
Vano yang akhir-akhir ini sangat susah menghubungi Thalita, menjadi sering uring-uringan. Cewek itu selalu berada di panggilan lain saat Vano menelponnya.
Atau yang paling sering, cuma centang satu saat Vano mengirim pesan.
Sejak baikan dengan Gideon, cowok itu selalu ngobrol dengan Thalita melalui telpon. Sampai berjam-jam telponan, tak pernah membuat Gideon merasa bosan. Ada saja bahasan menarik yang dibahasnya dengan Thalita. Seputar teman di group, anime, artis, politik bahkan sosial budaya. Tak bisa dipungkiri, Thalita membuat Gideon merasa nyaman, dan lupa dengan Clara, tentu saja.
Suatu ketika, ketika Vano berhasil menghubungi Thalita, cowok itu mengungkapkan kekesalannya.
"Kemana aja sih kamu, Tha? Susah banget dihubungi. Udah kayak artis aja."
"Wkwkwk, aku sibuk, Bang. Sibuk kuliah, sibuk nulis, sibuk dagang juga. Berburu cuan buat bayar kost. Ada apa, Bang? Kangen?"
"Banget!! Aku aja sampai heran kok, kok bisa-bisanya kangen sama pacar orang."
"Weeiii, maksudnya apa, tuh?"
"Kan kamu masih pacarnya Gideon, berarti kamu pacar orang, bukan pacar monyet, kan?" kata Vano kesal.
"Bilang aja, kalau Bang Vano itu cemburu, aku sama Bang Gideon belum putus. Iya, kan?"
"Itu kamu udah tau. Kenapa gitu, kamu gak putus aja sama Gideon?"
"Aku belum punya alasan untuk minta putus, Bang."
Vano mendengkus kesal. Sebenarnya bisa saja, cowok itu membeberkan kebobrokan Gideon di depan Thalita, tapi dia tak mau melakukannya. Vano mau, Thalita mengetahuinya sendiri, dia hanya mengarahkan saja. Untuk bukti, Vano punya rekaman video saat di kontrakan Gideon. Itu lebih dari cukup untuk membuat mereka putus. Tapi itu terlalu mudah. Vano ingin semuanya rumit, perlu usaha, pemikiran dan keuletan, seperti pemecahan pada riddle-riddle yang dibuatnya.
"Ya udah, semangat! Nanti kalau udah putus, kasih tau Abang ya!"
"Lha? Buat apa, Bang? Ada-ada aja Abang ini, hahaha."
"Biar Abang tau, kamu putusnya karena apa. Apa karena Clara? Btw, tuh wanita j*l*ng, udah gak teror kamu lagi kan, Tha?"
"Enggak kok, udah antheng tuh dia. Sepertinya udah bertobat kali."
"Bagus kalau gitu, berarti dia takut sama ancaman Abang."
"Abang ancam Clara?"
"Iya! Kalau dia bikin masalah sama kamu lagi, bakal Abang bikin perkedel. Abang pegang kartu as dia kok. Kalau kamu diapa-apain sama dia, bilang aja ke Abang. Abang yang bakal pasang badan buat Thalita. Oke, Sayang?"
__ADS_1
"Oke, Bang! Hahaha, asik juga ternyata punya Abang seorang preman. Semua urusan jadi mudah."
"Satu lagi, Tha! Kamu jangan terlalu berharap sama Gideon. Dia itu sama kayak Clara, sama-sama ular. Kamu jaga diri, jangan sampai hanyut dalam bujuk rayunya!"
"Hem! Bang Vano ngomong kayak gitu, pasti ada alasannya, kan? Boleh Thalita tau, Bang?"
"Suatu saat, kamu pasti akan tau. Yang penting sekarang, nurut aja sama omongan Abang. Abang gak mau, adik Abang ini, jadi korban si Gideon. Yang menurut Abang, dia cowok b*nci."
"Baiklah! Thalita percaya kok sama Bang Vano. Thalita akan jaga diri."
"Oke, Sweet Heart! Selamat beraktivitas, tetap semangat. Abang mau nguli dulu, berburu cuan untuk lamaran."
"Oke, Bang. Semangat juga cari cuannya. Kasian tuh yang nunggu dilamar, kalau kelamaan."
Vano mematikan panggilan sambil tertawa. Menghubungi Thalita memang membuat mood Vano jadi baik, tak lagi uring-uringan seperti beberapa hari ini. Juga cuma dengan Thalita, Vano bisa ngomong panjang kayak kereta api. Biasanya, Vano sangat irit bicara.
Di tempat lain, Gideon merasa kesal, karena sang Pacar, sedang berada di panggilan lain. Pacaran virtual, membuat Gideon sangat posesif pada Thalita. Cowok itu merasa cemburu, jika Thalita sedikit susah untuk dihubungi, kecuali pada jam-jam kuliah, tentu saja.
Thalita juga lebih sering mematikan data untuk aplikasi hijau miliknya, pada nomer yang diketahui oleh Gideon. Ya, tentu saja Thalita mempunyai nomer lain dan untuk kepentingan lain pula. Bukan untuk dunia maya, tapi untuk teman-teman nyata. Dan Gideon tak tau akan hal ini.
Panggilan selanjutnya berdering. Gideon siap dengan omelannya pada Thalita. Tapi panggilan itu cuma berdering, dan berakhir dengan panggilan tak terjawab.
Gideon uring-uringan, karena telponnya gak diangkat oleh Thalita. Cowok itu jadi berprasangka yang tidak-tidak. Padahal, Thalita tak menjawab telpon, karena sedang nangkring di toilet.
Karena penasaran, Gideon menelpon lagi, dan kali ini dijawab oleh Thalita.
"Halo, Abang sayang!"
"Dari mana aja, kamu? Dari tadi Abang telponin gak diangkat sama Thalita."
"Maaf, Bang. Abis setoran, dari pagi perut Thalita mules nih."
"Pasti makan yang pedes-pedes ya?!" kata Gideon sewot.
"Kok tau sih, Bang? Padahal Thalita gak ngasih tau Abang, kalau abis makan seblak, hehehe."
"Bandel!! Udah tau perutnya suka sensi kalau makan pedes, masih aja diterabas. Kalau sakit gini, gimana tuh? Mana lagi di kost juga, jauh dari Mama. Siapa yang merawat coba, kalau sampai sakit? Abang juga kan jauh. Bikin kepikiran aja sih, kamu!"
"Halah, Bang, gak usah lebay gitu lah! Cuma mules doang kok. Tinggal makan pucuk daun jambu biji, pasti ilang mulesnya."
__ADS_1
"Mana ada kayak gitu! Kamu tuh suka ngarang deh."
"Ada! Itu resep turun-temurun, sudah terbukti juga keampuhannya kok."
"Terus? Dapat pucuk daun jambu biji darimana?"
"Ibu kost ada tanam kok, di pot. Nanti tinggal minta aja."
"Berarti, sekarang mulesnya belum diobati?"
"Udah, barusan. Waktu tadi gak jawab panggilan dari Bang Dion."
"Pakai apa?"
"Minyak kayu putih."
"Kok minyak kayu putih? Katanya daun jambu muda?"
"Belum sempat cari, Bang Dion udah nelpon. Tar kalau gak diangkat, dibilang gak sopan."
"Hem. Ngeles mulu, kayak bajaj! Tadi Abang nelpon, kamu di panggilan lain, nelpon sama siapa tuh?"
"Oh itu, Bang Vano."
"Ngapain Vano nelpon Thalita?" nada suara Gideon terdengar gak suka.
"Cuma nanyain, si Clara masih sering teror Thalita apa enggak. Kalau masih sering, suruh lapor ke dia, tar dia yang urus si Clara."
"Kenapa Thalita gak kasih tau Abang aja? Kok malah ke Vano? Pacar Thalita tuh Abang, bukan Vano!!"
"Gimana Thalita mau kasih tau Bang Dion? Kan waktu itu Bang Dion malah belain Clara, di group."
"Jadi? Vano sering nelpon kamu?!"
"Ya sering. Hampir tiap hari."
"Mulai saat ini, Abang gak ijinin Thalita telpon sama Vano. Blok aja nomer dia!!"
Thalita cuma nyengir. Mana mau dia nurut sama Gideon yang jelas-jelas berpihak pada Clara.
__ADS_1