Playing Victim

Playing Victim
Part 50 : Emang Enak?


__ADS_3

Thalita sudah menutup telponnya dengan Vano, kembali gadis itu mengaduk es teh di depannya, kemudian meminumnya hingga tandas.


"Yuk ke perpus, Re! Aku mau nugas di sana," ajak Thalita.


"Oke, Bos."


Thalita dan Renald berjalan beriringan menuju perpus. Thalita ingin mengerjakan tugas, dan Renald ingin tidur. Dua keinginan berbeda yang dilakukan di tempat yang sama.


"Apa sih maksudnya minuman rasa almond? Kok kayak e orang yang nelpon kamu tadi khawatir banget, kalau sampai kamu minum?"


"Kamu pernah dengar kisah Jesica yang ngasih minum kopi ke Mirna? Yang dulu sempat heboh itu lho?"


"Yang kopi campur sianida? Apa hubungan e dengan almond?"


"Sianida sering dipakai untuk kisah-kisah detective. Nah, ciri sianida ini, aromanya mirip kacang almond."


"Jadi?"


"Jadi, Bang Vano pikir, aku mau mengakhiri hidup, gara-gara ditinggal Bang Gideon ngilang."


"Astaga, Tha. Masa sampai segitunya sih? Dunia kan gak sempit, cowok juga bukan cuma Gideon seorang. Ngapain juga kamu nekad kayak gitu?"


"Nah, itu kamu tau kan, Re. Aku kan gak selemah itu juga. Bang Vano aja yang terlalu khawatir sama aku."


"Vano itu siapa lagi sih?"


"Dia cowok incaran Bulek Clara. Ngakunya, Bulek Clara ini cinta mati sama Bang Vano. Cewek-cewek yang kelihatan dekat sama Bang Vano, dimusuhi semua."

__ADS_1


"Termasuk kamu?"


"Tentu saja. Apalagi Bang Vano itu terang-terangan bilang kalau naksir aku. Yo aku tambah dimusuhi sama Bulek."


"Bener-bener ya, Tha, bucin itu bikin tak ada otak. Kamu jangan sampai kayak gitu lho, Tha! Apalagi cuma virtual. Di dunia nyata aja banyak kok, gak perlu bucin sama mahluk astral!"


"Tenang aja, Re! Aku juga kan gak bego-bego amat juga. Cuma pura-pura polos aja sih."


"Jadi, sekarang ini hubunganmu sama Vano ini apa?"


"Aku sih anggap dia cuma sebagai teman, kakak, mentor juga. Tapi semalam dia udah nembak aku sih."


"Kamu terima?"


"Aku belum ngasih jawaban. Tapi dia sudah mengakui aku sebagai pacarnya. Ya wes, terserah dia aja. Toh cuma virtual juga, gak usah pakai hati. Udah kapok aku, Re."


"Syukur deh kalau kamu udah kapok. Jangan main-main lagi dengan urusan hati, meski cuma hubungan virtual, sakitnya kan nyata juga!"


Entah! Thalita tak bisa untuk membenci Gideon, meski cowok itu telah menorehkan luka di hatinya berkali-kali. Semua kesalahan yang dilakukan Gideon, sudah dimaafkan oleh Thalita, sebelum cowok itu meminta maaf padanya.


Juga ketika Thalita tau, Gideon adalah alat yang digunakan Clara untuk membuat Thalita sakit hati, tetap tak ada rasa benci Thalita pada cowok itu.


Ya, Thalita menyayangi dan mencintai Gideon tulus, dari lubuk hati terdalam, bukan cuma sebuah rekayasa, atau pencitraan. Karena itu, Thalita tak pernah bisa membenci Gideon.


Di kontrakannya, Gideon sedang sibuk dengan usaha barunya, membuka jasa desain grafis. Usia Gideon yang tahun ini sudah berkepala tiga, membuat cowok itu susah untuk mendapatkan pekerjaan di dunia retail seperti dulu, sebelum pandemi menghancurkan ekonomi negri. Satu-satunya jalan, tentu saja membuka lapangan kerja, untuk diri sendiri.


Selama dua tahun terakhir, Gideon memang mengantungkan hidupnya pada sang Ibu yang bekerja sebagai asisten rumah tangga. Tapi kini, ibunya telah pergi, dan tak mungkin kembali. Karena itu, Gideon harus bisa menghidupi dirinya sendiri.

__ADS_1


"AH,SIAL!"


Gideon memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Desain yang sedari tadi dibuatnya juga dihapus, padahal desain itu hampir rampung, tapi hasilnya tak membuat Gideon merasa puas.


"Thalita! Kenapa kamu ganggu Abang saat kerja kayak gini sih? Abang butuh makan, Sayang. Tolong jangan ganggu Abang dulu, ya!"


Gideon merintih karena frustasi. Bayangan wajah Thalita yang sedang tersenyum, telah merusak konsentrasinya, membuatnya badmood, dan mematahkan imajinasinya untuk berkreasi.


Gideon sedang sangat merindukan Thalita. Ingin sekali dia menelepon gadis itu, sekedar mendengar suaranya yang medok dengan logat khas Jawa Timurnya. Tapi, perjanjiannya dengan Vano, tak mungkin untuk dilanggar. Gideon sudah berjanji untuk tidak menganggu Thalita lagi, atau Vano akan memberitahu alamat kontrakannya yang baru pada Clara.


CLARA!! Gara-gara mahluk pembawa sial itu, hidup Gideon jadi menderita. Bujukan wanita itu telah membuat Gideon terusir dari kontrakan lama. Selain itu juga membuat wanita yang melahirkannya kecewa. Andai tidak sedang marah gara-gara Clara, pasti saat ini sang Ibu masih hidup, dan Gideon tak akan hidup sebatang kara.


Selain itu, Gideon tak perlu juga bersembunyi seperti tikus, karena merasa malu perbuatan busuknya terbongkar. Bergaul melebihi batas dengan Clara juga membuat Gideon berpikir tentang mahluk mungil yang saat ini sedang mendiami rahim Clara, calon anaknya.


"Gimana ya kabar Clara sekarang? Pasti dia lagi bingung mencari keberadaan ku. Kasihan sih sebenarnya, tapi mau gimana lagi. Ibu sangat tak setuju aku menikah dengan Clara. Bahkan Ibu mengajak aku pulang kampung, tempat yang jelas-jelas dibencinya, cuma biar aku gak nikah sama Clara."


"Sekarang, Ibu udah gak ada. Bisa saja aku menikah dengan Clara. Tapi aku akan merasa sangat berdosa, melanggar larangan Ibu."


Gideon menggaruk kepalanya dengan kasar, membuat rambutnya yang mulai gondrong berantakan. Rasa pusing yang sedari tadi dirasakan oleh cowok itu, kini terasa semakin berdenyut. Tiba-tiba ponsel Gideon berdering, Vano menelepon.


"Iya, Van. Ada apa?"


"Kamu di kontrakan?"


"Iya, nih. Kenapa emang?"


"Aku mau ke situ."

__ADS_1


"Oke."


Gideon masih menatap layar ponselnya, meski Vano telah mematikan panggilan lima belas menit yang lalu. Tanda tanya besar memenuhi kepala Gideon, untuk apa Vano hendak menemuinya? Mau membahas soal Clara atau malah Thalita? Gideon tak tau, dan enggan membahas keduanya.


__ADS_2