
Pagi itu, badan Clara terasa sangat lemas, kepala berat, dan rasa mual membuat Clara merasa sengsara. Sejak sang Ibu memilih tinggal dengan sang Adik, Clara sendirian. Dan menderita sakit saat tinggal seorang diri, sedikit membuat Clara ketakutan.
Usia Clara saat ini udah empat tahun melewati angka tiga puluh. Hampir semua teman seusianya, sudah berumah tangga, dan memiliki beberapa anak. Masih sendiri, sebenarnya bukan keinginan Clara. Sebagai wanita normal, Clara juga berharap sudah memiliki keluarga kecil yang ramai dengan tangis bayi. Tapi, takdir masih menuliskan kalau Clara masih sendiri.
Awalnya, banyak pria yang berusaha mendekati Clara. Secara, Clara memiliki wajah yang lebih dari lumayan. Tapi, para pria itu kemudian mundur teratur, setelah mengenal sifat Clara dan obsesi gila Clara pada Vano. Beberapa pria yang dulu dekat, sekarang ini malah banyak yang tak mau kenal lagi dengan wanita itu. Ilfill, setelah tau lebih jauh dengan sifat Clara.
"Aduh, kenapa badanku nih, apa jangan-jangan---"
Wanita itu membisu sejenak. Apa yang baru saja terlintas di benaknya membuatnya tertegun. Bergegas Clara masuk ke dalam kamarnya, dan segera mencari barang keramat yang selalu disimpannya di laci meja rias. Testpack. Ya, Clara selalu menyimpan benda keramat itu.
Bergegas Clara ke kamar mandi, dan segera melakukan test. Pekerjaan Clara sebagai bidan, membuatnya paham betul, cara melakukan test itu, meski dia belum menikah. Lagi pula, Clara sudah berkali-kali melakukannya, dan selama ini hasilnya selalu negatif. Semoga kali ini juga sama.
POSITIF
Dua garis biru yang tertera pada alat test itu membuat Clara seketika lemas. Harapannya kali ini tidak terkabul. Clara hamil, dan tidak tau siapa yang akan dia tuntut untuk bertanggung jawab. Clara melakukannya dengan lebih dari satu pria. Juga dia pernah menjadi korban peristiwa di gudang kosong beberapa waktu yang lalu. Bisa saja, salah satu dari para b*jing*n itu meninggalkan bibit di rahimnya.
"AAAAAAHKKKK...DASAR SIALLL!!!"
Clara berteriak karena frustasi dengan apa yang menimpanya saat ini. Seketika dunia Clara terasa runtuh. Tak dapat Clara bayangkan reaksi ibunya jika tau akan hal ini. Bisa-bisa wanita tua itu terkena stroke lagi. Clara harus segera mencari akal.
"Ah, ya!!! GIDEON!! Kenapa aku gak minta pertanggung jawaban pada dia saja, ya? Meski pengangguran, Gideon gak malu-maluin untuk jadi suamiku. Masalah materi, gampang, penghasilanku lebih dari cukup, jadi aku gak akan menuntut nafkah dari dia. Yang penting anak ini ada bapaknya."
Senyum licik segera tersungging di bibir Clara. Pemecahan akan masalahnya sudah ada di depan mata. Clara merasa genius. Dengar tergesa, Clara mencari ponselnya, dan berniat menghubungi cowok itu.
"Sial!! Nomerku yang ini diblokir," Clara mengumpat, karena nomernya diblokir Gideon.
__ADS_1
Segera Clara menghubungi Gideon menggunakan nomer yang lain. Berdering. Clara tersenyum, dan menjadi semakin lebar saat Gideon menjawab panggilan itu.
"Halo! Siapa ini?" sapa Gideon.
"Ini aku, Clara. Kita harus ketemu, Yon! Penting! Kamu ke rumahku sekarang, ada yang perlu kita obrolkan."
"Aku sibuk! Gak ada waktu untuk meladeni j*l*ng kayak kamu. Sudah ku bilang, anggap saja kita gak pernah kenal! Jangan pernah hubungi aku lagi!"
"Aku hamil, Yon! Dan aku yakin ini anakmu. Aku hanya ngelakuin sama kamu. Kamu gak bisa lepas tanggung jawab begitu saja. Jangan menambah dosa lagi. Ini menyangkut sebuah kehidupan yang akan hadir di bumi."
Gideon terdiam. Cowok itu sadar, selama ini melakukan banyak sekali dosa, bersama Clara. Jika menyangkut sebuah kehidupan yang akan lahir ke bumi, Gideon tidak bisa menutup mata. Gideon tau, bagaimana rasanya penderitaan seorang anak yang lahir tanpa ayah, seperti dirinya. Gideon tak mau disamakan dengan lelaki pengecut yang telah membuatnya lahir ke dunia. Beda. Ya, Gideon merasa berbeda dengan lelaki itu. Dia harus bertanggung jawab.
"Otewe!"
Tiga puluh menit kemudian, sebuah motor berhenti di depan rumah Clara, membuat wanita itu tersenyum. Ya, Gideon telah sampai di rumah Clara. Wanita itu segera membuka pintu dan mempersilahkan tamunya masuk.
"Kamu gak menjebak aku lagi, kan? Gak usah ditutup, biarkan saja pintunya terbuka!" Gideon merasa trauma, dengan kejadian terakhir di rumah Clara.
"Menjebak gimana? Kali ini aku serius, aku beneran hamil."
Clara menunjukkan alat test dengan dua garis biru pada Gideon. Cowok itu hanya melihat, tak mau memegangnya, karena tau alat itu habis dicelupkan dimana. Jijik, tentu saja.
"Yakin itu anakku?"
"Aku cuma melakukan sama kamu, kamu tau itu! Aku bukan penganut paham pergaulan bebas. Tapi aku melakukannya karena suka sama suka. Ingat itu!"
__ADS_1
"Tapi aku tak pernah suka sama kamu, Mbak! Aku melakukannya karena napsu, bedakan itu!"
"Terserah, yang penting kamu sekarang harus nikah sama aku. Aku gak mau anakku dibilang anak haram!"
Gideon tersenyum miris. Selama ini orang-orang mengenal ibunya sebagai seorang janda beranak satu yang suaminya meninggal karena kecelakaan. Tapi pada kenyataannya, ibu Gideon belum pernah menikah. Ibu Gideon menjadi korban bujuk rayu pacarnya, yang kemudian diketahui sebagai suami orang.
Gideon dan ibunya menutup rapat kisah itu, dengan cara pergi dari kampung halaman dan merantau ke kota besar. Disini, tak ada yang kenal mereka sebelumnya, dan juga masa lalu mereka.
"Yon! Kamu mau nikahi aku kan?" tanya Clara lembut.
"Kamu tau keadaanku sekarang kan, Mbak? Aku sedang gak ada kerjaan tetap. Aku juga harus menghidupi ibuku. Kami juga masih tinggal di kontrakan."
"Tak perlu dijelaskan aku udah tau. Aku gak bakal menuntut materi dari kamu. Setelah menikah, kamu dan ibumu juga bisa tinggal disini. Gimana?"
Gideon mengusap wajahnya kasar. Dia terpaksa harus bertanggung jawab pada Clara. Tapi harga dirinya yang tinggi, menolak semua solusi yang ditawarkan Clara. Gideon merasa harga dirinya terinjak-injak, kalau hidupnya bersama sang ibu menjadi tanggungan Clara.
"Kamu tau, aku gak ada rasa sedikitpun sama kamu, Mbak?"
"Ya, aku tau. Aku juga gak ada rasa sama kamu. Cintaku hanya buat Vano seorang. Tapi, aku terpaksa harus nikah sama kamu, demi anak ini."
Clara mengelus perutnya yang masih rata. Sementara Gideon terus mengusap wajahnya dengan kasar. Cowok itu terlihat kalut. Tak percaya dengan semua kejadian yang terjadi padanya.
"Aku hanya bisa menawarkan nikah bawah tangan, Mbak. Gimana?"
"Oke, aku setuju. Yang penting orang-orang tau, aku sudah menikah, dan anak ini ada bapaknya. Lagipula, kita bisa cerai setelah anak ini lahir. Jadi nikah di bawah tangan, adalah ide yang bagus."
__ADS_1