
Thalita berangkat ke kampus dengan tampang lesu dan sedikit kusut. Gadis itu juga lebih pendiam dari biasanya, membuat Renald yang menjemputnya merasa heran. Thalita bertampang seperti itu biasanya kalau lagi PMS, Renald sangat hafal, karena mereka sudah berteman sejak kelas 10.
"Lagi dapet?" tanya Renald yang mendapat jawaban dengan gelengan.
"Terus kenapa?"
"Aku lagi pusing, Re. Si Tante kirim teror chat mulu," keluh Thalita.
"Tinggal blokir kan beres, Cin!"
"Gak bisa, dia gonta-ganti nomer mulu. Yang terdeteksi aja udah ada empat. Belum punya emaknya, adiknya, om, tante, aak, ekk."
"Haduh, Tha. Kenapa kamu bisa berhubungan dengan orang toxic kayak dia sih?"
"Entahlah, aku juga lupa kenal dia dimana."
"Kamu gak lagi ada promosi novel kan?"
Thalita menggeleng lemah. Saat ini memang tak ada progres menulis novel cetak, Thalita sedang fokus menulis di platform.
"Non aktifkan aja aplikasi hijau kamu, biar kamu agak tenang. Ingat, Tha! Sebentar lagi kita ujian semester, fokus!"
Thalita menghela napas. Dunia maya yang dia gadang-gadang untuk mendapat hiburan, malah membuatnya mendapat masalah beruntun. Dan itu semua karena ulah Clara.
Andai dulu Thalita tak mengenal perawan tua itu, pasti dunia maya nya masih berwarna. Perawan tua itu terkenal toxic di beberapa komunitas, membuat para membernya pecah dan saling bermusuhan.
Thalita tak pernah tau, Clara menjalin hubungan khusus dengan Gideon kekasihnya. Fakta yang baru saja terungkap membuatnya terluka. Hal ini jadi berdampak buat dunia nyata Thalita, seperti pagi ini. Berangkat ke kampus dengan wajah kusut.
Renald yang merasa iba dengan sahabatnya, berniat menelepon Gideon, tapi tanpa setau Thalita. Cowok itu akan menyuruh Gideon menjauhi Thalita.
Di belahan bumi yang lain, Clara kembali datang ke rumah Gideon. Sejak tau alamat kontrakan cowok itu, Clara selalu datang jika sedang rindu.
"Ngapain ke sini, Mbak?" kata Gideon ketus.
"Ngapel."
Dengan santai, Clara masuk ke dalam kontrakan, tak peduli yang empunya melihatnya dengan melotot. Clara menghempaskan bokong ke sofa yang sudah robek di sana sini.
"Bikinin minum dong, Sayang! Haus banget nih," pinta Clara.
Tanpa bersuara, Gideon mengambil sebotol air dingin dari dalam kulkas dan menyuguhkannya pada Clara.
"Nih, adanya cuma air putih. Aku lagi bokek, gak punya duit buat beli gula."
__ADS_1
"Gapapa, lihat kamu juga udah manis kok," kata Clara sambil menegak air itu langsung dari botol, tanpa menuangnya ke gelas.
"Maumu apa lagi sih, Mbak? Gak capek apa kamu ganggu hidupku mulu?"
"Mauku ya ketemu kamu, kangen."
Clara mendekat ke arah Gideon, memangkas jarak antar keduanya. Gideon menutup matanya, ketika Clara bergerak bebas menjelajah seluruh wajahnya dengan bibir seksinya.
"Pacar kamu, aku apa dia, Sayang?" tanya Clara di antara napas memburu keduanya.
"Kamu, Mbak. Kamu pacar aku."
Gideon membalas serangan Clara dengan lebih agresif. Clara tersenyum miring, dan membiarkan Gideon berkreasi atas dirinya.
"Kamu mau membuang si Cabe kan, Sayang? Aku tak mau diduakan," kata Clara di antara *******.
"Apapun akan ku lakukan, asal kita bisa tetap seperti ini. Thalita hanya virtual, tapi kamu nyata, Mbak."
Gideon memekik pada kata terakhirnya, sambil melepaskan hasrat yang telah terpuaskan. Clara juga tersenyum puas, karena mendapatkan apa yang dia mau.
"Sebenarnya, dalam hatimu, kamu cinta gak pada si Cabe?"
"Entahlah, mungkin dia hanya sebuah obsesi saja, Mbak. Kamu tau sendiri, banyak perbedaan antara aku dan dia, temboknya terlalu tebal untuk dapat kami tembus."
"Aku juga gak tau, Mbak. Kamu selalu ada setiap kali aku butuh. Kamu itu nyata, bisa ku sentuh dan ku nikmati."
Clara tersenyum puas, mendengar Gideon dapat menikmati dirinya, tidak seperti Thalita yang hanya berjumpa lewat chat dan suara.
"Kamu mau hubungan kita terus berlanjut?" tanya Clara sambil tangannya memainkan kancing kemeja Gideon.
"Ya, aku mau seperti ini, sampai masing-masing kita menemukan pasangan untuk jenjang yang lebih serius."
"Kamu tak ingin menikah denganku?"
Gideon menggeleng, tidak ada niatan dalam hatinya untuk serius dengan Clara, apalagi menikah. Baginya Clara hanya tempat singgah sementara saat hasratnya ingin dituntaskan.
"Kenapa?"
"Ini Indonesia, Mbak. Bagaimanapun pasangan dengan wanita yang lebih matang, akan menjadi perbincangan. Dan aku tau, mamaku akan menolakmu jadi menantu."
Seketika raut wajah Clara berubah sedih, wanita itu sudah menyerahkan semuanya pada Gideon, sekalipun pria itu bukan yang pertama. Clara tak pernah melakukannya lagi selain dengan Gideon. Penolakan Gideon membuat hatinya terasa sakit.
"Tapi aku hanya melakukannya denganmu, Sayang. Kamu harus tetap bertanggung jawab kalau terjadi sesuatu denganku."
__ADS_1
"Aku selalu berhati-hati, dan kamu tau itu, Mbak."
"Sudahlah, aku gak mau membahas ini lagi, membuat hatiku sakit saja. Aku mau pulang."
Clara melangkah menuju pintu, dan segera keluar dari sana tanpa mengatakan sepatah katapun. Setelah Clara pergi, Gideon jatuh terduduk di lantai, memukul kepalanya dan menyalahkan diri sendiri.
"Maafkan Abang, Sayang! Abang tak bisa menahan hasrat dan emosi. Tapi Abang benar-benar cinta sama kamu, Thalita. Abang gak bisa membohongi diri Abang sendiri, Abang cinta sama Thalita. Clara hanya alat pemuas bagi Abang."
Gideon menangis dalam penyesalan. Penyesalan karena berkali-kali jatuh di lubang dosa yang sama. Tiba-tiba ponsel Gideon berdering, panggilan dari nomer tak dikenal.
"Halo, siapa ini?"
"Kamu yang namanya Gideon, kan?"
"Ya, kenapa?"
"Mulai detik ini, jauhi Thalita! Kamu bisanya cuma menyakiti hatinya. Mending kamu jauh-jauh dari dia!"
"Kamu siapa?"
"Kamu gak perlu tau siapa aku. Yang jelas, aku akan bikin perhitungan sama kamu, kalau kamu masih mengusik Thalita. Kamu urus saja tuh perempuan yang ngaku-ngaku pacarmu!"
"Bicara yang jelas, Bung! Jangan main teka-teki!"
"Gak usah berlagak b*go! Kamu pasti tau apa yang ku maksud. Cewekmu mengirimi Thalita chat-chat yang gak bermoral, dan itu membuatnya sedih. Aku paling gak suka melihat Thalita menangis. Siapapun pelakunya, harus berhadapan denganku."
"Sebenarnya kamu siapa?"
"Perkenalkan, namaku William, pacar real Thalita."
Gideon tertegun, Thalita mempunyai pacar real? Dia tak pernah tau.
"Gak usah membual, Thalita bucin sama aku!"
Terdengar tawa ngakak dari seberang sana, membuat Gideon semakin geram.
"Sadar diri, Bung! Kamu cuma virtual, sedang aku nyata. Jelas-jelas aku bisa membuat Thalita bahagia, gak kayak kamu yang cuma bisa membuatnya sedih."
"Ah, b*ngs*t!! Siapa kamu sebenarnya?" Gideon semakin emosi.
"Namaku, William. Pacar real dari Thalita Adelia."
Renald mematikan panggilan dengan tersenyum, cowok itu telah melakukan hal yang menurutnya membuat Thalita akan tersenyum lagi.
__ADS_1