
Sebatang kara di Ibukota, bukan sesuatu yang menyenangkan. Jika selama ini Gideon tak pernah merasa kesepian, karena selalu ada sang Ibu yang menemani, sekarang ini jadi berbeda. Kontrakan terasa sunyi, meski di luar ada suara ribut dari para bocah yang main latto-latto.
Gideon menangis, ketika teringat pada ibunya. Gideon merasa belum pernah membuat wanita yang melahirkan dirinya itu bahagia. Selama ini, dia hanya jadi beban ibunya. Bagaimana tidak? Di usia yang tak lagi muda, sang Ibu harus bekerja menjadi seorang asisten rumah tangga. Sementara sang Anak cuma tiduran di kontrakan sambil baperin anak orang. Miris.
Sejak Gideon dirumahkan, dua tahun lalu, cowok itu hanya bekerja serabutan. Membuka jasa desain kecil-kecilan, dengan pendapatan yang hanya cukup untuk membeli kuota. Bisa dibilang, Gideon itu seorang pengangguran tak kentara. Seolah bekerja, tapi aslinya nganggur.
Kini, setelah sang Ibu tiada, Gideon tak tau harus berbuat apa. Mencari pekerjaan? Sudah tak jemu-jemu Gideon lakukan, tapi belum berhasil juga. Membuka usaha? Belum ada modal. Pusing! Itu yang dirasakan oleh Gideon.
Tiba-tiba ponsel Gideon berdering, panggilan dari nomer tak dikenal, cowok itu merasa enggan menjawabnya. Tak cuma sekali, namun berkali-kali. Karena merasa terganggu, Gideon menjawab dengan ketus.
"HALO!"
"Halo, Bang Gideon, ini Dinda."
"Iya, Din? Ada apa?"
"Dinda turut berduka cita ya, Bang. Atas dipanggilnya ibu Abang. Semoga amal dan ibadah Beliau, diterima disisi-Nya."
"Iya, Din. Terima kasih ya. Ngomong-ngomong, kamu dapat kabar dari mana, Din?"
"Oh, Dinda dapat kabar dari Bang Vano, Bang. Kemarin katanya Bang Vano tak sengaja lewat di dekat rumah Abang, terus ada kabar kalau ibunya Abang mengalami kecelakaan, tepatnya tabrak lari."
DEG.
Vano tau rumah Gideon? Tentu saja. Vano telah mencari dimana kontrakan baru Gideon dan ibunya. Bahkan sehari setelah mereka pindah, Vano telah menemukannya. Tapi cowok itu tak mengatakannya pada siapapun. Baru sekarang, Vano memberitahu Dinda. Vano juga yang menyuruh Dinda agar menelepon Gideon.
"Iya, Din. Ibuku memang jadi korban tabrak lari, dan sampai sekarang, pelakunya belum ketemu."
"Semoga lekas ketemu ya, pelakunya Bang. Abang yang tabah, ya!"
"Iya, Din. Makasih ya."
"Sama-sama, Bang."
Dinda telah menutup panggilan, tapi masih menyisakan tanya di benak Gideon. Vano telah mengetahui tempat tinggalnya, pastilah cowok itu mempunyai tujuan.
__ADS_1
"Apa Vano orang suruhan Clara ya? Tapi ... masa Clara segila itu sih? Menyuruh gebetannya untuk mencari orang yang menghamilinya? Tapi ... Clara kan memang gak punya rasa malu, dia aja banga, ngaku hamil di luar nikah pada Thalita."
Gideon menggaruk kepalanya kasar. Beban pikirannya semakin bertambah. Belum lagi dia memikirkan mencari pekerjaan, ini juga masalah Clara tak bisa dianggap enteng.
"Aku telpon Vano aja deh. Mungkin dia punya solusi buat masalahku," gumam Gideon.
Cowok itu segera meraih ponselnya, kemudian mencari nomer Vano. Membuka blokir, dan menghubungi cowok itu.
"Halo, Bang. Aku turut berduka ya, atas yang terjadi pada Ibu," sapa Vano.
"Iya, Bang. Terima kasih ya, sudah peduli."
"Tumben nelpon, ada apa nih, Bang?"
"Gini, Bang. Barusan Dinda nelpon aku, katanya dia dapat kabar tentang ibuku dari Bang Vano, apa benar?"
"Iya, benar."
"Jadi? Apa Bang Vano kasih tau Clara, dimana kontrakanku yang baru?"
"Tentu saja tidak."
Gideon menarik napas lega. Omongan Vano pasti bisa dipercaya, cowok itu belum pernah ketahuan berdusta. Selama ini, apa yang dikatakannya adalah kebenaran, dan didukung dengan bukti-bukti yang bisa dipertanggung jawabkan.
"Tak usah berterima kasih. Aku gak ada niatan untuk merahasiakan tempat tinggal Abang pada Clara, kok."
"Maksud Bang Vano?" Gideon mengernyit heran.
"Ya kalau terpaksa, aku bisa kasih tau Clara, dimana Abang tinggal sekarang."
"Jangan dong, Bang! Aku mohon!" kata Gideon memelas.
"Itu tergantung Bang Gideon, sih."
"Aku akan melakukan apapun, asal Bang Vano tak ngasih tau Clara."
__ADS_1
"Termasuk putus dengan Thalita?"
Gideon terdiam. Saat ini, hanya cewek itulah yang dipunyai Gideon untuk tempat curhat dan berkeluh kesah. Hanya Thalita yang mengerti dirinya, meski sering kali Gideon menyakiti hati gadis itu. Kehilangan Thalita, berarti kehilangan seseorang yang sangat berarti.
"Apa tak ada cara lain, Bang? Aku sayang banget dengan Thalita. Meski hubungan kami cuma virtual, tapi aku tulus sayang sama dia."
"Sayang? Tapi dengan tidur dengan Clara?"
Seketika hati Gideon terasa bagai teriris pisau yang sangat tajam. Perih. Benar apa yang dikatakan Vano, apa dia memang sayang pada Thalita? Tapi kok malah tidur dengan Clara?
"Aku khilaf, Bang," kata Gideon lirih.
"Khilaf itu cuma sekali, Bang! Kalau berkali-kali, namanya doyan. Aku tuh gak habis pikir sama kamu, kok bisa-bisanya melakukan perbuatan itu, dengan Clara pula. Kayak gak ada cewek lain aja. Kamu juga bilang, sayang pada Thalita, dan kamu juga tau, Clara itu benci banget sama gadis itu. Kamu dekat aja sama Clara, itu sudah membuat Thalita sakit, apalagi sampai tidur bareng!" Vano meluapkan emosinya dengan kata-kata.
Vano tipe cowok yang keras, dia tak akan segan membuat Gideon babak belur jika sekarang di hadapannya. Karena itu, Vano selalu jaga jarak dari Gideon, takut khilaf.
"Kok diam, Bang Dion? Gak mau putus dengan Thalita?"
"Jujur aja, aku berat buat putus sama Thalita."
"Oke, kalau gitu. Nanti bisa kok, ku buat kalian putus. Aku masih simpan video yang di kontrakan lama itu. Aku yakin, setelah melihatnya Thalita akan mutusin hubungan kalian."
Gideon kembali merasa gusar. Ancaman Vano, pastilah tak main-main. Saat ini Gideon dihadapkan pada dua pilihan yang sulit, bagai makan buah simalakama.
"Aku boleh tanya, Bang Vano?"
"Silakan!"
"Apa ... apa kamu juga suka sama Thalita?"
"Bukan cuma suka, Bang, aku cinta sama dia. Kamu keberatan?"
Gideon tertegun, dugaannya selama ini benar, Vano juga cinta sama Thalita. Sebenarnya Gideon beruntung, Thalita juga suka padanya, sedang ke Vano, Thalita hanya menganggap sebagai seorang kakak. Tapi, lagi-lagi, Gideon menyia-nyiakan perasaan Thalita.
"Baiklah, Bang Vano. Sekarang aku sudah yakin, kamu akan menjaga Thalita. Aku akan memutuskan hubungan dengan dia. Bahkan aku juga akan menghilang dari kehidupan kalian semua. Anggap saja, Gideon yang kalian kenal sudah mati."
__ADS_1
"Oke, Bang. Aku pegang omongan kamu. Dan sebagai seorang laki-laki, harga dirinya terletak pada kepercayaan yang diberikan. Kalau kamu gak menepatinya, kamu tau kan, akan berhadapan dengan siapa?"
Gideon menelan ludah, cowok itu tau, sangat tau, Vano tak pernah main-main.