Playing Victim

Playing Victim
Part 47 : Gagal Lagi


__ADS_3

Hans tiba di rumah sakit tempat ibunya dirawat, dan tak mendapati Clara di tempat itu. Hans merasa kesal, marah dan ingin rasanya mencaci Clara, mbaknya yang dinilai sangat tak tau diri. Baru sehari saja menjaga ibunya, Clara sudah kabur.


Dengan geram, Hans menelepon Clara, untuk bertanya dimana keberadaan kakaknya itu. Tapi berkali-kali Hans menelepon, berkali-kali juga panggilannya di rijek.


"Kemana sih si Sial itu, kok ditelpon ditolak mulu dari tadi? Pasti dia lagi asik-asik dengan berondong piaraannya itu tuh. Awas aja kalau ketemu, jangan panggil Hans kalau gak bisa bikin dia jadi perkedel!"


Geram banget rasanya Hans pada saudara satu-satunya itu. Rasanya sampai ke ubun-ubun. Heran, padahal Clara itu wanita, kenapa tak punya empati pada ibunya. Padahal, wanita yang sudah melahirkannya itu, saat ini berada di ambang kematian.


"Hans, kok melamun?"


Tepukan di bahu Hans, menyadarkan pria itu dari lamunan. Dengan getir, Hans tersenyum pada Jhon, teman sekaligus dokter yang merawat ibunya.


"Aku lagi kesal sama mbak ku, Clara, kamu kenal kan?"


Jhon mengangguk, kemudian duduk di sebelah Hans. Siap mendengar keluh kesah sahabatnya itu.


"Kesal kenapa?"


"Selama seminggu Ibu dirawat disini, dia gak muncul. Semalam, dia baru muncul, dan sekarang udah hilang lagi. Barusan ku telepon, ditolak terus."


"Sabarlah! Mungkin dia lagi ada keperluan mendadak, jadi terpaksa pergi," hibur Jhon.


"Kamu gak tau sih, dia itu gimana. Usianya udah hampir lewat kepala tiga, tapi kelakuan kayak ABG. Maka sukanya sama berondong. Pengangguran lagi berondongnya, pasti habis tuh mbakku diporotin."


"Padahal, mbakmu itu cantik, seksi, mapan pula. Kenapa gak nikah aja?"


"Gak tau. Aku aja sampai heran. Dia mau cari suami yang kayak apa."


"Hem, sabar ya! Kalau kamu terbawa emosi kayak gini, kasihan ibumu."

__ADS_1


Hans menghela napas. Pikirannya saat ini terbawa emosi, kepalanya sampai terasa berdenyut pusing sekali. Jhon menepuk tangan Hans, agar sahabatnya itu bersabar.


"Sebenarnya, aku tadi mau memberi tau tentang keadaan ibumu, Hans. Tapi ku lihat kamu tak sedang baik-baik saja."


"Aku gapapa kok, Jhon. Katakan saja gimana keadaan ibuku!"


"Baiklah. Ibumu sebenarnya sudah tak ada harapan lagi. Cuma alat-alat itu yang membuatnya tetap bernafas. Jadi, terserah gimana keputusan kamu sebagai anak."


"Jadi, ibuku akan meninggal, jika alat-alat itu dicabut?"


"Ya teorinya sih seperti itu. Tapi kita kan bukan Tuhan, kita tidak tau apa yang akan terjadi. Kalau Tuhan berkehendak, bisa saja ibumu sembuh total seperti sedia kala. Tak ada yang mustahil bagi-Nya."


"Aku pikirkan dulu ya, Jhon. Jujur saja, aku belum siap kehilangan ibuku."


"Oke lah. Semua keputusan ada di tanganmu. Aku cuma menjalankan tugasku sebagai dokter yang merawat ibumu. Kalau bisa, berunding lah dengan mbakmu, jangan mengambil keputusan sendiri!"


"Iya, Jhon."


"Iya, terima kasih, Jhon."


Setelah Dokter Jhon pergi, kembali Hans menghubungi Clara. Kali ini, panggilannya dibiarkan menjadi panggilan tak terjawab. Karena kesal, Hans kembali memblokir nomer Clara.


Sementara itu, Clara yang keluar dari ruangan Bos dengan hasil yang tak diharapkan, tampak berjalan dengan lesu. Dengan ngebut, Clara melajukan motornya menuju kontrakan lama Gideon. Clara hendak menemui Pak RT yang waktu itu menggerebek dirinya dan Gideon saat berbuat mes*m.


"Mbak siapa, dan ada perlu apa mencari suami saya?" tanya Bu RT ketus.


"Maaf, Bu. Kenalkan, nama saya Clara. Saya calon istrinya Gideon yang pernah tinggal di kontrakan depan situ. Saya cuma mau nanya pada Pak RT, apa beliau tau, alamat tempat tinggal calon suami saya yang baru? Itu aja kok, Bu. Gak ada maksud lain."


"Ngakunya calon istri, kok gak tau calon suaminya dimana. Situ ngaku-ngaku ya?"

__ADS_1


"Enggak, Bu. Saya memang calon istrinya Gideon. Kami akan segera menikah, karena saya ini sedang mengandung anaknya. Tapi tiba-tiba calon suami saya menghilang."


"Kok aneh? Baru calon kan? Kok udah hamil? Pasti kamu perempuan gak bener, makanya ditinggalin," kata Bu RT yang terdengar kejam.


"Jadi, Bu RT gak tau, sekarang Gideon tinggal dimana?" Clara kembali bertanya.


"Warga sini gak ada yang tau dan gak ada yang mau tau, sekarang dia tinggal dimana. Dia kan diusir dari sini karena berbuat mes*m di kontrakan. Ah ... aku ingat sekarang, kamu kan wanita itu. Yang ketangkap sama Gideon. Pantesan tadi seperti familiar."


Bu RT semakin memandang Clara jijik. Menganggap wanita itu murahan dan tak punya malu. Hamil di luar nikah bukannya ditutupi, tapi malah diumbar dengan banga.


"Tolonglah, Bu! Saya mohon demi anak saya. Apa Ibu tak kasihan, kalau nanti dia terlahir tanpa seorang bapak? Nanti dia akan dibully dan dikatai sebagai anak haram," kata Clara sedih.


"Memangnya situ waktu berbuat mes*m ada mikir? Kira-kira kalau sampai hamil gimana, enggak kan? Pasti yang situ pikirin cuma enak-enaknya aja kan?"


"Saya kan cuma khilaf, Bu. Semua manusia pernah berbuat khilaf."


"Oh, begitu. Ya udah, berarti sekarang aku sedang khilaf. Makanya menyuruhmu pergi dari rumahku ini. Aku gak tau dimana calon suamimu itu tinggal. Pak RT juga gak tau. Warga disini juga gak ada yang tau. Kalau kamu gak percaya, kamu bisa tanya pada mereka."


"Bu RT mengusir saya?" tanya Clara marah.


"Ya! Aku sedang sibuk. Mau masak untuk suami dan anak-anakku, jadi gak ada waktu untuk ngeladeni kamu."


Clara segera berdiri dan pergi dari rumah Bu RT tanpa pamit. Membuat pemilik rumah bertambah kesal. Bu RT menutup pintu rumahnya dengan keras di belakang Clara.


"Dasar wanita j*l*ng gak tau diri. Udah gak punya sopan santun sih. Pantes saja sama Gideon ditinggal ngilang. Pasti ibunya gak bakal sudi punya menantu model kayak gitu," gerutu Bu RT.


Clara bertanya pada beberapa orang tetangga kontrakan lama Gideon. Jawaban mereka semua sama, tidak tau. Clara merasa mereka semua sekongkol untuk mempermainkan dia. Wanita itu meninggalkan tempat dengan sangat marah.


Clara memacu motornya dengan kecepatan tinggi dan ugal-ugalan, terbawa oleh suasana hatinya yang sedang kesal. Sumpah serapah dari para pengguna jalan yang terganggu oleh Clara, bukan tidak terdengar oleh wanita itu. Clara memang sengaja membuat telinganya tuli.

__ADS_1


Sebuah keajaiban jika Clara bisa sampai ke rumahnya dengan selamat. Melihat cara dia ngebut dan ugal-ugalan di jalan raya tadi. Clara menghempaskan diri ke sofa, dan berteriak-teriak frustasi. Semua usahanya untuk mendapat ayah buat calon anaknya, gagal total.


__ADS_2