
Sejak Vano menyatakan cinta pada Thalita, cowok itu berubah menjadi lebih bawel. Banyak sekali saran dan nasehat yang diberikannya pada Thalita, meski kadang cuma numpang lewat di telinga gadis itu. Jujur saja, Thalita memang merasa nyaman dengan Vano, tapi belum mencintainya.
Thalita masih berharap Gideon menghubunginya lagi. Bercanda dan bercerita seperti dulu, sebelum hubungan mereka rusuh karena campur tangan Clara. Thalita masih memiliki rasa cinta, pada pacar virtualnya yang kini raib ditelan bumi.
Thalita tampak melamun di kantin kampus. Semangkok soto ayam yang mulai dingin, hanya diaduknya saja, tak ada niat untuk menyuapnya ke dalam mulut. Thalita galau, karena rasa rindunya pada Gideon yang semakin menumpuk.
"Kasian banget para nasi di mangkok itu. Pasti pusing sekali, diaduk mulu kayak gitu," kemunculan Renald yang tiba-tiba, sedikit mengejutkan Thalita.
"Mau?" Thalita mendorong mangkok sotonya ke arah Renald yang duduk di depannya.
Renald menghela napas dan meraih mangkok itu, "sini, deh! Daripada mubazir. Kalau gak lapar, jangan pesan makanan, ini namanya menyia-nyiakan berkat Tuhan. Kurang bersyukur!"
Thalita hanya mengendikkan bahu dan menyeruput minuman di depannya. Menyaksikan Renald yang mulai menyantap sotonya dengan lahap, membuat Thalita tersenyum.
"Kamu itu kenapa sih, Tha? Tadi melamun, sekarang senyum-senyum sendiri. Kok lama-lama bikin ngeri, kalau dekat-dekat sama kamu," gerutu Renald.
"Gak kok. Lucu aja lihat kamu makan dengan lahap, padahal itu soto udah gak karuan bentuknya."
"Gapapa, rasanya masih sama juga. Apalagi kalau gratis kayak gini, tambah enak. Kamu kenapa? Cerita dong sama aku! Kali aja aku bisa bantu."
"Gak ada apa-apa kok, Re. Aku cuma lagi kangen sama Bang Gideon. Tiba-tiba saja dia menghilang gak kasih kabar, kan aku jadi khawatir."
"Dia itu kan udah gede, kenapa juga kamu khawatir? Kan dia bisa jaga diri. Kalau jatuh, bisa bangun sendiri. Kalau lapar, bisa ambil makan sendiri, ngantuk juga bisa bobok sendiri."
Thalita tak menanggapi ledekan Renald, kembali gadis itu tenggelam dalam lamunan. Sial, beginilah cinta, deritanya tak kunjung berakhir. Tiba-tiba ponsel Thalita berdering, membuat pemiliknya terlonjak kaget.
"Halo, Bang! Tumben nelpon siang-siang? Biasanya jam segini Bang Vano kan lagi ngorok," sapa Thalita.
"Ya enggaklah, masa siang-siang ngorok? Biasanya jam segini Abang kerja, cuma hari ini Abang meliburkan diri."
"Asik banget bisa meliburkan diri. Dalam rangka apa tuh?"
"Dalam rangka mencari orang hilang."
"Heh? Siapa yang hilang, Bang?"
"Siapa lagi kalau bukan mantan pacarmu, Gideon."
__ADS_1
"Kok? Ngapain Bang Vano cari Bang Gideon?"
"Haduh, nanya mulu sih pacar cantik Abang ini, kayak Dora aja. Hahaha."
"Ya udah, kalau gitu gak nanya."
"Ngambek nih ceritanya?"
Thalita diam, enggan menjawab pertanyaan Vano. Cowok itu membuatnya semakin kesal. Thalita sedang tak ingin berteka-teki, tapi Vano malah membuatnya penasaran.
"Sayang?" panggil Vano.
Thalita masih tetap diam, meski ponsel masih menempel di telinganya. Renald yang melihatnya merasa heran, dan bertanya tanpa suara pada Thalita. Gadis itu memberi jawaban dengan jari telunjuk menutup bibitnya. Menyuruh Renald diam.
"Thalita? Kok diam aja sih? Marah ya sama Bang Vano?"
Thalita malah asik mengaduk es teh di depannya dengan kasar, hingga suara denting sendok beradu dengan gelas, terdengar ke telinga Vano.
"Lagi aduk apa tub, Sayang? Bang Vano mau dong!"
"Ini teh rasa almond, mau?"
"Enak kok, kalau minum ini bisa terbang ke awan-awan lho. Cuma harus diaduk, karena si almond beku dalam batu es. Ini bisa menunda waktu dia bereaksi pada peminumnya."
"THALITA! JANGAN BERCANDA!"
"Gak usah teriak-teriak, Bang! Thalita gak budeg kok."
"Hentikan itu, Sayang! Abang mohon! Kamu jangan berpikiran dangkal kayak gitu!"
"Buat apa juga, toh semua orang gak ada yang percaya sama Thalita. Clara, Bang Gideon, sekarang Bang Vano juga. Kan mending Thalita minum aja minuman rasa almond itu."
Renald yang mendengar kalimat aneh yang diucapkan Thalita, mengerutkan kening. Apa sih yang dimaksud oleh sahabatnya itu? Minuman rasa almond? Semua orang tak percaya? Apa sih hubungannya?
"Oke, apa yang Thalita mau dari Bang Vano?" tanya Vano pasrah.
"Thalita cuma mau Abang jujur! Apa sebenarnya yang terjadi?"
__ADS_1
"Yakin mau Abang ceritakan semua?"
"Yakin, Bang! Thalita gak mau ada yang menyembunyikan sesuatu dari Thalita."
Terdengar Vano menghela napas. Pada dasarnya, Vano lah yang merasa Thalita belum siap mendengar semuanya. Gadis itu masih menyimpan rasa pada Gideon. Meski mereka sudah lama tak berhubungan, Vano yakin, mereka masih saling merindukan.
"Kok malah diam sih, Bang Vano? Ingat gak kisah tentang rasa almond yang disembunyikan dalam es batu. Ini di gelas Thalita, es batunya udah mencair karena dari tadi terus Thalita aduk."
"Sayang,---"
"Mau cerita apa gak sih? Thalita itu udah terbiasa dibohongi sama Bang Gideon. Juga akan merasa terbiasa juga, dibohongi sama Bang Vano."
"Apaan, sih?" tanya Renald tanpa suara pada Thalita. Dan masih dijawab dengan isyarat yang sama. Berarti Thalita sedang dalam mode serius.
"Abang gak mau disamakan dengan Gideon! Gak level banget Abang dengan cowok b*nci kayak gitu," sungut Vano.
"Kalau gak mau disamain, ya Abang harus cerita semua, gak boleh ada yang ditutupi!"
"Oke, Abang akan cerita."
Vano memulai dengan terciumnya hubungan Gideon dengan Clara, jauh sebelum Gideon dekat dengan Thalita. Mereka sering bertemu, dan bertindak melebihi batas. Vano tak merasa cemburu, karena memang tak punya perasaan apapun pada Clara.
Clara yang katanya tergila-gila pada Vano, memang selalu menyerang cewek-cewek yang dekat dengan Vano. Apapun caranya, pasti akan dilakukan oleh Clara. Termasuk menebar fitnah dan berlagak sebagai playing victim. Berpura-pura menjadi korban, padahal pelaku.
Banyak cewek yang dekat dengan Vano, berhasil disingkirkan oleh Clara. Kecuali Thalita. Merasa tak berhasil menyingkirkan Thalita, Clara memanfaatkan hubungannya dengan Gideon. Ya, Gideon cuma berpura-pura mencintai Thalita, kemudian akan mematahkan hati gadis itu dengan kejam. Itu tujuan semula.
"Ja ... jadi Bang Gideon itu cuma main-main sama Thalita ya, Bang?"
"Iya, Sayang. Abang gak bermaksud menghasut kamu. Abang cuma mengatakan kebenarannya."
"Sudah ku duga dari awal, sih."
"Maksud Thalita? Kamu udah tau tujuan Gideon?"
"Udah kok, Bang. Dari awal juga Thalita udah tau kok."
Vano menghembuskan napas lega. Syukurlah, Thalita bukan gadis lemah seperti yang diduganya selama ini. Dia gadis yang kuat dan mandiri, sangat tak cocok untuk Gideon yang labil dan cuma mengambil manfaat dari orang lain.
__ADS_1
Thalita lebih cocok dengan Vano saja.