURANG AJAR BANGET SIH TUH SETAN BETINA??"


"Mas...sabar Mas sabar!"


"Aku udah gak bisa sabar lagi, Mbak Rikka, si Clara udah keterlaluan sama pacar aku."


"Ya Thalita lah, siapa lagi pacar aku kalau bukan dia?"


"Jadi, Mas Gideon ini pacaran sama Thalita?"


"Iya, emangnya kenapa, Mbak?"


"Duh, gimana ya, aku gak enak nih ngomongnya."


"Ngomong aja, ada apa? Dari tadi kan Mbak Rikka udah ku suruh jujur, kan?"


"Kapan hari kan... Bukan kapan hari sih, sudah lama, sebulan yang lalu lah. Kan Clara nelpon si Cabe, nah, dia itu lagi sama cowok, yang ngaku pacarnya Thalita."


"Si Cabe? Siapa tuh si Cabe?"


"Tha...Thalita maksudnya. Clara tuh yang biasa panggil gitu, kan jadi kebawa."


"Clara nelpon Thalita, ngomong apa aja dia?"

__ADS_1


"Thalita?"


"Bukan. Clara lho, ngomong apa ke Thalita?"


"Oh, anu...Thalita gak boleh chat dan nelpon-nelpon Vano, karena Vano itu pacar Clara."


"Terus?"


"Terus Clara m*ki-m*ki Thalita, kata-katanya kasar banget gitu, seolah Thalita itu cewek murahan. Tiba-tiba ponsel Thalita diambil alih oleh suara cowok, yang ngaku pacar Thalita."


"Kamu yakin itu suara cowok?"


"Yakin, Mas, kan panggilannya diloudspeaker, jadi kedengaran."


"Tau nama cowoknya siapa?"


"Gak tau, Mas. Dia gak sebut nama."


"Ya udah, terima kasih Mbak, sudah mau bekerja sama."


Gideon mematikan panggilan telepon, tanpa menunggu jawaban Rikka. Di seberang sana, Rikka mengumpat dengan keras, karena Gideon yang tak punya sopan-santun.


"Dasar kutil onta, orang kok gak ada sopan santu, main matiin aja. Harus segera lapor ke Clara nih, abis itu tunggu transferan uang jajan dari dia."


Rikka menggerutu sambil menekan nomer Clara di ponselnya. Berada di panggilan lain. Berkali-kali Rikka menghubungi, tetap saja Clara berada di panggilan lain. Rikka yang putus asa, memutuskan untuk tidur siang saja, nanti sore baru menghubungi Clara.


"Bener-bener kamu itu cewek si*l*n! Apa maksud kamu m*ki-m*ki Thalita, hah?"


Gideon tak dapat menahan emosi, begitu Clara mengangkat panggilannya, cowok itu langsung melabrak.


"Harusnya kamu tuh berterima kasih sama aku, karena aku, si Cabe ketahuan sel*ngkuh tuh dari kamu. Kamu cuma buat mainan aja sama dia."


"Gak usah sok tau! Aku tau kok cowok yang ngaku pacar Thalita itu, aku kenal sama dia. Jadi aku peringatkan lagi, jangan senggol Thalita, atau kamu bakal berhadapan sama aku."


"Gideon, sayang. Yang pacar kamu itu aku, bukan dia. Dia cuma virtual, sedang aku nyata, bisa kamu pegang."


"Aku gak pernah ngakuin pacaran sama kamu. Itu bisa-bisanya kamu aja. Dan sekali lagi kamu ngaku cewekku, abis kamu sama aku."


"Emang kamu bisa apa?"


"Yang jelas, aku bisa membuat Vano ogah dan j*j*k sama kamu, aku pegang kartumu. Kamu itu cuma cewek murahan yang gemar godain laki orang. Dan aku tau, kamu juga suka kirim pap ** dan diajak V*S oleh cowok-cowok gak jelas. Kalau Vano tau hal ini, bisa tamat riwayatmu, camkan itu!!"

__ADS_1


Gideon menutup panggilan, di seberang, Clara membeku. Cewek itu tau, Gideon tak pernah main-main dengan ucapannya.


__ADS_2